Kadang kita lupa, "tidak berhasil" juga merupakan sebuah hasil

★
"I'm Dorothy Gale from Kansas"

#extradirty

❣ Chile in a Photography ❣
sheepfilms
NASA
we're not kids anymore.

ellievsbear
will byers stan first human second
almost home

No title available

JBB: An Artblog!
RMH

@theartofmadeline
Misplaced Lens Cap
DEAR READER
Lint Roller? I Barely Know Her
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year

Love Begins
styofa doing anything

seen from Brazil
seen from United States

seen from Ireland
seen from Canada

seen from United States
seen from United States
seen from Australia

seen from United Kingdom
seen from United States

seen from United States
seen from Singapore

seen from Türkiye

seen from United States

seen from Singapore

seen from United Kingdom

seen from Peru
seen from France

seen from United Kingdom

seen from United States

seen from United States
@nsoffi
Kadang kita lupa, "tidak berhasil" juga merupakan sebuah hasil
Jumah, 03 Dzulhijjah 2020
Ya Allah ditengah chaosnya bumi ini karena pandemi, dihari jumah penuh berkah sekaligus di siang hari bulan dzulhijjah ini
Ijinkan kami lebih dekat untuk bertemu
Yang membuat kami saling merasa cukup memiliki satu sama lain
Yang saat kami bertemu, semua duka di masa lalu terasa terbayar, dengan we found each other
Yang membahagiakan bertemuanya dua keluarga besar kami, aku diterima sebagai keluarganya, pun sebaliknya
Yang mencintai ibuku, akupun mencintai ibunya. Karena bagaimanapun istri harus ikhlas suami tetap berbakti kepada ibunya, dan bagaimanapun suami harus tau bahwa bakti istrinya sudah berpindah ke dirinya, maka dia wajib pula memuliakan ibu istrinya
Yang saling mendukung mimpi satu sama lain, menyelaraskan, dan membuatnya menjadi jembatan manfaat bagi banyak orang baik dari segi kesehatan, ilmu, harta, dan sebagainya, yang tujuannya tentu tak lain mengharap keridhoanMu
Yang membangun keluarga serta mendidik anak cucu kami, selalu berpegangan dan terus belajar Alquran dan Sunnah
Yang kami saling memahami, bahwa kami tetaplah manusia yang punya banyak kekurangan, dan kami saling menyelimuti kekurangan itu satu sama lain
Yang selalu bersyukur sudah saling dipertemukan
Yang saling mengingatkan dalam salah
Saling menyemangati dalam ibadah, karena sejatinya dunia ini hanya sementara
Yang diijinkan untuk kami, tumbuh bersama, couple power, untuk terus menerus memperbaiki diri
Yang diijinkan hamba ikhlas melipatgandakan pahala untuk berbakti kepadanya, mencari ridhoMu
Yang ketika kami bertengkar, kami selalu ingat muaranya adalah janji kami dan ridhoMu
Yang kami saling bertanggung jawab, mencintai, berkomitmen dan saling menjaga
Yang saling menyemangati di dunia yang settiap hari terus berubah ini
Di perjalanan ini yang rasanya sejauh itu untuk menemukan, dekatkanlah atas ridho dan ijinmu, Allah
Dan sembari menunggu, ijinkan, mampukan dam sabarkan kami, untuk saling memperbaiki diri, mencari, dan akhirnya menemukan
Wanita kuatku, sederhana penuh syukur
Jika ditanya memilih sosok, umi salah satunya .. Wanita kuat, yang sederhana namun penuh syukur.
Dulu sebelum di malang, umi dan abah berjualan soto di jakarta, awal mereka menikah. Kalau umi bercerita, mereka jualan soto di gerobak, didorong dari rumah kontrakan ke lapak, bahkan tikarpun saat itu katanya tak punya. Mungkin, dari situlah salah satu latihan syukurnya saat ini.
Saat kita sudah di malang, abah meninggal aku kelas 3 SD, umi hamil 4 bulan, mas sekolah SMA di pesantren, plot twist sekarang kita udah besar besar dan alhamdulillah bisa lanjut sekolah.
Saat aku dulu di pesantren, dan umi hanya bisa jenguk saat sore, karna paginya jualan, itu diluar jam besuk tentu, kepulangannya yang selalu kutangisi, membayangkan umi sambil bawa adek yang saat itu usian 3 tahunan, jalan sampe gang lalu naik angkutan singosari smpe tumpang
Saat aku dulu diterima kuliah FK, malah nangis .. umi kira, aku khawatir tidak bisa di prosesnya saat belajar .. Pikiran itu ada, tapi lebih masalah biaya yang aku khawatirkan saat itu. Sampai umi bilang, kalau ndak kuat pas belajar gpp bilang aja, umi mending hilang uang daripada hilang anak
Di tengah proses belajarpun, aku sering berdoa "Ya Allaah, semoga biayanya cukup sampe koass sampe lulus" alhamdulillah. Walaupun baju semasa kuliah itu itu aja, yang biasa beli bajunya kadang waktu libur semester, ikut umi ke pasar kapasan surabaya, dan proses di jalan ikut ke surabaya pasti ada momen aku nangis, pas aku enak enak kuliah main, umi tiap seminggu sekali pasti ke surabaya, naik bus kayak gini. Itu yang buat modal moodbooster belajar semester depan wkwk.
Kalau temen temen ngajak liburan waktu liburan semester, ahhaha aku kayaknya gapernah ikut, bayangkan saat libur semester itu kesempatanku buat libur uang saku, tapi kalo masalah buku, printer, course ke pare, atau fasilitas lainnya untuk keperluan kuliah, ah alhamdulillaaah, aku gapernah ngerasa kurang, umi pasti langsung iya, gatau uangnya dari mana.
Waktu koass, saat itu pasar tumpang renov dan sementara umi jualan di pasar tampung, penghasilan umi katanya lebih berkurang, aku inget .. Pas mau minta uang buat sangu koass balik ke surabaya, kadang penghasilan sehari yang tentunya itu uang modal ya, langsung dikasih semua buat balik.
Aku, adek, umi, mas juga bersyukur walaupun dari dulu ada mobil suzuki carry, tapi mobil itu kita sebut penuh berkah, dia yang nganter aku sekolah SMA di awal awal belum ke pesantren lagi, dia yang ambil barang paket dagangan, dkk.
Masalah hp pun, umi sering nanya gimana hpnya ada tanda tanda ada masalah ndak, mungkin biar jaga jaga kalo sewaktu rusak bisa langsung ganti, mengingat hp memang se urgent itu saat kuliah.
Umi mana misahin mana dana darurat, mana tabungan, mana dana pensiun, yang umi tau cuma ikhtiar bekerja dan doa, semoga semuanya dicukupkan Allah, dan Allah kasih kemampuan, keselamatan.
Temenku pernah bilang, saat aku ganti hp, "akhirnyaa kamu ganti hp juga ya" sambil bercanda. "Aku ngeliat kamu, pegang hp itu kayak udah pegang emas aja, padahal aku yang baru ganti hp aja pengen kujual ini, ganti iphone yg terbaru saat itu.
Secara nggak langsung emang jadinya belajar sederhana dari umi, walaupun tentunyaaaaaa tidak semudah ituu saat ini, dijaman sekarang
Aku bersyukur, besar lewat cara ini, semoga ini menjadikanku orang mudah bersyukur.
Tauhid
Awal 2020 diawali beberapa masalah, yang cukup membuat berpikir, apa maksud Allah ngasih semua ini bareng bareng ? Sangat jatuh lalu menyalahkan diri sendiri, sempat juga menyalahkan orang lain. Lalu, saat pertemuan internsip, seorang pembimbing yang kukagumi beberapa sudut pandangnya bilang "Ketika ada masalah, yang pertama kali cek ketauhidan kita dengan Allah, gausah buru buru cari solusi, semua Allah yang kasih, masalah Allah yang kasih, solusi juga Allah yang kasih. Allah ga akan ngasih ujian diluar kemampuan hambanya."
Lalu kembali bicara ke diri sendiri, apa yang sebenarnya terjadi, apa yang sebenernya pengen Allah ingetin, apa pelajaran yang bisa diambil untuk kedepannya ? Semoga diri bisa mengerti perlahan, semoga hikmah banyak terambil, semoga terus menjadi lebih baik
Storms always serve a purpose, semoga habis ini naik kelas
Awal belajar di tahun 2020, dan terus belajar
Financial Talk
I’ve read dari tulisan shafira diar dirangkum dari Brian Al Afwan, Dosen SBM ITB “Manajemen Keuangan Rumah Tangga” pake aturan 1,2,3,4
Aturan pertama, pisahkan dulu 10% penghasilan untuk kebaikan, untuk zakat untuk orang tua, untuk saudara, untuk mantan juga boleh. InsyaAllah kebaikan akan attract kebaikan yg lain
Aturan kedua, pisahkan 20% penghasilan untuk Dana Darurat, misal nanti tiba tiba qadarullah lahiran harus SC, tiba tiba qadarullah musibah yang lain-lain, dana 20% ini setelah jumlahnya sebesar 6-12 x gaji, baru setelahnya dialihkan untuk asuransi jiwa dan kesehatan, lalu investasi.
Aturan ketiga, pisahkan 30% penghasilan untuk cicilan produktif misal hutang (KPR rumah, cicilan motor, cicilan skin care ~eh masa skin care nyicil). Selanjutnya buat rencana jangka panjang, seperti pendidikan, haji, umroh
Aturan keempat, pisahkan eh yaudah sisanya ya ... 40% untuk kebutuhan hidup, untuk makan, belanja, listrik, baju, bensin, make up, skin care disini dia tempatnya, yang kalo udah terpenuhi semuanya baru boleh foya-foya.
Buat kebutuhan hidup cuma 40% aja emang dikit sih, makanya pas awal awal isip nerapin ini lalu bubar jalan :(. Solusinya, turunin gaya hidup atau cari penghasilan tambahan. Upgrade soft skill mumpung masih muda
Ilmu sebelum amal
Pagi ini ada seorang ibu pengantar yang mengantar ibunya ke IGD puskesmas karena lemas, setelah melalui beberapa pemeriksaan dan tertangani aku liat lagi ke ibu pengantar "bu, kok saya kayak pernah ketemu njenengan ya tapi dimana ? (dalem hati apa di posyandu apa dimana kayak membekas gitu). "Lho iya, njenengan kan yang ekg saya kemarin akhirnya dirujuk ke Nganjuk, dokter sofi toh ?", nah iyaaa pantes. Dulu, pas waktu ujian ujian UTB UAB yang ber tubi tubi, kadang kalo males inget dosen yang selalu bilang, "kalo kalian males belajar, inget kalian belajar bukan buat kalian sendiri, kalian belajar buat pasien, buat orang tua kalian juga yg udah biayain sampe sekarang". Udah belajar lama sampe 6 tahunan, kadang kalo depan pasien ya tetep, ini kenapa ya bisa gini, ini kenapa ya gitu, bukan cuma ilmu kedokteran, rasanya setiap hal yang kita hadapi di lapangan pasti ada beberapa hal beda sama teori bangku kuliah. Disitu tugas long life learningnya kerasa, semoga semakin belajar dan dipahamkan atas kuasa Allah.
Mylog : Other than the Sex, Everything else about marriage is a trap
Bagi sebagian orang, menikah adalah sebuah tahapan hidup yang ingin sesegera mungkin untuk dilaksanakan. Di mata orang yang kepengen, yang nikah tuh hidupnya tampak bahagia sekali. Buat orang yang uda kebelet baper, ga nikah-nikah tuh nyesek. Padahal mah, yah..
Nikah itu ibarat naik perahu dan berlayar di lautan lepas. Buat orang yang ada di dermaga mungkin kelihatannya seru, ngambang di lautan, megang kemudi trus haha hihi di atas perahu. Padahal mah, yah,..
ITU CUMA KELIHATANNYA SAJA.
Aslina.
Ibarat berlayar di lautan lepas. Kadang ga ada angin, jadi berasa ga gerak si perahunya. Kadang ombaknya menggila, ampe perahunya serasa uda mau ngebalik. Kadang ada yang bocor hingga nyaris tenggelam. Ga gampang cuy. Yang menyatakan kehidupan pernikahan adalah 100% bahagia adalah fitnah.
Kalo kata Mark Manson, (ada yang uda baca bukunya?) hidup tuh cuma ganti-ganti masalah doang. Masalah yang satu beres, ntar muncul lagi yang baru. Cuma paling banter kadar masalahnya dibedain antara tiap orang sesuai kesanggupannya.
Ada yang masalahnya berupa ga laku di pasaran, ato sering ditinggal nikah, ato uda nikah tapi ekonominya memburuk. Ada yang uda nikah jadi makin tajir trus pasangannya jelalatan sama orang ketiga. Baik orang yang ada di dermaga atau pun yang sedang haha hihi di atas perahu punya masalah masing-masing.
Kalo sekiranya ada perasaan bete ngeliat feed instagram orang yang isinya foto keluarga bahagia ato jalan-jalan mulu, percayalah dibalik itu semua mereka juga punya masalah. Sama seperti jomblo yang mempermasalahkan ke-jomblo-annya, orang yang uda menikah pun ga jarang ada yang mempermasalahkan bahtera rumah tangganya.
Impian vs Realita
Jangankan yang punya impian duniawi setelah menikah, punya impian yang bersifat ibadah pun kadang realisasinya ga gampang. Kan kayak yang keren gitu yah, kalo punya impian pasca menikah seperti jadi ada yang nemenin puasa bareng, bisa ada tahajud bareng, saling pegangan tangan berpahala, saling tatap penuh cinta pun berpahala. Termasuk nge-sex pun berpahala.
Tapi, percayalah,.
Ga semudah itu Ferguso.
Pernikahan itu ga selalu berisi tatapan mesra, ga selalu perbincangan itu menyenangkan. Ada loh masa-masanya saling tatap aja males. Apa lagi buat ngobrol. Hih. That kind of situation will eventually happen.
Happily ever after is just a myth.
Jangan salah paham, aink nulis kayak gini bukan buat nakut-nakutin tapi untuk ngasi insight kalo pernikahan tuh ga harus selalu saklek sesuai yang kita inginkan. Ga jarang biang ributnya suatu rumah tangga adalah karena adanya ekspektasi yang ga kecapai.
Susah emang, karena ketika ngebet nikah, masing-masing pasti punya ekspektasi sendiri, punya targetan sendiri. Padahal yah, ketika layar pernikahan terkembang, ga ada seorang pun yang tahu kondisi lautan seperti apa yang menunggu di depan.
Be flexible.
Pada situasi.
Pada pasangan.
Pada keluarga.
Pada takdir.
Pernikahan tuh banyak jebakan Batmannya. Persiapan sebelum nikah pun bisa jadi jebakan. Persiapan tuh wajib, baik mental atau finansial. Tapi jangan jadikan persiapan sebagai jaminan. Gampang buat Allah mengambil apa-apa yang kita anggap sebagai persiapan. Gampang banget takdir berubah. Yang pas-pasan modal nikahnya jadi kaya. Yang punya segalanya bisa tiba-tiba hilang ga bersisa.
Kerasa kok. Sebaik-baik penjamin tuh Allah. Bukan apa-apa yang diusahain. Bukan siapa-siapa yang dinikahin. Bukan apa-apa yang kita anggap sebagai sumber kebahagiaan.
Jangan terikat dengan ekspektasi. Be flexible. Karena segala sesuatu selain Allah dan kenikmatan di pulau kapuk sejatinya hanyalah jebakan dalam bahtera pernikahan.
Karena sungguh, pada setiap proses yang panjang, ada banyak kenikmatan yang justru seringkali tak dirasakan, bagi mereka yang tak bersabar.
Jadi, jalani saja dengan penuh kesabaran dan penuh pengharapan. Sebab Dia benar-benar Maha Tahu tentang kapan dan jawaban yang tepat untuk proses yang kau jalani.
© Mushonnifun Faiz Sugihartanto | 2019
Heal Yourself #29: Quarter Life Crisis, Harus Gelisah, Kah?
“Teh, teteh pernah merasa takut dan khawatir tentang masa depan engga sih?”
Suatu hari pertanyaan itu mampir di inbox saya. Detik pertama saya membacanya, saya tersenyum. Menurut saya, lucu juga seseorang ini, menanyakan sesuatu yang pribadi dengan polosnya. Kemudian, detik selanjutnya saya jadi berpikir dan mengingat tentang ketakutan dan kekhawatiran yang pernah dan masih saya miliki sampai detik ini. Seperti orang-orang yang lainnya, saya juga memiliki ketakutan dan kekhawatiran pribadi, seperti misalnya ketakutan dan kekhawatiran kalau-kalau saya salah menjatuhkan pilihan pada hal-hal besar yang tentu akan berpengaruh besar dan permanen bagi hidup saya.
Kita dan semua orang sama, sama-sama memiliki ketakutan dan kekhawatiran pribadi tentang diri, kehidupan dan masa depan. Manusia pada dasarnya memang takut dan khawatir pada ketidakpastian. Di usia 20an, ketakutan dan kekhawatiran itu jadi bertambah-tambah. Konon, semua ini hadir karena kita sedang berada di masa-masa Quarter Life Crisis (QLC). Entah bagaimana, QLC menjadi topik yang saat ini sedang sangat ramai dibicarakan. Semua orang membicarakannya, baik dalam obrolan-obrolan, dalam cuitan di sosial media, atau bahkan di dalam karya. Kita pun tak jarang ikut-ikutan membicarakannya, bukan? Tapi, sebenarnya QLC itu apa, sih?
QLC sederhananya adalah suatu masa yang dipenuhi oleh ketegangan emosional yang berisi kekhawatiran, ketakutan atau kegelisahan terhadap berbagai masalah, terutama yang menyangkut hidup dan masa depan. Mengapa? Karena pada usia-usia inilah individu akan berhadapan dengan pengambilan keputusan-keputusan yang boleh jadi akan berdampak permanen untuk kehidupannya, seperti misalnya tentang memulai hidup mandiri, memilih pekerjaan, memilih pasangan hidup, merencanakan masa depan, dan pilihan-pilihan besar lainnya. Konon, hal ini salah satunya terjadi berkaitan dengan pemenuhan tugas perkembangan, yaitu tugas yang menurut keilmuan Psikologi harus dipenuhi oleh individu pada tahap usia perkembangan tertentu, dalam hal ini di tahapan usia dewasa awal. (Untuk mengetahui pembahasan lebih lanjut tentang tugas perkembangan dewasa awal silahkan cek tulisan lama saya disini).
Pada mulainya, boleh jadi QLC ini adalah sesuatu yang biasa-biasa saja. Tapi, kegelisahan akibat QLC ini menjadi bertambah parah kalau kita membanding-bandingkan diri dengan orang lain yang seusia dengan kita, terutama yang kita saksikan perkembangan kehidupannya melalui kotak-kotak persegi empat sosial media. Sedikit-sedikit kita jadi bertanya, “Kok dia cepet banget sih dapat pekerjaan? Kok dia enak banget sih kantornya? Kok dia cepet banget lulus kuliah sih? Kok dia ga pernah galau masalah jodoh? Kok dia bisa banget nikah muda? Kok dia cepet banget naik gaji?” dan seterusnya. Disadari atau tidak, pertanyaan-pertanyaan itulah yang membuat QLC ini menjadi semakin besar, besar, besar, dan berubah menjadi monster di keseharian kita.
Pertanyaanya adalah, sebagai seorang muslim, bagaimana kita menghadapi QLC ini? Soal ini, saya pernah mendiskusikannya dengan dosen saya yang juga merupakan seorang Psikolog, beliau bilang,
Keep reading
tauhid !
"Selamat menjadi perempuan. Jangan lelah menjaga kehormatan"
Mas Gun
A Quarter
Alhamdulillah, its turning a quarter. Dear me, lets be kind to my self, be honest, lets keep hammasah, and keep in touch to Allah. Bismillahirrahmaanirrahiim
Mi town this year
Nganjuk ini kabupaten yang ehem sekali, dimana mana ketemu orang, kalo pas ga sadar, besoknya ntah di RS atau di klinik ada aja yang nanya, "tadi kemana, hayo kemarin muter muter kemana, tadi sore liat samean, kemarin aku liat samean depan gedung wanita" haha banget. So warm place, humble people.
Kemarin waktu lepas solat tarawih mbatin "Ya Allah ramadan ini di Nganjuk banget". Terus, bersyukur .. mumpung masih sendiri bisa merantau rantau gini (kaya sok udah merantau jauh aja hehe). Nganjuk juga yang bikin aku pertama kali naik kereta sendiri hahaha. Nganjuk juga yang kalo jemuran portable ku (eh apaya namanya) ga dimepet ke tembok bisa roboh haha, karna anginnya kenceng banget. Apalagi kalo sore sore nongkrong si JR RSI, anginnya berasa liburan di pantai.
Hai, Nganjuk .. mi town this year, sapa tau ketemu mas calon suami juga disini, sapa tau ajaaa yakan .. Kalo Allah berkehendak
rizki kamu, cuma kamu yang bisa ambil. Ujianmu cuma kamu yang bisa lewatin
web series rumah zakat
Titik doa
Sebelum bulan ramadan ini nyeletuk ke beberapa temen, sesama jomblo, yang berjuang mencari restu, yang baru saja putus karna beda pandangan "kita ramadan ini selain yang lain, fokus doa jodoh yuk".
Flashback, pernah di suatu ramadan kufokuskan doa berharap pada kelancaran kuliah, kemudian kemudahan skripsi, ramadan berikutnya pada tempat dan kelompok koass, berikutnya pada kelancaran koass, berikutnya lagi ke ukmppd dan alhamdulillah sampe pada ramadan tahun ini, fokus jodoh dan lain lain hehe.
Di Ramadan ke 19, hari jumat, penghujung ashar, waktu mustajabah berdoa, jadi kepikir .. jomblo enak juga ya, kita bisa bebas melangitkan doa kriteria jodoh, tanpa berat sebelah ke pasangan yang udah ada sekarang. Jadi fokus berharap sepenuhnya pada Allah.
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku. Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (Albaqarah -186)
Jadi, apa titik doamu pada ramadan tahun ini ?
Random talk #1
telfon umi pagi menjelang siang di Poli RSI
“lagi dimana nduk ?”. “Poli, mik”. “Rame tah pasiennya ?”. “Lumayan tadi, ini lagi nunggu lab pasien, mik. Mik ... Allah tu bener bener gak pernah salah ya ngasih rejeki, gak pernah ketuker”. “Ya .. iyalah, namanya juga Allah, kenopo emange ?”. “Ya, enak aja mik iship disini, bla bla .. kalo iship di Malang kayae kok aku tetep kos ya mik, gimana kalo jaga malem, masa aku malem malem berangkat dari tumpang ke singosari, ya walupun jadi sering pulang sih, tapi ternyata di Nganjuk ini ya enak aja buat aku”. “ Iya, ya makanya bersyukur”. “iya .. inget kan mik dulu aku juga gitu, sedih pas dapet koass Surabaya, itu kota yang paling gak aku pengen, ternyata ya enak aja, terus dulu juga mau ambil FK di jember atau mau ngambil kuliah di Bogor, ternyata ya udah jalannya dan bersyukur banget bisa kuliah di UMM”. “Lha iya, gitu dulu nangis nangis, ya Alhamdulillah”.
Manusia emang suka pilih pilih. Ketetapan Allah yang kebetulan sama dengan keinginannya langsung disyukuri, lain bila tidak sesuai, kenapa Allah gak sayang ? Dari manusia yang tidak tahu apa apa, padahal siapa yang berkuasa bahkan atas dirinya sendiri ?
Tambah satu
Pada hari ke 11 ramadhan kemarin
Empat puluh lima menit sebelum keberangkatan malabar jam 16.00, nekat pesen tiket go show
Menit menit sebelumnya menuju stasiun, dalem hati kalo misal ga dapet tiket kudu gimana ya, soalnya setengah jam setelah sampe Nganjuk harus jaga malam, gimana kalo ga dapet tiket kereta, siapa yang jaga (walaupun ada si Intan baik hati yang sok bersedia backing sih, padahal dia jaga pagi besoknya, i want to tell you, love you) ? Alhamdulillah dapet, tentu nggak hanya modal nekat, paginya udah cek masih banyak kursi kosong, kalo Allah takdirkan dan mudahkan pasti dapet lah dalam hati, efek go show lebih murah hehe.
Setelah pesen tiket, check in ajalah cari sesuatu buat oleh oleh di dalem, karna tadi mau mampir suhat udah ngga sempet, high risk kemacetan. Waktu udah di dalem kerasa kok tas berat amat yaa perasaan ga bawa apa apa, eh inget ada 2 buku yg mau di grab express ke Jihan, keluar lagi lah buru buru pesen. Dapet drive pertama, "mbak maaf HP saya gabisa buat express", "iya udah pak gpp, saya cancel yaa", pas bapaknya mau ngomong lagi mungkin menjelaskan, kupotong "maaf pak saya buru buru (gaenak ya buru buru, jadi mburuin orang)". Akhirnya dapet grab express di 10 menit terakhir sebelum kereta berangkat.
Tadi waktu awal banget pesen grab, ada bapak bapak jual gorengan nawarin "buat buka puasa mbak", aku cuma bales senyum. Ini menuju pintu masuk stasiun dalem hati bilang, siapa ya yang bakal beli gorengannya ntar, yaudah kalo ketemu lagi beli, dan gak ketemu ketemu, akhirnya beli minum dulu di orang keliling juga dan nemulah si bapak tadi, "Pak, gorengannya 2 aja", "lima ribu mbak", "iya pak, mau ini aja", " iya mbak, sambil bapaknya masukin gorengan ketiga", "lha pak, ndak usah ditambahin", "gpp mbak, tetep 5 ribu kok". Akhirnya kutambah lagi uangnya, "mbak ambil satu lagi gpp", "udah pak".
Terenyuh
Padahal karna lagi kebetulan ga puasa, sebelum berangkat tadi makan di rumah, biar ga jajan gitu dalem hati, dan lagi males makan apa apa apalagi gorengan, eh terus diingetin sama Allah, kalo kita juga bisa jadi perantara rejeki buat orang lain. Tertampar juga, ngapa bapaknya ini pake nambah nambahin satu, bikin sadar aja kalo selama ini kufur nikmat, tagline bapaknya tadi "dibeli mbak buat buka puasa", mungkin maksud bapaknya mau ngasih makanan orang berbuka, biar dapet pahala, sebegitunya ya pak memberi hikmah, Terimakasih untuk tambah satunya hari ini pak, dari saya yang masih kurang bisa bersyukur, sekali
What a Day ?!
Pagi saat sahur di hari ke 5 Ramadan (btw udah hari kelima ya, ibadah masih gitu gitu aja jangan sampe tau tau ramadan kelar masih sama aja, kek tahun tahun lalu, astaghfirulah), jadi selepas jaga sore pulang 20.30 ditambah ngerumpi bentar jadi pulang jam 21.30 wkw, niatnya pulang cari sahur, sekalian muter muter motoran sambil ilangin jenuh juga, akhirnya balik juga ke deket RS -> nasi padang detected. Pas beli ibuknya baik betul, karna kubilang mau dibuat sahur, ibuknya nanya apa ada rice cooker, kubilang ga ada, yaudah mbak tak angetin sebentar takut basi, lalu ibu itu kie nanti yang ini dibuka bla bla bla takut basi, lalu dah bayar seharga biasanya kalo beli lah. Ehhh, pas sahur baru sadar euy, nasinyaaa KAGA ADA. Lha, ini aku makan pake apa, sedih banget rasanya mana besok jaga lagi 2 shift dan kemarin sempet dispepsia kumat, alhamdulillah masih ada pisang, roti sama susu, dan tentu tuna cemil (lha kok jadi banyak yaa wkwk). Dah akhirnya makan sahur dengan seadanya tapi banyak itu wkwk. Miskomunikasi
Flashback, kejadian saat masih jaga
Pas detik detik sebelum azan maghrib, ada misskomunikasi antara DO, internsip IGD sama internsip ruangan, yaaa .. its me internsip ruangan, sampe aku baru buka puasa selepas isya (curhat detected). Miskomunikasi
Selepas isya, sepulang dari kamar oprasi sebelum berbuka, ada pasien gawat yang perlu dikonsulkan, kurang fokus banget akunya mungkin suplai glukosa ke otak udah menurun ya, salah telpon dong, bukan telpon ke DPJP terkait malah kesambung ke "rekam medik RSUD Soetomo" asli sih ini sedih pen ketawa :(. Miskomunikasi
Hasil telpon DPJP setelah aku berhasil tidak salah sambung -> "Mbak ini dopamin 10 meq selama 2 jam, evaluasi kalo ga naik nanti dopamin naik 12 meq ya". Sepaham mbaknya dopamin 10 meq habis dalam 2 jam. Hampir miskomunikasi tapi crosscheck jadi good komunikasi.
Bahkan aku sama remote ACpun miskomunikasi, entah malem itu tidur kebangun beberapa kali rasanya hawanya aneh, eh pas dicek waktu sahur, DRY MODE, ampun .. masyaAllah
What a day ?
Kenapa ya hari ini beruntun banget kejadian yang hmmm 5 menit nisa sabyan.
Coba tadi aku crosscheck double check kek obat emergency, nasi padang itu ada nasinya apa engga, kan harusnya enteng ya kalo ga ada nasinya, kan ga kesusahan pas sahur, bodo ihh
Coba tadi isip IGD atau DO, ngomong jelas keperluan OK itu apa, dan ngehubungin isip ruangan, ga akan ada kesalahpahaman kek gini, versi aku sih haha. Kalo versi isip IGD ataupun DO juga pasti ada pembenaran sendiri atas diri masing masing, walaupun di satu sisi ada sisi kita menyalahkan diri sendiri juga, dan di setiap orang mungkin berbeda mana sisi yang lebih dominan.
Yaaa semoga hal hal kaya gini ga terjadi lagi. Kalo boleh disebut kegagalan, ya kegagalan komunikasi, yang lebih penting kita harus evaluasi dari kegagalan yang terjadi, utamanya bukan cuma survive dalam kegagalan, tetapi men upgrade diri setelahnya, its called resilience kalo kata dr. Davrina penulis buku Trias Muslimatika.
Whats the point of resilience :
Setiap komunikasi ya 2 arah, tujuan dari komunikasi harus tersampaikan . Kalo tersampaikan sebagian, ya feedback dari pihak tujuan pasti gak sesuai harapan
Apabila ingin menyampaikan pesan, kalo ada kondisi langsung ke orangnya, ya langsung ke orangnya, atau pastikan pihak yang kita titipkan pesan amanah dan ada dalam kondisi bisa menyampaikan ke tujuan pesan ingin disampaikan
Peka lah pada keadaan sekitar
Its much more resilience you can have for your today's journey. Ramadan you have me, keep growing, hammasah !