Tidak penting banyak atau sedikitnya hal yang kamu lakukan untuk dirimu sendiri, yang penting kamu memang melakukannya untuk dirimu sendiri.
KG

No title available
Show & Tell
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH
occasionally subtle
NASA
Phantogram Three
The Bowery Presents
cherry valley forever
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year
YOU ARE THE REASON
Game of Thrones Daily
EXPECTATIONS
Sweet Seals For You, Always

Product Placement
No title available
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open

No title available
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ
noise dept.
★
seen from Canada

seen from United States

seen from Singapore
seen from Bangladesh

seen from Bangladesh
seen from India

seen from Liberia
seen from United States
seen from Indonesia

seen from United States
seen from United States
seen from Ecuador
seen from Brazil
seen from Canada
seen from United States

seen from Russia
seen from Bulgaria
seen from United States

seen from Canada

seen from Malaysia
@perempuanoktober
Tidak penting banyak atau sedikitnya hal yang kamu lakukan untuk dirimu sendiri, yang penting kamu memang melakukannya untuk dirimu sendiri.
KG
Terbaik
Keadaan yang saat ini kita miliki, kadangkala tak bisa kita lihat sebagai keadaan yang lebih baik dari keadaan sebelumnya. Saat kita tidak bisa melihat diri kita sendiri dari perspektif yang lebih luas, hanya berkutat pada apa-apa yang kita rasakan. Tapi kita tidak mencari tahu bagaimana orang lain melihat kadaan kita. Kadang, dalam hal tertentu seperti ini, kita membutuhkan penilaian objektif dari orang lain untuk bisa memahami keadaan kita sendiri. Alih-alih kita tenggelam dalam penilaian diri kita, terus mengerdilkan diri kita sendiri. Memang hal ini akan terasa sangat subjektif. Aku akan berikan contoh tentang ini, karena ini ada di sekitarku. “ Saat seorang temanku bercerita bahwa dia telah bercerai dari pasangannya yang tak bertanggungjawab, kemudian dia merasa tak lagi seberharga dulu dengan statusnya yang janda, usianya yang tak lagi muda, dan bertanya-tanya apakah masih ada yang mau menikahinya nanti. Di saat yang sama, temanku yang lain sedang berada dalam sebuah keluarga yang rusak, pasangan yang abusif, dan ia tak kunjung bisa keluar dari lingkaran setan itu karena ia tak memiliki supporting system yang kuat, setiap kali bercerita ke keluarganya malah di suruh bertahan karena keluarganya malu kalau anaknya jadi janda. Dan berakhir pada bertahan pada sebuah kondisi yang sulit, bagi dirinya, bagi anaknya, bertahun-tahun. ” Bukankah keadaan satu orang yang telah keluar dari rumitnya rumah tangganya jauh lebih baik dari keadaan temanku yang satunya? Sekali lagi, memang sangat subjektif. Tapi, kita bisa menilai dengan objektif bahwa kondisi yang kita nilai buruk terhadap diri kita, bisa jadi memiliki kebaikan yang benar-benar di cari oleh orang lain yang serupa masalahnya, tapi belum bisa keluar dari masalah tersebut. Coba lihat bagaimana masalah-masalah yang dulu kita miliki, telah kita selesaikan. Dan bagaimana masalah-masalah yang sama tersebut, masih berlangsung di orang lain di sekitar kita. Memahami sebuah makna, memahami sebuah keadaan, akan sangat sulit jika kita hanya melihat dengan cara kita sendiri. * * * * * Tak semua orang seberuntung kamu, tak semua orang seberani kamu untuk bisa menghadapi masalah, menerima risiko dari keputusanmu yang luar biasa, dan berani untuk berjuang selepasnya. Tak semua orang bisa memiliki keleluasaan yang bisa kamu lakukan. Dan tak semuanya, memiliki daya dukung yang cukup untuk menguatkan pijak kakinya selepas mengambil keputusan. Kamu berani. Sekarang, tinggal bagaimana kamu bisa fokus untuk menyusun langkah baru setelahnya. Menjadikan masa lalu sebagai pelajaran berharga. Dan jika kamu cukup tenaga, bantulah orang lain yang serupa masalahnya denganmu dulu, agar mereka juga bisa keluar darinya. ©KURNIAWANGUNADI
Jangan Disamaratakan
Hidup setiap orang itu berbeda jalannya. Tidak bisa kita pukul rata bahwa untuk mencapai sesuatu, maka jalan yang harus dilaluinya adalah jalan yang harus sama dengan apa yang pernah kita jalani. Kesadaran untuk bisa membuat orang bisa lebih mengenal dirinya sendiri, lebih berani, punya kendali atas pikirannya, lebih mudah menemukan kebahagiaan, lebih berwarna hidupnya, empatinya tumbuh dengan baik, komitmennya yang semakin kuat, dan hal-hal yang jauh lebih penting untuk dimiliki. Kita tetap bisa bahagia dan memiliki hidup penuh warna tanpa harus bisa memiliki rumah di usia 25 seperti teman kita yang lain. Kita bisa hidup tenang tanpa harus memikirkan dengan penuh kerumitan untuk tampil bisa diterima semua orang. Kita tak harus bekerja dengan gaji puluhan juta per bulan untuk bisa tetap jadi manusia yang mudah berbagi dan memiliki empati yang lapang. Membantu orang lain agar dia bisa membuat keputusan, lebih berani dengan risiko, lebih sadar apa masalah dan jalan keluarnya. Hal-hal yang mungkin tidak mudah untuk “dijual”, bahkan untuk bisa membuat seseorang memiliki mindset dan cara pandang hidup yang baru, itu butuh kesabaran yang panjang. Tidak semua orang memang bersedia untuk berpikir sedalam itu, selain memelahkan dan butuh waktu yang panjang. Banyak yang merasa diburu waktu, seolah-olah harus bisa mendapatkan ini dan itu dalam waktu yang singkat. Dan karena seolah diburu waktu, agar menjadi sesingkat mungkin. Banyak yang terjebak dan tertipu dengan hal-hal yang tak masuk akal. Bahkan orang yang pintar pun, tak lagi pintar jika lupa membawa pikiran dan hatinya untuk tetap tenang dan fokus untuk mendengarkan dirinya sendiri. Menyadari bahwa dirinya dan orang lain, memang berbeda jalan dan cara hidupnya. ©kurniawangunadi
Jangan memilih sesuatu yang tak ingin kamu miliki seumur hidup
Kalau kamu sudah sadar bahwa kamu tidak yakin, jangan diambil. Kalau kamu sadar bahwa ada hal yang tidak bisa dipaksakan untuk bisa diterima, jangan diterima. Kalau kamu sadar bahwa ada hal yang bertentangan dengan nilai-nilai yang kamu pegang, apalagi itu, tolak! Jangan terlalu mudah berkompromi pada dirimu sendiri, pada hal-hal yang memang ingin kamu genggam seumur hidupmu. Jangan terlalu berbaik hati, memilih karena kasihan. Jangan terlalu polos, menyangka bahwa segala sesuatu itu nanti bisa berubah. Tapi, kamu tak bisa mengendalikan sama sekali berubahnya ke arah mana, semakin baik, atau semakin rusak. Kalau kamu sadar bahwa sesuatu yang ingin kamu sertakan dalam hidupmu adalah sesuatu yang bernilai, jangan pernah kamu menurunkan nilainya. Kalau kamu sadar bahwa kamu seberharga itu, jangan pernah merendahkan harga dirimu. Jangan memilih karena kamu tidak punya pilihan. Buatlah pilihan itu. ©kurniawangunadi
Lagi
Hari ini mendengar lagi kabar dari teman baikku, yang dulu suka ngumpul-ngumpul bareng waktu muda, sedang mengurus perceraiannya. Kadang tak percaya, tapi memang realitanya demikian. Waktu dulu saya menghadiri pernikahannya pun, tak kurang bahagia satu pun yang dirasakan. Doa-doa yang baik mengalir bak air terjun yang deras.
Beberapa tahun terakhir, seperti halnya saat teman-teman merasakan bahwa teman kita mulai sibuk satu per satu dengan keluarga, dengan pekerjaan, dan kita merasa kehilangan mereka. Ada yang tengah berjuang untuk menjaga keluarganya, tetap dalam mimpi-mimpi yang pernah mereka citakan. Saat kita sibuk, kita juga lupa untuk bertanya kabar pada teman-teman lama kita.
Sampai kemudian, kita mendapati kabar-kabar tak terduga. Bahwa selama kita tidak berkomunikasi bertahun-tahun, akhirnya kita tahu bahwa teman kita tidak sedang baik-baik saja hidupnya selama ini. Kita tak lagi hadir sebagai teman sebagaimana dulu. Menjadi dewasa, harus menentukan skala prioritas, beban dan tanggungjawab yang dipikul, serta hal lainnya membuat kita tak bisa melihat bagaimana kehidupan teman kita sesungguhnya berjalan.
Kasus-kasus kekerasan dalam rumah tangga yang dulu hanya kulihat di berita TV dan surat kabar, menjadi begitu dekat. Hari ini, dengan segenap doa, mudah-mudahan ia bisa melaluinya dengan baik. Karena sungguh, mengurus pernikahan itu jauh lebih mudah daripada mengurus perceraian. Langkah hukum yang diambilnya ini akan menempuh proses yang panjang, melelahkan secara fisik dan batin. Syukurnya, keluarganya ada untuk mendukungnya. Membantu menguatkan dirinya bahwa apa yang terjadi, bukan untuk disesali, tapi untuk diperjuangkan sebaik mungkin demi kehidupan yang lebih baik.
Terjebak dan bertahan pada pernikahan yang rusak itu akan merusak semua lapis kehidupkan. Ya badanmu, ya pikiranmu, ya jiwamu, ya anak-anakmu, ya orang tuamu, ya finansialmu, dan lain-lain. Kalau kamu memerlukan bantuan, segeralah minta tolong pada orang yang kamu percaya.
Pelajaran berikutnya adalah, kalau temanmu sudah menikah lebih dulu dan ia sibuk dengan adaptasi baru keluarganya, tidak apa-apa. Tapi jangan kehilangan kontak. Karena mungkin, apa yang kita lihat darinya, berbeda dengan apa yang terjadi sebenarnya. Teman-temanmu yang mungkin butuh pertolonganmu, malu untuk datang minta tolong kepadamu karena telah lama tak berkabar. Padahal ia benar-benar butuh untuk ditolong. Jagalah pertemanan kalian sebaik mungkin, dalam beragam perubahan fase. ©kurniawangunadi
Pesan untuk diri sendiri
- Jalani peran semaksimal mungkin
- Fokus pada apa yang menjadi tujuan dan mensyukuri apa yang dipunya.
- Ketika memutuskan menikah, berarti memutuskan bahwa saatnya berhenti memberi makan ego :)
- Jika dalam perjalanan ada kesulitan/kesedihan, yang pertama harus tahu adalah Allah, biarkan pembicaraan itu ada PERTAMA KALI hanya denganNya.
- Jangan terobsesi menjadi produktif jika kita tidak pernah tahu tujuan dari produktivitas kita apa
- Takar kapasitas diri dan keluarga, supaya seimbang dan maksimal dalam menjalani peran
- Ketenangan hati adalah hal yang mahal, jangan merusak ketenangan itu dengan membandingkan diri dengan orang lain
- Keluarga adalah prioritas, kita termasuk di dalamnya. Jadi jangan sampai melupakan kenyamanan dan kesehatan diri sendiri.
- Lebih baik ambil sedikit pekerjaan tapi maksimal dari pada banyak tetapi setengah-setengah
- Berumah tangga adalah berbagi peran, jika sudah mulai merasa berjuang sendiri maka ada yang perlu didiskusikan kembali
- Fokus ke solusi, berhenti menyalahkan, meminta/menerima maaf = saving energy.
- Perhatikan batas-batas diri, mana yang dalam kontrol, mana yang tidak. Kita tidak bisa menyelamatkan dan menyenangkan semua orang, termasuk diri sendiri--kadang tidak bisa senang jika ada hal di luar kontrol yang terjadi, setidaknya dengan aware batas kontrol, kita menjadi lebih legowo.
-Membantu orang lain = membantu jiwa kita. Tidak akan habis harta dibagi.
- Muliakan orang tua, nggak akan bisa kita membalas segala kebaikan mereka
- Rida suami penting, karena bagaimanapun beliau nanti akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya termasuk kita di dalamnya.
- Jangan sombong, minta selalu untuk dijauhkan dari sifat sombong
- Ada yang tidak perlu diungkit : kesalahan orang lain dan kebaikan diri sendiri
- Anak-anak belajar paling banyak dari melihat orang tuanya, jadi versi terbaikmu, biar mereka bisa meneladaninya.
- 3 kata ajaib : maaf, tolong, dan terima kasih. Biasakan ke siapapun, tanpa pandang status sosial.
- Keberkahan harta itu penting, hidup secukupnya dengan sumber harta jelas halal lebih baik daripada hidup mewah tapi sumber harta abu-abu.
- Nuruti dunia engga ada habisnya, sesuaikan gaya hidup, orang yang kaya itu sesungguhnya yang tahu di batas mana dia merasa cukup.
Pada Suatu Ketika di Pertemanan Kita
Gak perlu sedih kalau ada orang yang kamu anggap sahabat tapi gak hadir di momen-momen penting dalam hidupmu. Mereka tetap sahabatmu, tapi di saat itu mereka punya prioritas lain.
Waktu saya wisuda, hampir gak ada sahabat saya yang hadir. Ada, tapi sedikit, itu pun adik tingkat dan beberapa teman seangkatan. Sedih sih, tapi wajar karena sahabat saya kebanyakan sudah lulus duluan hahaha. Sudah pada merantau lagi ke tempat yang lain.
Anyway, kita perlu berlapang dada untuk menerima kenyataan bahwa pada suatu ketika kita bukanlah prioritas bagi orang lain. Ini bukan hal besar karena setiap orang punya prioritasnya masing-masing.
Keluarga, karir, bisnis, atau yang lainnya tentu jadi prioritas. Semakin kita bertambah usia, semakin ada jarak antara kita dan teman-teman kita. Bukan berarti silaturahim menjadi renggang, melainkan waktu kita tak seleluasa dulu untuk ngobrol dan nongkrong-nongkrong seperti dulu kala.
Ketika sudah menikah, misalnya, kita gak bisa sesuka hati pergi nongkrong ke luar sama teman-teman meninggalkan anak istri di rumah sendirian. Ada pekerjaan rumah yang perlu diselesaikan, ada istri dan anak yang perlu lebih dulu kita prioritaskan, apakah itu bercengkerama bersama mereka, makan bareng mereka, atau jalan-jalan bersama. Setelah itu barulah kita bisa luangkan waktu untuk menyambung silaturahim dengan teman-teman.
Jadi, tenang saja, sahabat tetaplah sahabat. Kita berbagi memori masa lalu yang akan selalu dikenang. Jika jarang bertemu, bukan berarti silaturahim kita berhenti. Kita hanya sudah memiliki prioritas dan masalah masing-masing.
Berdoa saja semoga di masa depan Allah berikan kita kesempatan untuk berkolaborasi dg teman-teman untuk hal yg lebih berdampak bagi banyak orang. Berdoa saja semoga Allah jadikan kita orang yang berdaya, bukan untuk menyombongkan diri, melainkan untuk berbagi kebaikan dan mendukung teman-teman kita.
Semoga Allah lapangkan hati kita. Semoga Allah bukakan jalan rezeki kita. Semoga Allah jadikan kita pribadi yang bermanfaat.
Taufik Aulia
31 dan 27
Itu adalah angka usia saya dan istri di tahun 2021 ini. Rasanya kalau diingat-ingat, dan seringkali jadi bahan tertawaan kami setiap hari, dulu saya menikahi istri saya tepat sebulan setelah hari ulang tahunnya yang ke-22, lima tahun lalu pada tahun 2016. Muda sekali! Pantas saja kalau dulu labil sekali. Apakah kami termakan kampanye menikah muda pada saat itu, kalau saya sendiri enggak, keputusan yang kubuat pada usia menjelang 26 tahun saat itu, sudah kupikirkan baik-baik, didukung dengan kesiapan yang sudah kucicil sejak beberapa tahun sebelumnya. Kalau istri, kayaknya dia terpesona dan terbujuk rayu sehingga mau menikah denganku saat itu. Hahahaa.. Kami pernah ngobrol beberapa bulan lalu, kalau bagi istri, fase Quarter Life Crisisnya bukan seperti teman-teman sebayanya. Dia baru mengalami krisis ketika di dalam pernikahan, mencari makna dirinya, perannya, tujuannya, dan lain-lain. Dan di kondisi tersebut, ternyata peranan memiliki pasangan yang terpaut usia agak jauh itu sangat membantu, ujarnya. Karena saat istri mengalami krisis, saya lebih stabil, lebih lempeng, lebih objektif dan logis. Dan lebih tenang menghadapi istri yang uring-uringan menjadi jati dirinya. Baru di usia 26 menjelang 27 ini, dia lebih bisa menerima semua kondisi, keadaan, lebih mengerti peran-peran yang mau diambil, tujuannya, dll.
Kalau ada yang bilang bahwa menikah muda itu akan nge-skip fase krisis, enggak ternyata, dalam kasus kami. Menikah, di usia berapun, tidak akan menyelesaikan semua masalah hidup. Ia menyelesaikan beberapa masalah, tapi sekaligus menambah masalah. Apalagi, kalau kamu menikah dengan orang yang tidak tepat, yang tidak bisa diajak diskusi, diajak berpikir ke depan, pemalas, itu masalahnya akan makin banyak lagi.
Apakah dengan kondisi kami dulu, kami akan menyuruh-nyuruh orang lain untuk segera menikah, semuda kami dulu? TIDAK! Kalau kalian bisa memilih menikah dalam kondisi yang lebih stabil, khususnya secara kematangan emosi, itu akan lebih baik menurutku. Kami memiliki supporting system yang mungkin berbeda dengan teman-teman, bahkan ibunya istri menikah di usia yang mirip, jadi pengalaman itu diberikan ke istriku yang menikah di usia tsb.
Kalau semuda itu kalian ingin menikah, kata istriku,”Untuk teman-teman yang perempuan, carilah pasangan yang memiliki sikap lebih dewasa, karena kalian akan uring-uringan sama diri kalian sendiri. Apalagi, saat kamu melihat teman-teman sebayamu bisa bebas berkeliaran, tanpa memikirkan ngurus rumah dan anak, bisa sekolah lagi, keluar negeri, bekerja dengan penghasilan sendiri. Dan kamu tenggelam dalam urusan rumah tangga yang tak ada habisnya. Akan sangat merepotkan jika pasanganmu tidak cukup bijak dan dewasa menyikapi krisis yang kamu hadapi.”
Alih-alih mendukung dan mendorongmu untuk berkembang, malah mengekangmu semakin erat.
Menikahlah saat kamu siap, berapapun usiamu itu bukan masalah. Carilah pasangan yang benar-benar bisa membuatmu semakin bertumbuh, yang bisa cukup bijaksana dalam menyikapi karaktermu, mimpi-mimpimu, dan semua hal yang nanti akan terjadi. Bangunlah supporting system yang kuat, kalau itu bukan keluarga terdekatmu, milikilah teman-teman yang banyak sekaligus baik.
Betapa banyak di sekitar kami, rumah tangga yang berpisah, ataupun tetap berjalan meski sudah tak ada tujuan- demi anak- demi nama baik keluarga. Kita bisa belajar dari semua hal itu, untuk bersiap lebih hati-hati. Kita bisa belajar dari keluarga orang lain, jangan sampai mata dan batin kita tertutup oleh hasrat dan keinginan kita yang menggebu, tapi lupa untuk membawa pelajaran-pelajaran penting yang bisa kita petik dari siapapun. ©kurniawangunadi
Whatever happens, still be patient and grateful.
Barangkali merasa tidak ada jawaban itu adalah sebuah jawaban. Barangkali diri kita yang tidak cukup dekat dengan Allah sehingga tidak paham atau tidak mencoba paham dengan maksud dan maunya Allah swt.
Ngga semua hal perlua kamu ketahui, pun ngga semua hal perlu kamu ceritakan. Hormatilah keputusan orang lain, jangan sampai membuatnya tak nyaman berkomunikasi denganmu.
4 Oktober 2021
Allah itu tak pernah tidur. Allah tau semua yang sudah engkau lewati. Allah tau bahwa kamu tak pernah berniat melakukan kesalahan, pun tak membuatnya sengaja juga. Allah tau semua niat baikmu.
Biarlah bila ada orang yang salah mengartikan semua arti kebaikanmu. Tak mengapa bila ada yang menganggapmu memiliki niat yang buruk untuk mencurangi bahkan menjatuhkan.
Padahal terpikirkan mempunyai niat seperti itu pun kau tak pernah.
Biarkan ini menjadi ujianmu. Ikhlaskanlah menjadi penghapus dosamu. Sekalipun sakit dan teramat perih.
Karena sampai kapan pun, kamu tak akan pernah bisa membahagiakan semua orang apalagi memuaskan manusia.
Bekerja itu untuk beribadah kepada Allah, dengan tujuan kepada-Nya, bukan untuk manusia dan dunia.
3 Oktober 2021.
Dirimu di masa depan akan berterima kasih pada dirimu hari ini.
Btw, apa yang membuatmu menolak untuk menyerah?
Jangan Siakan
Pesan untuk lelaki yang sudah menikah. Seseorang yang saat ini berada bersamamu adalah seseorang yang dulu kamu pilih dengan sadar. Bahkan, dengan perjuangan. Orang yang menemanimu saat ini adalah orang yang dulu begitu dicintai oleh orang tuanya, diberikan semua yang ia butuhkan, diberikan keleluasaan untuk bergerak mengaktualisasikan dirinya, menjadi dirinya sendiri dengan segala mimpi dan cita-citanya.
Jangan sampai karena dia menikah denganmu. Hidupnya yang dulu berwarna, kini menjadi kelabu. Mimpi-mimpinya yang dulu selalu diupayakan jalannya oleh orang tuanya, kau belenggu, diikatnya hingga tak ada lagi harapan yang tersisa untuk mimpinya menjadi kenyataan. Alih-alih kita membantunya mewujudkan, malah mematikan.
Jangan sampai karena menikah denganmu, ia kehilangan dirinya sendiri hanya karena dituntut untuk terus menjadi seperti apa yang kamu mau. Mendiktenya harus ini dan itu. Mengerdilkannya dengan membuatnya semakin tak berdaya dan tak berarti.
Kamu memang tidak mengikatnya dengan tali, tapi keberaniannya telah mati, hatinya telah mengecil, mimpinya telah hilang, dan kepercayaan dirinya telah runtuh. Menikah denganmu, bukannya menjadi bahagia malah sebaliknya.
Orang yang saat ini berada bersamamu, adalah orang yang dulu begitu diperjuangkan oleh kedua orang tuanya. Dibesarkan dari kecil hingga dewasa, saat kamu datang mengambilnya. Mungkin juga saat kamu berhasil memenangkannya, ada orang lain yang saat itu juga begitu mencintainya, memperjuangkannya, dan memperlakukannya dengan begitu terhormat.
Tapi kamu tidak, merusaknya, menginjak-injak harga dirinya. Hingga ia tak lagi memiliki energi untuk menghadapi hari demi hari yang begitu kelam. Kamu telah menyia-nyiakannya.
Jangan sampai, kita menjadi demikian.
standar bahagia
waktu saya masih mahasiswa, bisa makan nasi alo (semacam nasi gila) seharga tujuh ribu saja rasanya luar biasa. pada kesempatan spesial, saya akan memilih menu sate setengah porsi--dan itu sangatlah mewah. saat-saat itu, standar senang dan bahagia saya sangat sederhana.
mungkin juga, itu karena saya nggak kenal makanan-makanan yang kelewat mahal. pilihan tidak banyak tapi tidak pernah terasa kurang atau membosankan.
sekarang saya sudah berpenghasilan. sudah bisa pakai baju yang lebih bagus, pakai skincare yang lebih oke, punya gadget yang lebih mumpuni, memilih makanan dari resto-resto. tetapi hei, mengapa rasanya tidak se-wah dulu ya? makanan enak mahal biasa saja nikmatnya. bermenit-menit bingung ingin pesan apa melalui online food delivery, ujung-ujungnya masak telor ceplok dengan kecap. mengirit iya, tetapi lebih besar karena bosan dengan pilihan yang ada.
saya pikir-pikir, punya standar bahagia yang sederhana itu justru anugerah. tidak punya banyak keinginan duniawi itu anugerah. tidak memimpikan benda-benda yang kalau dipikir-pikir manfaatnya tidak seberapa itu anugerah.
maka, yang menjadi tantangannya adalah bagaimana agar kita tetap punya standar bahagia sederhana.
gaya hidup yang naik itu selalu nggak kerasa. oleh karena itulah, secara berkala kita perlu mengaudit gaya hidup kita sendiri. berlebihan nggak ya. bisa lebih sederhana saja nggak ya. seperlu itu nggak ya.
tidak, ini tidak hanya untuk berhemat dan menabung lebih banyak. maksudnya, ini supaya kita tetap mudah dibuat bahagia. kini saya berusaha mengajak diri sendiri. yuk, turun satu dua anak tangga gaya hidup untuk naik sangat banyak anak tangga bahagia.
Tulisan: Ragamu boleh istirahat, tapi doamu tetap harus bekerja.
Allah mampu mengubah sesuatu yang kamu sendiri mustahil untuk mengubahnya. Hati yang keras pun akan ada masanya ia luluh dan egonya akan hancur, yang dipisahkan oleh jarak dan keadaan pun tidak mustahil akan Allah dekatkan.
Mereka yang lelah karena perjalanan dan perjuangan maka biarkan raganya untuk istirahat, mengumpulkan tenaga dan impian yang harus ia kembali perjuangkan. Tapi doanya tidak boleh ia istirahatkan, biarkan ia tetap melangit bekerja dengan lisan yang selalu ia mohonkan kepada pemilik langit dan hati manusia.
Sebab, ada di dunia ini seseorang yang tidak lagi memiliki kesempatan dan usaha kecuali hanya melangitkan doa.
Ketahuilah, semua itu tergantung pada doa dan prasangkamu pada-Nya. Ia ingin tahu sekuat apa kamu mengusahakan doa tanpa putus. Terus saja doamu, sampai Allah berikan ketentuan terbaiknya untukmu.
@jndmmsyhd
Catatan: Cari yang berkah saja
Rezeki yang sedikit atau pas-pasan kalau berkah pasti akan cukup, malah kadang lebih. Dan rezeki yang banyak tapi tidak berkah, pasti akan kerasa kurang terus. Rezeki yang Allah kasih itu cukup untuk hidup, tapi kalo rezekinya buat gaya hidup ya tidak akan cukup.
Mungkin hari ini kebanyakan dari kita sedang diuji dengan yang namanya "rasa cukup".
Maunya selalu banyak dan terpenuhi, tapi kalau semuanya dikasih dan dipenubi, ya darimana kita belajar usaha maksimal? Doa yang khusyu'? Bermunajat setiap malam?
Padahal nikmatnya itu ada disitu, dekat sama Allah.
@jndmmsyhd