At Sukabumi
At Sukabumi with Miftahurrohim – See on Path.
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH

Origami Around
NASA
Mike Driver
he wasn't even looking at me and he found me
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year
Not today Justin
Game of Thrones Daily
art blog(derogatory)
Lint Roller? I Barely Know Her

Love Begins

izzy's playlists!
Sweet Seals For You, Always
🪼

if i look back, i am lost
Peter Solarz
wallacepolsom

★

祝日 / Permanent Vacation
Stranger Things

seen from Australia
seen from United States

seen from United States

seen from Singapore
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from Saudi Arabia
seen from Australia

seen from Singapore

seen from Maldives

seen from Malaysia

seen from Malaysia

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from Romania
seen from United States
seen from Russia
seen from United States
@nunna-n
At Sukabumi
At Sukabumi with Miftahurrohim – See on Path.
“Setiap perempuan berpotensi untuk menjadi seorang istri yang baik -bahkan teramat sangat baik-, sepanjang ia tidak salah dalam memilih lelakinya.”
—
Begitu juga sebaliknya.
Kalimat ini dibuat demikian karena keputusan untuk menerima/menolak laki-laki ada ditangan perempuan. Maka, libatkanlah segala hal yang di imani dalam menentukan pilihan tersebut. Semoga Allah senantiasa membimbing.
Kurniawan Gunadi
“Penanti hujan paling cerdik adalah yang menanam biji-bijian,Penunggu takdir terindahpun sibuk menabur benih-benih kebajikan”
— Salim A. Fillah
Cantik Itu Mahal
Cantik itu mahal harganya. Bagaimana tidak, di zaman sekarang…mencari yang begitu menjaga malunya, susah. Mencari yang senyumnya dan perangainya santun, susah. Mencari yang cemerlang tapi bersahaja, susah. Mencari yang begitu menjaga harga dirinya, susah.
Cantik itu mahal harganya. Salon dan perawatan kecantikan seperti apapun tidak mampu membelinya.
Yang selalu bersyukur.
Yang tangguh dan minim keluh.
Yang berusaha berdaya.
Yang begitu rapat mengumbar auratnya.
Yang tetap tersenyum dan menangis secukupnya.
Yang bersabar dan tak mudah tersulut amarah.
Rasa-rasanya, cantik itu benar mahal. Makanya para ayah begitu berjuang memolesnya. Para ibu sampai rela terjaga siang malam mendidiknya.
Jadi, jangan diumbar-umbar. Jangan menjadikannya begitu murah. Jaga dengan segenap iman kita.
Cantik itu, mahal :)
7 Indikator Kebahagiaan Menurut Al-Qur’an
1. QOLBUN SYAKIRUN
Hati yg selalu bersyukur. Artinya selalu menerima apa adanya (qona'ah), sehingga tidak ada ambisi yang berlebihan, tidak ada stress, inilah nikmat bagi hati yang selalu bersyukur. (QS 13:28, 2:152, 16:18, 34:14, 55:13, 14:7)
2. AL-AZWAJU SHALIHAH
Pasangan hidup yang sholeh. Pasangan hidup yang sholeh akan menciptakan suasana rumah dan keluarga yg sholeh pula. (QS 51:49, 17:32, 24:32, 24:26)
3. AL-AULADUL ABRAR
Anak yg sholeh/sholehah. Do'a anak yg sholeh kepada orang tuanya dijamin dikabulkan Allah SWT, berbahagialah orang tua yang memiliki anak sholeh/sholehah. (QS 17:23, 31:14, 46:15, 29:8, 25:74)
4. AL-BAIATU SHOLIHAH
Lingkungan yg kondusif untuk iman kita. Rasulullah menganjurkan kita untuk selalu bergaul dengan orang-orang sholeh yang selalu mengajak kepada kebaikan dan mengingatkan bila kita salah. (QS 4:69, 51:55, 26:214, 5:2)
5. AL-MALUL HALAL
Harta yang halal. Bukan banyaknya harta tapi halalnya harta yang dimiliki. Harta yang halal akan menjauhkan setan dari hati. Hati menjadi bersih, suci dan kokoh sehingga memberi ketenangan dalam hidup. (QS 2:267, 43:36-37, 2:269, 2:155)
6. TAFAKUH FID-DIEN
Semangat untuk memahami agama. Dengan belajar ilmu agama akan semakin cinta kepada agama dan semakin tinggi cintanya kepada Allah SWT dan Rasulnya. Cinta inilah yang akan memberi cahaya bagi hatinya. (QS 45:20, 3:138, 5:16, 4:174, 2:269)
7. UMUR YANG BAROKAH
Artinya umur yang semakin tua semakin sholeh, setiap detiknya diisi dengan amal ibadah. Semakin tua semakin rindu untuk bertemu dengan Sang Pencipta. Inilah semangat hidup orang2 yang barokah umurnya. (QS 2:96, 35:37, 36:68, 225).
اَلْحَمْدُاللّهِ رَ ب العَا لَمِيّن
Reminder: H-42 Ramadhan
sumber: Group WhatsApp Kantor
Reminder
Tibalah kita di #Quotalk kedelapan. Kali ini saya ingin berbagi hal sederhana. Jika ingin kisah cintamu bahagia, katakanlah ini kepada pasanganmu: Aku ingin ...
Tibalah kita di #Quotalk kedelapan. Kali ini saya ingin berbagi hal sederhana. Jika ingin kisah cintamu bahagia, katakanlah ini kepada pasanganmu: Aku ingin mencintaimu secara sadar, dengan cara berhenti mengandaikan semua hal baik yang tak ada pada dirimu dan memaafkan semua hal buruk yang ada pada dirimu.
Melakukan hal yang tidak penting bersama-sama itu penting dalam merawat hubungan. Menceritakan hal yang tidak penting…juga penting. Seberapa pentingnya orang itu, bisa juga diukur lewat ketidakpentingan yang dibagi bersama.
Jadi mas, kalau aku cerita yang enggak penting itu artinya dikau penting :p
Nah ini. Aku post nampaknya nggak penting, tapi penting kan!
Percayalah. Setiap orang diberikan jalan hidup masing-masing sehingga bentuk ujian dan potongan hikmah yang didapat pastilah berbeda. Karena itu, sejatinya tidak ada orang yang paling menderita atau paling sukses. Yang ada orang yang berhasil bersabar dalam menghadapi ujian dan pandai bersyukur dengan berusaha mengambil serpihan hikmah yang ditemui
(via zakyamirullah)
Raising A Mindful Family #2 (End)
Tulisan ini adalah lanjutan review International Islamic Parenting Seminar dengan judul “Raising A Mindful Family” yang dilaksanakan di Bandung, 3 Februari 2018. Seluruh materi yang dituliskan kembali disini disampaikan oleh Dr. Mohamed Rida Beshir, seorang Islamic Marriage and Parenting Expert yang berasal dari Canada yang juga merupakan co-author dari buku best seller berjudul “Parenting Skills: Based on The Qur’an and Sunnah”. Sebagai penghubung antara materi satu ke materi yang lainnya, hadir juga Ustadz Adriano Rusfi, seorang Psikolog yang juga founder dari Majelis Luqmanul Hakim. Tulisan pertama dapat di baca di link berikut ini.
Sebelumnya, mohon maaf untuk kalimat-kalimat berbahasa Inggris yang saya pertahankan sebagaimana materi diberikan, karena khawatir ada pemaknaan yang hilang atau kurang lengkap jika semua ditranslasi ke dalam bahasa Indonesia. Enjoy reading, happy learning!
Saya pernah mendapat nasehat dari seorang guru bahwa investasi terbesar yang dapat kita berikan bagi kehidupan kita adalah belajar dan ilmu pengetahuan. Beliau juga berpesan bahwa setiap waktu dan kesempatan yang kita luangkan untuk menuntut ilmu karena Allah adalah bentuk perjuangan untuk dapat menjalankan ibadah yang benar: ilmu sebelum amal. Setali tiga uang dengan hal tersebut, kemarin Mr. Rida menyampaikan bentuk investasi besar lainnya yang dapat kita lakukan,
“Nurturing and parenting our children are biggest invesment in life, our road to Jannah.”
Road to Jannah, ternyata sebesar dan sejauh itulah pentingnya investasi dunia akhirat ini, yang tentunya perlu kita siapkan sejak jauh-jauh hari. Masih ingat kunci kesepuluh pada tulisan sebelumnya, kan? Yup, pre-marital education. Jadi, meski belum menjalankan amanah Allah untuk mengasuh, penting juga bagi kita untuk mempersiapkan ilmu untuk amanah tersebut, sejak jauh-jauh hari.
Terdapat 5 komponen utama dalam Excellent Parenting. Apa sajakah itu?
Komponen yang pertama adalah visi, yaitu tujuan jangka panjang. Berkaitan dengan ini, saya jadi ingat Ibu Elly Risman pernah menyampaikan, “Main bola saja ada tujuannya, ada gawangnya, masa mengasuh anak tidak ada tujuannya?” Nah, ternyata, sebaik-baik visi kita bagi anak-anak kelak adalah aspire them to be like generation of the Prophet’s companion, yang kualitasnya adalah proud to be Muslim, have self confidence, dan juga strong in belief in Allah. Selain itu, anak-anak juga perlu loved and accepted by parents sehingga bisa menunjang mereka untuk bisa capable and highly skilled dan menjadi critical thinker dalam kehidupannya.
Untuk bisa memiliki visi yang benar dalam menjalankan pengasuhan, terdapat beberapa pengetahuan dasar yang perlu kita ketahui, yaitu Islamic knowledge in general (Al-Qur’an and Sunnah), Islamic Characters, pengetahuan tentang perkembangan anak baik dari segi fisik, intelektual, sosial, maupun emosional, dan yang tak kalah penting adalah Islamic Parenting Principles.
Termasuk di dalam Islamic Parenting Principles yaitu, parenting is a shared responsibility. Ya, parenting tidak bisa hanya dilakukan oleh ibu saja atau ayah saja, tapi harus oleh keduanya. Nah, ustadz Adriano Rusfi mengatakan bahwa yang seringkali menjadi masalah dalam hal ini adalah perempuan lebih giat belajar dan mempersiapkan dari pada laki-laki. Tapi, kita tetap bisa memilih sikap terbaik, yaitu berprasangka baik kepada Allah. Prinsip lainnya adalah link the child to his creator, anger management, dan menciptakan atmosfer keluarga yang positif dan sehat, yaitu dengan memberikan contoh-contoh positif kepada anak-anak.
Komponen yang kedua adalah knowledge atau ilmu pengetahuan. Hal ini menjadi logis dan masuk akal karena sebagai seorang muslim, we have to do anything based on knowledge. Sambil menunggu Allah memberi rezeki berupa pernikahan dan keluarga, belajar saja dulu, karena dengan belajar berarti bahwa kita sedang berupaya untuk dapat menjalankan ibadah dengan benar. Iqra or read is the best wiring of knowledge. Tapi, haruskah hanya dengan membaca buku? Tidak, karena arti membaca disini bisa sangat sangat luas, termasuk membaca hikmah yang Allah hadirkan dalam kehidupan kita.
Komponen yang ketiga adalah willingness to change. Bagaimana caranya? Yaitu dengan self-search dan self-improvement karena tantangan zaman hari ini dan hari-hari berikutnya akan semakin menantang sehingga kita tidak bisa lagi menggunakan cara-cara lama yang digunakan oleh orangtua kita dalam mengasuh kita dulu.
Komponen yang keempat adalah membentuk positive and healty family atmosphere yang berkaitan dengan kualitas-kualitas yang harus kita miliki kelak ketika menjadi orangtua, yaitu
building relationship, understand our children, willing to gain knowledge, active and nurture the fitra in them, be friend to the, reason up and explain wisdom, and make sure that your Islamic life is not miserable.
Hmm, kualitas terakhir itu cukup bikin mikir, ya! Sedih juga, mengingat kehidupan berislam kita (eh saya maksudnya) yang mungkin masih miserable. Semoga Allah mampukan kita untuk menjadi muslim yang selalu menjadi lebih baik setiap harinya.
Komponen yang terakhir adalah wisdom atau kebijaksanaan. Saya baru menyadari bahwa ternyata ada kekeliruan-kekeliruan dalam wisdom ini setelah Mr. Rida memberi penjelasan mengenai lack of wisdom, seperti contohnya picking your fights, making halal become difficult and haram become easy, living unfulfilled dream through our teen, using all inherited methods of Tarbiyah, and blind imitation. Wow, sedikit banyak hal tersebut terjadi pada kita atau sekitar kita, bukan?
Sebaliknya, kebijaksanaan ini dapat dilakukan dengan meng-install konsep-konsep penting kepada anak-anak kita, yaitu bahwa,
Allah is our creator and He loves us. Rasulullah is our role model. Our real home is in the hereafter. Allah is with us all the time, He always supporting and watching. We are accountable for actions and the use of our sense. And, you have to be keen about what is good for you.
Alhamdulillah. Sekian review dari Raising A Mindful Family yang bisa saya tuliskan, mohon maaf untuk setiap keterbatasan atau bahasa Inggris saya yang masih berantakan. Semoga setiap upaya kita dalam belajar, mempersiapkan, dan memperbaiki semua hal terkait kehidupan keluarga bisa menjadi nilai ibadah yang dibicarakan-Nya bersama malaikat-malaikat pencatat amal kebaikan. Sampai jumpa di review-review belajar selanjutnya. Baarakallahu fiik :)
PS: Untuk membaca artikel-artikel lain tentang pranikah dan parenting, klik disini dan disini.
_____
Picture Source: Pexels
Raising A Mindful Family #1
Tulisan ini ditulis sebagai review dari International Islamic Parenting Seminar dengan judul “Raising A Mindful Family” yang dilaksanakan di Bandung, 3 Februari 2018. Seluruh materi yang dituliskan kembali disini disampaikan oleh Dr. Mohamed Rida Beshir, seorang Islamic Marriage and Parenting Expert yang berasal dari Canada yang juga merupakan co-author dari buku best seller berjudul “Parenting Skills: Based on The Qur’an and Sunnah”. Sebagai penghubung antara materi satu ke materi yang lainnya, hadir juga Ustadz Adriano Rusfi, seorang Psikolog yang juga founder dari Majelis Luqmanul Hakim.
Sebelumnya, mohon maaf untuk kalimat-kalimat berbahasa Inggris yang saya pertahankan sebagaimana materi diberikan, karena khawatir ada pemaknaan yang hilang atau kurang lengkap jika semua ditranslasi ke dalam bahasa Indonesia. Enjoy reading, happy learning!
Lecturing diawali dengan pertanyaan yang lucu dari Mr. Rida, “Marriage is a 3 ring circus: engagement, wedding, and .. what’s the 3rd ring?” Saya kemudian menjawab, “The 3rd is parenting.” karena saya berpikir bahwa parenting adalah hal esensial dalam keluarga, dan juga karena belakangnya -ing. Haha. Tapi ternyata jawaban saya salah! Beliau bilang, ring yang ketiga adalah suffering alias kesediaan untuk menderita. Wow, agak mengerikan ya mendengarnya. Tapi, banyak kasus di ring ketiga ini sehingga berujung pada perceraian.
Amerika Utara memiliki tingkat perceraian sebesar 31,4% sementara di negeri kita sendiri, 84% perceraian terjadi di 5 tahun pertama karena alasan-alasan sepele. Wow, angka ini cukup mencengangkan, ya! Lalu, bagaimana agar kita dapat menghindari hal tersebut? Semua berawal dari proses pemilihan pasangan. Kepada laki-laki, panduan memilih pasangan sudah jelas tersampaikan melalui sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, yaitu,
“A woman is sought for marriage for 4 reasons: her wealth, her beauty, her social status, and her Deen. So, select the one who is religious, otherwise, you are at loss.”
Meski terkesan hanya diperuntukkan bagi laki-laki, sebenarnya hadist ini juga menjadi petunjuk bagi perempuan, yaitu bahwa jika tanpa iman, maka kekayaan, kecantikan, dan sosial status menjadi tidak ada artinya.
Lalu, bagaimana dengan perempuan? Apakah hadist tadi tidak bisa menjadi patokan bagi perempuan dalam memilih pasangan? Tentu saja bisa, dan ada juga hadist lain yang menjelaskan bagaimana perempuan memilih pasangan, yaitu,
“If there comes to you one with whose character and religious commitment you are pleased, then give (your daughter or female relative under your care) to him in marriage ..”
Yup, perempuan dianjurkan untuk melihat laki-laki dari agama dan akhlaknya.
Setelah menentukan pasangan, lalu apa yang menjadi kunci bagi pernikahan yang sukses dan bahagia? Berikut adalah 10 Keys to Blissfull and Successfull Marriage yang disampaikan oleh Mr. Rida.
Pertama, mutual commitment to marriage status. Mutual berarti bahwa komitmen yang kuat terhadap pernikahan ini tidak hanya dipegang oleh perempuan saja atau laki-laki saja, tapi keduanya. Pada siapa sebenarnya komitmen ini terjadi? Apakah isteri pada suami? Atau suami kepada isteri? Utamanya, komitmen itu, atau yang sering kita kenal sebagai mitsaqan ghaliza, adalah komitmen kepada Allah.
“Fear Allah in your dealing with your wives. This relationship is a trust from Allah.”
“Take a good care of your wives. They are entrusted to you by Allah.”
Menariknya, kalimat yang diucapkan seorang laki-laki kepada wali nikah perempuan saat ijab qabul dalam aturan bahasa arab merupakan kalimat fi’il madi atau past tense. Mengapa? Karena dengan siapa kita menikah sudah Allah tetapkan jauh sebelum hari akad nikah terjadi, bahkan sebelum kita terlahir ke dunia, sehingga akad ini adalah bentuk pengesahan bagi ketentuan yang telah ada tersebut. Maa syaa Allah.
Kedua, trust and faithfullness, yang untuk menghadirkannya kita perlu memerhatikan dan menjalankan petunjuk Rasulullah, yaitu tentang bagaimana interaksi antarlawan jenis di dalam Islam. Selain itu, trust and faithfullness ini juga membutuhkan transparency and clarity, dimana masing-masing pasangan perlu membantu pasangannya untuk bisa memberikan kepercayaan terhadapnya.
Keempat, proper understanding of objective of marriage. Yup, tujuan pernikahan! Mr. Rida bertanya pada seluruh peserta seminar, “How do you think most men define marriage?” Seluruh peserta terlihat berpikir, pun peserta-peserta laki-laki yang duduk di sayap kanan. Lalu, Mr. Rida menjawab, “Most men define marriage as a very expensive way to get laundry done!” Hahaha, beliau ini memang lawak sih ya, kocaque! Kemudian, tujuan-tujuan terbaik dari pernikahan pun disampaikan: realizing and fulfilling sunnah, peace and tranquility, comfort, serenity, satisfaction, protection, shelter, becoming your self, dan lain-lain. Tapi, diantara semuanya, ada satu yang menurut saya adalah the ultimate objective of marriage. Apakah itu?
Help each other to be closer to Allah by encouraging our spouse to do a right things.
Kunci pernikahan yang kelima adalah proper understanding of gender relation, yaitu relasi yang supporting, protecting, and cooperating with each other for righteousness. Nah, kalau kita pikir-pikir dari segi bahasa tentang ketiganya itu, rasa-rasanya ada bagian supperior (misalnya yang mensupport dan menjaga), tapi ternyata tidak demikian, karena supporting and protecting is not about top-down, but equal.
“And women have the same rights as the duties they have to fulfill in kindness and according to what is equitable.”
Keenam, proper understanding of spousal obligation. Disamping suami dan isteri memiliki kewajiban masing-masing yang harus dipenuhi, ternyata ada juga kewajiban bersama yang harus dipenuhi oleh keduanya, yaitu
treating one another with respect, love, and gentleness; providing companionship for each other, helping each other to be better Muslim, fulfilling each other emotional needs, and dealing with each other based on the proper understanding of qawwamah, obedience of wife to husband in Islam (the standard is according to syariah), and status of woman in Islam.
Selain itu, disebutkan pula dalam Al-Baqarah ayat 187 tentang relasi dan kewajiban pasangan, yaitu bahwa, “They are your garment and you are their garment.”
Ketujuh, following the Quranic way of communication. Memang ya, Al-Qur’an ini maa syaa Allah, keren sekali! Sampai-sampai, untuk urusan komunikasi pun dibahas. Salah satunya adalah tentang Ahsan: we should only say words that are the best. Rasulullah pun mencontohkan sikap-sikap terbaik saat berkomunikasi, dimana beliau,
always used descent language and good words, never raised his voice, never got angry for personal reasons, did not blame or point fingers, never called other with bad names, always conveyed respect and consideration, faced the person talking to him, never cut a person off while talking, repeated himself to make sure that he was clear, confirmed what other person said, and illustrated what he was saying.
Kedelapan, paying special attention to the early stage of marriage. Hmm, awalnya saya heran, memangnya kenapa dengan tahun-tahun pertama pernikahan sampai dibilang perlu paying special attention? Bukankah itu masa-masa bahagia? Tapi ternyata, early stage of marriage ini ya memang sweet, but critical. Ustadz Adriano Rusfi pun menjelaskan tentang banyak sekali problematika di awal pernikahan, yang bisa menjadi pemicu pernikahan bahkan sebelum pernikahan itu memasuki usia 5 tahun pertama.
Ternyata, problematika yang seringkali terjadi di awal pernikahan ini adalah bagaimana menyatuka dua pribadi yang bereda, problematika finansial, perbedaan prinsip dalam pendidikan anak (biasanya masalahnya adalah suami dominan untuk mengambil keputusan tapi suami tidak lebih memahami parenting daripada isteri yang suka belajar), dan hadirnya pihak ketiga, baik itu orangtua atau mertua, yang merasa masih perlu melakukan intervensi tata kelola rumah tangga anaknya. Semua ini terkait juga dengan kunci kesembilan, yaitu learning and practicing Islamic way of addresing conflict.
“What is the last key that’s not written in the presentation?” tanya Mr. Rida. Hmm, apa ya? Ternyata, setelah setengah menit diberikan waktu untuk berpikir, jawabannya adalah PRE MARITAL EDUCATION. Beliau mengatakan, sembilan kunci sebelumnya hanya akan dapat menjadi sempurna jika semuanya diawali dengan pendidikan pra-nikah. Beliau juga meyakinkan para peserta yang masih ada di stage pra-nikah bahwa pernikahan, mengasuh, dan mengelola rumah tangga perlu diawali dengan kesediaan untuk belajar dan menuntut ilmu, bahkan jauh sebelum menikah.
Bersambung ke tulisan berikutnya, ya! :)
_____
Picture Source: Pexels
Bagaimana Baiknya
Suatu hari, disaat langit sedang kelabu-kelabunya, hatiku pun demikian. Adik bimbinganku mengirimkan sebuah pesan pendek melalui whatsapp. Aku sedang berbaring di tempat tidur, memandangi jendela, memerhatikan pohon yang bergerak-gerak ditiup angin, menantu hujan.
“Kak, mau nanya dong. Apa aja sih yang harus diperjuangkan oleh seorang laki-laki terhadap perempuan yang disukainya. Biar mendapatkan sinyal positif, biar bisa meyakinkannya (dan keluarganya), biar bisa mencuri hatinya. Laki-laki itu harus bagaimana?” tanyanya.
Aku membacanya, malas. Menimang-nimang kembali handphoneku, lalu melemparkannya ke tumpukan baju. Aku memilih untuk menidurkan diri,
Lepas tengah malam. Aku masih berkutat dengan buku, dengan pikiranku, dengan kegelisahanku. Aku memungut kembali handphone yang sedari tadi aku buka. Memandang kembali pertanyaan dari adik kelasku yang tak kunjung ku balas.
“Dengan beribadah dengan baik, bekerja dengan tekun, fokus, berbuat baik pada banyak orang, rutin mengkaji ilmu, ikut kegiatan yang bermanfaat, membantu orang lain, dan terakhir, berbakti kepada kedua orang tua.” jawabku.
Aku tahu, aku sedang menasihati diriku sendiri.
©kurniawangunadi
Pilihan Untukmu Muslimah
Pilihan Untukmu Muslimah Seorang lelaki yang ringan tangannya untuk bermaksiat, mudah lisannya untuk melaknat, dan itu sebelum dia menikah. Maka adakah jaminan setelah menikah dia berubah? Dia yang berani memegang tanganmu, mengumbar rayuan bagimu, padahal belum menikahimu. Apa jaminan ia tak melakukan itu pada wanita lain setelah menikahimu? Pacaran dan selingkuh itu esensinya sama, sama-sama dosa, sama-sama pegang tangan yang belum halal, merayu padahal belum akad, sama-sama maksiatnya Maka lelaki yang mudah bermaksiat sebelum menikah, maka dia akan cenderung lebih mudah lagi bermaksiat setelah menikah. Karena maksiat itu candu, terus-menerus Mereka yang terus bermaksiat, terlatih kehilangan rasa takut pada Allah. Bisa anda bayangkan berumah tangga dengan orang yang tak takutkan Allah? Masalah menanti Berbeda dengan lelaki yang menjaga pikiran, pandangan, dan kehormatannya. Bukan karena tak laku atau tak bisa, tapi karena enggan bermaksiat, takut Allah Lelaki begini, saat jadi suami juga takut Allah. Ia takut khianat pada akad yang dia ucapan dengan membawa nama Allah. Maka engkau akan dijaganya, dimuliakan olehnya Ia mengambil dirimu dari orangtuamu dengan nama Allah. Maka ia akan menggantikan peran ayah ibumu dengan apapun yang dia miliki, dia berikan yang terbaik dari dirinya Dipilalhkan harta halal bagimu, dipilihkan kehidupan terbaik bagimu, dengan ilmu engkau dibimbing, dengan kelembutan engkau dididik, diatas syariat rumahtanggamu dibangun Kelak saat engkau bermasalah dengannya, dia takkan kasar, dia takkan jahat. Kepergiannya tak mencurigakan, bersamanya menenangkan, sebab Allah selalu diajak serta Manakah jalan yang engkau pilih Muslimah hamba Allah? Adakah kebahagiaan yang Allah janjikan dalam taat, atau kesengsaraan yang pasti sebab maksiat? #UdahPutusinAja #AlFatihStudios Credit to AlFatih Studios, artwork oleh mas @yafieg, thanks to both of them 🙂🙂🙂 (RSS generated with FetchRss)
Menikah itu rindunya jadi pahala, selingkuhnya jadi dosa.
— Taufik Aulia
Hanya komentar, maklum masih pengamat.
Semoga belum terlambat, ada saatnya kita berjuang, tetapi kita selalu perlu rumah untuk pulang. Sementara kekasih kita mungkin butuh hal-hal sederhana, semacam pelukan, kecupan di kening, atau waktu bersama untuk mengobrol hal-hal tidak penting. Dunia mungkin menjanjikan banyak hal untuk kita, kesempatan bisa jadi seolah tak akan datang dua kali… Namun, masa kecil anak-anak juga tak akan terulang, bukan? . Kini, barangkali inilah saatnya, jika kau ingin mengubah dunia, mungkin memang kau harus memulainya dengan pulang ke rumah dan mencintai keluargamu. Setelah itu, dunia akan berada dalam genggamanmu. Percaya atau tidak… . (Baca selengkapnya di Facebook Page saya)
She was unstoppable - not because she did not have failures and doubts - but because she continued on in spite of them.
Unknown (via onlinecounsellingcollege)
At Moz5 Salon Muslimah
At Moz5 Salon Muslimah – See on Path.
"Ada dua hal yg paling berharga di dunia: yg pertama adalah kesehatan, yg kedua adalah kesempatan," - Teman Imaji, Mutia Prawitasari (at Jakarta, Indonesia)