Merangkum Kata Psikolog
Setelah stillbirth kemarin, aku dan suami memutuskan untuk konseling pasangan ke psikolog di Arsanara. Awalnya aku mau dengan psikolog yang menangani skrining kesehatan mentalku awal April kemarin, tapi karena tidak ada jadwal yang tersedia akhirnya kita memutuskan konseling dengan psikolog lain, Mba Diva namanya.
Sesi konseling ini berlangsung satu jam. Aku memang sengaja mengajak suami karena juga mengkhawatirkan dia yang mungkin lebih sulit untuk mengungkapkan emosi. Suami akan jauh lebih rentan dan sulit berekspresi karena mau tidak mau dituntut untuk jauh lebih kuat dibanding istri yang masih fokus dengan pemulihan fisik. Tapi aku juga tau bahwa suamiku sama rapuhnya denganku. Jadi semoga konseling ini bisa membantu kami untuk lebih fokus dan mindfull terhadap apa yang sedang kami hadapi.
Oke, here is it apa-apa yang psikolog kami sampaikan kemarin:
Griefing is like eat bitterpill. Dia adalah obat pahit yang mau nggak mau tetep harus ditelen buat bisa sembuh.
Kadang posisi nggak nyaman dalam berduka itu bisa terjadi dalam banyak hal. Bisa sedih karena kehilangan anak itu sendiri, atau bingung karena perubahan hidup yang terjadi besar-besaran juga secara mendadak ini, atau karena kecewa akan realitas yang sudah kita bayangkan namun tidak terjadi.
Proses berduka ibarat gajah dalam snowball. Awalnya mungkin kita ngerasa bahwa griefing berat banget, kayak nggak mungkin untuk di lewati. Tapi seiring berjalannya waktu dan seiring kita bertumbuh, snowball akan menggulung salju yang bahkan lebih besar dari gajah. Sehingga kita akan mampu berteman dengan grief tersebut dan dukanya jauh akan terlihat lebih kecil, namun padahal tetap sebesar gajah.
Saling support sama pasangan its super important. Kita sama-sama berduka, sama-sama berjuang untuk bisa pulih, sama-sama terluka dan bertahan dengan mode masing-masing. Nggak ada yang lebih dibutuhkan kecuali pasangan.
Mungkin itu yang bisa aku inget dari sesi konseling griefing kami kemarin. Semoga bisa menjadi pengingat dan penyemangat bagi kami, agar kami bisa melanjutkan hidup dan bisa mencari hikmah yang Allah berikan di fase yang sulit ini. Semoga kami juga Allah beri kesehatan dan keridhoanNya agar mampu menjadi sosok ayah dan ibu bagi buah hati kami yang sehat kelak, amin ya rabb..










