W: Kamu ganti PP? H: Di kantor tiba-tiba kangen kamu, terus nyari foto kamu yang paling nggak keliatan mukanya. . . . . that's the sweetest thing someone ever said to me :)
noise dept.
No title available
"I'm Dorothy Gale from Kansas"

No title available

PR's Tumblrdome

tannertan36
Today's Document
Misplaced Lens Cap

No title available
AnasAbdin
trying on a metaphor
Xuebing Du
tumblr dot com
Cosimo Galluzzi

shark vs the universe
No title available

Origami Around
Jules of Nature

#extradirty
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ

seen from Türkiye
seen from Italy

seen from United States
seen from United Kingdom

seen from United States
seen from Brazil

seen from United States

seen from Brazil

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States
@perihelium
W: Kamu ganti PP? H: Di kantor tiba-tiba kangen kamu, terus nyari foto kamu yang paling nggak keliatan mukanya. . . . . that's the sweetest thing someone ever said to me :)
Refleksi Satu Tahun
Kemarin, tepat satu tahun yang lalu gw mulai kerja di organisasi ini. Sebuah takdir yang bener-bener mengubah hidup gw. Nggak kebayang sama sekali bakal nyemplung di bidang ini. Satu tahun lalu, di saat gw desperate dengan ketidakjelasan status sebagai penulis yang bukunya nggak terbit-terbit, gw apply satu lowongan untuk jadi Research Officer di IUF. Sama sekali nggak ngerti apa itu IUF. Cuma tau kalo dia organisasi serikat pekerja internasional yang berbasis di Geneva. But then, nggak kerasa satu tahun berselang. Banyaaaak banget yang gw pelajari, orang-orang baru yang gw temui, pengetahuan yang gw gali. 25 April, adalah hari di mana gw bener-bener ngerasa bersyukur bisa kerja di IUF. Karena dengan kerja di sini, gw punya kesempatan untuk travelling ke banyak tempat, termasuk ke kota di mana temen atau sodara gw berada. Gw bisa ketemu Madhuri lagi waktu conference di Belgia, bisa ketemu Rizah pas riset di Makassar, dan bisa ketemu keluarga di Lampung lagi setelah 20 taun nggak pernah ketemu. Turns out, it was also my last time meeting Uda Veri… since, he passed away that Friday, hari kedua Ramadan. Pagi itu, bangun-bangun ngecek watsapp dan baca berita dari nyokap kalau Uda Veri meninggal karena kecelakaan. Gw yang baru bangun masih linglung, masih belom kerasa. Tapi setelah liat foto truk yang ditumpangi Uda Veri ringsek dan ada temennya yang ngepost video saat jenazah Uda Veri sampai di rumah, I broke down. It feels like yesterday I met him. Dan gw sebenernya ada rencana ke Lampung lagi sebelum puasa. But corona made us canceled everything. Dan di saat wabah begini, di saat orang-orang banyak yang diPHK karena perusahaannya bangkrut, gw malah naik jabatan. Alhamdulillaaaah banget Allah baik sama gw. Di masa sulit, dapet rejeki jadi bisa berbagi sama mereka-mereka yang susah gara-gara korona. Dan di masa pandemi, gw ngerasa jadi manusia yang bener-bener bermanfaat karena ngebantu temen-temen serikat buat mendapatkan hak mereka dari perusahaan. 3 Mei 2020, 10,843 kasus COVID19 di Indonesia dengan 831 kematian. Entah kapan berakhirnya. Pemerintah memprediksi, Mei akan mencapai puncak, dan Juli baru akan berakhir. Sementara itu, akan semakin banyak orang yang kelaparan, yang kehilangan pekerjaan, yang menggelandang, dan yang kesusahan. Gw, cuma bisa berdoa semoga pandemi ini segera berakhir, bersedekah sebanyak yang gw bisa, dan bekerja sekeras mungkin. Dan berangan-angan, what’s next, after all of this over?
COVID-19 That Changed the World
Tahun 2020 baru berjalan 3 bulan, tapi ada banyak kejadian yang bikin penduduk Bumi geleng-geleng kepala nggak percaya dan sama-sama berujar, “This will gonna be a tough year.” Hari ini adalah hari terakhir dari 14 hari gw self-quarantine. Sebuah prosedur yang harus dilakukan bagi siapa saja yang baru pulang dari luar negeri di mana terjadi kasus transmisi lokal COVID-19. COVID-19? That’s the name of the disease caused by the new coronavirus. Tiga minggu lalu, gw berangkat ke Filipina di tengah kondisi korona mulai mewabah di mana-mana. Sampai di General Santos yang masih belum ada kasus di sana, masih aman. Tapi sebagai tindakan preventif, sebelum masuk hotel, pengunjung selalu diperiksa suhu tubuhnya, disediakan hand sanitizer, dan menghindari jabat tangan. Itu langkah-langkah yang udah mulai diterapkan di seluruh dunia. The days were a bit packed, so even though I kept myself updated on the situation worldwide, we were busy and wasn’t really worried about being infected. We thought we were safe. Empat hari kemudian, pindah ke Davao setelah menempuh 8 jam perjalanan naik mobil dari South Cotabato City, wilayahnya Bangsamoro. Besoknya ngabisin waktu seharian workshop dan langsung balik ke hotel sementara Bro Herbert balik ke General Santos. Unfortunately, the bad news came. They told us that the local government would lock the city down the next day. Daaan... ada berita kalau Manila juga bakal lock down sampai 14 April! Man, we’re really gonna stuck in the Philippines for real! Bahkan gw sampe udah memikirkan opsi, gimana caranya balik ke Indonesia, in case penerbangan ke Manila dicancel. Opsi lainnya, mengarungi laut lepas di utara Sulawesi untuk bisa sampai di Manado. Atau naik perahu ke pulau terjauh Filipina, baru nyebrang ke Pulau Kalimantan. Taapi… ada banyak penjahat di perairan sana. Haha! Sampe hotel, baru juga rebahan, tiba-tiba sibos nelpon, nyuruh gw packing karena kita bakal cabut dari Davao malam itu juga. Untungnya sibos masih dapet flight, jadi jam 1 malem kita check-out dari hotel dan menemukan orang-orang ngantri di pintu masuk airport Davao nunggu bandara didisinfeksi. Turned out, walikota Davao, yang juga anak dari Duterte, didiagnosis positif korona. Itu alasannya Davao sampai dilock down. Damn. Penerbangan ke Kuala Lumpur subuh itu lain dari biasanya. Tempat duduk lengang dan orang-orang terlihat lebih waspada. Berkali-kali kami menuangkan hand sanitizer di tangan. Begitupun masker yang nggak pernah kami lepaskan. Segitu parnonya. Kami sampai Jumat pagi. Berhubung tiba sebelum yang dijadwalkan, dan agenda meeting baru ada hari Senin, hari Sabtu Minggu itu rada gabut. Yang ada malah jalan-jalan ke sana kemari. Anehnya, weekend itu gw ngerasa banget ada yang berbeda. Dari yang begitu kita datang keadaan fine-fine aja, orang-orang di KL masih beraktivitas seperti biasa. Tapi minggu pagi, keadaan mulai berbeda. Banyak orang berkumpul di apotek dan barang-barang yang berhubungan dengan disinfektan atau imun booster lenyap dari pasaran. Turned out, kasus positif korona melonjak tajam selama weekend sejak jamaah yang menghadiri pengajian di sebuah masjid di KL banyak yang tertular korona. Sibos langsung pesen tiket pulang saat itu juga. So, hari Senin kami sampai di Indonesia, setelah sebelumnya transit di Surabaya. It was like we were chased by the virus! It was thrilling but scary at the same time. It was good and bad at the same time, when you can see Indonesia from the outside while the virus is spreading all around the world. Jadi, sejak itulah gw mengarantina diri sendiri di kosan. Nggak keluar rumah kecuali ke warung sesekali buat beli makan. Rasanya, bosan! Meskipun gw sebenernya introvert yang fine-fine aja mengurung diri di kamar. Tapi, kamar gw yang kecil nggak memungkinkan gw bergerak bebas. But afterall, I survived. Dan selama 2 minggu ini gw sehat wal afiat. Alhamdulillah. Semoga nggak adanya gejala ini bukan karena gw asimptomatik, tapi karena gw bener-bener negatif. So… Sejak munculnya kasus pertama 3 minggu lalu, kini sudah ada 1.500 lebih kasus positif korona di Indonesia, 136 meninggal dan 8 di antaranya adalah tenaga kesehatan. It’s heartbreaking. But I’ll tell you more about this on my next post. Saat ini, gw ingin ‘merayakan’ ‘kebebasan’ gw dulu bisa keluar kamar untuk sekedar menikmati matahari, while still applying physical distancing. Adios. Nb: Let us hope that this pandemic can be over soon so that we can welcome Ramadan in a better condition. Aamin…
Reuni
Reuni: pertemuan kembali (bekas teman sekolah, kawan seperjuangan, dan sebagainya) setelah berpisah cukup lama (KBBI V, 2020). Hari Kamis lalu kami reunian. Kami di sini mengacu pada kawan seperjuangan selama menempuh studi di Goettingen. Buat gw, Goettingen adalah rumah kedua setelah Bandung dan Jakarta, jadi mereka-mereka udah kayak family buat gw. Sama kayak yang disampaikan Imam Syafii: “Orang pandai dan beradab tidak akan diam di kampung halaman. Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang. Merantaulah, kau akan mendapatkan pengganti dari kerabat dan kawan” It feels so good to meet them again after so long. Mem-flashback lagi kejadian-kejadian di masa lalu, meng-update kabar terkini, dan menceritakan mimpi-mipi di masa depan. Reuni itu terasa spesial karena semakin dewasa, semakin sulit kamu bertemu mereka. Ada yang pindah pulau ikut dengan suami, ada yang kerjanya selalu lembur bagai kuda, ada yang sibuk kondangan sana-sini, ada yang waktunya habis dengan membuat konten yutub (:p). Jadi begitu kemarin kebetulan semuanya sedang free, langsung direncanakan ketemu, dan voila! Kadang, yang dadakan itu lebih sering kejadian, dibandingin kalo direncanain jauh-jauh hari. Dua sudah menikah dan memiliki anak. Tiga masih jomblo, termasuk gw. Haha.. Yang udah nikah dan udah punya anak harus LDM sama suami beda pulau. Ketika gw cerita-cerita soal pekerjaan baru gw yang menuntut gw travelling ke sana ke mari, katanya… “Aku selalu bilang ke temen-temen aku yang masih single. Dinikmati aja kesendiriannya. Karena aku tuh sebenernya belum siap punya anak. Kalo dulu si teteh bilang ‘anaknya merenggut kecantikannya’, buat aku, ‘anak aku merenggut kebebasanku’.” I know what she maent, bukan berarti dia nggak bersyukur dikasih anak. Tapi ada saatnya, ketika lagi capek banget, ngeliat temen-temen yang masih single dan masih bebas melanglang buana, rasa iri itu datang. Lucunya, di saat yang sama, yang single iri sama yang udah nikah karena punya suami yang bisa jadi temen curhat dan punya anak yang bikin rasa lelah ilang begitu pulang ke rumah. Heu.. rumput tetangga mah selalu lebih hijau. So, eventhough I’m happy with my life, tapi ketika galau itu datang, gw selalu inget mereka, yang nggak punya apa yang gw punya. Some people may hate this, ngebandingin sama apa yang orang nggak punya dulu untuk tau kalau kita berlebih dan harus bersyukur atas kelebihan itu. But we can’t help it, can we? Manusiawi kok… Yang penting, setelah ngebandingin diri dengan orang lain, bersyukur karena kita punya kelebihan dan mendoakan mereka yang punya kekurangan semoga punya kehidupan yang lebih baik. Hidup itu simpel, kita aja yang bikin ribet. Till next reunion, folks!
2019
It’s been soooo long since the last time I wrote something. I’ve been busy, yes, but the bigger reason was my laziness. Untuk menulis sesuatu, kamu harus membaca terlebih dahulu. Tapi setahun ini, gw sungguh-sungguh nggak produktif menamatkaan bacaan. Ada mungkin 4 buku yang gw baca tapi berhenti di tengah jalan. I blame smartphone for distracting me from the joy of reading. Tapi 2019 adalah tahun yang berarti buat gw. So, even though I don’t celebrate New Year, I still want to bid goodbye to this meaningful year by writing something. Di tahun ini gw mengalami patah hati, untuk entah ke berapa kali, galau karena status kerjaan yang nggak jelas, sampai akhirnya Allah membayar semua kegundahan dengan akhir yang menyenangkan, I’ve got the job! Bukan cuma pekerjaan ini sesuai bidang gw, but this job allowed me to learn many things, berinteraksi dengan orang-orang baru, plus memungkinkan gw untuk travelling ke tempat-tempat yang nggak biasa. I even had a chance to go back to Europe and met my bestfriend from Goettingen. It’s weird at first, to come back again to the land which once was my second home, but also felt so familiar at the same time. Pekerjaan ini juga memungkinkan gw untuk bisa nabung dan memberi lebih banyak. So, for that, thank you, Allah. 2020 menanti. Dan meskipun gw nggak bikin resolusi, gw harap tahun depan akan lebih baik dari tahun ini. Adios, 2019.
Mereka Hadir Karena Takdir Semua orang yang hadir dalam hidup kita bukan datang tanpa disengaja. Tuhan sudah menakdirkan mereka untuk mampir sejenak, atau selamanya dalam hidup kita. Sahabat baik, teman sejurusan yang setelah lulus tidak pernah lagi ditemui, teman kantor yang setelah kita resign menjadi teman seumur hidup, ibu-ibu yang kita temui di angkot, petugas loket di stasiun, abang gojek, hingga kasir di Alfamart. Terkadang, mereka hanya numpang lewat. Tapi seringkali, interaksi yang kita alami lebih dari itu. Kadang pertemuan singkat bisa mengubah kehidupan kita secara total. Ada kalanya, hanya satu nasehat pendek bisa membuat perubahan tentang cara kita menjalani hidup atau melihat sudut pandang dunia. Dan untukku pribadi, aku berterima kasih banyak untuk mereka, yang secara sadar atau tidak sadar memberikan perubahan berarti untuk hidupku. Untuk mereka kusampaikan doa, semoga Allah selalu memberikan keberkahan untuk hidup mereka. Meskipun terkadang, jejak yang ditinggalkan, tidak selalu menyenangkan. Tapi, selama aku berusaha untuk menjadi pribadi yang lebih baik, pahala untuk mereka semoga selalu mengalir. Juga untuk kamu. Aamiin...
Katakan, di mana kami harus bermain?
Di suatu malam, sekitar pukul 8, seorang gadis sedang berjalan melewati sebuah gang kompleks. Dari jauh terlihat dua anak laki-laki 10 tahunan sedang saling menendang bola dari jarak 5 meteran. Si gadis yang ingin menghindari terjangan bola nyasar jalan melipir ke pinggir. Tapi memang malam itu si gadis sedang apes, atau mungkin dia punya medan magnet tinggi yang bisa menarik benda-benda nonmagnetik seperti bola plastik bergerak ke arahnya, karena tanpa hambatan si bola meluncur deras ke arahnya. Adegannya seperti slow motion, beberapa detik sebelum benturan, si gadis sempat berpikir, “Wah, gw bakal kena, nih“. Namun, tanpa sempat menghindar, terjadilah... Buk! Kena tepat di muka! Man, it hurt! Yang nendang kayanya sepenuh hati, atau dia ada dendam pribadi? Saking kaget dan tercengangnya, si gadis cuma bisa berdiri bengong. Sementara terdengar si pelaku yang sedang memungut bola yang sudah memantul kembali ke arahnya berujar, “Maaf, teh“. ‘Maaf.. maaf dari hongkong!‘ ujar si gadis mangkel dalam hati. Dipelototinya si anak itu sambil ngomel, “Hati-hati dong! Di sini kan banyak orang lewat, bukan tempat main bola!” Dan si gadis pun berlalu sambil memikirkan kenapa nasibnya apes sekali malam itu. Di sepanjang jalan si gadis berkontemplasi dan malah jadi mempertanyakan kembali pernyataan dia sebelumnya. Lah, emang bener, jalan kan bukan tempat main bola... Tapi kenapa sih mereka main bola di jalan? Ya, sederhana. Karena nggak ada lapangan bola. Coba kamu cari di pelosok kota, mana ada sekarang lapangan bola. Tiap jengkal tanah sudah diisi oleh batu bata dan semen, atau aspal dan beton. Di kompleks tempat tinggal saya* ini dulunya masih ada lapangan bola luaaas banget. Zaman SD dulu lapangan itu bisa dipake buat main bola, termasuk turnamen antarkampung. Bahkan, saking luasnya banyak orang yang belajar nyetir mobil di situ. Kami, bocah-bocah pecicilan, suka main sepeda sore-sore di sana. Biasanya paling seru kalau bulan Ramadhan tiba. Sehabis ceramah subuh langsung gowes sepeda dan main di lapangan sampai waktunya harus berangkat sekolah atau pesantren kilat. Dulu kami begitu bahagia. Lalu, sepuluh tahun kemudian developer memutuskan terlalu sayang membiarkan tanah terbuka itu tanpa dibangun. Dan kini, tanah itu sudah penuh oleh deretan rumah-rumah serupa. Buat yang punya rumah dengan lahan terbatas, jangankan tanah terbuka, selokan pun disemen supaya ekor mobil yang nggak kebagian garasi bisa dijaga pagar. Alhasil, air menggenang di jalan begitu musim hujan tiba. Terus yang punya rumah misuh-misuh karena jalan depan rumahnya kebanjiran. Lah, salah siapa? Balik lagi ke soal tadi. Orang-orang dewasa yang hobi sepak bola yang kehilangan lapangan luas untuk bermain bola akhirnya beralih pada permainan futsal di sebuah lapangan indoor yang biasanya disewa per jam. Umumnya harga sewa lapangan dibayar patungan sesuai jumlah orang yang bermain. Orang-orang dewasa ini sih punya duit. Nah, kalo anak umur 10 tahun? Eit, jangan salah. Uang jajan anak SD jaman sekarang bahkan bisa lebih gede dari anak kuliahan. Kalo jaman dulu kita dikasih uang jajan dua ratus perak yang cukup buat beli chiki, gulali, dan martabak mini, uang jajan anak jaman sekarang bisa dipake buat beli seblak ceker, es krim magnum, bakso malang, sampe makan siang di Hoka-Hoka Bento. Masih mending ya kalo duitnya dipake buat jajan. Lah, anak jaman sekarang mah ngabisin duit buat maen game online. Yang nggak cuma ngabisin duit, bikin sakit mata, pusing kepala, plus ngajarin adegan-adegan kekerasan yang pada akhirnya mereka contohkan ke orang lain. Jadi, meskipun prihatin, nggak heran sampe bisa ada kejadian pengeroyokan anak SD oleh temannya yang berujung pada kematian sang anak. Kalo udah kaya gini, saya rela jalanan dipake maen bola demi kemaslahatan anak-anak. *Nah kan jadi ketauan siapa si gadis ini sesungguhnya **Note-nya ga ada hikmahnya ya? Abisan cuma pengen curhat ***Judulnya ga nyambung? Ya maap-maap aja
blog ini berdebu... udah itu aja
An orbituari: Bulu the quite one
Tiga bulan lalu, ada kucing liar yang sedang hamil rajin mengunjungi rumah. Dan akhirnya menasbihkan rumahku jadi rumahnya juga karena rajin dapet sisa makanan. Suatu hari, si hitam mau ngelahirin. Mondar mandir nyari pojokan dan tempat sempit untuk tempat anaknya lahir. I was working with my laptop when she suddenly approached my feet. Dari gelagatnya doi udh mau lahiran, akhirnya aku turun ke bawah nyari kardus. Eeeh malah ngikutin, padahal air ketuban udah netes di lantai! She was staring at me with pleading eyes, saying "Temenin dong, gw mau lahiran." Akhirnya aku buru-buru turun, ngambil kardus dan secepat kilat balik lagi ke atas. Dan ternyata anaknya udah lahir, di lantai! Beberapa menit kemudian, setelah dijilat-jilat sampe bersih, anaknya diangkat juga ke dalam kardus. And for the next few minutes I was fascinated seeing her labor process, ketika satu persatu anaknya keluar dari rahimnya. Dan tada, resmilah aku punya 4 mulut tambahan untuk dikasih makan! Semuanya betina: si abu, si putih, si bulu, dan si kecil. I don't know why I couldn't come up with an idea to name them. Tiga bulan, resmilah mereka jadi bagian keluarga kami. Bahkan papa yang biasanya nggak suka melihara hewan suka ikut cengengesan ngeliat tingkah mereka. But today, when I was busy with children who came to study, mother kept calling me. Ada yang nggak beres dengan si bulu. Megap-megap kayak susah napas. We can do nothing. Karena nggak seperti kasus dulu, waktu tulang ayam melintang di langit-langit mulutnya, kita sama sekali nggak paham masalahnya. I tried to do Heimlich maneuver, you know. But no use. It was so devastating seeing her suffering but we can do nothing. Option terbaik memang pergi ke dokter. Tapi bahkan kita nggak tau dokter hewan terdekat. I've known this whole time that Bulu won't last long. Seeing how many times she experienced ups and down in her health, losing appetite, didn't eat for days, muntah, mencret, sakit mata, sampai keselek tulang ayam. Dan si kucing pendiam berbulu lebat itu (it's weird that she has long fur while her sisters don't, hence the name) pun mengembuskan napas terakhir di pangkuan mama. Lalu kita berderai air mata. It's also weird that it feels like someone has died. *sigh Rest in peace, Bulu. We're gonna miss having you around.
I love everything to do with astronomy. Once I waited a meteor shower at 3 am on my rooftop and saw the flash (probably would be my first and last experience). Hence I named my blog as perihelium. As you can read from bio, perihelium is about finding the sun, the source of the energy of the galaxy. The sun that keeps the galaxy running. As for me, the sun is a reason, a destination to reach, an aim to achieve, a dream to pursue. The things that force me to keep on moving forward to achieve something. Because when you have somewhere to go, you make a plan, of what things to bring, whether you need to prepare for an umbrella in case it would be raining, of which path you'd prefer to choose, of how to get there. When you plan, you'd gonna make sure that you won't get lost. If you don't have a destination, you won't need to make a plan, and you're gonna stay where you are. My biggest dream on my early twenties was to continue my master in Europe. And that what made me to keep on working to reach my dream. I made plans, I tried everything I could to reach my dream. And I did it. After graduating and coming back, I lost my reason. Because.. well.. I'm a graduate now. Somebody said: Just continue your PhD! That would be your new goal. Strangely, I don't have any appetite to continue my PhD. At least for now. There are many things which hinder me to continue my study. So what now? It's so fortunate that my previous boss asked me to write a book. At first, I was like "Hm.. calculating the royalty.. it's prospective. Not the mention my long term dream of becoming an 'official' writer." But then I met a friend who once an editor who is now working as a civil servant in Pusat Perbukuan. After 3 hours long discussion which summarized 3 years communication through social media only, I've got a new insight. This is not just about royalty. This is not about making money by writing a book. Because they need it. Indonesian students are. To be provided the best book that meets this complex-and-demanding curriculum in which the teachers can't provide yet. Teachers are so busy with administration so that they can still get additional income from certification. In the end, they depend wholly on book of what to teach to students. Books are like Bible. So in consequences, writer must provide a complete package in one book so that the teachers can use it instantly as teaching instrument. Some people may think the teachers are lazy. Well.. you should see it yourself. It's dilemmatic. When teachers are demanded to increase their competencies so that they won't lose their certification, in the end it will lowering their time to focus on giving the best to their students. As a former generation in which technologies haven't got a chance to brainwash me, I feel so lost to see how younger generation nowadays only get education on the surface. They don't know why do they have to learn that they need carbondioxide and water to make carbohydrate or to care that global warming is happening or the importance of solving mathematical problem. They just care of how to get as much followers on instagram as they can or being labeled as 'Kamu suci aku penuh dosa.' (Menyilangkan lengan di depan dada sambil menggeleng-gelengkan kepala layaknya orangtua berusia 70 tahun) That's my new goal. To write the best book for Indonesian students. Buku yang mencerdaskan. Buku yang mencerahkan. Demi masa depan pendidikan Indonesia yang lebih maju. Bless me.
Look down
So I just attended a wedding of an extended family. Ceweknya orang Bandung, jadi resepsi pernikahan diadakan di kampung halaman sang mempelai wanita. Di Pusdai, gedung yang udah terkenal seantero Bandung jadi tempat resepsi skala besar dan mewah. Dan begitu aku masuk ke gedung tempat resepsi, aku disambut oleh ruangan dengan dekor yang classy tapi feminin. That was definitely something. Lalu belok ke arah ruangan utama dan langsung terpukau sama pelaminannya. It was breathtaking! Didominasi warna putih dan dihiasi bunga-bunga. Rasanya nggak akan keberatan harus menahan pegal berdiri 2 jam menyalami tamu. Dan yang bikin pemandangan lebih memukau lagi adalah mempelai perempuan yang nggak bosan dipandangi karane cantiknya. Gaun putihnya elegan, make up maksimal, dan digandeng oleh pengantin laki-laki yang sama gantengnya. A perfectly perfect bride. Here’s the deal, she’s an Arabic descendant, lulusan Teknik Industri ITB and planned to continue her master in UK (so she has brain), and from a definitely respectable family. Bahkan aku melihat mantan menteri pendidikan yang baru aja diberhentikan Bos Jokowi wara-wiri di antara para tamu. It turned out that her father is Anies Baswedan’s uncle. Go figure. Resepsi itu mungkin jadi pernikahan impian buat hampir semua cewek. It looked all perfect. Dan mau nggak mau aku jadi ikut mupeng. Heu… Tapi.. berapa ratus juta coba habis buat acara 2 jam malam itu? I can’t imagine. Daripada habis buat resepsi mending buat DP rumah deh. But afterall, they can afford it, so no need to feel envious. Tiap orang punya jalan hidup beda, punya rejeki masing-masing. Bukannya ngedoain yang buruk, tapi kita nggak tau di balik segala yang perfect yang kita lihat di permukaan. Mending liat ke bawah. Ke orang-orang yang hanya mampu menyelenggarakan resepsi sederhana tapi demi untuk tujuan mulia membangun rumah tangga. My bestfriend even still has debt from his wedding. Nggak ada alasan buat iri. Mending berdoa semoga dikasih rejeki yang banyak, moga cepet dipertemukan jodoh yang paling tepat. Ya nggak? ;p Aamiin aja lah.
Rumah adalah tempat berlindung. Harusnya jadi tempat paling aman untuk kamu hidup. Tapi bagaimana kalau rumah justru jadi tempat yang paling ditakuti karena jika memutuskan untuk tinggal, taruhannya hidupmulah yang di ujung tanduk. Ditentukan oleh sepersekian detik ledakan yang tidak hanya menghilangkan nyawamu tapi juga orang-orang di sekitarmu. Dan kamu harus hidup hari demi hari dengan kenyataan itu. Kamu pasti mengenali tipikal karakter wanita-wanita pada foto di note ini. Hidung mancung, kulit putih, mata cokelat, rambut gelap dan tubuh tinggi semampai. Manusia-manusia berparas cantik dan gagah yang berasal dari negeri padang pasir sana, yang kalo kata orang Indonesia punya gen unggul yang bisa jadi salah satu cara memperbaiki keturunan. Heu.. ini mau ngomong apa sih sebenernya. Maaf sodara-sodara, mukadimahnya kepanjangan. Jadi sebulan yang lalu, seorang tante di Jakarta memintaku untuk menemaninya mengurus visa seorang pencari suaka asal Suriah, sebut saja X, dan anaknya yang sedang berusaha mencari rumah baru di Jerman sana. Home, not a house. Sayangnya waktu itu lagi ada kerjaan lain dan pada akhirnya si Tante, as their sponsor, yang harus mondar mandir kelimpungan sendiri. My bad, sorry Tan! Mana dua-duanya nggak bisa berkomunikasi dalam bahasa yang sama, ribet deh. Ditambah pake acara dimarahin pihak imigrasi karena berani-beraninya jadi sponsor buat orang yang sama sekali nggak beliau kenal. Gimana kalau mereka melakukan kejahatan coba? Tante ini emang hebat. Ia bersedia membantu dengan sukarela, hanya karena keyakinannya bahwa sesama Muslim harus saling tolong menolong, dalam kebaikan. Kebaikan kan? Well, kalau menyelundupkan imigran ilegal ya bukan kebaikan namanya. Tapi Alhamdulillah, semua dokumen kepengurusan legal dan resmi dan membuat semuanya jadi lebih mudah, meskipun sekali lagi, merepotkan. Jadi tante ini punya suami seorang dokter, sebut saja A, yang punya murid seorang dokter dari Aceh bernama B, yang pernah studi di Inggris dan selama di sana punya kenalan seorang Suriah yang bernama C, yang punya seorang sepupu bernama D, yang punya istri seorang X. Ngahahaha.. kusut kan? Ceritanya D ini udah tinggal di Jerman dan ingin membawa anak istrinya untuk ikut tinggal di sana, di rumah baru mereka. Meninggalkan rumah lama yang sudah hancur karena peperangan (Waktu aku bilang rumah, maksudnya rumah dalam arti sebenarnya, dengan tembok dari batu bata dan semen). Kamu tahu kan apa yang terjadi di sana (atau nggak? Karena jarang nonton berita?)? I don’t really follow the news either, tapi sedikit banyak tau lah sejarahnya. Seperti yang terjadi di Palestina, di Nigeria, dan di belahan lain bumi, peperangan terjadi setiap hari, dan nyawa hilang tiap hitungan jam. Tapi nggak ada media yang intens memberitakan hingga kamu merasa harus peduli saudaramu di sana kehilangan nyawa, kehilangan orang terkasih, kehilangan rumah tempat berlindung, karena perang. Dan beritanya hanya nyempil dalam sebuah kolom kecil di surat kabar lokal tentang ‘Berita dunia’ yang hanya dibaca judulnya karena isinya berupa statistik berapa orang yang kehilangan nyawa hari itu. Lalu kamu mengembuskan napas dan berkomentar ‘Perang lagi, perang lagi’. Why? Because it’s just a number. It’s not happening in here. I’m not being cynical. Trust me. Perang saudara di Suriah pecah sejak tahun 2011, yang dipicu oleh ketidakpuasan rakyat atas kepemimpinan Bashar al Assad, presiden Suriah sejak tahun 2000, karena kediktatorannya, kegagalan ekonomi dan kasus-kasus korupsi. Sounds familiar, huh? Konflik yang awalnya hanya berupa protes dari rakyat, dijawab dengan senjata oleh pemerintah yang berkuasa. Pada akhirnya pihak oposisi pun meminta bantuan negara-negara lain, yang sebenarnya ikut berpartisipasi untuk kepentingan mereka sendiri. Sejak pecah perang, jutaan rakyat Suriah mengungsi. Sebagian besar ke negara-negara tetangga, dan banyak yang mencari suaka ke Eropa. Jerman jadi negara tujuan utama para pencari suaka asal Suriah. Jadi nggak heran, sebelum kembali ke Indonesia, kota kecil tempatku tinggal sudah terlihat agak berbeda. Banyak pengungsi di sudut-sudut kota. Mereka mudah dikenali dari orang Jerman keturunan Turki atau negara timur tengah lainnya dari gaya berpakaian mereka. Nggak semuanya orang nggak mampu kok. Karena untuk sampai di daratan Eropa, lewat jalur apapun, mereka harus mengeluarkan uang ribuan euro. Dan begitu sampai di Jerman, mereka dikasih subsidi dari pemerintah Jerman yang bahkan nominalnya lebih besar dari penghasilan temen-temen Indonesia di sana yang jadi loper koran buat bayar kuliah. Heu.. Kenapa Jerman? Karena mereka punya kanselir yang keren, Angela Merkel, yang menerima dengan tangan terbuka para pengungsi di saat negara-negara lain menutup pintu mereka. Merkel, you rock! (What can I say? I’m her fan :p) Meskipun, pastinya banyak juga yang kontra dengan kebijakan beliau, karena dianggap pengkhianat rakyat. Apalagi baru-baru ini Jerman yang biasanya tenang mulai diguncang aksi terorisme. Pastinya para pengungsi, baik yang udah jadi warga negara Jerman atau baru tiba di Jerman, yang paling potensial untuk dicurigai jadi tersangka. Masalah buat para pencari suaka ini adalah kedutaan negara-negara Eropa di Suriah banyak yang tutup, sehingga mereka harus mengajukan visa lewat negara lain, seperti Indonesia. Dan ternyata para pencari suaka ke negara-negara Eropa sana, yang mengajukan visa dari Indonesia baaanyaaaak jumlahnya. Liat aja antrian orang yang berdiri di depan kedutaan Jerman yang sebagian besar didominasi muka-muka timur tengah. Bahkan di Indonesia banyak agen yang mengurus mereka. Mereka mengerahkan segala harta yang mereka punya untuk satu pengharapan akan hidup yang lebih baik (Baik dalam artian, normal, hidup tanpa dentuman senjata atau bangunan yang hancur karena bom. Hidup di mana mereka bisa makan layak dan bekerja untuk menghidupi keluarga), atau sekadar hidup. I saw their picture. Betapa bahagianya mereka bisa berkumpul lagi. I mean D and X together with their one year old son. Bocah yang hidupnya lebih beruntung dibandingkan bocah lainnya yang harus ditemukan terdampar di pantai dalam keadaan tak bernyawa setelah kapal yang ia tumpangi bersama keluarganya terbalik di Laut Mediterania sana, Alan Kurdi. So, kalau kamu masih bisa tinggal dengan nyaman di bawah atap rumahmu tanpa harus takut suatu saat misil jatuh tepat di atas kepalamu, atau suara tembakan instead of beduk masjid berbunyi bertalu-talu, masih bisa makan apapun yang kamu suka, melakukan apapun yang kamu mau, be grateful. Banyak orang yang nggak seberuntung itu. Kamu bisa memilih nggak peduli. Nggak ada yang memaksa untuk peduli. Karena faktanya masih baaaanyak isu di negeri ini yang butuh perhatian dan atensi kita. Tapi satu sikap hidup akan menolong kamu dan keluarga kamu, juga bangsa ini untuk jadi bangsa yang lebih baik: banyak bersyukur. Mencukupkan diri. Korupsi, begal, produksi vaksin palsu dan sederet daftar kejahatan lainnya disebabkan oleh satu dari sekian banyak hal: kurang bersyukur. Karena manusia… serakah. Heu, gue udah kayak yang paling bener aja. And I did blabber so much, berasa sok jadi pengamat politik luar negeri. :p My apology. Selamat akhir pekan, teman. Adios. Photo credit: www.huffingtonpost.com
Nelayan asmara
Nelayan Asmara Once upon a time… between best buddies. X : Semua orang punya masa depan kaya kertas kosong putih. Punya kesempatan yg sama untuk nulis apa aja di dalamnya. Mending cari yang nggak punya masa lalu yang buruk. X : Kaya Anies Baswedan sebagai alasan kenapa dia milih Jokowi. Kalau dua-duanya punya masa lalu, mungkin menurut dia Prabowo punya masa lalu yang lebih buruk dari Jokowi. Masa lalu gua kelam… Y : Hm.. kalo soal masa lalu sih nggak bisa dihindari. Ya mau gimana.. udah kejadian. Kalo yang dipikirin masa lalu.. temen gua yang dulu gua jodohin itu nggak akan jadi nikah kali. Secara si cowok dulu anak nakal, tukang ngerokok, pernah mabok dan pernah nyicip narkoba.. temennya anak nakal semua. Y : Tapi yang dilihat sama si temen ini masa depannya.. bisa nggak dia jadi suami yang baik.. tanggung nggak waktu dia jadi ayah nanti… Cuma gua masih bingung ngebedain sifat yang nggak bisa berubah (dan harus maklum kalo jadi pasangannya) sama kebiasaan yang bisa diubah. Misal.. playboy.. itu sifatnya emang begitu atau kaya kata orang-orang.. kalo misal udh ketemu soulmatenya dia bakal setia. Bagian itu yang suka bikin nggak yakin. X : Yang gua pernah dikasih tau, selama dia masih sholat, sejelek apapun sifat dia, pasti bisa berubah. Catatan: sholat yang beneran sholat ya. X : Hemmm... waktu gua tanya V, kenapa nyatain ke W, jawabnya karena kagum nggak ada niat jadian atau apapun. Totally bullpup menurut gua mah. Can you handle it if he does the same thing to other woman? X : W pernah bilang gini.. pilih suami itu bukan nerima apa adanya, tapi dari iman dan akhlaknya. Banyak kok yang imannya bagus rajin sholat, puasa, dsb tapi suka KDRT. Banyak juga yang istri dua dengan cara yang nggak baik. Kalau iman udah bagus tapi akhlaknya nggak, ya harus pilih-pilih lagi. Selama akhlaknya masih bisa diterima ya lanjut, kalau nggak, ya udahan. Kalau udah nikah dan nggak ada niat cerai, baru nerima apa adanya. X : Dulu gua tebar jala, yang nyantol W sama Z. Alhasil sampai sekarang W masih sakit hati sama Z. Susah gan benerinnya lagi. Y : Ckckck.. jadi W jadi cadangan? X : Bukan cadangan juga sih.. tapi memilih.. tapi kalau di Islam nggak gitu sih cara milihnya.. heu.. X : Kalau dia tebar pesona sama semua cewek terus jadian sama lu, sikap tebar pesonanya nggak bakal hilang gitu aja.. ada masa dia masih tebar pesona padahal udah sama lu. Kalau menurut lu itu temporer and you can deal with it, ya sok aja. X : Gua pernah tebar jala sebelum W. Pas udah dapet, rasanya beda dengan yang hasil mancing, target satu dan harus dapat. Nggak sama dengan tebar jala yang penting dapat ikan, mau ikan koki atau cupang sama aja sama-sama ikan. X : Yang tebar jala lebih nothing to lose.. nggak se-strugle yang mancing. Udahan ya udah cari lagi. Yang mancing agak lama buat move on. Y : Perlu dibikin tip-tip nelayan asmara nih kayanya. X : Haha.. hati-hati sama badai asmara pas lagi melaut gan. Y : Yang hasil mancing siapa? X : B, sebelum A. Yang gua bilang kalau pergi dianter ajudan. Yang ke-5. Y : Terus W hasil proses yang mana? X : Kan gua udah bilang.. awalnya mancing.. tapi umpan nggak digigit-gigit cuma ditoel-toel doang eh ikan lain yang gigit, tapi habis digigit di lepeh lagi. Pas masih digigit ikan lain, eh ikan tagetnya ngamuk-ngamuk. Untung gua bukan tipe lempar umpan nggak pake pancing. Y : Naah.. yang lu bilang sesuai dengan hipotesis gua. V itu tebar jala, bukan mancing. Nothing to lose aja, nggak peduli dapet tuna atau paus. X : Worth it nggak menurut lu umpannya? Y : Umpannya tuh kayak nggak niat gitu.. cuma mau ngetes aja ada nggak ikan di kolam. Kalo ada kecipak baru deh pancingnya diturunin. X : Nah itu ngerti step-stepnya orang mancing gimana.. Y : Jadi lulus nih dari training nelayan asmara? X : Dapet gelar MSC, marine sustainable catch. Y : Sampe kapan ya doi kaya gitu? Apa emang gayanya begitu? X : Ya sampai dia tau ada ikan di kolam baru lempar jala. Sukur-sukur kalau dia bisa liat jenis ikan dalam kolamnya apaan. Kalau ternyata mau cari bawal dapetnya cere ya dilepas lagi. Apa lagi kalau dapetnya ikan sapu-sapu. Y : Ngahahahhahah.. sial. Terus gua ikan apa dong? X : Maunya ikan apa? Y : Ikan bandeng aja dah.. jadi kalo di kolam nggak ada prospek gua pindah ke air payau. X : Ahahahaha.. ya ikan apa pun yang lu pilih, itu image lu tentang diri lu. Gua kira lu bakal pilih dugong. Y : Dugong mamalia hoooiii...
Once a friend of mine told me this… Once you fell for someone completely, and he gave you a deep wound The heartbroken will followed by an amnesia syndrome Not on your brain, but on your heart It will forget how to love It will forget how it feels to love and to be loved Until.. The time comes To fall in love again Should we prove her theory? Whether it was right.. or wrong?
Sebuah kalimat klise berbunyi: Semua indah pada waktunya. Kamu termasuk yang percaya? Aku beriman, dan aku percaya. Tuhan sudah berjanji kalau di setiap kesusahan, ada kemudahan. Begitupun kamu harus percaya kalau di balik setiap kemalangan, pasti ada hal baik yang akan menanti. Seperti halnya setiap malam selalu diikuti oleh siang yang membawa matahari dan kehidupan. Setiap orang sudah memiliki `timezone`nya masing-masing. Setiap orang sudah digariskan takdirnya, kapan ia mendapatkan kebahagiaan setelah mengalami penderitaan, kapan mereka mendapatkan apa yang diimpikan dan dinantikan. Semua sudah diset waktunya oleh Sang Maha Pemberi Kuasa. Jadi tugasmu hanyalah, tetap berusaha, diiringi doa, tetap bersabar dan tetap percaya kalau Tuhan sudah menyiapkan rencana besar di depan mata. Percayalah, Tuhan tidak pernah ingkar janji. Jadi kamu, yang masih berjuang, semangat ya! *notetomyself #quote #timezone
Being a soldier
Once again, I’m talking about Descendants of the sun. Oh God, I should keep myself calm as I would go in a super difficult withdrawal syndrome as soon as the last episode of DoTS ends tonight. I never had any family member who is served in the army, nor having any military background. We are more likely from ‘teacher descendants’ (ah.. descendants sounds like a hype word these days :p) as most of our family members are teachers; my mother, my aunts, my father was a teacher when he met my mother, my grandpa was a head of school and even my great grandpa was a teacher, which being the reason why my grandma had an access to go to school when it was quite impossible for Indonesian to go to school at that time. So yes, we have never get any information about how military life really is from a family member. But the truth is we respect army so much. My brother is a die hard fan of fighter aircrafts. He had a huge poster of F16 Fighting Falcon posted on a wall in his room. He collected all Angkasa bulletin which discuss about planes, including fighter aircrafts, and sometime provide some pages for army and military stuff articles. I had the opportunity to see the daily activity of Indonesian soldiers when we had a full week joining Leadership Training held by my former campus in collaboration with Kodam Siliwangi (which is the military base in our area). And I was in awe, seeing how obedient soldiers were to their superior. They always follow orders, despite their own personal objection. And those were reflected well in DoTS drama. I highly respect soldiers, with their devotion to the country, with little salary and yet willingly to be sent to far away areas to guard Indonesian borders which mostly have minimum facilities. They were sent to the deep of the jungle to fight the separatists in Poso (My deep condolences to those who died in a mission few weeks back. Truly, I respect you, so much! Couldn’t bear the grieve if I were one of the soldiers’ family member). They died to save passanger in a plane hijacked by an Islamic extremist group. Ect, ect. They were sent in so many missions and were proved that they are one of the best in the world. And I am proud of it. Do you know that our special forces are among the most elite special force in the world? Not because of the sophisticated-highly tech-modern equipment, but due to their individual skill. With limited budget to even keep the equipment worth to use, our troops have better quality in term of individual skill to survive in a bad condition and to fight even tens of bandits. And many were died during training to be a special force. As in my opinion, Indonesian soldiers might be the toughest people I’ve ever known. Well, yeah, devotion and patriotism came from brainwashing. Civil people won’t get these kind of attitude and philosophy of life just by reading moral or history book. We need to be brainwashed, as moral has been washed away from our life, let alone the devotion to the country. And once again, devotion and patriotism can not only be done by being a soldier and carry a gun, but do your best for the country, in any way. OMG, did I blabber so much just because of this DoTS withdrawal syndrome? Okay, I must stop now. And last, but not least, 18 Philippines soldiers were killed last time in their government's attempt to fight a group of separatist that were also keeping some of Indonesians as hostages now. Without paying little respect to the death of the Phillippines soldiers, let’s hope our talented army will gain success to rescue our people and send them home. Salute!
Sebutir beras, sebuah nasib petani
Hamparan sawah yang menguning menyambutku begitu kereta yang kunaiki bergerak semakin ke timur. Di akhir bulan Maret hampir sebagian besar petani di daerah Purworejo tempat kakekku tinggal sedang menghadapi musim panen. Itu artinya pasokan gabah akan meningkat, dan sesuai hukum ekonomi, harganya pun akan turun seiring dengan semakin banyaknya ketersediaan barang di gudang. Harga gabah di musim panen kali ini hanya dihargai Rp 3300 per kilogramnya. Kalau gabah itu digiling hingga jadi beras, petani bisa menjualnya dengan harga sekitar Rp 5000. Dengan catatan, mereka harus membayar Rp 300 untuk tiap kilogram gabah yang digiling menjadi beras. Pernah membeli beras dengan harga Rp 5000? Mungkin kalau kamu termasuk masyarakat miskin yang disubsidi pemerintah untuk mendapatkan raskin (beras untuk kaum miskin) harga beras Rp 5000 sudah biasa. Tapi, raskin kadang tidak layak untuk dikonsumsi karena hanya berupa beras sisa yang sering sudah rusak karena kutu gudang atau saking lamanya penyimpanan kualitasnya pun menurun. Harga gabah Rp 3300 ditentukan oleh para tengkulak yang menyerap gabah dari petani untuk kemudian dijual ke pasar. Petani, tidak memiliki daya tawar. Kenapa harus ke tengkulak? Karena KUD atau Bulog belum melaksanakan fungsinya dengan baik untuk membantu petani padi mendapatkan harga terbaik. Harusnya KUD adalah tempat pertama bagi petani untuk menjual gabah, tapi faktanya tengkulaklah yang pertama petani cari untuk menguangkan gabah hasil panenan mereka. Petani tidak mempunyai pilihan selain menjual gabah sesuai harga yang ditentukan tengkulak. Harga gabah yang sangat rendah akan tetap bertahan hingga 2 bulan ke depan ketika musim kemarau tiba dan pasokan beras berkurang. Jadi kalau tidak benar-benar kepepet, pilihan paling baik adalah menunggu hingga harganya naik baru gabah dikeluarkan dari gudang. Sayangnya banyak petani tidak memiliki pilihan, karena hutang produksi untuk pembelian pupuk atau pestisida juga pemenuhan kebutuhan sehari-hari yang mendesak. Mari kita membuat kalkulasi. Rata-rata produksi gabah untuk satu hektar sawah di Purworejo selama satu periode (6 bulan, karena jarang ada petani yang bisa mendapatkan 3 kali tanam dalam setahun) adalah 5 ton. Jika seluruh gabah digiling menjadi beras, maksimum dihasilkan 3250 kg beras (65% dari massa gabah). Beras yang telah digiling bisa dijual dengan harga Rp 5000 kalau sedang musim panen. Jadi total pendapatan bersih sebanyak 16,25 juta. Jika dikurangi oleh biaya penggilingan gabah Rp 300 per kilogramnya, dikurangi oleh biaya produksi seperti pembelian pupuk dan pestisida atau menyewa traktor kira-kira Rp 2 juta, maka pendapatan bersih petani 12,75 juta. Itu adalah jumlah uang yang harus cukup untuk menghidupi satu keluarga petani selama 6 bulan. Bayangkan kalau uang sebanyak 2,12 juta harus digunakan untuk menghidupi lebih dari 2 orang. Oke, mungkin uang dua juta sebulan bisa dianggap cukup besar (well, mengingat di beberapa daerah Upah Minimun Regional saja masih ada yang ditetapkan di bawah 2 juta rupiah), but you should know this, working in a field is so damn hard! Karena belum ada teknologi yang membantu petani mengurangi penggunaan tenaga manusia dalam proses produksinya, kecuali traktor untuk mengolah tanah. Kalau mau dibandingkan pendapatan 2 juta dari pekerjaan yang dikerjakan di dalam ruangan ber-AC dengan mencangkul tanah, mencabuti rumput, menanami benih, memupuki, menjaga aliran irigasi di musim kemarau, menyemprot hama sampai memanen butir demi butir padi di tengah panas terik matahari, there would be no comparison. Kemarin, karena penasaran, aku iseng ikut ke sawah. Ceritanya mau ikut panen. Sebuah terpal sudah dibentangkan oleh mbah sebagai tempat merontokkan padi dari batangnya. Alat perontok padi sudah disiapkan di tengahnya. Alatnya sederhana. Terbuat dari kayu dengan roda yang ditancapi paku di sekelilingnya dan injakan yang terhubung dengan roda macam injakan kaki mesin jahit untuk memastikan roda tetap berputar saat digunakan. Hari baru jam 9 pagi, tapi matahari sudah cukup memanaskan bumi. Dan baru beberapa jam saja membantu merontokkan padi dan memisahkan jerami dari butir-butir padi sudah membuat aku keringatan. Begitu aku melihat hasil pekerjaanku, tumpukan gabah masih menggunung tapi aku sudah kepayahan. Itu, baru satu petak sawah. Masih ada 4 petak lagi yang harus dibabat. Oh, how can I survive! Dan pekerjaannya belum berhenti di situ. Begitu sampai rumah, kalau matahari terik bersinar, gabah-gabah itu harus dijerang hingga kering. Dan satu rumah akan berlarian mengangkuti gabah bolak balik ke gudang begitu hujan mulai turun. Sebulan di rumah mbah sambli ikut panen, dijamin berat badanku bisa berkurang drastis. Pekerjaan menjadi petani padi itu berat, dan tidak akan membuatmu kaya. Tidak heran kalau tidak ada anak muda yang mau meneruskan pekerjaan menjadi petani padi. Hey, look at me, I am a master graduate in agriculture, and yet being a paddy farmer had been my last option for my career. Bagaimana caranya supaya petani padi bisa lebih makmur? Hapuskan upah produksi. Kalau pekerjaan berat yang menguras tenaga memang tidak bisa dihindari karena teknologi produksi padi tampaknya masih lama untuk diimplementasikan. Tapi pengurangan biaya produksi lewat subsidi pupuk, pengendali hama dan pemberian traktor bisa membantu petani untuk mendapat lebih banyak penghasilan. Selama masyarakat Indonesia masih menjadikan nasi sebagai makanan pokok, sawah untuk menghasilkan beras masih tetap dibutuhkan. Kita pastinya akan menyesal kalau sepuluh dua puluh tahun lagi harus bergantung pada impor beras begitu sawah habis dijadikan perumahan dan tak ada orang yang berminat menjadi petani padi. Well I should stop whinning.. didn’t realise that I write this long. Anyway, from now on. I would never leave a single rice left on my plate. Sebutir beras, tersimpan tiap butir keringat petani di dalamnya.