Gagal?
Sudah hampir satu tahun aku mendapatkan pekerjaan yang cukup banyak merubah diriku. Tidak hanya dari segi kepastian hidup yang lebih terjamin, tapi juga perihal afeksi yang mengiringinya. Semua begitu manis, namun sering pula terasa begitu pahit hingga mencekat.
Perasaan (yang terlampau) aman memang berbahaya. Bagai dua bilah mata pisau, kemapanan tumbuh subur bersamaan dengan keinginan dan ekspektasi. Ia menjelma menjadi imaji vivid tentang masa depanku yang mungkin selalu tampak buram di tahun-tahun sebelumnya. Aku begitu menggebu. Membangun rencana dengan kain perca dan berakhir compang-camping.
Ekspektasiku tidak pernah berada dalam jalur yang ekuivalen dengan niat maupun konsistensiku. Alhasil, tidak ada bedanya dengan fedi yang sudah-sudah. Fedi yang selalu mengecewakan.
Beberapa hari ini, aku kembali mencoba untuk kesekian kalinya dalam satu tahun. Namun, kali ini aku coba pelankan tempo. Mengatur langkah dengan cermat dan tidak berderu-deru. Dan, berdoa sekali lagi: “Tuhan, semoga kali ini tidak gagal!”










