Di sela-sela kesibukan (cieela) :p bikin paper dan presentasi ini itu, saya ingin menyempatkan diri berbagi mengenai kisah cinta saya dengan suami <3. Banyak yang heran dan bertanya-tanya.. seperti “Wow! Rara cepat banget? Orang mana calonnya? Kenal dimana? dll”, maka dari itu ada baiknya saya cerita disini saja ya biar ga pada penasaran (bagi yang datang ke pernikahan saya, pasti juga sudah tahu ya ceritanya bagaimana karena selalu dipublikasi berulang kali oleh sang MC Pak Paryoto) ;).
Masih sangat teringat jelas kala itu pertemuan pertama jatuh pada tanggal 6 Mei 2014 di Saint Petersburg, Russia.
Saya yang sedang sedang gundah dan pasrah karena habis ujian blok, memutuskan pergi ke Russia tanggal 2 Mei 2014 tepatnya ke Ibukota negara beruang merah itu, Moscow untuk refreshing. Suhu udara sangat tidak mendukung untuk musim semi di bulan Mei berkisar -2 sampai -10 derajat celcius, no wonder pasukan Jerman saat perang dunia kedua kalah dengan Russia karena masalah cuaca tersebut yang cukup ekstrim. Kalau di Belanda sendiri suhu segitu mah musim dingin hmm.
Perjalanan memakan waktu sekitar 4-5 jam dari Amsterdam menuju Moscow memakai direct flight nya Aeroflot (maskapai nasional Russia) dan tiba keesokan harinya karena saya ambil flight terakhir jam 11an malam. Selama di Moscow sendiri saya tinggal dirumahnya Om Djauhari (Dubes RI untuk Russia dan Belarus), soalnya anaknya beliau housemate saya hehe. Ada kejadian kaki saya kecengklak pas lagi mau ke museum seni, kalau ga salah ingat sebelum ke pasar ismailova - hal itu terjadi di hari kedua. Jadilah kaki saya ga bisa dibuat berjalan normal lagi, sehingga perjalanan keliling kota pun akhirnya sampai beberapa kali dianterin pakai mobilnya kedutaan (alhamdulillah juga jadinya ga keluar uang banyak buat metro kan ^^v).
Tanggal 6 pagi saya dan Karina pergi ke Saint Petersburg naik Sapsan (Russian bullet train) tapi karena kita beli tiketnya ga barengan, jadinya kita duduk terpisah. Harga tiket keretanya sendiri cukup costly sekitar 80 euro, alhasil kami membawa bekal yoghurt dan pisang untuk dimakan selama perjalanan. Memang dasar orang Rusia ya, ga ada yang bisa bahasa Inggris dan ga ngerti bahasa isyarat sayapun akhirnya tidur dikereta karena mereka ga ada yang bisa diajak ngobrol juga :(.
Akhirnya sampailah kami di Hostel di daerah Nevsky prospekt (tentunya kami mengambil kamar yang private ga mixed ataupun bareng dengan orang lain baik itu sejenis). Jam check in adalah jam 2, kami yang datang jam 12 siang itu pun akhirnya memutuskan untuk berkeliling kota terlebih dahulu dan tujuan pertama pun jatuh pada kunjungan ke Masjid Biru atau Masjid Soekarno. Saya penasaran dengan keadaan masjid di negara bekas komunis ini bagaimana rupanya, setelah saya jenuh sebelumnya muak karena keliling gereja terus selama di Italy saat paskah (sekitar 18 April saat itu) dan kebetulan juga waktunya pas untuk sholat dzuhur.
Tiba di masjid biru ini saya takjub.. wow subhanallah.. keren banget arsitekturnya! desain dan gayanya yang sangat Rusia sekali tapi berbentuk masjid huhuhu. Cerita punya cerita, katanya masjid ini dulu saat zaman rezim USSR, Presiden Soekarno pernah meminta agar menghidupkan kembali masjid tersebut sebagaimana bangunan asli itu dibuat, karena tahu sendiri kan waktu dulu semua tempat ibadah dibumi hanguskan atau dijadikan gudang persenjataan oleh Uni Sovyet, sehingga pada akhirnya bangunan tersebut di renovasi dan dinamai masjid Soekarno (how sweet...). Nah untuk penamaan masjid birunya sendiri karena seluruh sudut masjid ini sendiri dari luar berwarna biru, jadilah namanya masjid biru.
Setelah wudhu, sayapun melaksanakan sholat dzuhur dan ashar dengan di jamak, nah teman saya karena non muslim nunggu di pojokan. Setelah sholat saya pun beranjak untuk foto-fotoin interior masjid tersebut. Masih terkagum-kagum sambil foto-foto pakai hp, dari belakang saya terdengar suara “Orang Indonesia bukan?” , lantas saya langsung menghadap belakang ke arah masuknya pintu masjid. Tada.. saya ga kenal dia! Siapa? Ada dua orang laki-laki yang satu kurus dan yang satu lagi aga berisi; dan muka-mukanya sih orang Indonesia batin saya. Lalu saya jawab “Iya orang Indo.” Yang gemuk pun melanjutkan pertanyaanya “Temannya Karina?”, “Iya” jawab saya, “Karinanya mana?”, “Disana” (sambil menunjuk pojokan di barisan sholat wanita). Tada... seketika saya langsung ingat pas masih serumah dulu, Karina pernah cerita nanti kalau ke St. Petersburg bisa minta tolong teman dari temannya untuk jadi guide, dan si pria aga gemuk inilah yang Karina pernah kasih lihat fotonya di facebook - namun pria itu saat dikonfirmasi ulang dengan temannya Karina tidak bisa menjadi guide karena ada kuliah dan harus kerja setelah itu. Kamipun maklum dan pada akhirnya hanya berpetualang berdua. Dalam hati saya kemudian berkata “Oohhh... dia si Ghozy itu! ngapain dia disini? katanya kuliah sama kerja jadinya ga bisa nemenin?! kok sekarang disini???”.
Singkat cerita itulah pertemuan pertama kami, di sebuah masjid setelah saya sholat dan sebelum ia sholat dzuhur. Yang pada awalnya terjadi ketegangan karena ternyata kami berdua sama-sama saling ga suka satu sama lain, kalau saya karena dia berbohong atas alasannya ga bisa nemenin (ya walaupun aslinya dia sama sekali ga ada niatan bohong, karena niatnya dia memang mau kuliah walau akhirnya bolos -.-) - dan dia nganggap saya judes (hello?) hehehe. Pertemuan kedua, terjadi di Jakarta tanggal 16 Agustus 2014. Entah ada angin apa yang datang, tak lama kemudian ia dan saya yang hanya pernah bertemu 2x dan kalau ditotal tidak ada 24 jam, mengajak saya nikah. Saya Shock! sangat shock! Ini serius ga sih? Kan belum lama kenal, aku ga tau dia apalagi keluarganya dan diapun begitu. How come? :O. Beberapa waktu kemudian saya dan dia bertemu kembali untuk yang ketiga kalinya lagi-lagi di Russia, tapi kali ini di kota bernama Kazan dimana saya dan dia sama-sama menghadiri 7th Kazan Summit dan saya sendiri alhamdulillah terpilih sebagai satu-satunya perwakilan Indonesia untuk mempresentasikan project saya diacara tersebut. Pada pertemuan yang ke3 saat itu sudah tidak ada rasa saling jengkel, dan ia kemudian video call via skype dengan Bapak saya (dengan saya berada tak jauh dari dia) untuk meminta saya menjadi istrinya, pada tanggal 16 Juni 2015. Saya haru sungguh :”. Sebelumnya saya bilang kedia “Kalau kamu mau nikah sama aku, kamu harus bilang sama Bapak, kalau Bapak iya aku iya”.
Tepat pada tanggal 1 Juli 2015, keluarganya dari Jogja datang ke rumah di Jakarta untuk proses khitbah (tanpa dia, karena belum pulang ke Indonesia) - Abi mewakili dia berbicara kepada saya dan Bapak. Dan alhamdulillah lamaran pun diterima, saya akan menjadi seorang istri. Dari pihak keluarga dia sendiri menginginkan pernikahan yang cepat sekitar tanggal 20 Juli, tapi keluarga saya kurang setuju karena mau nikah dimana tanggal segitu kan habis lebaran dan semua tempat sudah penuh pastinya, belum ngurus ini itu, dan dianya sendiri juga baru bisa pulang ke Indonesia pada 29 July. Akhirnya setelah muter-muter nyari gedung setiap hari, dapatlah venue di Gedung Pewayangan TMII pada tanggal 17 Agustus (karena hari Senin.. siapa yang mau nikah hari Senin kan? hehe semua orang sudah book untuk hari weekend dan fully booked sampai tahun depan! Subhanallah), dan pihak dari keluarga sana akhirnya setuju. Saya ngurus surat nikah saya sendiri dan dia saja 2 seminggu sendiri, nyari gedung seminggu, nyari-nyari baju untuk hari H + make up + catering + fotografi + undangan + souvenir + seragam untuk keluarga dan teman-teman + seserahan + beli mas kawin + dekorasi dll itu udah ngehabisin waktu banget kalalu misalnya keluarga saya ga bantu, mungkin dalam waktu yang sesingkat itu ga akan dapat yang bagus. Alhamdulillah walaupun sibuk setiap hari dan dibantu banget sama Bapak-Ibu-mba dewi akhirnya semuanya kelar pada waktunya hiks dan berkat pertolongan Allah juga tentunya :”). Untuk make up dan baju pengantin saya dapat dari Sanggar Liza dengan mba Fitri Liza (alhamdulillah juga bisa dapat baju perdana yang syar’i karena saya sempat stress kehabisan waktu kalau mau bikin baju untuk akad dan resepsi huhu + semua saudara saya harus syar’i juga dong! hehe), catering dengan DTC, fotografi dengan Adiza dan photobooth dengan Maheza, dekorasi dengan Farah Decor, dll yang alhamdulillah semuanya sesuai dengan ekspektasi dan rupa.
Pernikahan kami pun alhamdulillah berlangsung dengan lancar pada tanggal 17 Agustus 2015 mulai dari ijab qabul, acara adat panggih, hingga resepsi. Alhamdulillah juga semua persiapan tidak ada yang sia-sia dengan konsep pernikahan saya sendiri yang bertema ‘Modern Javanase, Shabby Chic, and Islamic Shar’e’ dapat terwujud. Dan saat ini saya sudah resmi menjadi istri dari Muhammad Ghozy Ul-Haq. Setelah mengarungi berbagai macam negara, benua dan lautan, akhirnya hati ini telah menemukan dan berlabuh juga pada tulang rusuknya :”).
Do’akan kami agar selalu menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah dan segera diberikan momongan ya! aamiin allahumma aamiin.. :))
27th October 2015