Di terik matahari siang hari itu, kami menuju suatu tempat reparasi barang elektronik.
tak sengaja memang, entah mengapa obrolan kami seputar pendidikan anak dimasa mendatang.
menerawang ingatan ku mengingat bapak dan ibu mendidik aku sewaktu kecil.
terlebih bapak, aku tetiba merindukan teriakan tegas, bentakan galak dari seorang bapak yang bisa dibilang seringnya gengsi untuk menyatakan sayang kepada anaknya.
dulu, bapak sangat galak. Tegas cenderung sangat galak.
aku tidak seperti anak lain yang dibebaskan orang tuanya untuk bebas bermain di lapangan luas bersama teman-teman sebaya ku.
aku bukan anak yang tiap sore bermain permainan karet atau semacamnya.
aku cenderung di rumah, banyak belajar mata pelajaran formal dan ya lebih sering nya bermain bongkar pasang kertas, masak-masakan, serta main boneka.
semua seringnya dilakukan sendiri jika ibuku pergi mengajar.
iya, aku dulu cenderung memendam semuanya sendiri. aku ceria, tak pernah menunjukkan apa kesusahanku kepada orang lain.
yang paling aku ingat dari sosok bapak : memarahi ketika salah mengaji, mendenda (dengan pekerjaan rumah) jika nilai ulangan harian atau raporku nilainya kecil, menunggu di ujung jalan tempat aku berkumpul dengan teman (jika saat diperbolehkan main). Iya. Bapak sangat overprotective kepada anak perempuan sulungnya.
Situasi itu aku rasakan hingga lulus SMA. temanku sedikit. karena ya memang aku hanya dapat berkumpul dengan mereka ketika jam sekolah. Selebihnya? Jangan harap aku bisa keluar rumah. Tak heran jika prestasi ku baik ketika masa sekolah diawasi orang tuaku.
Kuliah pun sama, segala bentuk pergerakanku bapak awasi. Pernah suatu malam bapak telepon aku dan tidak ada jawaban, langsung bapak kost turun tangan. Haha rasanya hari itu gempar. Karena selama 2 jam bapak tak bisa hubungi anaknya yang jauh.
Kini, usiaku menginjak 26 tahun.
Bapak sudah banyak berubah, bapak malah sudah tidak pernah telepon tiap 2 jam,
Bapak membebaskan semuanya. Itu semua karena bapak tau, siapa yang ada di sampingku saat ini :)