Luhde dan Keenan dalam Perahu Kertas
.. Luhde menunduk sebentar seperti mengumpulkan kekuatan. Saat mendongak, sorot matanya berubah total.
Luhde : Saya perlu tahu sesuatu. Kenapa Keenan ingin bersama saya?
Keenan tergagap mendengar pertanyaan yg sama sekali tak diduganya. lama kemudian dia menjawab.
Keenan : Karena .. Saya telah memilih kamu
Sekujur tubuh Luhde terasa melunglai, dan setengah mati ia berusaha tetap tegak berdiri. Namun, jauh di dalam hatinya, Luhde telah siap mendengar jawaban itu.
Luhde : Keenan tunggu disini sebentar ya. Ada yg perlu saya ambil di kamar.
Luhde bergegas, dan tak lama ia kembali.
Keenan : De, saya ingin kamu ikut ke Jakarta. Temani saya dulu di sana. Nanti kita kembali ke sini bareng bareng. Kamu mau?
Luhde tersenyum dan perlahan kepalanya menggeleng.
Luhde : Saya tidak siap ikut Keenan. Malam ini saya mau kembali ke Kintamani.
Keenan : Oke, kalau gitu kapan kamu siap? Saya akan nunggu kamu.
Senyum itu tak pernah surut dari wajah Luhde.
Luhde : Keenan cuma buang buang waktu.
Keenan : De, semua waktu saya sekarang untuk kamu. Mau dibuang kemana lagi? Konsep 'buang buang waktu' nggak berlaku lagi sekarang. Semuanya buat kamu.
Luhde : Keenan lebih baik pulang ke Jakarta. Itu jauh lebih berguna. Apa yg Keenan cari bukan di sini.
Keenan : De.. Maksud kamu apa? Kamu nggak mau saya disini?
Luhde : Saya ingin melepas Keenan pergi. Sebelum kita berdua berontak, dan jadi saling benci. Atau bersama sama cuma karena menghargai. Keenan mengerti?
Kali ini Keenan benar benar terenyak. Belum pernah ia melihat Luhde begitu tegas. Begitu tegar.
Luhde : Keenan yang tolong saya, ya, Tolong ambil ini lagi.
luhde menyerahkan pahatan kayu sebesar genggaman tangan berbentuk hati dengan relief gelombang air. sesuatu yang pernah Luhde dambakan, namun, kini Luhde sadar, yang bisa ia miliki hanyalah pahatan kayu berbentuk hati. Bukan hati yang sebenarnya. Sementara yang sesungguhnya ia damba bukanlah pahatan itu, melainkan sesuatu yang tidak pernah bisa ia miliki seutuhnya.
Pahit. Keenan menggeleng, menolak.
Keenan : De, saya sudah kasih ini buat kamu. Setidaknya kamu sudi untuk sekedar menyimpan barang ini. Tolong.
Kembali senyuman yang sama menghiasi wajah Luhde.
Luhde : Bahkan bukan nama saya yg kamu ukir. Tapi.. Keenan baik sekali sudah pernah mau meminjamkan. Terima kasih.
Keenan : De, kalau memang saya harus pergi, saya rela, tapi tolong kasih tau saya sekali lagi, kenapa?
Luhde : Saya belajar dari kisah hidup seseorang. Hati tidak pernah memilih. Hati dipilih. Jadi kalau Keenan bilang Keenan telah memilih saya. Selamanya Keenan tidak akan pernah tulus mencintai saya. Karena hati tidak perlu memilih. Ia selalu tahu kemana harus berlabuh.
Keenan terdiam. seiring angin yang bertiup serupa tiupan seruling, mendadak benaknya terisap ke masa lalu. kembali ke malam saat ia mendengar angin berbunyi serupa, menggoyangkan kentungan bambu yang bergantung di tepi atap bale. Malam dimana ia membuat pilihan. Ucapan Luhde menyadarkannya. Ia hanya memilih memberikan seonggok kayu berukir, sementara apa yang mendorongnya untuk mengukir tak pernah bisa ia berikan. Keenan mengatupkan matanya erat erat. semua ini terlalu getir untuk ia telan. Namun, inilah Kejujuran.
Keenan : De.. Maafkan saya..
# source # Novel Perahu Kertas