Dua bulan lebih menjalani peran baru ini sungguh melelahkan. Lelah secara fisik dan mental. Tapi yang harus disyukuri jauh lebih besar.
Awal tahun 2022 ini menjadi penuh makna dengan kehadiran bidadari mungil ini dalam hidup kami. Tidak mudah memang menjalaninya, tapi jauh lebih baik mensyukuri semua yang telah ada dan terjadi.
Akhir tahun 2021, suami kambuh dari penyakit PTSD nya. Dalam kondisi hubungan jarak jauh, memang sangat sulit untuk bisa menenangkannya. Akhirnya diputuskan di akhir bulan desember suami mengambil cuti, sekaligus menemani saya yang akan lahiran. Hasil USG terakhir memperkirakan akan lahir tanggal 5 januari. Qadarullah, allah tunda hingga sepuluh hari kemudian yang mana jatah cuti 12 hari suami berakhir. Karena suami cuti sekaligus berobat, akhirnya kita mengajukan perpanjangan cuti dengan alasan kontrol pengobatan selanjutnya.
Hari rabu pagi mulai keluar lendir kecoklatan, tapi saya tidak merasakan nyeri perut sama sekali. Hari itu dan dua hari kedepannya kami masih jalan pagi seperti biasa, tapi nyeri perut tetap belum ada. Hari jumat kami memutuskan untuk kontrol ke dokter kandungan yang biasa memeriksa saya. Saat diperiksa ternyata sudah mulai ada pembukaan, tapi nyeri perutnya belum muncul. Dokter memutuskan untuk langsung dirawat dan dilakukan induksi untuk merangsang kontraksi. Jam 10 malam, infus dipasang dan dimasukkan obat. Sejak saat itu mulai muncul kontraksi yang masih jarang. Hingga keesokan harinya, sampai setelah sholat dzuhur baru kontraksi milai teratur dan sekitar jam 3 kontaksi tidak berhenti.
Tanggal 15 Januari 2022, tepat di usia kehamilan 40 minggu, pukul 15.57 WITA lahirlah bayi kami secara normal, per vaginam setelah melalui proses yang cukup panjang. Karena masih pandemi, di RS hanya boleh ditemani oleh suami. Dialah yang menjadi pegangan saya kontraksi muncul. Dia masih sempat membuat laporan kantor sambil menemani saya. Keesokan harinya kami sudah diizinkan pulang dari RS.
Dan dari sinilah peran sebagai ibu benar benar saya rasakan. Setiap hari, terasa sangat panjang. Setiap saat, berpikir ada apa lagi setelah ini. Akan belajar apa lagi dari si kecil ini setelah ini. Setiap detik, setiap waktu, setiap geraknya, setiap tangisnya, menjadi sangat berharga untuk dilewati. Begadang dan menyusui menjadi rutinitas.
Kekhawatiran menjadi ibu yang tidak berhasil, kekhawatiran malah menyakitinya, dan masih banyak kekhawatiran lainnya selalu menghantui. Hingga sampai pada satu titik yang tidak bisa saya tahan. Hanya tangis dalam diam yang bisa saya lakukan. Terkadang ikut menangis saat dia menangis. Atau diam diam menangis saat memandang wajah teduhnya saat tertidur pulas.
Sampai tiba waktunya saya harus meninggalkan dia untuk bekerja. Dia di rumah diasuh sama neneknya. Sangat sangat bersyukur memiliki mertua yang sangat supportif. Rasanya selalu ingin cepat pulang untuk melihat, menggendong, dan bermain bersamanya. Kini rutinitas sudah mulai terbentuk. Pagi hari saya susui sebelum berangkat kerja, siang hari minum ASIP dan dijaga neneknya, sore hingga pagi kembali full bersama saya.
Ya Allah, terima kasih atas segala nikmat yang Engkau berikan kepada kami. Kuatkan kami untuk menjalani peran istimewa ini. Panjangkan sabar kami dalam belajar untuk mengerti dari setiap kode yang dia berikan. Ikhlaskan kami dalam setiap tetes ASI dan peluh saat menahan kantuk karena harus menyusuinya. Dan sehatkan kami sekeluarga agar bisa selalu beribadah, mendekatkan diri kepadaMu, berjalan bersamaMu hingga berkumpul bersama di surgaMu.
Ummah sayang kamu Nak, Aisyah 😘