Aku percaya bahwa hukum sebab-akibat itu mutlak adanya.
Dibalik sebuah kejadian, perilaku, tindakan, pasti ada sesuatu yang menjadi latar belakang daripadanya. Dan sifatnya kuat. Sangat kuat, malah, untuk beberapa kasus. Hmm.. Tampaknya terlalu rumit kalau dibahas semuanya. Aku mau pilih salah satu aja; perilaku.
Perilaku orang tuh macem-macem banget ya. Aku pribadi suka memperhatikan perbedaan perilaku orang-orang yang ada di sekitar. Menarik. Begitu kompleksnya faktor-faktor yang membentuk perilaku seseorang. Bisa dari latar belakang budaya, lingkungan, pendidikan, hal-hal yang terjadi di hidupnya sejak ia lahir sampai sekarang, dan masih banyak lagi faktor lain yang mungkin tak terpikirkan oleh kita.
Biasanya, kalau aku menemukan seseorang dengan perilaku yang berbeda, apalagi perbedaannya lumayan mencolok, aku suka menganalisa kemungkinan-kemungkinan penyebab perilakunya tersebut. Dan pasti, selalu, biasakan untuk memulai dengan kemungkinan yang baik. Berangkat dari situ, aku jadi lebih mudah untuk berempati terhadap orang lain. Entah deh, empati atau kepo. Bedanya tipis ya? Haha.
Aku melakukan itu bukan bermaksud untuk judging sepihak. Aku nggak tahu apa-apa soal kehidupan orang itu. Hanya tahu sekelumit saja, selintas. Aku hanya ingin bisa mengerti keadaan setiap orang dan segala tindak tanduk maupun perilaku dan keputusan yang diambilnya. Besides, it’s like training myself to keep on thinking positively.
Contoh mudah; keponakanku cerita, ia punya guru yang galak. Terkenal paling galak di sekolahnya. Hampir semua orang langsung bereaksi negatif terhadapnya, like, “Gitu amat sih jadi guru!” “Seenaknya ya, mentang-mentang megang nilai anak-anak.” “Ih, kok orang kayak gitu bisa jadi guru.”
Tapi, aku berpikir.. Nggak mungkin seseorang galak tanpa sebab. Apalagi sama anak kecil. Beliau kan orang tua, rasanya nggak mungkin seorang wanita (gurunya perempuan, by the way) tega galak sama anak-anak. Banyak kemungkinan yang menyebabkan seseorang menjadi galak. Pada kasus yang sering kudengar, biasanya karena tekanan dan beban hidup, atau karena ia kurang mendapatkan kasih sayang. Ketika orang bereaksi negatif, aku mencoba untuk menahan diri agar tidak ikut berkomentar negatif juga. Aku langsung bertanya, “Ibu itu udah berkeluarga? Ada suami dan anaknya nggak?”. Dan ternyata, benar saja. Suami dari Ibu guru tersebut menderita sebuah penyakit yang cukup parah, dan sudah lama. Ibu guru itu yang membiayai seluruh keperluan keluarga, termasuk untuk berobat suaminya yang harus bolak-balik ke rumah sakit.
Bisa dibayangkan nggak? Jadi guru SD kelas 6, dimana murid-muridnya hendak menjalani Ujian Nasional. Beliau punya beban berat untuk mendidik dan mengajari mereka supaya semuanya bisa lulus Ujian Nasional. Padahal, anak-anak umur segitu sedang aktif-aktifnya. Susah diatur banget, kan. Belum lagi, kalau masih di tingkat SD, orang tua murid nya juga suka ikut rempong. Kualitas guru jadi sorotan. Sepulangnya ke rumah, beliau harus mengurus suaminya yang sedang sakit parah. Makannya, mandinya, obatnya, belum lagi anaknya yang masih butuh bimbingan dan perhatian ibunya. Belum lagi mengurus keperluan rumah. Cuci baju, cuci piring, menyapu, setrika baju.. Dan ternyata belum lama ini kudengar suaminya dipanggil oleh Yang Maha Kuasa.
See? Kita nggak bisa menghakimi seseorang atas perilaku ataupun keputusan yang diambilnya. Pasti ada sesuatu yang mendasarinya. Tetapi, memang nggak semuanya bisa dimaklumi. Apalagi kalau perilakunya berkenaan dengan kriminal. Well, mencoba untuk memahami keadaannya sih boleh saja, tapi hukum tetap berjalan sebagaimana seharusnya. Poinnya disini adalah; perilaku dan tindakan ataupun keputusan seseorang itu bukan tanpa sebab dan alasan. Pasti ada sebab dan alasannya. Kita hanya perlu berpikir lebih positif, jernih, dan bijak.
Ada yang menilai aku doyan bercanda. Ada juga yang bilang sekarang aku lebih tertutup. Ada juga yang bilang aku galak. Well, semua penilaian itu nggak salah. Tapi, ingat, bukan tanpa sebab. Aku punya sebab dan alasan yang kuat dibalik semua itu. Aku sudah cukup dewasa, I’ve been through a lot. Jadi, yah.. I know what I am doing. Tapi aku nggak bisa memaksa orang untuk berempati terhadapku. Mencoba mengerti dan menghargai setiap tindakanku. Memang tidak akan pernah bisa. Tetapi setidaknya, aku memulai dari diri sendiri. Aku mencoba untuk berempati, mengerti, dan berpikir positif terhadap orang lain. Karena aku tahu rasanya dijudge sepihak tanpa diberikan kesempatan untuk menjelaskan. Karena memang kesempatan itu nggak bakal pernah ada.
1. Empati. Bayangkan jika kamu ada di posisi orang lain.
2. Berpikir positif. Semua orang itu pada dasarnya baik.
3. Mulai segala sesuatu yang baik dari diri sendiri.
4. Kalau kau tahu dicubit itu sakit, jangan mencubit orang lain.