Pagi ini aku menulis, bukan untuk mencari jawaban, tapi untuk meredakan riuh yang bersarang di dada.
Aku ini ibu, dengan satu anak yang jadi semestaku, tapi kadang semestaku pun tak kebal dari letih, dari amarah yang datang tanpa permisi,dari peluh hari yang tak sempat kering.
Aku masih belajar, Nak. Belajar menenangkan badai dalam diriku, belajar menahan suara agar tak meninggi, belajar bernapas lebih panjang, agar cintaku bisa terdengar lebih lembut.
Maafkan ibu...karena dunia kadang menarikku terlalu jauh darimu. Pekerjaan, kewajiban, rutinitas—semua itu kadang membuatku lupa, bahwa yang kau butuhkan hanya peluk dan tatap yang utuh.
Tapi di sela kekacauan, di balik lelah yang tak sempat kuceritakan, cintaku padamu tetap menyala. Tenang saja, Nak, meski jalanku tersendat-sendat, arahku tetap mengarah kepadamu.
Aku mencintaimu, dengan cara yang mungkin belum selalu tepat, tapi selalu sungguh-sungguh.
Ibu.











