Ramadan dan Lebaran yang Ramai Lagi.
Hari Kemenangan -- sebuah judul untuk hari ini. Namun aku masih merasa sangat jauh dari kemenangan, atau mungkin boleh dibilang menang curang. Undeserving victory, atau murni reaching 1 Syawal 1443 karena His mercy. 29 hari meluap begitu saja, namun checklist ramadhan goals yang ditulis diawal bulan banyak yang terabai. Entah karena hiruk pikuk duniawi yang sulit digeser prioritasnya, atau kadar iman yang fluktuatif: (1) fokus yang banyak terbelah, (2) target juz yang tidak sampai, (3) rencana2 tarawih di masjid yang gagal, sampai (4) qadarullah datang bulan di H-1 idul fitri. Sudah 5 tahun tidak bisa solat Eid. 4 karena haid, 1 karena nyasar salah nyari alamat masjid di negeri perantauan hingga tibanya sudah terlambat. Istigfar, bulan ini jadi kurang afdol rasanya. Sedih, kecewa, dan sesak menyelimuti hari-hari akhir puasa sambil bergumam: apa ini bentuk dosa-dosaku yang tengah memberatkanku (halah)? Ingin rasanya merasakan lagi momen-momen spiritual high di tahun-tahun sebelumnya. Lalu aku membandingkan: tahun 2019, 2020, ramadan ku ada dalam perantauan di negeri penjajah. Asingnya lingkungan disekitar dan sulitnya wadah untuk menaungi kegiatan agama sehari hari justru membuat ku lebih khusyuk karena perjuangannya terasa. 2020 2021 juga tahun-tahun puncak pandemi, dimana nuansa kesendirian di dalam rumah turut memberikanku banyak waktu untuk muhasabah.
Alhamdulillah 2022 transisi endemi, jadwal bukber pun memenuhi agenda jam 6 sore hari hari ku. Circle SMP, SMA, kantor, kantor lama, saudara, dan teman-teman kuliah yang sukar dijumpai seperti terasa wajib untuk dilewatkan. Kadang menggeser waktu tarawih, ataupun jam-jam membaca. Astagfirullah aku, yang kadang sambil berangkat kerap menyalahkan diri sendiri karena terbuai peer pressure. Namun ternyata, rindu yang terbayar tuntas itu telah menukar banyak kultum pembelajaran kehidupan yang berbeda di setiap sesinya, antara lain (disclaimer: konten berisikan curcol & bercabang kemana mana);
(1) Alkisah di pertengahan ramadan aku berakhir pekan di Bali untuk menghadiri acara pernikahan teman yang asli dari Beng. Acaranya jam 5, pas maghrib buka disana. Hari itu bertepatan dengan malam purnama. Jalanan ramai dengan orang lalu lalang ke puri untuk upacara. Befriending seorang supir Bli Kadek yang mengantar hari hariku disana, sampai juga dia bercerita perihal sucinya malam purnama karena para dewa-dewi dipercaya turun ke bumi. Aku setuju dimana mana Qamar memang melambangkan kebesaranMu, batinku. Lalu ia melanjutkan, ‘saya senang bisa berbagi cerita keberagaman seperti ini, kemarin saya bawa tamu, satu mobil menertawakan pohon beringin yang katanya kedinginan karena dibalut kain saput poleng. Yah tapi gimana saya kan cuma nyetir aja.‘ Ya Allah, apa makna kemenangan, jika etika toleransi dasar masih begitu rabun.
(2) Loncat cerita, aku bertemu Nadya bersama anaknya, Lula, yang tiba-tiba sudah satu setengah tahun saja. Aku yang dianugerahi titel god-mother terkaget karena terakhir jumpa ia masih berupa boneka, tetiba sekarang berucap ‘gendong’, ‘makan’, sampai minta ‘gambarin sapi’. Nadya yang dulu temen jajan 24/7 dan teman berpertualang naik turun gunung bukit di penjuru proyek bisa-bisanya ngomong: ‘badan gue udah bukan punya gue lagi wkwkwk, sekarang kalau mau pergi makan, gue pesennya yang bisa dimakan Lula juga, bukan yang gue mau,’ katanya dengan template wajah senyumnya. MashaaAllah, disitu aku merasa ditampar ego ku yang masih ingin melanglang buana, meski kadang suka asal nyeletuk ingin punya anak. #respekuntukparaibu!
(3) Malam 21 ramadan, aku si tergesa-gesa pergi berangkat bukber kerumah Rana. Aku yang merasa sedang banyak distraksi setengah-setengah memohon kepadaNya sambil menyetir: 'Ya Allah, bantu aku mengingatmu lebih baik lagi di 10 hari terakhir bulan ini, apapun caranya.’ Lalu sampai juga aku di jalan kecil sebelum masuk kompleks Rana, yang dihiasi sebuah truk container besar yang nyangkut di bawah pohon. Ketika giliranku menyusul ke samping truk tersebut, ternyata sang sopir memutuskan untuk menginjak gas juga. Kretak, ...dum! Jadilah batang2 besar dari pohon tersebut patah dan berjatuhan. Qadarullah, dari sekian mobil yang ada, semua jatuh ke mobilku. Sekali, spion patah, dua kali, tiga kali, atap mobil terasa bergerumuh, hingga klimaksnya kaca mobil di kiri pecah. Panik takut pohonnya tumbang, aku pun loncat keluar. Ingat do’aku tadi?--ya, jadilah auto ingat Tuhan. Alhamdulillah masih selamat dan pecahnya bukan di sisi driver :’ dan untung tidak ada yang nebeng. Alhamdulillahnya lagi, tkp sudah sekian meter dari rumah Rana, jadi kawan-kawan sigap to the rescue. Di pinggir jalan terpampang rambu bahwa truk memang dilarang melewati jalan ROW 7m itu, namun nampaknya sang supir pasrah saja karena diarahkan oknum. Agenda bukber itu kemudian berubah menjadi misi negosiasi ganti rugi. (Terimakasih Karissa, Ran, Kev, & Bari; jubir-jubir karena aku sudah kicep dengan situasi.) Tapi akhirnya gak tega juga melihat supir yang dipojokkan oknum-oknum. Saya yakin dia juga sudah tertekan dari awal nyangkut. Jadilah agenda selanjutnya menjadi kegiatan refleksi diri: mengikhlaskan keadaan & belajar bergerak dengan lebih --mindful--
(4) Suatu hari aku berbuka bersama geng muay thai di Kemang Utara, rumah bu Icha, si psikolog anak psikolog keluarga. Sore itu terbagi dua regu selera: si penyuka manis, dan tim snack asin. Aku si sweet tooth alhamdulillah memiliki kulkas yang hampir selalu berisikan kue; yang jika ada tamu, kue lah yang akan ku keluarkan. Tapi ternyata tidak semua suka kue, dan tidak semua akan berkata jujur. Akhirnya terbongkar kalau Rana suka curhat ke teman-teman di tanah air kalau dia selalu pusing setiap aku sajikan kue dan teh di kosan dulu (mungkin Yasmin dan Wida sudah khatam).
‘Hahaha, semacam gesture cinta yang tidak bisa dipahami oleh yang diberi,’ kata Icha.
’Tapi lo gk pernah belajarr juga, haha,’ sindir halus Rana.
‘Beda love language aja gk sih,’ kata Dea, ‘atau gak compatible aja,’ canda Kevin.
’Eh iya itu apa ya istilah tepatnya Tan?,’ akhirnya ku bertanya pada tante mama psikolog.
‘Hmmm…,’ si tante mikir, ‘ya egosentris aja, menganggap semua orang melihat dan menyukai dunia dari sudut pandang yang sama,’ jawabnya tajam sambil tertawa.
Jleb, jawaban unexpected, tapi aku tidak pernah merenunginya dari sisi itu. Kami pun tertawa geli. Baiklah, mungkin sekarang saatnya belajar lebih banyak bertanya dan mendengar; daripada efforts gone wasted.
(5) Terakhir, usai suatu bukber di kawasan scbd itu, aku menarik Dira dan Canna untuk menikmati ruang publik-semi-private di lt. 8 Mall Ashta yang baru. Di Jakarta ini masih terhitung jari ruang cuma-cuma untuk dapat menghirup udara segar dan duduk-duduk santai sambil menikmati skyline kota ditengah hijaunya daun--terutama dengan penerangan yang aman (karena itu sudah malam). Diperjalanan, kami melewati toko dengan rupa estetik bernuansa kinfolk. Namanya Art & Science, yang setelah di skim&scan, ia menjual kartu konversasi yang menarik: Cards for Grown Ups. Spontan kami beli saja, hitung-hitung duduk santai nanti bisa lebih produktif dan bonding. Dan ternyata worth it, salah satu kartu yang diacak malam itu berisikan tugas untuk membacakan Eulogy pada setiap teman yang ada saat itu selama 1 menit. ‘Aduh gue bisa nangis, kita tulis yang lucu-lucu aja ya,’ kata Canna, sambil berusaha menulis bullet points agar semua momen penting bisa tersimpulkan dalam waktu 60 detik. Sambil berfikir, aku jadi tertegun (maaf, diri ini emang suka dibawa serius hal-hal). Whoever reads my eulogy later, he/she would only have a few seconds to sum up the impression that we gave in our life time. And that made me think--what mark have I left on the hearts of my closest ones? What if I left scars instead?
Alhamdulillah, begitu banyak perjumpaan yang bermakna sebulan kemarin. Entah mengapa begitu sulit diagendakan pada sebelas bulan lainnya, namun di ramadan yang akhirnya boleh mudik ini, seperti ada komitmen yang mengharuskannya terjadi. Ada perasaan aneh campur haru ketika bertemu lagi dengan seorang teman yang sudah berbulan-bulan atau tahun lamanya tidak berjumpa, and then finding out that they are not the same person as they were. Asam garam kehidupan masing-masing have made each grew in various ways. Lalu dalam benakku muncul justifikasi (atau alasan), untuk sedikit membasuh sesal melencengnya ikhtiar ramadan khusyuk di tahun ini: hablum minannas. Anggap saja itu tema bulan puasaku tahun ini, yang setiap sesi jumpanya cukup nano-nano dengan kejutan cerita dan kejadian. Dengan niat yang sama karenaMu ya Allah, I sincerely beg for Your mercy to accept my fast this year and the fast of those whom I encountered & care for ya Allah. Semoga dengan perginya ramadan ini, niat memperbaiki diri tetap di istiqamahkan, segala usaha dilancarkan, nikmat diberkahi, dan inshaaAllah diberikan kesempatan untuk bertemu lagi dengan bulan ramadan selanjutnya: dimana rasa kalah tahun ini, bisa dikejar lagi tahun depan. Mohon maaf lahir batin, dan selamat hari raya Idul Fitri 1443H! Semoga kita semua selalu dalam lindunganNya.