Duh, kenapa galaunya hanya segini?
Sudah sejak tahun lalu ada seseorang yang mengisi hatiku. Aku terlalu kesenangan jika chatku dibalas olehnya. Ah pokoknya hanya melalui DM LinkedIn, IG, dan FB saja sudah buatku meleleh dari tempatku terduduk. Aneh, padahal dia orang aneh dan hanya menang tampang saja. Yah aku gak mengenal dekat dan hanya tahu sedikiiit sekali tentangnya. Dia hanya seorang yang kupuja saat remaja dulu dan AAAKKK AKHIRNYA AKU MENULIS PENGALAMAN INI?? Okay, baiklah, perasaan ini, untuk saat ini sudah menjadi pengalaman dan masa lalu. Karena kenapa? Karena di tanggal 28 April lalu aku memutuskan untuk menyudahi secara sepihak perasaan yang juga tumbuh sepihak ini. Aku pikir perasaan ini terlalu kekanakan dan sia-sia dan tidak ada hasilnya di ujung jika kuteruskan tanpa kemajuan dari sisiku ataupun dia. Yap memang dia nggak ada tanggung jawab apapun pada hal ini. Aku yang memulai, maka aku juga yang mengakhirinya sendiri. Pada pengalaman kali ini, aku meyakini diri bahwa perasaan dan pikiranku terhadapnya ada pada kendaliku. Aku bisa mengendalikan diri. Dan jika kuminta perasaan ini untuk berakhir, maka aku dengan mudah dan dalam kendali untuk mengakhiri.
Tahun lalu aku menyukainya kembali secara menggebu-gebu. Tergesa-gesa dan ramai. Aku seperti membuat pengumuman kepada teman dan khalayak ramai kalau–aku punya crush–aduh rasanya jatuh cinta lagi setelah bertahun-tahun hati ini jadi tembok, bagaimana rasanya? Bingung, dan salah tingkah. Pikiranku kemana-mana; kalau nanti tenyata berjalan dengan lancar, kalau nanti ternyata gayungku bersambut, kalau nanti semua berjalan cepat, dan yang paling aku wanti-wanti–patah hati darinya.
Aku bahkan sampai menyiapkan diri; kalau-kalau aku dan dia menjadi kita, apakah aku siap? Siap! Dengan pe-denya aku meyakini diri bahwa aku siap dan sangat bisa menjalani semua bersamanya. Bahkan aku (yang tidak pernah mau berumur panjang) yakin jika bisa dan bersedia hidup sampai umur 100 tahun dengannya. Duh kalau jatuh cinta memang gak boleh, deh mikir yang tidak-tidak, karena kalau dipikir lagi sekarang, rasanya sangat nggak masuk akal. Lalu kalaupun aku patah hati? Ah kurasa aku bisa menulis trilogi novel mengenai kisahku. Akan kubuat ia yang patah hati dan sakit hati dan menyesal dalam ceritaku. Sumpah, aku benar-benar berpikir bahwa aku bisa menulis ia mampus dikoyak perasaannya sediri yang penuh penyesalan dan penderitaan HAHAHA.
Tapi saat patah hati itu datang, pikiranku sempat sedikit kacau dan bingung, bahkan kosong dan hilang arah hanya sebentar. Iya, hanya sebentar saja. Aku dengan mudah dan cepat menerimanya secara lapang dada. Besoknya saat berganti hari, aku bukan seorang remaja jatuh cinta yang galau karena keputusanku sendiri. Wah, ternyata aku bisa memutuskan ia secepat kilat ini? Ah sebenarnya ada perasaan kecewa pada diriku, karena perasaan sesalnya tidak sebesar yang kupikirkan sebelumnya. Karenaaaa sejujurnyaaaa aku benar-benar ingin menulis novel trilogi tersebut! Sejujurnya aku butuh perasaan galau tersebut. Tapi ternyata hatiku terlalu luas menerima kenyataan ini. Hebat sih, tapi sedikit kusayangkan saja. Cintanya besar, tapi ternyata gak terlalu cukup untuk bikin patah hati yang luar biasa untuk diriku. Mungkin karena diri ini sudah tumbuh dengan nalar dan rasa sadar yang baik, jadinya hal-hal seperti ini nggak terlalu buatku sakit hati. Mungkin.
Sebenarnya amat sangat disayangkan, ya. Perasaan yang sudah setahun lebih kemarin tertanam terpupuk bertumbuh dengan lucu dan menggemaskan ini berakhir sia-sia. Tapi semoga kepala dan hatiku masih tetap bisa menangkap sedikit sisa-sisa rasa galau dan sedih dari pengalaman tersebut. Aku masih tetap mau menulis kisahku dengannya, aku ingin buat ia menjadi tokoh yang sakit dan menyesal, aku-masih-sangat-ingin. Memang seakan terlihat seperti penulis pendendam dan psikopat, yaaaa. Tapi tidak dendam kok, dan sumpah sejujurnya aku nggak mau menyia-nyiakan perasaan ini. Karena setahun kemarin effortku lumayan besar untuknya. Sangat disayangkan jika hal ini tidak jadi suatu cerita. Aku mau buat kenangan, bahwa aku pernah ada di fase kekanakan di umurku yang akhir 20an ini.
Tunggu saja, di Medium, mungkin? Doakan, plis!












