051 How To Not Get Fucked Up In Life
Selama 22 tahun hidup, aku merasakan bahwa sangat banyak keputusan-keputusan hidup yang tidak kupikirkan baik-baik. Adakalanya keputusan itu benar, ada pula saat di mana keputusan itu salah. Hal ini berbahaya sekali kalau benar dan salahnya keputusan itu karena “kebetulan”, apalagi kalau dampak keputusan tersebut besar dan irreversibel. Your life would be fucked, to some varying degree. Oleh karena itu aku berpikir bahwa apabila aku bisa merumuskan sebuah guidance yang bisa dipakai pribadi untuk memutuskan dengan efektif mulai dari usia 22 tahun ini, aku bisa konsisten mengambil keputusan yang optimal di sisa usiaku. Berikut adalah lesson learned yang kudapatkan untuk mengurangi peluang mengambil keputusan yang buruk.
Ini adalah grafik Decision Impact vs Time. Sederhananya, grafik ini menujukkan seberapa besar pengaruh sebuah keputusan (sumbu y, Impact Scale) yang diambil pada waktu tertentu (sumbu x, Unit of Time). Angka-angka yang tertera hanya arbitrary value saja.
Suatu keputusan yang sudah diambil pada waktu yang lebih awal akan memberi pengaruh lebih besar daripada keputusan-keputusan berikutnya yang diambil pada waktu setelahnya. Ilustrasi yang mudah dicerna adalah seperti pada pembangunan gedung bertingkat. Pada awal pembangunan, kekuatan tanah harus diukur untuk mengetahui apakah tanah tersebut mampu menahan beban bangunan bertingkat diatasnya. Kemudian ketika diputuskan untuk membangun suatu gedung bertingkat di lokasi tersebut, maka jumlah tingkat gedung tersebut akan terbatas oleh kekuatan tanah maksimal untuk menahan beban di atasnya. Keputusan pemilihan lokasi membatasi keputusan pemilihan jumlah tingkat gedung.
Sebagai contoh di kehidupan nyata, keputusan seperti masuk SMA mana, masuk universitas apa, berkarir di bidang apa, memilih partner hidup seperti apa, dan lain-lain juga demikian. Keputusan mau masuk SMA akan mempengaruhi probabilitas dalam keputusan berikutnya, yaitu tentang mau masuk universitas mana. Pilihan untuk masuk universitas mana akan mempengaruhi keputusan dalam memilih karir dan partner hidup. Pilihan SMA memiliki dampak yang lebih besar pada hidup seseorang daripada pemilihan universitas. Hal ini karena keputusan pemilihan SMA menentukan peluang dalam memutuskan universitas+karir+partner hidup. Sedangkan pemilihan universitas hanya menentukan karir+partner hidup. Impact Scale pemilihan SMA > Impact Scale pemilihan universitas.
Tentu grafik ini tidak saklek. Bukan berarti semua keputusan yang salah di waktu dulu tidak bisa diperbaiki di kemudian hari. Bisa saja, tapi lebih susah dibandingkan kalau sudah direncanakan sejak awal. Beberapa macam keputusan malah completely irreversible. So, in general, I think the curve would reasonably apply in most cases.
This should be an intuitive graph to interpret. Grafik ini sama seperti grafik sebelumnya, bedanya hanyalah pada Knowledge Scale. Ini menunjukkan pengetahuan dan pengalaman seseorang seiring dengan waktu. Cukup straightforward:semakin lama seseorang hidup, semakin banyak pula pengetahuan dan pengalamannya. Kita mulai sebagai orang yang naif dan tak tahu apa-apa dan karena asam garam kehidupan kita jadi semakin pintar dan semakin sedikit melakukan kesalahan bodoh. In fact, we also learn about how to learn more effectively, thus the graph is not linear but slightly exponential along the time dimension.
3. Deciding Without Enough Knowledge
This is the worrying part. The most significant decision is being done with the least amount of knowledge. But as you become more intelligent, not much can be done to alleviate to impact of earlier decision. Sebenarnya kalau sebuah keputusan diambil pada kondisi informasi yang belum cukup, bukan berarti ia 100% salah. Peluang benar dan peluang salahnya tetap ada dan kita tidak bisa intervensi rasio peluang tersebut karena kita tidak tahu konsekuensi penuh dan jangka panjang dari seluruh keputusan kita. Kalau keputusan kita benar walaupun informasi pada saat memutuskan masih kurang, berarti kita benar-benar beruntung karena bisa saja pada saat itu kita mengambil keputusan yang salah.
Jadi sebenarnya gap antara Decision Impact dan Knowledge secara metode grafik bisa dikurangi dengan setidaknya 4 cara:
A. Geser kurva Decision Impact ke kanan
Artinya adalah menunda mengambil keputusan hingga informasi yang kita dapatkan bisa menjadi lebih banyak
Pros: Mudah untuk dilakukan
Cons: Umur manusia terbatas. Selain itu, belum tentu penundaan itu membuat seseorang mencari lebih banyak informasi agar bisa memutuskan. Potensial untuk menjadi metode pelarian semata
Contoh: Seseorang menunda mencari partner hidup karena ia tidak tahu orang yang cocok dengannya. Menurutnya, lebih baik telat asal selamat daripada menikahi orang yang salah karena terburu-buru.
B. Geser kurva Decision Impact ke bawah
Artinya adalah membuat sebuah keputusan memiliki impact yang lebih kecil dalam hidup kita.
Pros: Tidak menunda pengambilan keputusan
Cons: Mengorbankan potensi suatu keputusan untuk mengubah hidup seseorang untuk menjadi lebih baik
Contoh: Seseorang meninggalkan karir impiannya yang bisa mengantarnya lebih cepat ke position of power karena belum ada kepastian apakah ia lolos atau tidak (risky). Kemudian ia lolos ke pilihan karir yang lebih medioker tapi lebih aman dan ia memilih untuk settle di karir tersebut.
C. Geser kurva Knowledge ke kiri dan/atau ke atas
Artinya adalah mencari pengetahuan dan pengalaman sebelum ia benar-benar dibutuhkan.
Pros: Beban berpikir bisa dicicil dalam rentang waktu yang lebih lama
Cons: Seringkali butuh investasi sumber daya waktu yang tidak sedikit. Waktu tersebut sebenarnya juga dibutuhkan untuk mengerjakan sesuatu yang lain yang lebih berguna here and now daripada masa depan yang belum pasti dan masih di awang-awang
Contoh: Seorang mahasiswa mau menjadi menteri. Maka ia pada saat berusia 22 tahun meminta seorang mantan menteri 3 rezim untuk mengajarinya cara konsolidasi kekuatan di faksi-faksi berbeda yang ada di Indonesia setiap Jumat siang di kampus karena mereka kebetulan sealmamater
D. Perbesar “gradien” kurva Knowledge
Artinya adalah mempercepat proses pembelajaran diri.
Pros: The most effective way to get ahead in life. Tidak membutuhkan investasi waktu sebanyak metode C (walau sebagai kompensasi penghematan waktu, investasi tenaga dan pikiran menjadi lebih banyak).
Cons: The hardest way to get ahead in life. Tidak semua orang mampu. Sangat membebani working memory capacity karena volume informasi yang harus diproses oleh otak menjadi lebih banyak untuk tiap satuan waktu.
Contoh: Seorang mahasiswa ingin menjadi pemimpin Indonesia. Oleh karena itu ia perlu menjadi orang yang sangat well-rounded di kampus. Menjadi ketua himpunan, menang lomba paper ilmiah, mendirikan organisasi non-profit, menjadi Mapres, menjadi Presiden BEM sekaligus. Semua pengetahuan dan pengalaman yang ia dapat dalam rentang waktu 5 tahun dengan kerja keras setara dengan pengetahuan dan pengalaman 3 orang biasa selama 4 tahun (Time saving factor: 12/5 = 2,4).
That being said, those were my lessons learned.