Menjadi Ibu Rumah Tangga
Belakangan ini tak jarang aku mendapat komentar, “kurus banget sih?!”
Kaget dong, karena aku sama sekali tidak mengurangi porsi makan. Aku juga tetap jajan seperti sedia kala. Lalu, kenapa?
Aku coba membandingkan kehidupan sehari-hariku saat ini dengan saat menjadi seorang ibu pekerja.
Ternyata, menjadi ibu pekerja, meskipun bisa dibilang sebagai peran ganda, tetapi memiliki tingkat kewarasan lebih baik dibanding ibu rumah tangga. Yaaa… meskipun ini ga selalu sih. Tergantung pekerjaannya, lingkungan kerjanya, dan manajemen emosinya.
Cuma, untukku yang seorang guru TK. Kerjaanku adalah waktu mainku. Kantorku adalah playgroundku. Ketika bekerja aku merasa lebih ‘santai’. Ada menit-menit yang bisa aku gunakan untuk beristirahat. Bisa main hp, makan dengan tenang, jajan apa saja, sosialisasi, dan lain sebagainya. Meskipun dalam bekerja tentu saja banyak tuntutan, tapi masih dalam batas ‘its okay’. Tapi meski begitu, tentu saja sering kepikiran anak di rumah atu bahkan ingin pulang cepat.
Sementara, ketika aku menjadi ibu rumah tangga. Hatiku tenang. Anakku mendapat asi kapanpun dia mau. Aku dapat melihat setiap perkembangannya. Ikatan antara aku dan anakku semakin erat. Kalau begitu, kenapa kurus? Kan lebih happy?
Ternyata pola kebiasaan ibu rumah tangga tanpa disadari sering menomorduakan kebutuhan diri sendiri. Ngga bisa leyeh leyeh lama karena anak pasti ngajak main. Ngga bisa makan dengan tenang karena anak pasti nungguin. Dua puluh empat jam selalu ada mahluk kecil yang bergantung sama kita. Mau jajan juga mikir apa yang kira kira bisa dikonsumsi si bayi juga. Terlebih aku LDR dengan suami, jadi betul-betul 24/7 aku handle bayi mungil ini. Mau me time juga ngga enak kalau nitipin bayi ke orang tua.
Maasyaa Allah, kadang aku kagum sama diri sendiri. Allah sudah kuatkan aku sampai titik ini. Walau sering banyak jatuh dan menangis dalam perjalanannya. Tapi, bolehlah aku apresiasi diri sendiri. Karena sudah bertahan sejauh ini :) apalah kemampuanku tanpa kehendak Allah. Sungguh, diri ini lemah, tiada daya dan upaya melainkan karena Allah.












