“Jika kamu memenangkan nafsu di atas segalanya, kamu tidak akan pernah menang”
Di suatu sore, saya ngobrol dengan suami saya. Bayi cantik kami sedang pulas, dipikir-pikir sudah lama sekali tidak ngobrol berdua.
“Ayah, apa kita perlu bikin asuransi pendidikan buat Aufina (anak kami)?”
Pertanyaan itu pertama kali muncul di benak setelah saya menonton iklan komersial asuransi syariah di televisi. Sebagai ibu baru saya begitu excited sekali dengan dunia pendidikan anak.
Seperti kebanyakan orang tua lainnya, saya pun ingin mempersiapkan yang terbaik untuk anak–meski sekarang Aufina baru 10 bulan.
“Kalau baik untuk Aufina, kenapa engga” jawab suami.
“Atau.. Kita bikin tabungan pendidikan aja?” tanya saya lagi. Jangan tanya kenapa perempuan suka banyak bertanya.
“Kayaknya lebih baik tabungan aja” jawab suami.
Dalam pikiran saya saat itu terjadi perdebatan. Bukan antar ide asuransi vs tabungan. Tapi perdebatan tentang kebutuhan mana dulu yang harus masuk daftar prioritas.
Saat berpikir tentang tabungan pendidikan, saya juga berpikir tentang kendaraan roda empat. Setelah punya anak, motor atau kendaraan umum tidak selalu bisa digunakan. Terlalu berisiko. Dan kami tidak selalu bisa meminjam mobil orang tua. Muncullah kebutuhan (atau keinginan?) untuk memiliki mobil sendiri.
Di saat yang sama, saya juga berpikir bahwa kami butuh (atau ingin?) rekreasi akhir tahun. Di saat yang sama saya juga memikirkan rumah milik sendiri, haji bersama, investasi, dan kebutuhan (atau keinginan?) lainnya.
Tanpa saya sadari pikiran saya mengelana begitu jauh. Sampai di satu titik, saya menyadari bahwa saya membuka ‘pintu’ terlalu lebar untuk dunia.
“Astaghfirullah…” ucap saya
Suami saya melirik dengan tanda tanya di matanya.
“Kalau kita mendaftar seluruh kebutuhan dan keinginan kita, kayaknya kita ngga akan pernah selesai menuliskannya, ya” jawab saya, “ketika belum punya pasangan, melihat pernikahan sebagai kesenangan. Setelah menikah, menganggap anak akan menambah kesenangan. Setelah punya anak, muncul keinginan memiliki kendaraan yang memadai, lalu ingin investasi ini itu demi masa depan anak. Dan seterusnya..”
Suami saya menanggapi, “Persis seperti yang Allah katakan, sebelum kita menyadari sifat kodrati kita sebagai manusia”
Saya terdiam sambil mengingat lagi ayat yang dimaksud.
“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis perak, emas, kuda, pilihan hewan ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan di dunia. Namun di sisi Allah tempat kembali yang baik yaitu (surga)”.
Begitulah terjemahannya yang saya baca.
“Ayat itu seperti menjelaskan alur ujian duniawi yang akan dilalui manusia. Wanita, anak, emas atau harta, kuda atau kendaraan, ladang atau investasi. Ustadz Salim A. Fillah yang pernah ceramah tentang itu” kata suami saya.
Tepat sekali. Jika dunia adalah lintasan lari dan kita berlari di atasnya, kita tidak akan menemukan garis finish selain kematian yang memaksa kita berhenti.
Semakin dikejar semakin asyik. Semakin dekat semakin memikat.
Dunia tidak akan cukup besar untuk mengisi kekosongan hati manusia. Akan selalu ada sisa ruang yang membuat kita terus mencari dan meneguk dunia.
Meski demikian, kita tetap harus memikirkan dan mencari dunia. Tapi bukan untuk memilikinya, melainkan untuk mengalahkannya. Sebab zuhud berarti mengalahkan dunia, bukan menghindarinya.
“Tempatkan akhirat di hatimu dan dunia di tanganmu”
Sesungguhnya pertempuran paling berat adalah pertempuran antara nafsu dan nurani. Bagaimana pun, kita tidak hidup di dunia untuk selamanya.