Naik Haji
Besok adalah bulan dzulhijjah. Kita tahu bersama bahwasanya bulan dzulhijjah adalah bulannya kaum muslimin berangkat untuk menunaikan kewajibannya menjadi seorang muslim sejati. Ya! “Naik Haji”.
"Naik Haji” adalah kewajiban bagi seorang muslim bagi yang mampu. Tapi istilah kata “bagi yang mampu” ini sering kali disalahartikan oleh kebanyakan umat muslim itu sendiri. Pada umumnya, orang-orang beranggapan bahwa yang mampu itu adalah orang-orang kaya yang secara finansial jauh melebihi dari kebutuhan pokoknya. Karena seperti yang kita tahu, berangkat haji memang memerlukan biaya yang tidak sedikit. Mulai dari biaya transportasi, akomodasi, konsumsi sampai nafkah untuk orang-orang yang kita tinggalkan selama prosesi "Naik Haji” dilakukan, misal istri dan anak-anak kita. Tapi masalahnya, “mampu” yang dimaksud adalah mampu dalam arti yang luas. Mampu untuk menabung, mampu untuk mengusahakan diri, dan mampu-mampu yang lainnya.
Silakan kalian searching di google dengan keyword “naik haji jalan kaki”. Itu adalah kisah nyata dari seorang pria asal Pekalongan yang berangkat haji dengan jalan kaki.
Sebuah petuah dari Ustadz Abdullah Amir Maretan hafidzhohullah, “Naik Haji itu bukan tentang menabung atau masalah uang. Naik Haji itu panggilan Allah.”
Beliau hafidzhohullah menceritakan dua kisah yang menunjang statement-nya tersebut. Kisah pertama beliau hafidzhohullah menceritakan tentang seseorang yang secara finansial sangat tidak mungkin untuk berangkat haji dan secara fisikpun kalau harus berjalan kaki sudah tidak memungkinkan mengingat usia yang sudah cukup tua. Bermodalkan niat yang ikhlas karena Allah, ternyata Allah mengabulkan niatnya itu dengan cara memasukkan orang ini kedalam salah satu dari 2.000 orang yang diundang haji oleh Kerajaan Arab Saudi.
Sedikit informasi, dulu sebelum covid 19 melanda dunia ini, Kerajaan Arab Saudi selalu mengundang 1.000 umat muslim dari seluruh dunia dan 1.000 umat muslim khusus Palestina untuk melaksanakan ibadah haji setiap tahunnya. Seluruh transportasi, akomodasi, dan konsumsi menuju dan di Arab Saudi ditanggung oleh Kerajaan Arab Saudi. Tinggal menyiapkan paspor dan fisik untuk persiapan keberangkatan saja.
Kisah kedua beliau hafidzhohullah menceritakan tentang orang Indonesia yang sudah sukses berjualan selama 32 tahun di sebuah kota yang tidak jauh dari Mekkah, tapi belum pernah sekalipun orang ini pergi haji. Padahal secara finansial dia mampu dan secara fisikpun dia mampu, mengingat domisili dia dekat dengan Mekkah.
Beliau hafidzhohullah mengingatkan saya dan jamaah yang lain yang hadir saat majelis itu untuk senantiasa memperbaiki niat kita dalam perkara “Naik Haji” ini dan tidak lupa untuk senantiasa berdoa agar kita dimudahkan oleh Allah dalam urusan ini.
Saat ini saya sedang membayangkan, bagaimana perasaan para jamaah haji yang akan berangkat di tahun ini. Saya yakin, mereka pasti sudah sangat rindu. Apalagi bagi para jamaah yang akan menjajakan kakinya di Mekkah untuk pertama kalinya. Perasaan rindu itu mungkin sudah ada sejak pertama kali dia daftar haji. Ibarat pohon, perasaan rindu yang diawal itu adalah benihnya. Benih itu dipupuk dan disiram sedemikian lamanya hingga akhirnya benih itu sudah menjadi pohon besar yang tinggal menunggu waktu untuk memanen buahnya. Perasaan haru bahagia bahkan tangis pasti akan menghampiri mereka saat waktunya tiba. Jangankan mereka, saya saja yang membayangkan hal itu ingin menangis rasanya.
Terlepas dari itu semua, saya berharap kepada Allah semoga Allah menakdirkan kita 'saya dan yang membaca’ untuk bisa berangkat haji dan umroh minimal sekali dalam seumur hidup kita. Tidak lupa saya berdoa kepada Allah, semoga para jamaah haji yang sudah berangkat di tahun-tahun sebelumnya dan yang akan berangkat di tahun ini mendapat hidayah dan dijaga dalam hidayah tesebut.
Barakallahu fiikum.









