Harapannya mimpi ini hanya sekadar bunga tidur, tidak menyiratkan arti tertentu.
Aku berada di rumah lama kakekku. Aku duduk di ambang pintu kamarnya. Nenekku dan anak perempuannya datang membawakanku durian. Durian itu tampaknya lezat. Aku mencicipinya, tapi durian itu tidak selezat seperti yang ku harapkan. Aku tidak lagi memakannya. Ku tinggalkan durian itu agar mereka saja yang menghabiskannya. Dan aku beranjak pergi.
Aku berada di depan toko beras milik nenekku yang lain. Ku lihat ada nasi. Aku raih nasi itu lalu ku hambur di depan tokonya. Aku menghamburnya dengan maksud seperti menebar benih bibit. Rasanya menyenangkan. Tapi Isyarat nenekku tampak tidak setuju dan marah. Dia Seperti berkata nasi itu jangan di buang-buang. Padahal...ah sudahlah. Aku beranjak pergi dari toko nenekku itu.
Aku berjalan di tengah-tengah pasar. Entah untuk mencari apa atau untuk tujuan apa.
Sesaat kemudian, ku lihat langit yang seketika itu menjadi gelap. Ada titik cahaya yang kian lama kian membesar sedang menuju ke arahku. Semua orang di sekitarku panik, berlarian tak tentu arah. Aku menyadari bahwa fenomena itu adalah runtuhnya bintang meteor.
Aku pun ikut panik dan berlari, berusaha menghindari titik jatuhnya. Aku berlari dengan arahku sendiri. Sesekali ku tengok meteor itu yang kini titik cahayanya sudah bertambah besar menuju ke arahku. Tak ada kesempatan untuk menghindar; meteor ini seperti mengejarku, aku lah sasarannya, aku akan mati; tak ada kesempatanku untuk selamat, pikirku. Aku memutuskan berhenti dan berdiam mengamati sekitarku. Di kejauhan sana, Meteor-meteor lain telah menghantam bumi. Orang-orang yang sedang berlarian menjadi beterbangan dibuatnya. Jeritan di mana-mana. Pikirku, meteor yang sedang otewe ke arahku ini akan menghantamku tepat di jalur pelarianku; secepat dan sejauh mana pun aku berlari, meteor ini akan menghantamku juga. Aku memutuskan berlari lagi dengan mengambil arah yang menyimpang ke kanan dari jalur pelarianku sebelumnya. Aku berlari sekuat tenaga. Jauh di belakangku, Meteor itu telah menghantam bumi dan orang-orang berserakan dibuatnya.
Aku sudah paham pola reruntuhan meteor ini, pikirku. Langit masih dipenuhi cahaya meteor-meteor lain tapi tak ada lagi meteor yang mengincar nyawaku.
Ku lihat sepasang kekasih yang juga sedang dalam kesulitan. Mereka panik dan kebingungan. Prianya lari dan kekasihnya ditinggal. Si Wanita ikut berlari tetapi berlari menuju ke arahku. Di hadapanku, kedua lengannya meraihku lalu merangkulku erat di leherku. Wajahnya ia sembunyikan di atas bahu kananku. Kedua kakinya juga merangkul pinggulku, ia sepenuhnya bergantung di badanku. Ia tak mengucap satu kata dan sepertinya aku paham situasinya.
Pelukannya begitu erat dan ku rasa hangat di sekujur tubuhku, membuat perasaanku begitu nyaman dan aku biarkan wanita asing ini tetap menempelku seperti itu.
Kini aku berjalan dan mendapati beberapa orang sedang memainkan puing-puing meteor di tangannya. Puing-puing Meteor itu beterbangan menari-nari seperti kunang-kunang.
Ku lihat panggilan telepon di layar hp ku:
Panggilan ini hendak meminta penjelasanku, dugaanku seperti itu.
Benar saja, mereka meminta Demonstrasi. Entah demonstrasi seperti apa dan yang ku lakukan nampaknya tidak seperti yang mereka inginkan. Aku bermain-main dengan bahan-bahan demonstrasinya. Bahan-bahan itu lunak dan lentur berupa dua lembaran persegi tebal mirip spons dengan warna biru langit dan lainnya berwarna biru tosca.
Note: tulisan di atas hanya dikalkulasi sebagai rekam kejadian. Diksi, koherensi kalimat hingga tata bahasa mungkin tidak sesuai aturan.