ketika HARAPAN menjadi kenyataan di MASA DEPAN - 9 Summers 10 Autumns
Sabtu, 27 April 2013
Sekitar jam 22.00, seorang teman BBM saya, awalnya hanya ngobrol-ngobrol biasa, namun berujung pada "Yuk, kita nonton 9 Summers 10 Autumns!". Sebelumnya, saya udah tau kalau itu film baru yang dibintangi oleh Agni Pratistha, tapi gatau kalau film itu ternyata diadaptasi dari sebuah novel dengan judul yang sama :)
Minggu, 28 April 2013
Bandung mulai gerimis. Kita pergi ke sebuah tempat yang menurut saya ga akan seramai BIP atau Ciwalk, hehehe *cari aman*. And then, kita nonton film yang berdasarkan kisah nyata dari Iwan Setyawan. Oh, wait, sebelumnya saya ga tau siapakah itu Iwan Setyawan -.- Tapi, nonton aja deh, kan nanti jadi tau. Ya kaaan? :p
Dengan latar di sebuah kota kecil di Jawa Timur, yaitu Batu, Malang, Bayek alias Iwan Kecil lahir sebagai anak ketiga dari 5 bersaudara. Bayek mempunyai kakak dan adik perempuan semua, yes, he's the one and only lanang di keluarganya. Ibunya yang hanya ibu rumah tangga biasa-yang juga ikut membantu mencari nafkah dengan berjualan seadanya- dan ayahnya yang hanya supir angkot biasa, tapi Bayek mempunyai banyak harapan di masa depan, contohnya dia ingin mempunyai kamar sendiri, karena selama ini dia tidur sekasur dengan kakak dan adik perempuannya. Bayek pengen punya sepeda karena liat teman-temannya main sepeda, Bayek yang berantem sama temen sekolahnya, ah, it's remind me sama suasana sekolah dulu. Dan teman saya nanya, "masih nyimpen foto waktu SD ga?" Hahaha, tentunya iya dong!Â
Iwan beranjak remaja, anak SMA yang pintar matematika *malu sendiri, saya aja ga jago ngitung-ngitungan kayak dia*, pulang sekolah bantuin ayahnya jadi kernet angkot, ketemu sama Mida, cewe cantik yang jadi muridnya Iwan dan ternyata diam-diam naksir sama Iwan. Yaa, kisah cinta remaja bikin saya senyum-senyum. Adegan yang paling klasik adalah ketika Iwan dan Mida nonton bioskop, dan filmnya Catatan Si Boy versi jadul banget! Mereka nonton di layar terbuka, semacam layar tancep, bebas duduk dimana aja, ada yang berdiri, di dalam mobil, diatas motor, dan pas hujan, eh, bubar deh nontonnya :)) Setelah nonton, ada adegan yang bikin saya #uhuk #jleb banget, yaitu ketika Mida menanyakan gimana hubungannya selama ini. Haaa~ ternyata jaman dulu pun mereka butuh ya yang namanya 'status' ihihihi :p
Iwan dewasa diterima kuliah di IPB jurusan Statistik. Gratis! Yup, melalui jalur PMDK. Allah emang adil ya, pintar, orang ga punya, dan dimudahkan dengan sekolahnya yang melalui jalur PMDK. Cuma ya tetep aja, biaya hidupnya yang ga gratis. Tinggal di sebuah kamar yang seadanya, makan di warteg pecel lele, berhasil membuat riset kecil-kecilan tentang perilaku konsumen pecel lele, dari mulai berapa persen orang yang makan lele, ayam, atau bebek, penyajian sambal dan lalapan yang efektif, sehingga ga bikin warteg itu rugi. Risetnya itu berhasil membuat Iwan jadi pelanggan kehormatannya ibu warteg. Hehehe *jadi laper*
Suka dukanya Iwan bikin skripsi yang bikin saya nangis, langsung mikir, gimana nasib skripsi sayaaa :( Iwan aja bisa, dia punya semangat yang tinggi, masa saya ga bisa nyelesein skripsian... Padahal fasilitas ada, mau ini-itu, tinggal bilang, tapi banyak tapinya itu yang bikin males. Huhuhu
Iya, the best scene itu pas proses skripsinya Iwan, dinyatakan lulus dengan cum laude, dan Ibu serta Kakaknya datang ke wisudanya Iwan. AAAAAKKK... Mau cepet lulussss!!!
Kerja di Jakarta, harus nransfer buat keluarganya di Batu, ah ternyata kerja di Jakarta itu susah ya :p
Anak supir angkot, yang kuliahnya hasil dari ngejual angkotnya, jadi anak yang pintar dan sukses, kerja di New York, balik ke Indonesia masih cinta sama Batu, dan hidup bahagia di Batu bersama keluarganya.
Berawal dari harapan, iya, harapan di masa depan yang jadi nyata.
Jujur, pas lagi nonton, pikiran saya langsung kemana-mana, saya inget mama, papa, dan adik. Em, tentunya rumah. Saya bersyukur, masih diberi kehidupan yang cukup, mau minta ini-itu gampang, ga susah, walaupun papa sering bilang "harus sering ngeliat ke bawah, karena ga selamanya kita ada di atas."
Setelah nonton itu, sambil berjalan keluar dari bioskop, saya bilang, "pengen pulang..." dan teman saya menjawabnya dengan, "kemana? ke Surabaya?" Hahaha :))
Ps:
Thanks a ton, lho... udah ngajak saya nonton film yang very inspiring banget! Bikin saya mikir tentang banyak hal... dan tentunya bakal saya tagih janjinya buat "backpacker-an ke Malang" tentunya dengan ijin dari mama. Hehe












