Di atas langit masih ada langit (lagi)
Setiap detak langkah kaki berjalan, setiap kayuhan sepeda Bapak, setiap satu-satu daun di halaman jatuh berguguran, namun tak pernah terhitung berapa banyak aku berpikir tentangnya. Tentang kita.
Masih di beberapa belas tahun yang lalu.
Waktu yang tak lagi pagi menyadarkanku, panas yang sempurna untuk diri ini yang tak pernah dan tak akan sempurna sudah mengikat dusun. Suara kicau yang tak pernah kacau menari-nari di gendang telinga menambah kesempurnaannya hari ini.
Derik engsel-engsel pada sepeda yang dikayuh oleh bapak seakan menambah aroma seru perjalanan kami. Aku yang duduk serius di belakang jok sepeda butut selalu asyik melihat jendela dunia. Ya menurut kami matahari yang terlihat dari bawah daun-daun pepohonan seperti jendela dunia yang membuat diri ini ingin selalu melihatnya.
Terdengar kasar suara sepeda yang direm oleh Bapak dan mendadak memberhentikan sejenak sepeda yang kami tumpangi.
Terlihat Bapak mengambil jalan lain yang tak terhalang oleh tumpukan batu. Kembali melanjutkan perjalanan.
"Nak, seperti ini lah kehidupan, ibarat kita berada di atas sepeda, kehidupan tidak selalu menyenangkan nak, banyak persoalan dan rintangan di mana-mana seperti tumpukan batu tadi."
Bapak menasehatiku sekalli-kali melihat ke arahku yang ada di jok belakang.
"Tapi nak, walau banyak keterbatasan yang kita miliki bukan berarti tidak ada jalan samasekali untuk melewati persoalan dan rintangan, ada jalan nak, pasti ada jalan lain nak untuk kita terus melanjutkan perjalanan kehidupan."
Aku yang duduk di belakang menggaruk kepala yang tidak gatal, aku yang masih duduk di jok belakang dan duduk di Sekolah Dasar belum mengerti apa yang dimaksud oleh Bapak.
Sesosok wanita berparas cantik, tegar, kuat, sakti mandraguna menanti kedatanganku dan Bapak, di beranda rumah yang penuh dengan serpihan rotan di mana-mana, beberapa bakul hasil tangan apiknya membuat sesak beranda.
Rumah kayu lapuk seperti tersenyum menanti kedatangan kami, namun ada senyum yang lebih nyata merekah, tulus, tak ada dusta keluhan terbit dari wajahnya, kedua tangannya menghentikan proses kreatif membuat bakul-bakul. Berjalan menyambut kedatangan kami.
Salam jumpa duhai pertemuan.