After the Last Page of Laut Bercerita (Leila S. Chudori)
He’s 10 but the sea loves him more adalah impresi awal yang saya tangkap dari perbincangan media tentang Laut Bercerita ketika bahkan saya belum mengenal kerangka dari konstruksi buku ini (tentu saja selain bagaimana khalayak sama-sama membenarkan sebegitu nahas nasib tokoh utamanya). Sebetulnya Leila telah memberi gambaran awal yang mewakilkan keseluruhan peristiwa pada masing-masing linimasa blurb-nya serta sampul yang merepresentasikan takdir sang tokoh utama, Biru Laut Wibisana. Adalah sepasang kaki yang terkelepai di dasar laut bertemankan clownfish, clarion angelfish, kuda laut, dan penghuni terumbu karang lainnya.
Di sebuah senja, di sebuah rumah susun di Jakarta, mahasiswa bernama Biru Laut disergap empat lelaki tak dikenal. Bersama kawan-kawannya, Daniel Tumbuan, Sunu Dyantoro, Alex Perazon, dia dibawa ke sebuah tempat tak dikenal. Berbulan-berbulan mereka disekap, diinterogasi, dipukul, ditendang, digantung, dan disetrum agar bersedia menjawab satu pertanyaan penting: siapakah yang berdiri di balik gerakan aktivis dan mahasiswa saat itu.
Keluarga Arya Wibisono, seperti biasa, pada hari Minggu sore memasak bersama, menyediakan makanan kesukaan Biru Laut. Sang ayah akan meletakkan satu piring untuk dirinya, satu piring untuk sang ibu, satu piring untuk Biru Laut, dan satu piring untuk si bungsu Asmara Jati. Mereka duduk menanti dan menanti. Tapi Biru Laut tak kunjung muncul.
Asmara Jati, adik Biru Laut, beserta Tim Komisi Orang Hilang yang dipimpin Aswin Pradana mencoba mencari jejak mereka yang hilang serta merekam dan mempelajari testimoni mereka yang kembali. Anjani, kekasih Laut, para orangtua dan istri aktivis yang hilang menuntut kejelasan tentang anggota keluarga mereka. Sementara Biru Laut, dari dasar laut yang sunyi bercerita kepada kita, kepada dunia tentang apa yang terjadi pada dirinya dan kawan-kawannya.
Buku ini dibagi menjadi dua bab yang membedakan sudut pandang Laut kemudian adiknya, Asmara Jati. Laut adalah mahasiswa Sastra Inggris di Universitas Gadjah Mada, putra sulung keluarga Arya Wibisono sekaligus kakak laki-laki Asmara yang saat itu menempuh pendidikan di FK UI. Laut bersama kawan-kawannya–Daniel Tumbuan alias Mat Keluh (sebutan karena ia begitu sering protes bahkan tentang hal remeh sekalipun), Sunu Dyantoro, Alex Perazon (fotografer asal Flores yang kelak menjadi kekasih Asmara), Gusti Suroso (pemuda yang memiliki hobi sama seperti Alex namun kehadirannya tidak lepas dari kekesalan kawan-kawannya akibat berlebihan dalam penggunaan blitz), Naratama (karakter paling dicurigai sebagai ular sebab keangkuhannya), Arifin Bramantyo, Gala Pranaya alias Sang Penyair (karakter yang memiliki keterikatan batin dengan Laut dan belakangan saya ketahui bahwa penciptaan tokoh Sang Penyair terinspirasi dari Widji Thukul yang juga penyair sekaligus aktivis yang hilang), Kasih Kinanti (si pengambil keputusan), dan Ratih Anjani (kekasih Laut yang digambarkan sebegitu menarik)–tergabung ke dalam kelompok Winatra. Bersama-sama mereka berupaya melengserkan rezim Orde Baru dan mendiskusikan buku-buku “kiri” yang dianggap memiliki unsur komunisme oleh pemerintah saat itu sehingga Winatra dipandang sebagai kelompok berbahaya.
Sudut pandang Laut banyak menceritakan kelompok Winatra dan agenda-agenda perkumpulan mereka di suatu tempat yang bebas dari incaran intel karena letaknya jauh di tengah hutan, Seyegan, Yogyakarta. Termasuk pertemuan Laut dengan Anjani yang kemudian dituturkan ketika markas Seyegan membutuhkan mural untuk menutupi tembok kusam. Laut serta-merta jatuh hati dengan gadis bergigi biji mentimun tersebut ketika si gadis menjelaskan bagaimana ia membalik potongan kisah Ramayana, dimana Rama justru terculik dan dibebaskan oleh Shinta.
Winatra tetap kukuh memihak masyarakat yang kehilangan lahan sebagai haknya dengan melakukan aksi tanam jagung di Blangguan yang (hampir berlangsung) dramatis sebab jejak-jejak intel masih mengepung mereka, mengakibatkan aksi tersebut urung dilakukan dan terpaksa harus memutar arah menuju gedung DPRD di Surabaya. Di Terminal Bungurasih, penculikan itu terjadi. Laut dan beberapa dari keseluruhan anggota Winatra diinterogasi menyangkut Aksi Blangguan. Setidaknya menurut Laut, penyekapan saat itu tidak seberapa apabila harus dibandingkan dengan siksaan yang diterimanya (bersama Sunu, Daniel, dan Alex) pada tahun 1998 kelak usai penjemputan paksa yang dilakukan beberapa lelaki bengis tidak dikenal di Rumah Susun Klender, Jakarta. Pada hari itulah, Laut–beserta (beberapa anggota dari) kelompok Winatra yang kelak enggan dipulangkan–terakhir kali terlihat.
Dimulai dari hari itu pula, keluarga Arya Wibisono berangsur kacau. Sebagaimana yang Leila tuturkan pada blurb, sang ibu tetap mengaduk gulai tengkleng dengan tenang seraya terus memastikan masakannya tidak akan memperoleh protes apapun dari Laut yang pada dasarnya terlatih jeli untuk mengenali bumbu-bumbu. Sementara sang ayah senantiasa menyiapkan empat buah piring dan berulang kali memperingatkan bahwa Laut akan datang untuk menyesap sumsum iga kambing itu sembari mendengarkan lagu-lagu The Beatles. Maka ketika netra Asmara harus menyadari pemandangan tersebut, dirinya serta-merta meninggalkan dapur untuk menangis sejadi-jadinya di toilet. Pun Anjani. Gadis bergigi biji mentimun itu kini tidak lagi berkawan baik dengan sampo serta kemeja yang seharusnya dicuci.
Bagi saya, Laut Bercerita terepresentasikan sebagai apapun yang asin: gulai tengkleng, bawang putih, keringat, air mata, air laut, darah, dan entitas lain yang banyak membayang-bayangi gejolak Winatra sebagai organisasi yang terbungkam karena dianggap memiliki unsur kritik terhadap pemerintahan Orde Baru. Serangkaian upaya penangkapan, penculikan, pembunuhan, termasuk larangan kepada sastrawan agar tidak mengusik pemerintahan dilakukan untuk tetap memelihara bangsa yang saat itu penuh dengan korupsi, kolusi, dan nepoitisme. Meski begitu, sebagaimana sebait puisi yang dituliskan Sang Penyair untuk Laut di suatu hari, “Matilah engkau mati. Kau akan lahir berkali-kali….”, mereka–Laut dan kawan-kawannya yang tidak kembali–akan tetap lahir berkali-kali melalui setiap frasa di buku ini, melalui pesan terakhirnya untuk Anjani dan Asmara Jati, serta wajah Indonesia yang tidak akan pernah mereka alami termasuk buku-buku cetak karya Pramoedya Ananta Toer yang kini duduk tenang di rak-rak perpustakaan dan toko buku.