Jauh dari Mudah
Bukannya ingin berandai, tapi selemah-lemahnya aku adalah melihat buah cintaku sakit. Itu kataku, yakinku. Tapi Yang Maha sepertinya melihatku cukup mampu, cukup kuat. Maka di sinilah aku sekarang. Walau sekali dua kali aku nampak tergugu menahan tangis sambil memeluk bayiku erat.
Anakku sayang, ketahuilah bahwa aku mencintaimu itu benar adanya. Bahwa aku menyayangimu adalah benar adanya. Dan bahwa kamu segalanya bagiku adalah benar adanya. Allah begitu bermurah mengirimmu ke pangkuanku, dekapanku. Allah begitu bermurah menghadiahi kamu untukku. Ceritaku denganmu sudah dimulai jauh sebelum kamu lahir ke alam dunia.
Betapa menjadi yang mencintai karena Allah adalah besar taruhannya. Iman, adalah satu-satunya penguat. Iman, menghadiahi keluasan hati, kelapangan jiwa. Iman memintaku untuk terus menerima. Menerima seberat, sejauh, sedalam apapun ujian kehidupan. Iman, artinya aku harus mampu menerima. Harus mau meminta, walau pintaku tak jarang terjawab dengan memakan waktu yang panjang.
Aku dan rencana-rencanaku, kini berubah menjadi aku dan harapan-harapanku. Dulu semua tentang aku yang berencana, ini dan itu. Banyak hal-hal yang direncanakan, tapi Yang Maha bilang ini masih saatnya aku mengharap, lagi, lagi, dan lagi. Seringnya aku berkata bahwa aku hanya boleh lelah tapi tak boleh patah, adalah aku yang memang harus berusaha seperti itu.
Menjadi orangtua, adalah menjadi seseorang yang harus siap, mau tidak mau, siap tidak siap. Bahwa akan ada masa di mana hal-hal yang tak pernah terbayangkan sebelumnya, di saat-saat tertentu harus dihadapi. Memang begitulah cara main dunia, pun jika belum dan bukan orangtua. Tapi menjadi orangtua, mengharuskan kita mampu memainkan perannya sebaik mungkin. Karena menjadi orangtua, bukan lagi tentang diri kita sendiri, tapi tentang si kecil yang kini berharap kedua malaikat penjaganya kuat. Karena kuatmu, adalah bentuk kuat paling dekat yang dapat dilihatnya, ditirunya, dirasanya. Ingat, ia merasakannya.
Selamat bertumbuh, Ashma. Selamat, Allah memilihmu dan pasanganmu. Allah memilihmu dan bayi kecilmu. Sosok, yang sejak dalam kandungan, kau panggil Jundullah. Kini, lagi, kalian berjuang bersama. Karena sejatinya, hidup ini adalah jalan juang. Selamat, semangat!












