I always convinced myself that I deserved to be loved, to be treated well, to feel safe, to be comfortable in your arms when I cried, and to be able to lean on a strong substitute shoulder like my father.
Delilah - Day 178 of 364
"I'm Dorothy Gale from Kansas"
NASA
One Nice Bug Per Day
RMH
KIROKAZE
$LAYYYTER
Keni

❣ Chile in a Photography ❣
Cosmic Funnies

No title available
Mike Driver

Andulka
Today's Document
No title available

izzy's playlists!
TVSTRANGERTHINGS
todays bird
No title available
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open
Xuebing Du
seen from Malaysia
seen from Belgium
seen from United Kingdom
seen from Spain
seen from Malaysia
seen from United States
seen from Australia
seen from Brazil

seen from Malaysia

seen from Türkiye

seen from Japan

seen from Türkiye
seen from Spain

seen from United States

seen from France
seen from United States

seen from Malaysia
seen from Serbia

seen from Germany
seen from Saudi Arabia
@porosrindu
I always convinced myself that I deserved to be loved, to be treated well, to feel safe, to be comfortable in your arms when I cried, and to be able to lean on a strong substitute shoulder like my father.
Delilah - Day 178 of 364
Senja hari ini mengingatkan pada pelukan terakhir yang tak pernah ku temukan lagi sembilan tahun terakhir. Aku rindu senja bersama, waktu itu yang hanya bisa ku ingat dalam gelapnya mataku tertutup.
Ketika kita bertemu dengan seseorang di umurnya yang banyak secara angka dan kamu ingin menjalin komitmen dengannya. Maka kamu wajib menerima masa lalunya sebelum bertemu kamu di umur pasangan kamu sekarang. Kamu tidak boleh judge dia, karena kamu harus berusaha menyesuaikan dengan dia. Cintailah masa lalu ku, maka kamu akan mendapatkan harapan masa depan bersamaku.
Aku masih memeluk bayangmu dalam setiap malam yang gelap dan dingin.
Hujan akan selalu menjadi favoritku.
Rumah
Semesta ini banyak sekali tempat indah dan meneduhkan. Rindu yang bertuan menyiksa di setiap harinya kian menggebu. Aku bertemu tuan rumah yang ramah dan menyambutku dengan garis senyum khas di sudut wajahmu. Kau persilakan aku untuk masuk ke rumah sederhana yang entah kenapa aku merasa nyaman, hangat, dan seperti rumahku yang kini hilang, rasanya sama persis dan terasa seperti rumahku anehnya. Makan malam bersama untuk pertama kalinya di rumah dengan tuan rumah yang baru kutemui. Semakin terasa hangat di hatiku. Aku merasakan ada kehidupan manusia normal di tubuh ini. Wajar saja, kehidupan ku 9 tahun terakhir ini di atas normal dan hanya aku dedikasi untuk bekerja dan tidak pernah pulang ke rumah ternyamanku. Aku merasa seperti hidup kembali, anehnya.
Ku pejamkan mata ini mencoba merasakan hangatnya malam ini. Aku merasakan bayangmu semakin nyata tuan. Ketika jemariku kau genggam dengan lembut dan nyaman. Hampir 4 tahun aku tak pernah bersedia jemari ini di genggam oleh siapapun tapi entah mengapa aku membiarkan tuan menyentuhnya. Baru berapa jam saja aku di rumah Tuan rasanya seperti banyak kupu-kupu dalam perutku. Bahagia sekali. Sebentar Tuan, rumah ini hampa di beberapa sudut banyak ruangan terkunci, apa aku boleh membukanya untuk melihat? Ah tapi nanti saja, tunggu Tuan persilahkan. Tuan, kenapa malam ini anda begitu hangat menyambut kedatanganku. Perlakuan kecil seperti membuka pintu saja Tuan yang buka? Sedotan yang ingin aku pakai Tuan yang bersihkan? Keringat di dahiku kenapa Tuan lap dengan lembut? Ada noda makanan di sudut bibirku kenapa Tuan yang bersihkan juga? Pertanda apa ini Tuan? Tuan tolong jangan terlalu ramah denganku, aku takut bergantung denganmu. Malam ini aku dilemma, aku ingin membantu Tuan untuk merapihkan dan membersihkan rumah ini. Aku mencoba mengatur seluruh rasa dan pikiranku agar tidak membuat Tuan risih denganku. Mari kita istirahat Tuan mungkin aku yang terlalu lelah melakukan perjalanan jadi berhalusinasi atas apa yang terjadi barusan.
Secangkir kopi di pagi hari ku buatkan. Aku sajikan di meja bacamu beserta kudapan pagi. Ku coba ketuk pintu kamar Tuan tapi tak terkunci. Ku buka perlahan dan aku terkejut betapa berantakan ruang tidurmu. Tertegun sejenak sambil ku amati sekitar ruang. Lemari pakaianmu, ranjangmu, lantaimu, dan debu menutupi kaca lemari. Pikiranku langsung ingin membersihkan saja setelah Tuan bangun. Lamunanku pergi ketika aku mendengar suara lembutmu menyapaku "Selamat Pagi Nona", katamu. Aku hanya menjawab gugup tapi kau tersenyum. Lalu aku bergegas menuju dapur menyiapkan sarapan untuk kita. Pagi ini ku coba bersikap normal dan wajar saja. Sarapan bersama dengan hangat dan lelucon santai di ruang makan. Aku merasakan hati terasa bertambah hangat. Semesta, tolong bantu aku untuk mengatur kenormalan ini. Aku terus terkejut dan heran. Tuan hari ini mengajakku untuk keliling rumah. Aku coba mengatur rasa kupu-kupu di dalam perutku agar Tuan tak nampak.
Seiring berjalannya waktu, rumah tempatku singgah mulai tertata rapih. Ruangan yang terkunci sudah terbuka dan di bersihkan juga. Tuan selalu memberikan rasa hangat di rumah. Semakin tak ingin pergi meninggalkan rumah. Sedetik tak melihat Tuan hati ini gundah dan rindu. Tuan mengenalkan aku sebagai Nyonya kepada tamu yang datang. Aku terkejut dengan sebutan itu. Sebutan yang tak pernah ku dapatkan sebelumnya dan aku mengiyakan saja semua katamu. Semesta seolah bekerjasama untuk situasi ini. Tapi sebentar, apa ini sebuah pertanda kalau Tuan menginginkan aku sebagai Nyonya yang bersanding dengannya? Apa aku ga salah dengar. Setelah tamu pulang, ku tanya perihal ucapan Tuan tadi. Ternyata memang Tuan menginginkan aku di rumahnya. Aku harus apa semesta? Aku harus pergi atau menetap? Katanya, hadirku di rumah menjadikan hangat di rumahnya. Dia bilang, ruang dan waktu di rumahnya semua jadi lebih berwarna dan terasa hidup juga. Tuan berkata, "panggil saya dengan panggilan sayangku dan aku akan memanggil mu sayangku juga." Ah rasanya gila, aku merasakan kebahagiaan yang tiada henti. Kamu selalu bilang, setiap aku merasa bahagia kamu merasakan bahagia juga. Apa benar begitu cara bekerja semesta? Harapanku semoga kamu selalu menjadi rumah yang paling teduh, hangat, nyaman, untuk aku pulang setelah beraktivitas, dan aku selalu memberikan warna kehidupan di rumahmu.
"Semoga kamu menjadi yang terakhir untukku dan selamanya jadi teman ibadahku." harapmu.
Luka
Sudah hampir habis 365 hari di 2021. Luka yang di jalani dari hari ke-1 masih terasa sangat menyakitkan. Walaupun sudah tidak membuat hari terasa terhenti. Namum, di masa pemulihan ini begitu terasa menyiksa. Ada beberapa hal yang gampang sekali memicu luka dan membuat diri ini berkecamuk dalam amarah yang kemudian menimbulkan tangis sulit terhenti. Diri ini sudah tak sanggup memanipulasi fakta yang ada agar semua terlihat baik. Sudah berbagai jalan untuk menghilangkan trauma yang berkepanjangan.
Ingin sekali rasanya menghentikan waktu di bulan Juni 2014 dan tak berharap ada dalam labirin 2021. Karna rasanya teramat memilukan untuk jiwa yang sendiri tanpa rasa hangat dan kasih dari orang tersayang. Tak pernah lagi ada rasa damai, tak ada lagi rumah untuk pulang, tak ada lagi hangat pelukan di penghujung malam, dan tak ada lagi sapaan manis setiap pagi sebelum pergi beraktivitas.
Semenjak tragedi abu 2014, hidup ini tak lagi sama. Luka yang membuat semua menjadi serba dewasa, serba menyakitkan, serba terasa sepi dan kesepian selalu datang menghampiri. Mencoba berdamai dengan luka yang ada hingga detik ini masih sulit sekali merelakan dan mengikhlaskan. Sudah ku manipulasi semua hal yang ada tetap saja menyakitkan.
Bingung rasanya ingin membagi luka ini dengan siapa karna tak ada satu orangpun yang bisa ku percaya untuk berbagi. Takut membagi luka karna diri ini terlalu takut untuk di anggap lemah. Rasanya luka ini semakin pilu dan sakit di pendam, ingin di lepas tapi nggak tau gimana caranya melepas luka. Semakin hari semakin menjadi lukanya. Tak ada cara sepertinya untuk menyembuhkan luka.
Luka ini masih sempurna dan hanya teddy yang selalu bisa memeluk. Hanya Teddy yang bisa di percaya untuk berbagi luka. Setidaknya luka ini mempunyai tempat untuk bersandar dan berbagi walau berujung tangis di atas bantal.
MIMPI
Mencoba tenang di antara badai dan berharap ini hanya mimpi. Memanipulasi fakta agar tak terasa begitu menyakitkan. Namun semua cara yang di lakukan tidak berfungsi untuk mengalihkan semuanya. Mencoba berlari dalam mimpi agar semua harapan masih baik-baik saja. Mimpi di sepanjang waktu yang ketika bangun dalam keadaan mimpi buruk. Tidak ada perubahan apapun yang terjadi, semua kejadian masih sama. Sama-sama kehilangan karakter yang paling di cinta dan paling di sayang. Ya, separuh jiwa yang hilang menyebabkan hidup dalam mimpi buruk di setiap waktunya. Penuh dalam ketakutan, kecemasan, dan rasa kehilangan yang mendalam.
Ada banyak ketidaksiapan dalam hati, pikiran, dan rencana yang sudah di buat. Semua rasanya menyakitkan, perih, dan membuat tidak bisa berjalan dalam waktu lama. Rasanya butuh waktu lama untuk pemulihan dari rasa kehilangan yang bertubi-tubi. Mempunyai masalah dalam rasa percaya, bersosialisasi, memberikan rasa cinta atau sayang yang mungkin akan berujung perpisahan. Banyak ketidak siapan di dalam mimpi buruk ini. Tidak pernah dalam rencana hidup terbayang menjalani hidup dalam keadaan mimpi buruk. Lucunya lagi adalah tidak ada apapun tempat bersandar yang bisa di percaya dalam segi mendengar setiap mimpi buruk.
Seandainya Tuhan punya rasa kasih yang lebih, hanya ingin berharap mimpi buruk ini segera berakhir dengan mimpi indah. Mimpi yang di tunggu sangat lama setelah banyak badai dan banyak serangan yang melukai tubuh secara brutal hingga membuat mati rasa atas apapun.
Tuhan, berilah KasihMU padaku agar mimpi buruk ini segera berakhir dan berilah aku pelukan, sandaran yang selalu menenangkanku tanpa harus melukai jiwa dan pikiranku. Pintaku hanya ingin Kau peluk di sepanjang hari dengan tenang agar semua rasa sakit ini hilang.
Peluk aku di setiap waktu Tuhan dan bangunkan aku dalam mimpi indah karna aku telah lelah dalam mimpi buruk ini.
Capek. Lelah. Mungkin itu kata yang tepat buat ngegambarin rasa yang ada saat ini. Ga pernah di anggap ada, hanya di manfaatkan oleh oknum, banyak seperti tempat yang nggak pernah penting untuk hidup orang terdekat. Selalu di abaikan ketika hasrat mereka telah terpenuhi. Sakit tapi nggak pernah ada yang bisa paham atas semua luka. Mereka nggak pernah ngerti dan paham atas apa yang gue rasa. Sampai pada akhirnya orang yang gue pilih untuk gue jadikan rumah, ternyata dia juga yang menyakitkan mental dan jiwa. Apa memang sudah tidak pantas untuk gue menerima rasa aman dan nyaman lagi? Apa gue harus jadi manusia tanpa hati? Gue juga ingin di mengerti atas apapun itu. Gue juga butuh di perhatikan dan di sayangi dengan tulus. Bukan di dekati dengan semua hal palsu yang menyakitkan. Apa gue sudah tidak layak untuk merasa damai? Apa Tuhan itu benar nyata ada? Ketika yang hadir di dunia semuanya palsu. Sesak sekali dada ini karna banyak emosi yang hanya bisa dipendam. Gue kangen di peluk. Gue kangen di perhatikan dengan tulus. Gue kangen di cariin. Gue kangen pulang ke rumah yang membuat gue nyaman dan damai. Gue kangen itu.
Refleksi
Cerita ini di mulai dari sebuah keterpaksaan untuk merelakan semua kebahagian yang dimiliki demi keberlangsungan hidup orang banyak. Ya, benar sekali. Aku menukar seluruh bahagiaku dengan sebuah luka yang cukup dalam di kemudian kalo aku tetap berjalan dengannya. Tidak pernah merelakan sesakit ini, sesedih ini, sedalam ini. Rasanya kehilangan kebersamaan kita hingga detik ini masih menyisakan luka trauma yang mendalam. Membuat mati rasa dalam sisi percintaan. Aku paham betul rasa yang telah mati dan hati yang telah pergi mungkin bisa tumbuh namun harus melewati proses panjang. Aku mampu menjalani sebuah hubungan tanpa perasaan apapun. Jahat. Ya kata yang tepat untuk mendeskripsikan. Aku pernah pura-pura menangis karna tak mau sendiri bukan karna memang benar memiliki rasa.
Kadang merelakan yang harusnya selalu bersama adalah sebuah hal yang sangat sulit. Mungkin hanya bisa di sembunyikan tapi tidak bisa di hapus. Andai aku bisa memutar waktu dan memilih, tidak ingin aku bertemu dengan kamu dan mengenalmu. Mengapa ada pertemuan itu, yang membuat aku mencintaimu. Aku sebenarnya aku tidak baik-baik saja selalu merindukan setiap detik kenangan kita. Mungkin kini kita sama-sama tersiksa karna hati kita saling terhubung. Mungkin kini kau bersama yang lain, walau aku tau hati kamu hanya untuk aku. Mungkin aku bukan untukmu, tapi kamu selalu jadi pemenang di hidupku. Semoga kisah kita selalu indah pada masanya ketika di kenang.
Menjawab Pertanyaan
Banyak pertanyaan selama setahun terakhir setelah pisah dari "his the one" bulan April 2019 silam, "kenapa masih sendiri?" jawabku masih sama. Belum ada yang bisa menggantikan posisinya di pikiranku secara keseluruhan. Masih dia satu-satunya pria yang bisa memberi hatinya secara utuh, pria yang bisa memberi hidupnya secara utuh pula untuk raganya selalu berada di sampingku, pria yang bisa menempatkan aku sebagai priority dalam hidupnya, dan pria yang selalu memberi arti waktu dan rumah selama bersamanya. Mungkin banyak yang tidak heran jika aku selalu posting bersama lelaki di sosial media milikku, karna memang kebetulan hampir setiap hari aku selalu berada di lingkungan lelaki. Mulai dari kerjaan, hobby, bahkan untuk dokter sekalipun. Jadi orang ga heran aku dengan lelaki. Sempat logika ku merenung sepertinya aku menemukan penggantinya namun aku salah menilai. Dia bukan yang aku butuhkan. Aku sempat terjebak dalam hubungan toxic yang hampir membunuh mentalku. Rasanya itu sakit luar dalam. Aku merasa bersalah terhadap diriku banyak sekali kemunduran dari berbagai aspek bahkan hampir 98% aku kembali dalam masa kelam. Tapi tenang, sekarang aku sedang dalam lingkaran bahagia.
Semenjak April 2019, aku tak pernah merasakan arti hangat, rumah, dan bersandar. Banyak datang dan pergi menawarkan hatinya dengan masing-masing caranya. Namun, rasanya logikaku tak bisa menerimanya. Terus saja membandingkan antara orang baru dan dia secara tidak sadar. Ya, memang lidah tak bertulang bisa berkata apapun semaunya walau hati dan otak tak seperti terucap. Sampai pada akhirnya aku terjebak dalam toxic relationship yang benar adanya menyakitkan. Bukan tiap hari semakin cinta namun setiap hari semakin luka. Sakit sudah pasti, hampir setiap hari luka baru itu bermunculan dan tak tertahankan rasa perihnya.
Namun di penghujung December 2020, aku punya support system yang luar biasa. Dia memberi waktunya, perhatiannya, mengajakku berada dalam kehangatan yang tak pernah kurasakan lagi dari 2019 lalu, memperkenalkanku pada hidupnya, memberiku semangat untuk aku semua kerjaanku, tak banyak menuntut, menemaniku dalam proses bukan cuma menunggu ku di sisi puncak dan bisa kujadikan rumah untuk pulang. Hal yang nggak pernah kudapatkan dari April 2019 lalu. Indahnya masa ini, masa dimana yang kurindukan dan jelas aku sangat membutuhkannya.
Melihat senyum di sudut bibirnya ketika menatap mataku, rasa nyaman ketika aku mencium aroma tubuhnya bukan sekedar aroma minyak wangi favoritenya, rasa rindu ingin tahu kabarnya ketika seharian setelah selesai beraktifitas, bahkan mendengarkan musik bersama pun kini sangat meneduhkah di iringi suaraku yang tidak seberapa bagusnya itu namun tak pernah di sanggah atau di atur lebih di beri kebebasan untuk berekspresi. Ya Tuhan, aku beruntung sekali di penghujung tahun 2020 ini aku diberi bahagia yang luar biasa. Aku butuhkan support system dan Tuhan kasih dengan segala berkat dan nikmat.
Aku merasa sangat di manusiakan olehnya, di anggap seperti miliknya utuh, di beri perhatian kecil tapi cukup membuat bahagia, di beri kejutan sederhana tapi maknanya mewah. Memang Tuhan tak salah memberi bahagia di waktu yang tepat.
Semoga 2021 tetap seperti ini, rasa yang telah hilang dari April 2019 bisa mewarnai kembali di 365 hari pada 2021. Terima kasih kamu.
Sepenggal Kisah di 2019
Sudah genap satu tahun kita tiada. Tak ada lagi tawa dan ceria hal sederhana darimu yang membuatku tertawa. Semua hilang terkubur dalam duka di April 2019 lalu. Tenang, aku menulis ini bukan untuk sebuah alasan menerima kamu kembali menjadi kita. Hanya saja, aku perlu merefleksikan diri ini dengan baik dalam bentuk tulisan.
Sedikit cerita tentang perpisahan kita. Betapa hancur hati ini, hilang gairah hidup, serasa hampa selimuti jiwa. Untuk pertama kalinya aku pisah dengan pasangan sesedih ini hingga berlarut berbulan bulan. Dan kacaunya adalah aku hilang kendali atas diriku sendiri. Semenjak kamu pergi, aku akrab dengan airmata. Tiada hari tanpa aku menangis karna ada bekas luka di hati yang masih basah. Pada saat itu, aku mulai mencintai makhluk Tuhan dengan segala kekurangannya dan kelebihan dalam dirinya merupakan anugerah untuk ku.
Kisah kita berangkat dari saling mencintai segala kekurangan satu sama lain. Bukan dari sebuah ambisi mengubah pasangan kita seperti yang kita ingin kan. Karna kita sadar sebagai manusia memiliki banyak kekurangan. Rasa nyaman hadir bukan dalam waktu sekejap, karna ada trauma di masa lalu yang menyebalkan membuat aku trauma dalam urusan asmara.
Pada masa indah kita, kamu cukup banyak memberi kejutan untuk aku dengan segala sikapmu. Dengan segala rencana baik, kamu bertindak sesuai pemikiran dan rencanamu. Kamu nggak pernah bosan memberiku contoh dari segala sudut pandang yang membuatku lebih bijak dalam mengambil keputusan.
Aku bahagia pernah di cintai sedalam itu pada masanya. Kamu yang selalu ada untuk aku ketika roda kehidupan sedang menggilas habis mental ku. Kamu nggak pernah marah sama sekali atas sikap kekanakanku, emosiku, egoisku, menyebalkannya aku, tangis yang pecah di setiap malam karna dunia sedang tidak berpihak pada ku. Kamu nggak pernah nimpalin semua keluh kesahku dengan emosi, kamu selalu menyambut emosiku dengan hangat dan bijak walau aku tau sekalipun kamu lelah pulang kerja tapi masih mau mendengarkan aku. Mungkin bagimu pada saat itu menyambut emosiku bisa saja dengan amarahmu karna kamu lelah. Tapi sekali lagi kamu nggak pernah kasih aku gejolak amarahmu. Aku nggak tau kamu ini manusia atau bukan. Tapi yang aku tau dan aku rasa kamu adalah Malaikat Tanpa Sayapku.
Terima kasih atas semua waktu yang kamu beri dengan tulus dalam sebelas bulan pada saat itu. Terima kasih sudah berbagi rasa sabar yang begitu hebat padaku. Terima kasih telah memberi contoh ketika marah harus bersikap apa.
Aku tersiksa rindu ketika awal perpisahan kita. Aku menangis karna merindukanku. Tak pernah sedetikpun mampu melupakan kamu, karna kamu terlalu membuat aku merasa di cintai dengan tulus dan sepenuhnya. Di awal perpisahan kita, kamu selalu melihat luka hatiku dan aku yang tiap hari semakin rapuh karna kamu harus jauh dariku karna keadaan. Hari demi hari ku lewati tanpamu, ku semakin tersiksa karna merindukan kamu. Ada pertanyaan terbesit dalam hatiku, apa kamu merindukan kita bersama? Namun pertanyaan itu langsung di bunuh oleh pikiran ku, agar tak ada air mata di setiap harinya. Di tiga bulan pertama aku sangat tersiksa tanpa kamu. Aku sedih, meratapi kepergianmu, aku merasa sepi.
Tapi kini ketika aku mendengar namamu, aku tersenyum bahagia karna pernah di cintai sebegitu hebatnya seperti kamu. Terimakasih pernah menjadi salah satu warna hidup ku.
Baru
Babak baru di 2020 sudah di mulai. Sudah berjalan selama 54 hari namun terlampau banyak sedih dan tekanan yang hadir. Banyak hal yang tidak berjalan sesuai rencana. Rasanya ingin marah, memaki dan berhenti melangkah. Berjalan cepat mungkin solusinya. Semua rencana perhari pun di kawal dengan baik namun sering kali lupa akan evaluasi diri di setiap malamnya karna lelah dengan rutinitas seharian. Adaptasi dengan luka,mencoba tidak bergantung dengan siapapun, berharap semesta setuju dengan langkah yang ku ambil. Ada banyak hal yang terjadi masih terbayang dengan masa lalu. Semakin insecure dengan apa yang di rencanakan dan berpikir semua akan berakhir sama dengan masa lalu. Otakku tak begitu santai atas kemungkinan buruk yang terjadi di masa lalu dan selalu saja membandingkannya. Lelah. Ya, kata yang cukup untuk menggambarkan kondisi saat ini.
Tapi malam ini aku tersadar, ada beberapa hal yang memang harusnya ga perlu di pusingkan dan di bandingkan secara berlebih. Agar hidupku lebih enjoy. Setelah ku tarik benang merah, ternyata aku sanggup melewati banyak hal menyedihkan sendiri, dan beberapa figuran di hidupku datang lalu pergi. Namun banyangan itu masih saja datang, ketakutan yang belum tentu terjadi.
Sekarang masalah terbesarku adalah aku harus berada dalam lingkaran orang yang dalam otaknya straight akan agama dan tidak bisa menerima perbedaan pendapat walau kita seagama. Belum menemukan solusi terbaik untuk masalah ini. Semoga ada toleransi yang bisa mengalahkan ego.
Sedang menertawakan kesedihan 😋 hijab by @mubarokhijab_ #yourdailyoutfit #hijabfashion https://www.instagram.com/p/B4jWNMKhEndYItLS6qr6xbm3h4XsgLVaxI4WaE0/?igshid=1k1ang71tq04m
Pesan Untukmu
Baca dan resapi tolong kesampingkan egomu. Aku mulai ya. Saat aku lelah dengan segala hal yang berbau perasaan dan memilih berhenti untuk tidak perduli akan roman picisan. Memulai pasrah kepada-Nya atas apa yang terjadi. Aku memohon pada-Nya agar di dekatkan dengan seseorang yang baik hatinya, agamanya lebih baik dariku, bertanggung jawab, dan dewasa. Allah kemudian gantikan lelahku dengan memberiku seseorang yang memenuhi kriteriaku. Sehingga tak sulit bagi hatiku untuk menerima kehadiranmu. Hari-hari Kita sangat membahagiakan. Ada tangis dan tawaku yang selalu kau dengarkan. Kau selalu ada untukku dalam berbagai situasi. Semenjak kamu pergi, dunia seperti berhenti berputar, senyumku terkunci dan terjebak di ujung tangis di setiap malamnya. Ini terjadi karna Aku terlalu nyaman denganmu, Aku menjadi diri sendiri, dan Kamu terlalu mengerti Aku. Cukup kamu sebagai pelengkap hidup yang aku butuhkan. Apa kamu ingat, aku pernah mengatakan bahwa kamu berbeda? Aku tak pernah merasakan bahagia seperti bersamamu. Maafkan emosiku yang mengatakan ingin pergi darimu, padahal faktanya hati ini tak ingin kamu pergi. Sayang, kembalilah bersamaku mari Kita berjuang membuat ibu ratumu yakin bahwa steriotip itu bukan jurang pemisah. Dua bulan tanpamu aku gusar dan hilang selera. Aku tak rela melepasmu, karna Kamu begitu sempurna untukku. Apa yang aku butuhkan seluruhnya ada di Kamu. Mataku terus menangis tanpa henti setiap waktu semenjak kamu pergi. Aku tak pernah memohon untuk sebuah rasa, tapi kali ini aku memohon padamu untuk kembali memelukku bersama harapan Kita kemarin. Aku tak sanggup kamu jauh. Berat ku berkata aku mencintaimu padamu yang tak peka akan perasaan ini. Aku hanya takut seperti angin lalu yang datang lalu pergi dengan cepat tanpa menetap. Seribu tangis melawan kenyataan yang sudah habis upayaku untuk merelakanmu. Aku harus bagaimana berjalan tanpamu kamu apa dayaku beri aku kesempatan untuk memelukmu lagi. Melawan takdir ini tanpamu aku tak berdaya. Kembalilah pulang agar tangis ini berubah menjadi tawa atau tangis ini berada dalam pelukan hangatmu. Aku merindukanmu di ganjil genap hidupku. Salam Rindu ❤ Delilah
Agamamu agamaku hidup bersama~ @glennfredly309 @dr_tompi #9thRjf ❤ https://www.instagram.com/p/BxmHBMdBWDFY5VIYeJGcWZnqHddGi9dfHuyAt80/?igshid=1vtcd7budzbpq
ich vermisse dich so sehr
Delilah