“Rin: Yang Pernah Hampir Jadi Rumah”
Aku mengenalnya di tengah malam yang sepi,
di antara notifikasi Facebook yang tak berarti,
di antara ratusan nama asing yang lewat begitu saja.
Tapi malam itu, satu nama berhenti di layar: Rin.
Tak ada alasan khusus kenapa aku mengklik profilnya.
Mungkin karena fotonya biasa saja.
Mungkin karena status-statusnya singkat, dingin, bahkan agak sinis.
Tapi justru itu yang membuatku penasaran.
Aku menyapanya. Biasa. Ringan. Seperti yang dilakukan banyak orang.
Tak ada harapan dijawab, apalagi dibalas ramah.
Entah kenapa aku tidak mundur.
Dan seakan menolak untuk dibaca lebih dalam.
Aku tidak tahu siapa yang pertama kali mulai menunggu notifikasi.
Yang jelas, kami mulai bicara tiap malam.
Sedikit demi sedikit, tanpa sadar, kami menukar waktu.
Tapi tidak pernah menukar hati.
Karena Rin tidak pernah membukanya.
Sekali, dua kali, lalu menjadi kebiasaan.
Bukan kencan. Bukan jalan-jalan romantis.
Kadang hanya duduk di warung kopi, diam.
Kadang hanya jalan kaki sore, berbicara soal hal-hal ringan.
Dan seperti biasa—ia tetap tak berubah.
Seolah semua ini hanya sesuatu yang bisa ia tinggalkan kapan saja.
Karena aku percaya, tak semua orang menunjukkan cinta dengan cara yang sama.
Banyak teman bertanya, “Kalian pacaran?”
Karena aku sendiri tidak yakin.
Kami terlalu dekat untuk disebut asing,
tapi terlalu jauh untuk disebut sepasang kekasih.
Kami seperti dua orang yang sama-sama dingin,
tapi saling menghangatkan di sela-sela waktu.
Sampai akhirnya aku memutuskan untuk berhenti menunggu.
Tidak dengan puisi. Tidak dengan bunga. Tidak dengan harapan muluk.
"Aku ingin menjadikan ini lebih pasti. Maukah kamu?"
Dia diam lama. Lalu berkata,
Dan aku—yang terlalu bodoh waktu itu—mengartikan itu sebagai “iya”.
Atau mungkin… ketidakpedulian yang dibungkus sopan.
Keluarga tahu. Teman tahu. Tapi dia masih seperti dulu.
Tidak ada perubahan. Tidak ada kehangatan baru.
Setiap kali aku berusaha membuka obrolan,
Setiap kali aku berbagi rencana masa depan,
dia hanya mengangguk atau berkata,
Lama-lama aku merasa… aku sedang membangun rumah sendirian.
Dengan tembok yang ia tolak sentuh.
Dengan jendela yang ia biarkan tertutup.
Aku tidak sedang membangun cinta.
Aku sedang berjuang dalam sunyi.
Suatu malam, aku tidak mengirim kabar.
Tidak bilang selamat tidur.
Tidak bertanya sedang apa.
Dan hari-hari selanjutnya.
Hingga waktu benar-benar menutup kami.
Ia tidak mencari. Tidak menyusul. Tidak marah.
mungkin aku tak pernah benar-benar hadir di hatinya.
Dengan seseorang yang mungkin tidak terlalu cantik,
tapi menyambutku dengan cinta yang hangat dan jujur.
Seseorang yang tahu cara memeluk tanpa harus diminta,
yang berkata “aku sayang kamu” tanpa alasan,
yang tidak pernah membuatku menebak-nebak tempatku di hatinya.
saat ia memelukku dalam tidurnya,
aku hanya diam memandang langit-langit kamar,
sambil membisikkan nama yang tak pernah sempat kuceritakan pada siapa pun:
Bukan karena aku masih mencintainya.
Tapi karena sebagian dari diriku masih bertanya,
"Apa jadinya jika dulu kamu benar-benar membuka pintu?"
Karena kini aku sudah di rumah…
yang benar-benar menyambutku pulang.