Amanah Tempur
Aku bersumpah
di hadapan kalbu, waktu, dan amanah Ilahi:
tidak menukar akhlak
dengan selamat yang semu.
Tidak menurunkan paugeran
demi akses dan penerimaan
yang rapuh serta sementara.
Aku menetapkan niat,
menegakkan virya, sang daya juang yang terlatih,
menghimpun pramana, sang ketepatan nalar dan ukur,
serta menguasai palagan kehidupan
dengan disiplin dan kendali diri,
tanpa menyimpang dari istiqamah.
Kekuatan kugenggam
dalam cakra komando yang tertib:
niat sebagai pusat,
akal sebagai perencana,
raga sebagai pelaksana,
dan iman sebagai penentu batas.
Tidak ada tembak membabi buta;
yang ada keputusan terukur
dan tanggung jawab penuh.
Jika medan mengeras,
aku memperkuat formasi.
Jika tekanan meningkat,
aku mengamankan garis.
Aku menolak panik,
menolak pamer,
menolak kompromi pada kebusukan
yang kupahami risikonya.
Aku memilih amanah sebagai aturan tembak,
iffah sebagai disiplin personal,
dan jihad an-nafs sebagai operasi utamaā
menundukkan dorongan
yang melemahkan komando batin.
Aku bergerak senyap,
menjaga jarak aman,
mengunci jalur keluar,
dan berkata ātidakā
tanpa ragu
saat itu satu-satunya manuver benar.
Aku pulang hidup
dengan raga berfungsi
dan jiwa utuh.
Atau aku tetap lurus
di garis misi
tanpa tawar-menawar.
Tiada opsi lain.
Inilah ikrarkuā
sabda operatif
yang ditulis dalam laku,
diterjemahkan menjadi disiplin,
dan dijaga hingga akhir napas.








