“Ada satu hal yang semua orang ingin rasakan; dicintai tanpa harus meminta, bukan?”
—
right?

izzy's playlists!

shark vs the universe
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ
No title available
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH

Janaina Medeiros
we're not kids anymore.

★
Sweet Seals For You, Always
noise dept.

#extradirty

Kiana Khansmith
macklin celebrini has autism

Love Begins
styofa doing anything

⁂
Today's Document
Cosimo Galluzzi
trying on a metaphor
he wasn't even looking at me and he found me

seen from United States

seen from Moldova
seen from Moldova
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from Türkiye

seen from United Kingdom
seen from United States
seen from United States
@psherq11
“Ada satu hal yang semua orang ingin rasakan; dicintai tanpa harus meminta, bukan?”
—
right?
“Memang benar; Waktu bisa memperbaiki hati yang hancur, tapi Waktu juga bisa menghancurkan hati yang masih menunggu.”
—
“Lepaskan hal yang seharusnya tidak kau genggam. Mereka pernah membuatmu bahagia sebelumnya, tapi mungkin kali ini -jika kau lepaskan- mereka akan membuat orang lain lebih bahagia.”
—
“Berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja dan tidak ada hal yang menyakitkan… adalah hal yang paling menyakitkan ternyata.”
—
:)
“Mungkin hujan adalah sesuatu yang paling berani yang pernah diciptakan Tuhan, karena mereka tidak pernah takut untuk jatuh.”
— Sherry
Aku Berbohong
Aku berbohong jika ku katakan aku tidak apa-apa.
Hatimu dipenuhi olehnya dan aku yang merasa sesak.
Aku berbohong jika ku katakan aku ingin kalian tetap bersama.
Ketika dalam hatiku yang terdalam, setan kecil mendoakan kalian untuk berpisah.
Aku berbohong jika ku katakan aku ingin kalian bahagia berdua.
Padahal aku sangat ingin bahagia bersamamu.
Sungguh, jangan pernah percaya akan kata yang ku ucap padamu karena itu adalah dusta.
Tapi kumohon, percayalah saat aku katakan aku sangat mencintaimu.
- Anjay, gw lupa ni puisi buat siapa. lol.
“Aku tidak ingin di nomor satukan olehmu. Aku hanya ingin dijadikan satu-satunya. Cinta itu egois, bukan?”
— Sherry
You used to wrap yourself in fairy tales like a blanket. But it was the cold you loved.
Sharp shivers as you uncovered the corpses of Bluebeard’s wives.
Sweeter goose bumps as Prince Charming slid one glass slipper over your little toes, a perfect fit.
If Prince Charming was real, if he could save you, you needed to be saved form the unfairness of everything.
When would he come? The answer was a cruel shrug in a hundred fleeting moments. From every boy masquerading as a man that you let into your body, your heart, you learned that you didn’t have whatever magic turns a beast into a prince.
And then, right when you thought you might just disappear, he saw you. And you knew somewhere deep, it was too good to be true.
But you let yourself be swept, because he was the first strong enough to lift you.
Now, in his castle, you understand Prince Charming and Bluebeard are the same man. And you don’t get a happy end unless you love both of him.
Didn’t you want this? To be loved?
Didn’t you want him to crown you? Didn’t you ask for it?
Didn’t you ask for it?
So say you can live like this. Say you love him, say thank you, say anything but the truth ; what if you can’t love him back?
2019 Me.
Have you ever hate something but then keeps coming back to that thing? Not because you want it, but because you need it.
That’s what I’m doing right now. Sitting alone and typing at the corner of the Coffee Shop, with music on my earphone, and a big cup of coffee in my table. Everyone probably stare and look at me as a pathetic Ionely girl “uh, it’s Saturday night, she’s probably sad tonight”. I know what you’re thinking guys, I am smart. Lol. Honestly, I really hate when people stare at me. But who cares. They’re not paying my coffee. I don’t want to go out alone. But I need it as an excuse to not being with some people - talk about silly nothing and probably have some time to figure things out.
Things like, “what do you want to do with your-not-so-special-life?” A lot of people asking me that, and my evil side kinda wanna answer : “I don’t know, why don’t you go and minding your own life?” But that’s too rude. Can’t do that. So I stick on my good side and answer it as simple as “I don’t know, maybe live a happy and better life?” See, both of my answers start with “I don’t know”. That’s not good.
Do I wanna be a writer? Some people say I am a good (not great) writer, and that was so years ago when magic, hopes and dreams still on my silly brain. So I quit when reality kicks in. But here I am. Writing. Some part of me thinking that it’s maybe a good start. Okay, it’s a bad start. I don’t know what to write about. It’s bad.
Hardisk Rusak, Kenangan yang (akan) Terlupa
Gue nulis ini karena bosen nungguin kelemotan hardisk gue yang kayaknya udah mau minta pensiun.
Hardisk gue yang kapasitasnya ga terlalu besar ini emang udah lama banget. Dari gue kelas 2 SMP kalo dihitung dari usia laptop gue, secara ya, hardisk ini gue copot paksa dari laptop yang udah terlanjur koit duluan. Copotnya asal-asalan, terpaksa banget, karena udah pengen banget gue pisahin dari laptop yang udah lama mati. Udah lama banget.
Kalo dipikir-pikir, kasus ini sama kayak hubungan kebanyakan yang udah lama mati. Kenangan-kenangan yang kalian simpan pasti masih ada. Awal-awalan berakhir, pasti bakalan masih teringat dengan jelas semua tentang pihak yang terpisah dari kita. Kalo hardisk gue nih ya, awalan gue copot dari laptop, fungsinya cepat tanggap. Gue colokin ke laptop lain, cepet banget isinya nongol. Ga kayak sekarang, nunggu nyambungnya lama banget, ujung-ujungnya not responding, sama kayak memori gue yang udah mulai lemot kali.
Emang bener ya, waktu bisa mengakhiri dan memulai banyak hal.
Kenangan pasti akan perlahan menghilang seiring jalannya waktu. Apalagi kalau otak kalian udah ditambahin kenangan-kenangan baru, dengan pihak yang baru, semua hal yang kalian pikir ga akan bisa kalian lupain, tetap aja bakal terlupa. Haha, silly.
Masih ingat rasanya jatuh cinta pertama kali yang katanya indah banget itu? Masih? Masih bisa senyum pas ingat saat itu?
Masih ingat rasanya patah hati pertama kali yang rasanya sakit banget ampe bikin nangis-nangis? Masih? Masih ngerasa sakit trus nangis pas ingat saat itu?
Masih ingat siapa orang yang bikin hidup kalian sangat berkesan? Mungkin masih. Tapi coba kalian ingat lagi suaranya kayak apa, tingginya segimana, bola matanya warna apa?
I bet, you don’t.
My point is, semua hal pasti akan ada akhirnya. Apa yang sedang terjadi di hidup kalian *entah baik atau buruk* di syukuri aja.
Kalo kalian lagi bahagia, ya diusahakan kebahagiaan itu dijaga, dipertahankan. Bagikan ke orang lain kalo bisa *asalkan bukan pacar yang dibagi ya*.
Buat kalian yang lagi sedih, yang tabah dan sabar aja, ntar juga sedihnya hilang. Bahagianya lagi on the way pasti, dan sedihnya kalian pasti hanya akan menjadi kenangan yang terlupa.
Salam,
Cloudy night, Ponytail, Lonely Room.
One Last Time
Kisah kita seharusnya sudah lama berakhir, seharusnya sudah terkubur dalam, tapi entah mengapa dia masih tetap hidup di bawah sana. Lumpuh. Tidak bisa bergerak kemana pun, tidak bisa melangkah kemana pun. Kembali hidup ke masa lalu atau pun hidup menanti masa depan denganmu sudah tak mungkin lagi.
Kita hanya dua insan yang dibatasi rasa sungkan atas kisah menyakitkan di masa lalu, dimana rasa yang tertinggal hanyalah rasa bersalah dan rasa rela yang teramat dalam.
Sampai akhirnya malam ini tiba. Malam dimana kita duduk diam di dalam mobilmu, menyadari saat-saat seperti ini pasti akan ada, dimana ide konyolmu untuk “kencan semalam” sebagai ganti kado perayaan tahun baru untukku keluar dari mulutmu, dan otakku seakan lupa untuk mengingatkanku bahwa ini adalah ide yang buruk.
Setelah kita berputar mengelilingi kota yang ramai ini, setelah makan malam sederhana, dan setelah percakapan ringan tentang masa yang lalu yang kita lewati tanpa bersama, di dalam mobil ini tanganmu terangkat untuk menepuk kepalaku sambil berkata “Jangan terlalu lama sendirian, kamu harus menemukan seseorang yang mencintaimu”, kemudian menggenggam tanganku lalu mencium bibirku dengan lembut. Sungguh, kata-kata yang kamu ucapkan dan tindakan yang kamu lakukan sangatlah berbeda dari yang ku bayangkan. Ironi yang tak bisa ku benci dan malah ku cintai.
Aku sadar inilah saat-saat terakhir untuk kita. Saat-saat dimana kita harus mengakhiri kisah yang kita mulai di masa yang lalu. Sejak awal aku sudah menyadarinya dan membunuh sekecil apa pun harapan yang muncul untuk kita, untuk aku. Rasa cinta sudah tidak ada lagi di untuk kita. Dariku untukmu, darimu untukku.
Tanganku terus kamu genggam selama perjalanan kita pulang. Tanganmu yang hangat bukanlah milikku, mungkin karena itulah hatiku sedikit terluka saat menyentuhnya.
“Don’t think too much”, katamu. “Don’t feel too much”, kataku. Ucapan yang lebih ku tujukan untuk diriku sendiri. Mengingatkan diriku sendiri, membiarkan otakku yang bekerja lebih dari hatiku malam ini.
“Temukan seseorang yang kamu cintai, yang mencintaimu, and be happy”, katamu lagi. “I will, aku akan menemukannya, but not now,” kataku sambil tersenyum. Iya, tidak sekarang. Karena sekarang ini, saat ini, yang sedang bersamaku adalah kamu, yang sedang kencan denganku adalah kamu, yang baru saja menciumku adalah kamu, yang saat ini menggenggam tanganku adalah kamu. Karena itu, sekarang ini, saat ini, tidak ada salahnya bukan jika yang ku cintai adalah kamu?
“Malam ini adalah hadiah yang tidak akan pernah kamu lupakan,anggaplah sebagai permintaan maafku untuk semua kesalahan yang pernah ku lakukan, sweet memories, right?” tanyamu, karena yang aku minta adalah hadiah yang akan selalu ku kenang dan aku yakin, aku tidak akan pernah bisa melupakan malam ini. “Yeah, bittersweet memories,” balasku.
“Why bitter? Karena kita tidak bisa bersama? Kamu harus menemukan seseorang yang lebih baik dari aku, yang tidak akan mengecewakanmu lagi. I was a jerk.” Katamu. “Yeah, I know.”
“And what’s the sweetest part?” tanyamu. “You know, us, holding hands, and that kiss” jawabku sambil menatap jemari kita yang masih menyatu. “Itu ciuman yang ke berapa kali ya, dari bertahun-tahun yang lalu?” sambungku, terjebak di dalam kenangan akan kisah kita yang telah lalu, diiringi suara kembang api di belakang mobil kita. “I don’t know, I can’t remember. We should do it again,” katamu. “Yes, we should, just one last kiss...” kataku, sambil menatap indahnya warna kembang api pecah di udara di belakang kita, yang sedetik kemudian langsung menghilang. Metafora yang sempurna untuk kita di malam ini. Akan segera berakhir, dan yang bisa ku lakukan hanyalah menengok ke belakang, menatap ke masa lalu.
“Promise me, kamu akan menemukan seseorang yang kamu cintai, yang mencintaimu, marry him and live happily. Promise for me” katamu, sambil mengulurkan jari kelingkingmu. “Okay, you too,” balasku sambil menautkan jari kelingkingku. Ah, andai saja kamu tahu kalau semua janji bisa saja hancur sama seperti perasaanku saat ini.
Entah mengapa perjalanan ini terasa begitu singkat. Mungkinkah karena aku menikmatinya? Kamu menepikan mobilmu, menyambut ciuman terakhir kita, pelukan terakhir kita, ilusi yang kembali membangkitkan kisah kita yang telah lama lumpuh, menebus semua rasa bersalah dan membakar semua sakit dari kisah yang lalu. Dan setelah ini semua berakhir, kita akan membunuh kisah kita, menguburnya kembali, lalu kemudian kita berdua melangkah melanjutkan hidup masing-masing, setelah ini kita akan benar-benar menjadi teman. Maju ke masa depan, sama seperti mobilmu yang mulai maju mengantarku ke rumah.
Malam ini adalah perpisahan yang sebenarnya, our real goodbye. Berbagai perasaan memenuhi pikiran. Bahagia karena dapat kembali merasakan rasa yang telah lama lumpuh, lalu lega karena dapat mengakhiri semua rasa ini dengan indah. Lalu rasa ini, rasa yang seakan merindukan hal yang tak akan pernah terjadi lagi, kehilangan sesuatu yang rasanya tak pernah ditemukan. Can you describe it? Sadness. I’m in love with my sadness, in this madness night.
Mobil berhenti tepat di depan rumahku. “Thanks for tonight, take care,” katamu sambil kembali membelai rambutku. Aku hanya tersenyum, membuka pintu lalu keluar dari mobilmu dan mengucapkan kata terakhirku untuk kisah kita di malam ini:
“Goodbye.”
Kertas Kosong
Setelah bengong hampir 1 jam di depan kertas digital yang kosong melompong dengan tujuan ingin menuangkan segala rasa dengan berjuta cara yang membuat kepala menjadi berat, akhirnya aku sadar.
Kertas kosong adalah cara terbaik menuangkan rasa ini.
Karena aku tidak merasakan apa pun.
Bahagia? Tidak
Sedih? Tidak.
Marah? Malu? Sakit? Rindu? Cinta? Bukan juga.
Mungkin hatiku mulai kehilangan fungsinya.
Mungkin aku mulai menjadi seonggok daging yang berjalan tanpa jiwa.
Aku sudah mati di dalam tubuh yang hidup ini.
Hidup Tanpamu Part III - Tidak lebih indah dari malam itu
Terkadang aku bisa menjadi begitu bodoh. Pikiranku yang selalu kembali padamu sering ku maki, dan perasaan yang selalu merasa kosong ini sering ku cerca hingga membuatku menjadi lebih benci pada diriku sendiri.
Ada saatnya disaat aku tengah sendiri, tak tau apa yang harus kulakukan, pikiranku berkelana, imajinasi menjadi liar dan berontak untuk berkhayal bertemu (lagi) denganmu.
Aku membayangkan muncul dengan tiba-tiba di hadapanmu, membuatmu terpana dan tak bisa berkata-kata, kemudian tersenyum dan membuatmu memelukku dengan erat. Kemudian aku kembali teringat apa yang telah kita lalui, semua rasa sesak dan benci kembali dan membuatku berkhayal dengan versi yang lebih sadis. You know, muncul di hadapanmu, menatapmu dengan pandangan kosong kemudian pergi berlalu seakan-akan kita tidak pernah kenal, seakan kamu hanyalah sampah dalam hidupku.
Tapi semua khayalan ini malah membuatku kembali mengingat pertemuan kita yang pertama kali. Setelah perjalanan panjang yang berat dan melelahkan, aku tidak lagi memikirkan resiko dalam perjalanan itu. Semua pikiran khawatir dituangkan oleh orang-orang disekitarku; bagaimana nanti kalau aku malah tersesat? Bagaimana nanti kalau aku malah diculik? Diperkosa? Atau bagaimana nanti aku malah tidak bisa kembali pulang? Atau lebih parahnya lagi hal yang pernah mereka ungkapkan oleh mereka: bagaimana nanti kalau aku hanya akan diculik dan diperkosa OLEHMU? Cukup gila, bukan? I mean, seharusnya setelah mendengar semua itu, aku lebih memilih untuk tidak mengambil resiko untuk pergi menemuimu. Yang ku tahu hanyalah kepastian bahwa kamu menungguku disana, dan aku sangat ingin bertemu denganmu. Walaupun hanya sesaat, aku ingin keluar dari realita hidupku yang sedang kacau balau. Take the chance, or leave it.
Dan aku sama sekali tidak menyesali pilihan untuk menemuimu. 3 hari bersamamu seakan berada dalam kisah dongeng. That place seems like paradise with you.
Hal pertama yang kulihat di malam pertemuan kita adalah matamu. Terlihat indah dan aku tenggelam di dalamnya. Cukup untuk membuat jantungku berdebar kencang. Pertemuan pertama kita memang canggung. Aku yang tidak tahu harus berkata apa hanya bisa diam saja selama perjalanan kita.
”Boleh pinjam tangannya?” Tanyamu sambil mengulurkan tangan kirimu ke belakang, kepadaku yang sedang duduk bahagia di bonceng olehmu. Aku meraih tanganmu, membiarkanmu menyetir hanya dengan tangan kananmu. Kemudian aku memelukmu. Hal tak terduga yang membuatmu sangat bahagia. And we were in love.
You and I are loved each other, but then you broke my heart. Tahukah kamu? Jaket hadiah dari ibumu untuk hari ulang tahunmu yang kamu pakaikan untukku di malam itu, jaket yang kamu berikan sebelum aku pulang agar aku tidak kedinginan di dalam bus hanya bisa kubiarkan berdebu di dalam lemariku. Sejak mengingatmu menjadi sangat menyakitkan, semua tentangmu hanya bisa ku simpan agar tak terlihat.
Jaket itu mengingatkan malam pertemuan kita, pertama kalinya kamu meminta tanganku untuk digenggam, pertama kalinya aku memelukmu, pertama kalinya kamu mengecup keningku sebelum aku pergi untuk tidur. There’s a lot in our first night, in our first met.
Tentu saja aku tidak bisa tidur, siapa yang bisa tertidur dengan rasa membahagiakan itu? Malam-malam bersamamu membuatku belajar akan 2 hal: 1) Rasa yang membahagiakan karena jatuh cinta denganmu bisa membuatku terjaga semalaman, 2) Rasa yang menyakitkan karena dihancurkan olehmu pun bisa membuatku terjaga karena menangis semalaman.
Tetapi ada 1 hal yang baru ku ketahui seiring menghilangnya kamu dari hidupku:
Rasa kosong yang menyesakkan ini cukup untuk membuatku merasa tertampar karena menyadari bahwa aku hanya sedang merindukanmu.
Mungkin hidupku akan menjadi lebih mudah jika kamu tak pernah hadir. Mungkin hatiku masih akan tetap tersakiti, tapi toh nanti akan sembuh dengan sendirinya, dan aku masih akan tetap bisa membuka hati untuk yang lain. Sekarang bagaimana bisa, jika hati telah ku biarkan terkubur beku?
Story of My Life: Hidup Tanpamu Part II - (Dulunya) Jauh lebih Mudah
Hidup Tanpamu Part II - (Dulunya) Jauh lebih Mudah
Pagi ini masih seperti pagi-pagi yang lalu. Pagi yang lalu setelah pembicaraan kita malam itu. Pagi ini masih pagi tanpamu. Pagi tanpa telepon darimu, pagi tanpa pesan teks darimu. Entahlah, aku sering bertanya “Apakah dulu sebelum bertemu denganmu aku merasa sekosong ini?”
Dulu di hidupku, bukan hatimu saja yang pernah sering berkunjung. Ada banyak hati lain yang ku biarkan bertamu.
Ada yang berkunjung dan ku telantarkan begitu saja. Aku yang masih terlalu polos, dipenuhi harga diri, tidak mau peduli yang lain selain diriku sendiri.
Ada yang ku biarkan berdiri lama di depan pintu hati, mengetuk berkali-kali tanpa pernah ku bukakan pintu.
Ada yang berkunjung dan ku berikan perhatian yang manis. Disaat rasa sayang hadir dan yang ku inginkan hanyalah terus bersama, tetapi terkadang waktu hanya ingin memisahkan.
Ada pula yang berkunjung membawa senyum lalu ku tinggalkan pergi begitu saja. Karena ku pikir aku bisa tersenyum dan tertawa dengan yang lain. Ku tinggalkan dia sendiri di dekat pintu hati, membuat ia melangkah dengan perih. Aku kembali dengan terlambat, dan yang kutemui hanyalah penyesalan di tiap sudut ruang hati.
Tapi kamu, kamu yang ku biarkan berkunjung, bermain-main dengan hatiku, sampai kamu mulai bermain memakai ego – yang tentu saja membuat hatiku sekarat. Tak tahan dengan rasa sakitnya lalu ku bunuh hatiku begitu saja.
Pagi ini masih pagi yang sama, pagi tanpamu. Tetapi ada yang berbeda. Disaat aku terbangun yang ku rasakan hanya kekosongan. Seakan aku hanya ingin terus tidur. Seakan hidupku yang sekarang hanyalah mimpi yang buruk disaat aku terjebak di ruang kosong.
Mungkin hidupku akan menjadi lebih mudah jika kamu tak pernah hadir. Mungkin hatiku masih akan tetap tersakiti, tapi toh nanti akan sembuh dengan sendirinya, dan aku masih akan tetap bisa membuka hati untuk yang lain. Sekarang bagaimana bisa, jika hati telah ku biarkan terkubur beku?
If you’re out there, if you’re somewhere, if you’re moving on...
I just want you to know that you were my beautiful nightmare...
Rindu Menulis
Aku rindu menulis. Karena itu akan kutuliskan surat ini untukmu:
Bagaimana kabarmu saat ini? Bagaimana kabarmu sebelumnya? Apa yang telah terjadi di hari/ minggu / bulan yang telah berlalu? Kejadian apa yang telah hidup berikan kepadamu? Apakah kejadian itu menyenangkan? Ataukah menyedihkan? Berapa banyak kesempatan yang kamu lewatkan? Adakah penyesalan menghantuimu?
Ah, terlalu banyak pertanyaan untukmu. Terlalu banyak pertanyaan yang sengaja ku buat untuk menutupi pertanyaan yang selalu ingin kutanyakan padamu: Apakah kamu (terkadang) mengingatku?
Mungkin pertanyaan itu adalah satu pertanyaan sederhana. Aku takut mengajukannya karena takut akan jawaban yang akan ku dapatkan.
Mungkin kamu akan menjawab 'tidak', mungkin kamu akan menjawab 'iya'. Dua kemungkinan yang menakutkan, bukan?
Karena jika kamu menjawab 'tidak', harapan yang hancur hanya akan meneriakkan hening yang panjang. Marah, sedih, kecewa dan berbagai "mengapa" hanya akan bermunculan menyesakkan dada.
Dan jika kamu menjawab 'iya', harapan hanya akan melambungkan rasa bahagia dengan begitu tinggi. Senang, gembira, bahagia dan berbagai "mengapa" pun akan ikut bersamaan dengan kesadaran bahwa dulu kamu yang telah memilih meninggalkanku. Dan hal itulah yang akan membuat sakit lebih terasa dari sebelumnya.
Aku tidak ingin lagi merasakan sakit itu karena aku takut.
Kenangan memang seperti obat; bisa menyembuhkan. Tapi jika digunakan di kondisi yang salah, atau mungkin dengan takaran yang salah, obat itu bisa berubah menjadi racun yang melumpuhkan dan mematikan.
Mengingatmu terlalu menyakitkan ternyata, menulis surat ini ternyata bukanlah ide yang baik. Oh, well, perasaan campur-aduk ini membuatku menyadari sesuatu:
Aku salah. Aku menuliskan surat ini untukmu bukan karena aku rindu menulis.
Tetapi karena aku merindukanmu.
Dan kurasa, surat ini hanya akan menjadi salah satu surat yang ku biarkan bertumpuk; tidak akan pernah ku kirimkan padamu.
Semoga hidupmu bahagia. Aku telah berhenti mencoba untuk tetap tinggal di dalamnya.
“The worst thing you can do if you miss or need someone is let them know it.” - Sarah Dessen, Lock and Key.
Selamat Hari Kasih Sayang, Penyayang
Teruntuk kamu, Penyayang
Aku hanya ingin berterima kasih telah mampu singgah di hati dan hidupku , walau pun takdirmu hanya untuk numpang lewat disana dan lebih memilih menetap di dalam pikiranku sampai dengan saat ini.
Dulu aku terlalu muda dan bodoh, meninggalkan kamu yang mencintaiku dan memilih dia yang ku sukai dan pun menyukaiku. Ku rasa aku hanya butuh tantangan karena kamu terlalu lembut, terlalu sabar, terlalu lemah menghadapiku; terlalu mencintaiku.
Entah sejak kapan, aku mulai selalu memikirkanmu hingga aku terpejam. Aku mulai merindukanmu karena kamu berbeda; kamu mencintaiku tanpa menuntut.
Dan hari ini, di hari kasih sayang ini, kenangan akan kita terus berputar di dalam kepalaku. Di malam kasih sayang itu kamu memberikanku sebatang cokelat dan sebuah boneka kelinci merah jambu, terlalu manis, seperti rasa bahagia yang ku rasakan saat itu.
Di atas atap, di bawah taburan bintang. Kamu memelukku dan memberikanku kecupan lembut. Disaat aku menatap bintang yang indah menghiasi langit, kamu lebih memilih menatapku seakan tak ingin melepaskanku.
Ya, dan kamu tidak pernah melepaskanku. Aku yang melepaskanmu dan memaksa untuk lepas dari genggamanmu. Dan aku minta maaf akan hal itu.
Sekarang ini, disini, aku hanya ingin melupakan sejenak kehadiran dia yang kini mengisi hari-harimu dengan cinta dan mengakui hal yang tidak seharusnya aku rasakan hingga saat ini;
Aku masih mencintaimu
Dan kamu atau pun dia, tidak perlu tahu akan hal itu.
- Dari aku, yang menyayangimu
14 Februari 2014