Alasan-Alasan Yang Sanggup Ku-iyakan
Aku tau, setiap orang berhak untuk pergi.
Entah untuk membeli makan di luar, entah karena sudah tak tahan, entah karena bosan, entah ingin jalan-jalan, bahkan karena ingin melupakan.
Kalau kamu ingin pergi untuk membeli makan, maukah kamu berjanji, akan pulang kembali? Tidak usah, tidak udah membawa bungkusan atau oleh-oleh apapun, bahkan gorengan sotong kesukaannku. Aku lebih suka sama yang membawakannya. Sotong hanyalah alasan. “Nanti kerumahku, ya. Aku mau sotong. Bawain aku sotong.” Aku hanya mempermainkan perintahku, agar kamu, yang tadinya tak memiliki alasan untuk kerumahku, jadi memiliki, setidaknya satu alasan.
Kalau kamu sudah tah tahan, sini, ijinkan aku untuk bantu kamu untuk melegakan yang tertekan. Aku bisa, kok kalau cuma kamu minta untuk mundur selangkah atau dua langkah, tapi jangan minta aku untuk selalu jaga jarak dengan kamu sejauh minimal 2 kilometer, secara harfiah pun aku gak bisa. Apalagi, secara makna puisi. Aku mundur dua langkah nih, ya. Satu, dua, hehe.
Apa kamu cuma mau sekedar jalan-jalan? Kemana? Kamu boleh, kok jalan-jalan kemanapun. Asalkan tujuan kamu adalah kemana, bukan siapa. Ke sebuah tempat, bukan seseorang.
Apa mungkin, semua yang kamu lakukan, karena untuk melupakan?
Aku mau ngingetin kamu lagi, kita punya 345 dikali enam kali, plus ditambah tahun kabisat.
Aku emang pinter banget mengingat-ingat kesalahan kamu, tapi percayalah. Ingatanku tentang baiknya kamu lebih tajam.
Aku belum menuturkan satu poin lagi, tentang kemungkinan-kemungkinan bahwa rasa kamu telah hilang. Karena aku belum mampu,
Semoga apapun alasanmu, sebesar apapun tekadmu untuk melangkah keluar. Ah tidak-tidak, biarkan harapan lengkapnya cuma tertulis di dalam hati dan pikiranku ini, biar Tuhan tidak perlu repot-repot membaca Tumblr-ku, cukup hatiku saja.














