From Sempu with Love 2.
Melanjutkan dari tulisan awal.
Rasanya aku tidak adil kalau hanya membela alam tanpa mengamati keadaan sosialnya. Aku mengamati keadaan, mencoba membayangkan isi kepala mereka, mendengarkan sedikit saja sudah aku temukan praduga walau kadang tidak tepat.
Kurang lengkap rasanya memang bicara soal alam tanpa melibatkan sosial masyarakat dan ekonominya. Rasanya tiga itu melakukan interaksi paten, akhirnya tidak bisa dipisahkan. Kadang aku ingin jadi detective conan, kadang juga Sherlock Holmes, aku ingin cerdas. Tiga pilar itu tidak lepas dari kawasan Pulau Sempu. Cagar alam ini mengalami polemiknya. Sekitar 4 – 5 tahun lalu Pulau ini benar-benar salah satu destinasi wisata terusan dari Pantai Sendang Biru. Memangnya boleh? Yaaaaa tetap saja pengunjung illegal namanya. Wisata ini membutuhkan biaya yang agak banyak, mulai dari biaya penyebrangan yang berkisar 100rb sampai 130rb pulang pergi atau keliling pulau lewat laut, belum lagi biaya tourguide yang berkisar 150rb satu harinya. Masyarakat mengakui pendapatannya lumayan mengandalkan wisata ini.
Sekitar tahun 2016 - 2017, Pulau Sempu sangat ramai sekali diperbincangkan. Sebetulnya sudah sejak sebelum itu, pulau ini mendapat perhatian soal banyaknya pengunjung dan sampah. Kalau boleh jujur, dulu aku juga pengen berwisata kesana tapi belum kesampaian sampai tau lebih dalam soal status kawasan dan fungsinya. Pada tahun itu, pulau ini mendapat perhatian khusus terlebih pengajuan oleh banyak pihak soal penurunan status kawasan menjadi taman wisata alam pada beberapa titik, tudingan miring pendapatan dari Pulau Sempu, oknum-oknum dan lain-lain. Membaca pula penelitian, soal pembukaan kawasan menjadi wisata. Baru kemarin aku konfirmasi kebenarannya. Semua masalah sudah clear, sudah terselesaikan dengan baik, walaupun beberapa pihak masih kurang puas pada keputusan Balai Besar KSDA Jawa Timur Th. 2017 soal penutupan Pulau Sempu dengan tegas dilarang untuk aktivitas wisata. Benar, kalau dilihat kondisinya aku cukup prihatin dan merasa betapa tersiksanya masyarakat sekitar ini. Warung-warung sepi, berebut dibeli barang dagangnya saat didatangi, kapal penyebrang berharap untuk penumpang, nelayan berharap cuaca baik dan ikan bersahabat, aku menulis ini sambil mengingat kondisi mereka sedikit terharu.
Pulau Sempu berbatasan langsung dengan Pantai Sendang Biru. Pantai ini adalah pantai terbaik pada jaman silam lalu, sebelum dibukanya jalur lintas selatan di Malang Selatan yang akhirnya membuka banyak pantai yang lebih menarik dari pantai Sendang Biru. Layak, pantai ini sekarang sangat sepi. Ada dua kemungkinkan pengunjung datang ke pantai ini 1) mau beli ikan segar di TPI, 2) mau menyebrang ke Waru-waru (pinggiran pulau Sempu) atau masuk kawasan Pulau Sempu. Tak banyak yang aku perbuat waktu aku tau banyaknya pengunjung ke Waru-waru, aku tidak seberani itu juga belum sepatutnya wewenangku. Pantai ini sekarang sangat sepi, kumuh, kapal-kapal semakin membeludak ke pinggiran pantai karna pelabuhan tidak muat. Bahkan menyedihkan lagi, kapal harus parkir sementara atau jangka lama di pinggiran pantai Pulau Sempu. Walaupun pinggiran, tapi tetap masuk dalam kawasan cagar alam Pulau Sempu. Tapi, aku yakin petugas juga tidak ada setega itu kepada masyarakat jadi kelonggoran sedikit diberikan.
Ada dampak yang ditimbulkan dari parkiranya beberapa kapal ini, pertama, jangkar mereka yg parkir akan merusak adanya terumbu karang di pinggiran pantai sehingga ikan jadi sedikit karna terumbu karang rumah ikan jadi rusak; kedua, kawasan pantai jadinya kotor dan kumuh oleh sampah nelayan dan sampah pengunjung sementara; ketiga, mereka parkir di kawasan yang dihuni satwa alhasil satwa pun pergi mencari tempat baru yang lebih aman dan menjauh dari kebisingan nelayan; keempat, mereka biasanya mengambil sebagian kayu yang kecil dengan menebang pohon disana untuk kebutuhan kapal; kelima, sampah, oli, minyak dll akan mencemari air pantai ketika mereka juga melakukan pembenahan disana; keenam, dan lain-lain.
Ada yang lebih pelik lagi, ketika bicara dengan tokoh masyarakat yang berbeda pandangan dengan perangkat desa. Ketika ngobrol dengan perangkat desa dan petugas, mengatakan sangat terbantu dengan adanya Pulau Sempu yang mampu menghalau gelombang tinggi, mampu menciptakan iklim mikro bagi sekitar kawasan, udara yang lebih berkualitas juga. Namun, rasanya sakit ketika berdialog dengan tokoh masyarakat yang sangat mengharapkan penurunan status kawasan. Mereka berpendapat ketika saya mengkhawatirkan soal kerusakan ekologis jika dilakukan pembukaan kawasan untuk wisata, kata mereka tidak akan ada yang rusak kalau itu dibuka sebagai tempat wisata, malah lebih baik karena ada pengelola. Lagi, ku khawatirkan soal sampah pada mereka, jawabnya adalah sampah masih bisa dibersihkan kan ada pengelola sebagai penanggung jawab. Ku tanyakan lagi, khawatirku soal kerusakan ekologis karena pembukaan jalan untuk akses wisatawan, jawabnya dengan santai “itukan jalan setapak, paling cuma satu sampai dua meter tidak berdampak banyak”. Harus aku katakan, aku sedih dan prihatin. Pengetahuan masyarakat soal ekologis, hutan, dampak kerusakan hutan sangat kurang. Kalau dengan jahat aku katakan, tak perduli apapun itu kondisi hutan, yang penting aku ikut dapat uang. Tapi aku pikir lagi mereka tidak sejahat seperti itu.
Tidak salah mereka juga kalau mereka mengharapkan pulau ini jadi pulau wisata. Iya, sebanyak 2169 warga desa mengandalkan hidup akan penghasilan dari ikan di laut. Sedangkan ikan di laut sangat bergantung akan iklim, cuaca, dan alam. Sekitar bulan Desember sampai Maret adalah bulan dimana ikan susah didapat, paceklik kalo orang Jawa bilang. Musim hujan berkelanjutan, badai dilaut, fenomena alam menurutku juga penyebab ikan susah didapatkan pada bulan-bulan ini. Jadi? Ya otomatis penghasilan masyarakat menurun drastis, kebutuhan hidup yang tetap tinggi namun penurunan penghasilan? Bisa kalian bayangkan sendiri. Aku jadi terbawa suasana melihat kondisi nelayan saat ini, harus dapat uang darimana lagi kalau tidak melaut? Melautpun harus berebut ikan dengan sekian banyak nelayan lain. Belum lagi, musim hujan begini pengunjung pantai sepi sekali.
Menyayat lagi, ketika aku ngobrol dengan mereka, berkali-kali mereka katakan ke aku untuk membantu mereka “buatlah proposal yang bisa ampuh tembus ke menlhk, biasanya mahasiswa kan pro rakyat”. Apa daya aku cuma bisa tersenyum saja, benar seharusnya mahasiswa harus pro rakyat tapi juga tidak harus berselisih dengan pemerintah. Menurutku, mahasiswa jembatan harusnya berada di tengah, dimana harus pro rakyat, pro pemerintah, mengkritisi tapi memberi solusi yang bisa meringankan semua pihak.
Ada satu yang harus aku ceritakan juga, kalau Pulau ini sudah pernah melakukan beberapa perubahan kebijakan seperti; membatasi jumlah pengunjung yang datang seperti satu harus sekian tapi hal ini malah berdampak buruk dimana pengunjung sangat membeludak dan sampah tidak bisa dibendung; kemudian kebijakan beralih menjadi keliling pulau Sempu via perairan tapi ini tidak berjalan lama, karena tetap saja banyak pengunjung yang tetap ngotot masuk kawasan pulau. Menyedihkan.
Yang aku tekankan dari sini adalah dimana kondisi masyarakat yang perekonomiannya kurang baik, ditambah pengertian akan hutan, lingkungan kurang, namun harus mencari nafkah melalui jasa lingkungan. Harusnya ada solusi dari ini, aku juga belum dapat solusi akan ini, bantu saya kalau mau. Hanya satu cara bagaimana, dimana semua stakeholder yang ada disekitar pulau harus bergandeng tangan dengan satu visi dan misi yang sama, yakni menjaga cagar alam Pulau Sempu tanpa penurunan status kawasan. Menurutku kembali, para petinggi atau kepala instansi harusnya saling berkoordinasi terlebih dulu sebelum menyerahkan tugas dan mandat kepada petugas lapangan karena apa? Hal ini akan terjadi ketika peletakan suatu himbauan atau banner atau kepentingan pencegahan yang diletakkan pada wilayah kerja beda instansi akan menimbulkan pertikaian. Iya, karena petugas lapangan beda instansi tersebut tidak menerima mandat dari atasan, sehingga menjadi alasan kuat larangan dan properti lainnya tidak bisa di pasang. Menurutku lagi, ketika semua stakeholder bertemu kemudian membicarakan soal solusi untuk ini, penting melibatkan dinas sosial dimana masyarakat seharusnya diberi bekal untuk lebih kreatif menciptakan usaha baru. Sehingga, ketika mereka sedang dalam kondisi susah mendapatkan ikan, masih punya simpanan yang lain sebagai penambah penghasilan.
Sosialisasi kembali kepada masyarakat betapa pentingnya peraturan ditegakkan, jikalau kita hanya kritisi kepada pemerintah yang melanggar peraturan bagaimana dengan kita yang juga ikut melanggar peraturan ini?. Menurutku, menjaga Pulau Sempu dari jauh kurang efektif memang, kalau bisapun rasanya aku ingin marah-marah kepada setiap pengunjung atau kepada jasa perahu, jasa pemandu. Tapi tidak secepat itu, kalau aku harus marah-marah aku harus cari dulu solusi untuk mereka. Jadi, aku dan teman-teman berfikiran adalah menyadarkan para wisatawannya terlebih dahulu, menyarankan untuk berhenti mengunjungi Pulau Sempu tapi silahkan mengunjungi pantai dan pulau yang memang diperuntukkan wisata. Padahal di Malang sudah banyak pantai berjajaran.
Maukah kamu membantu kami? Menjaga pulau ini dari jauh, karena hanya satu-satunya ini yang tersisa di Kabupaten Malang, tempat tinggalku.
Karena “Satu-satunya menjaga cagar alam Pulau Sempu adalah dengan tidak mengunjunginya”.
Sekian, thx u.
F.









