how I met Kimiya Sa'adah
pernah kebayang gimana rasanya ketemu buku yang pernah disebut guru SMA di usia 30an? menurut saya, ini kayak magis😂. dua belas tahun berlalu cuma mengendap saja di tulisan karena tidak langsung mencari tahu lebih lanjut referensi terkait. dan ketemunya cukup effortless.
jadi ceritanya, saat masa sekolah di pesantren saya kadang nyatet apa yang disampaikan ustaz/kyai saat ngaji kitab. kitab, dalam hal ini, adalah kitab kuning/karya keislaman ulama klasik, ygy. bikin catatan pinggir di sisi-sisi kosong halaman kitab atau di sobekan kertas. tapi tidak serajin itu, sih, nyatet nasihat-nasihat. kadang semangat banget menyimak dan maknani (nulis pegon), kadang ngantukan wkwk.
ada satu jadwal ngaji kitab tafsir dengan kyai setelah magrib. namanya Tafsir Jalalain. di pesantren kami, kitab ini dipelajari untuk siswa tingkat SMA. tanggal ngaji itu di awal April 2012, saat saya berada di kelas 12. dan kalau diingat-ingat, itu adalah ngaji yang termasuk kategori semangat (senang) maknani-mencatat-duduk depan, entah kenapa. catatan itu ada di akhir surah Yusuf. mungkin dulu itu ada hal yang menarik, jadi saya tulis. please note that, ngaji Tafsir Jalalain ini tidak sampai khatam.
nah, fastforward akhir tahun 2024, diajak teman AZ ikut ngaji Kimiya Sa'adah. awalnya tidak ngeh. yaudahlahya, ikutan ngaji aja meskipun online dan beda zona waktu, karena ngajinya diselenggarakan oleh PCINU United Kingdom. duh, effort sekali ini (kalau belajar, emang kudu effort, sih). dari 8 sesi yang dijadwalkan, terhitung ikutan live ngaji 3-4 kali apa yak?! wkwkw.
tergerak baca karya jadul
sebelumnya, ada teman AR pernah tanya-tanya soal umrah, jadi saya buka-buka kitab. saat buka lembar demi lembar terbesit, "Ya Allah takut. apakah aku pantes buka ini? saking lamanya tidak pernah kujamah."
pas nostalgia di Tafsir Jalalain, "loh, kok ini aku ada nulis Kimiya Sa'adah? loh, Ya Allah. loh, kok bisa? loh, aku pernah kenalan sama Kimiya Sa'adah. loh? loh?" dan segenap lah-loh-lah-loh lainnya lalu berebesmili huhu😭. jadi saat ikutan ngaji live menyimak kitabnya kayak, "wow, akhirnya aku ketemu nih sama kitab yang pernah disebut guru/kyaiku." SENAAAANGGG!!!!!
*Tafsir Jalalain halaman 201, ada tulisan pinggir: Kimiya Sa'adah kitab karangan Imam Ghazali yang merupakan santri kesayangan Imam Haramain (julukan imam besar di Mekah & Medina, atau Abul Ma'ali).
karena penasaran, di akhir Agustus lalu mencari tahu (dan baru publish sekarang wkwk) (based on google lagi wkwk). ternyata Imam Ghazali, yang bernama lengkap Abu Hamid Muhammad bin Muhammad Al Ghazali At Thusi Asy Syafii, cerdas sekali. hubungan guru (Imam Haramain) dan murid (Imam Ghazali) yang unik.
mengingatkan saya pada: sistem murid dan guru
murid (tidak) bisa mengalahkan guru. terus kepikiran soal senioritas. itu bisa jadi baik dan/atau buruk, ygz? maksudnya, kalau guru merasa si paling bisa petentang-petenteng, tidak baik. pun murid yang merasa si paling benar, merasa berhak komplain ini-itu juga tidak elok. sekaligus mengingatkan saya tentang isi Ta'lim Muta'allim yang menjelaskan cara belajar. perlunya sama-sama menyadari saling butuh-membutuhkan.
kalau dijembreng, sa'adah (سعادة) bermakna kebahagiaan, happiness. kimiya' (كمياء) bermakna material, ramuan. kimiya di sini berbeda dengan pelajaran kimia yang biasa/pernah kita pelajari di sekolah. bukan juga suatu zat material kimiawi.
(mungkin lain kali, akan menulis spesifik tentang Kimiya Sa'adah hehe🙏🏻)
teman-teman kalau ada yang mau baca arabnya, bisa di sini. atau bisa menyimak rekaman ngaji atau muthola'ah di YT PCINU UK Live seri Kimiya Sa'adah.
tulisan ini juga menjadi rasa terima kasih atas unggahan mas G tentang teladan kisah Nabi Yusuf dalam meminta jabatan (baca di sini), yang membuat diri ingin membaca lebih banyak tentang surat Yusuf. apakah ada korelasi Nabi Yusuf terhadap Kimiya Sa'adah atau alasan kenapa saya menulis hal demikian.
wallaahua'lam.




















