Tumblr itu duniaku yang tak banyak dimengerti oleh orang lain secara langsung. Itu alasan mengapa aku menyembunyikan hatiku kepadamu, sedang pada tumblr aku leluasa membicarakanmu.
– PurnamaMerindu
KIROKAZE
𓃗
I'd rather be in outer space 🛸
Misplaced Lens Cap

ellievsbear

if i look back, i am lost
hello vonnie
macklin celebrini has autism

titsay
ojovivo

Origami Around

#extradirty
taylor price

No title available
Keni
Lint Roller? I Barely Know Her
YOU ARE THE REASON
d e v o n

gracie abrams

@theartofmadeline
seen from Indonesia

seen from Malaysia

seen from United States
seen from Panama
seen from India
seen from United States

seen from China
seen from Greece
seen from Uruguay

seen from Malaysia

seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from Bangladesh

seen from United States
seen from South Africa
seen from Brazil

seen from United States

seen from Poland
seen from Canada
@purnamamerindu
Tumblr itu duniaku yang tak banyak dimengerti oleh orang lain secara langsung. Itu alasan mengapa aku menyembunyikan hatiku kepadamu, sedang pada tumblr aku leluasa membicarakanmu.
– PurnamaMerindu
Katanya soal rejeki sudah diatur sesuai porsinya. Allah menjamin segala hal bagi hamba-Nya yang beriman. Tapi, seringkali manusia lupa ketika dihadapkan dengan berbagai hal rumit yang sebenarnya sederhana. Mereka seolah tidak percaya "bahwa mungkin besok akan mendapatkan porsi yang lebih banyak karena porsi sekarang ternyata masih kurang."
Menyalahkan sesama manusia yang pada hakikatnya mereka semua sama. Bisa saja kita mati besok atau dalam 5 menit kedepan kita akan terkena bencana, siapa yang tahu? Ya karena semua ketetapan sudah berada pada genggaman-Nya. Satu manusia berpikir "bismillah, aku percayakan hari esok pada-Mu Tuhan, aku percaya Kau masih memberiku makan besok walaupun hari ini aku makan dengan rasa cemas untuk makanan besok." Di satu sisi lagi, ada manusia yang berpikir, "Aku harus mengurangi porsi makanku hari ini, karena besok aku juga harus makan. Kalau aku habiskan hari ini, mungkin besok aku tidak makan."
Dua pemikiran yang berbeda dengan keimanan yang tentu berbeda. Yang satu percaya akan kehendak Tuhan besok, yang satu lagi seolah percaya tapi tidak benar-benar percaya. Serba salah bukan? Ingin sepenuhnya percaya pada Tuhan, tapi takut besok kita benar-benar tidak makan. Ingin sedikit berjaga-jaga, tapi seperti dianggap tidak mempercayai-Nya.
– PurnamaMerindu
Nggak mau pusing mikirin kehidupan orang lain yang jauh diatas kita. Sekarang maunya fokus membangun rumah damai untuk keluarga kecilku sendiri.
Orang yang sudah di atas akan melihat kita bersenang-senang, padahal usaha yang kita gelutkan tidak ada habisnya. Tapi kita memilih untuk bersyukur dalam menikmati hidup. Mungkin seolah terlihat hanya diam saja, padahal kita sedang mengusahakan apa yang ingin kita usahakan—kedamaian. Tidak perlu dipandang baik, tidak perlu terlihat mampu, dan tidak perlu terlihat susah. Karena semua cerita selalu punya bagian seru dan endingnya masing-masing. Cukup diri kita yang menyelesaikan. Toh, orang lain hanya bisa menasihati, mengkritik, dan menyalahkan. Selebihnya? Tidak ada.
– PurnamaMerindu
Hidup ini cuma sekali. Jalani, nikmati, dan syukuri.
Rapalkan do'a terbaik untuk hidupmu, keluargamu, dan kebahagianmu. Tidur dengan nyenyak, bangun lagi dan beraktivitas kembali. Walau berjalan lambat, tetap saja kita bergerak. Tidak harus berlari mengejar kecepatan orang lain. Karena rezeki pada setiap manusia sudah punya takarannya masing-masing.
– PurnamaMerindu
Semakin bertambah dewasa, aku semakin merasa introvert (menutup diri dari dunia luar yang berisik). Pemikiran tentang extrovert yang bagiku mudah bertemu dengan banyak orang itu ternyata bukanlah aku. Ada topeng yang ternyata aku tampilkan demi membuat kenyamanan di sekelilingku.
Sekarang, aku lebih nyaman dengan kesendirianku yang sibuk mengurus aku, anakku, dan suamiku. Ternyata tidak peduli dengan urusan orang lain itu menenangkan. Karena terkadang, otak kita terlalu dipenuhi dengan beban yang isinya bahkan lebih banyak tentang orang lain daripada kehidupan sendiri. Dan yaa, itu melelahkan.
Menjadi diri sendiri jauh lebih menyenangkan. Aku bebas mengekspresikan diriku sendiri; marah, kecewa, sedih, senang, dan tenang. Tanpa perlu menimbang, "pantes nggak ya aku bahagia padahal dia lagi kesusahan", "upload foto nggak ya? Nanti dikira pamer", "cerita nggak ya, takut dikira diam-diam aja", dan banyak lagi hal yang membuat kita tidak jadi diri sendiri yang akhirnya menumpuk dan jadi tekanan.
Hidup yang damai adanya, nyatanya dibuat runyam oleh diri sendiri. Benar, kamu belum berhasil menangani orang lain jika dirimu belum selesai mengenal dirimu sendiri.
– PurnamaMerindu
Nggak enaknya tinggal bareng sama orangtua:
1. Nggak bisa leluasa di dalam rumah
2. Ada rasa "sungkan" dalam banyak hal
3. Kadang ikut campur masalah parenting
4. Kadang juga ikut ngatur harus ini itu
Walaupun ada enaknya "sedikit", tapi mungkin lebih enak tinggal sendiri walaupun harus sangat repot urusan rumah dan anak. Tapi menurutku, itulah yang membentuk kedewasaan dalam rumah tangga.
Apa yang sebenarnya perlu ditakdzimi dan diindahkan dari orang yang berilmu? Bukankah kebijaksanaannya? Atau tinggi hatinya karena merasa dirinya lebih mampu dan pintar dibandingkan orang-orang yang terlambat darinya dan mau belajar?
Semakin hari kita semakin kehilangan orang-orang baik yang ikhlas mengajarkan kebaikan. Karena sekarang orang pintar memilih menjadi yang paling pintar dibandingkan menjadi orang yang paling bijaksana. Mungkin yang saat ini sedang tren adalah orang dengan kegilaan akan pujian. Sombong tanpa merasa sombong, pamer tanpa merasa pamer, Riya' tanpa merasa riya'.
Bahkan seorang tahfidz pun belum tentu bersih hatinya, apalagi orang-orang yang hanya punya sedikit teori tentang Islam sampai menyalahkan orang lain dengan dalih agama.
Kiranya bagi saya, tidak ada guru yang bisa saya takdzimi selain guru semasa sekolah dan orangtua saya. Selain itu, saya menganggapnya hanya bagian dari perjalanan yang hanya sekedar tahu.
– PurnamaMerindu
Cara paling tidak berisik untuk meluapkan emosi yang menyesakkan hanya menangis sebelum tidur. Itulah sebabnya, kamar menjadi saksi bisu dimana kisah bahagia, sedih, kecewa, dan amarah terangkum menjadi satu.
– PurnamaMerindu
Baiknya seorang istri adalah mau semarah apapun ia dengan suaminya, dia tetap mendoakan yang terbaik untuk suaminya. Baik berupa rezeki (lahir & batin), keselamatan, dan kebahagiaannya. Mau heran, tapi gimana? Mungkin itu cara Tuhan menjaga agar rumah tangga tetap utuh.
– PurnamaMerindu
Banyak perempuan pada jaman sekarang dituntut untuk bisa banyak hal dan terlihat sempurna secara fisik oleh laki-laki. Harus bisa cari uang sendiri, harus bisa masak, harus bisa ngerawat diri, harus Sholehah, mengasuh anak, ngurusin semua kebutuhan suami (makan, minum, baju, tempat tidur, rumah, dapur, dll), dan yang lebih mirisnya; banyak diantara kesemuanya yang seperti mewajibkan perempuan untuk 'cantik' fisik.
But, dia lupa berkaca pada diri sendiri. Dia lupa melihat "apakah saya sudah cukup baik menjadi seorang suami dan ayah untuk keluarga saya selain hanya mencari uang sebagai bentuk kewajiban saya?" Bagaimana jawaban itu akhirnya bisa menjadi refleksi terhadap diri sendiri bahwa tidak ada di dunia ini yang bisa kita raih seluruhnya dengan sempurna. Setiap pria dan wanita diciptakan bersama untuk saling melengkapi, bukan merasa butuh diladeni salah satunya. Lantas untuk apa menikah jika yang kita cari hanya tentang kecintaan dan kenyamanan karena suatu persembahan?
Cobalah untuk memandang dari berbagai sisi. Hidup tidak hanya tentang Kamu dan Kamu, tapi hubungan tentang Saling yang harus diperjuangkan bersama. Belajarlah untuk memahami, Tuhan memberimu rejeki bukan hanya sekadar materi, tapi juga nikmat sehat dan kebahagiaanmu dengan keluargamu. Uang saja tidak akan membawamu ke Surga, tapi bagaimana caramu menjadikan uang itu sebagai bagian dari keberkahan mu di dunia lewat keluargamu. Jangan terlalu muluk membicarakan "sedekah" jika sedikit sedikit hal yang kamu permasalahkan dengan wanitamu adalah uang yang sebetulnya tidak melebihi jatah Tuhan memberimu rejeki.
– PurnamaMerindu
Tuhan... Jika Engkau menitipkan rezeki untuk masa tua kedua orangtuaku melaluiku, tolong permudah dan perluas. Agar aku bisa merawat mereka dengan kasih sayang dan juga kecukupan materi.
Mau sebaik dan sehati malaikat apapun kamu, selama kamu masih hidup di dunia, akan selalu ada orang yang tidak suka denganmu. Terlebih jika kamu berhasil berdiri di kakimu sendiri dengan berbagai macam kesuksesanmu, justru akan lebih banyak lagi yang membencimu.
Padahal, orang yang membencimu tidak ikut andil dalam keberhasilanmu. Tapi mereka paling mahir menyebar kebencian di lingkungannya.
Untukmu, siapapun dan dimanapun... semakin tinggi Tuhan mengangkat derajatmu, semakin besar pula angin akan menerjangmu. Maka, cukup tau dan lanjutkan hidupmu dengan damai. Karena dari merekalah mental dan pribadimu terbentuk dengan baik.
– PurnamaMerindu
Seringkali manusia terlalu sibuk dengan perkara duniawi yang tidak ada habisnya. Hingga melupakan kewajiban yang harus ia lakukan di bumi Allah.
Rasa cemas, khawatir, bingung, dan kacau lagi-lagi mengintai kalbu dan ruang pikiran. Padahal, obatnya hanya satu; berserah dan bersujud pada Allah.
Mungkin begitulah cara Tuhan mengingatkan; bahwa "Aku mengizinkanmu tinggal di bumi-Ku untuk beribadah dan mencintai-Ku, bukan mencintai makhluk-Ku melebihi cintamu pada-Ku".
Kenapa manusia harus dipukul dan dijatuhkan dulu agar sadar dengan kebatinannya kepada Hyang Agung? Mungkin kiranya Syaithon bertugas di manapun manusia berada. Agar tidak lupa, ada Sang pencipta di atas terciptanya dunia ini.
– PurnamaMerindu
Kalau dipikir-pikir, Tuhan itu suka sekali bercanda. Bagaimana mungkin kita sudah berusaha menjauh dari cerita masa lalunya, tapi justru semakin didekatkan dengan ceritanya masing-masing. Seolah-olah tidak pernah ada yang terjadi sebelumnya.
Tapi untuk sekejap aku termenung, yaa... masa lalu terlewat bukan berarti harus terlupakan. Ia akan menjadi cerita pembelajaran di masa depan, bukan untuk diulang kembali.
Ada salah satu hadist yang sering dijadikan dasar berbagai ajaran dan pemikiran. Yang mana hadist tersebut berbunyi خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ yang artinya 'sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia' .
Terlihat mudah, tapi tidak semua orang berhasil menjalankannya dengan baik.
Katanya, level tertinggi perasaan manusia adalah ikhlas, dan yaa.. dalam hal kebermanfaatan tak sedikit orang-orang yang akhirnya "berharap" Pada imbalan baik materi maupun non materi.
Mudah menasehati orang lain, sedang dirinya kesusahan mengelola emosi jika berhadapan dengan orang lain terlebih yang membutuhkannya. Banyak orang pintar, tapi banyak pula orang yang sadar bahwa dirinya pintar tapi sulit untuk menjadi manfaat tanpa perlu imbalan. Apa memang sudah menjadi hal yang lumrah jika manusia pada zaman ini bangga akan pujian, kekayaan, keberhasilan, kemahiran tapi lupa bahwa tugas penting manusia di muka bumi untuk beribadah dan menjadi bermanfaat bagi orang lain? Atau memang ke-egoisan mampu mengalahi segalanya? Ingin dipandang baik dan berwibawa, tapi tak sadar bahwa dirinya telah kehilangan kepercayaan dan wibawanya sedikit demi sedikit.
Karanganyar, 23 Mei 2025
– PurnamaMerindu
Semua laki-laki bisa bekerja; pun perempuan. Tapi tidak semua laki-laki bisa mengurus, mengasihi, mendidik, dan merawat anak.
Jadi, berbanggalah dan bersyukurlah jika kalian punya suami yang mengerti dan paham arti peran penting (keduanya) ayah dan ibu dalam perkembangan dan tumbuh kembang anak.
Jangan terlalu banyak menuntut! Sebab kita tidak pernah tau, sudah sampai mana titik lelahnya seseorang. Tapi saat bertemu anak, dia mengusahakan hal terbaik dalam hidupnya—berupa waktu, tenaga, pikiran, dan kasih sayang.
– PurnamaMerindu
Mereka tidak perlu tau bagaimana kondisi kita dalam menjalani hidup. Roda selalu berputar. Yang diperlukan hanya mensyukuri segala yang telah Tuhan beri. Jika semua hal dipermudah, tidak akan ada yang namanya "berusaha".
– PurnamaMerindu