Terkadang kita tak sadar sedang ditunjukkan sebuah tanda-tanda yang menjadi petunjuk untuk melangkah memilih keputusan oleh Allah, entah melalui kejadian yang terjadi, atau melalui pertemuan yang tak pernah diduga.
Kemarin saya memutuskan secara mendadak untuk pulang ke rumah setelah mendapat mandat âudah dek pulang ajaâ ketika saya bilang selesai rapat di luar kota tanggal 24, kalau kata-kata tersebut meluncur dari Ibuk, saya akan selalu berusaha bagaimanapun caranya untuk pulang walaupun mengandung resiko. Jackpotnya, kemarin adalah long weekend dan resiko tidak mendapat tiket kereta untuk kembali ke Surabaya adalah 99% (karena saya belum pesan tiket sebelumnya). Benar saja, sampai di rumah saya cek tiket dan semuanya 0 seat. Ada kereta tambahan, tapi pagi. Saya selalu ngga rela kalau harus pulang pagi dari rumah. Tapi dalam hati kecil saya yakin pasti ada jalan. Yaaa.. paling buruk harus beli tiket pagi mau ngga mau.
Refresh. Refresh. Mantengin aplikasi dari habis subuh sampai sekitar jam 10.
Ajaib. Tiba-tiba ada tiket kereta Mutiara Selatan yang saya idamkan dengan 2 seat. Tanpa pikir panjang langsung saya booking.
Apa yang sulit bagi Allah membuat hal mustahil menjadi nyata?
Kereta berangkat jam 16.30, dan saya sudah di stasiun jam 16.04. Ibu adalah orang paling menyebalkan kalau 1 jam sebelum boarding belum ada di perjalanan menuju stasiun, karena tau saya malas menunggu dan hobi berangkat mepet. Tapi untuk urusan kereta, saya sudah kapok ketinggalan kereta dulu di Jogjakarta dan berujung naik travel terus dimintain nomer hp nya sama yang punya travel. Ngga lagi deh, horor.
Setiap perjalanan sendirian, saya selalu pakai masker dan selalu berharap bisa tidur nyenyak tanpa diajak ngobrol. Ya, ini pilihan. Tapi perjalanan kemarin berbeda.
Qadarullah, saya bertemu dengan seorang dokter gigi lulusan kampus sebelah, yang asalnya dari Aceh. Mbaknya cantik, ramah, dan baik. Saya ditanya lebih dulu (ya gini, saya selalu memilih untuk tidak memulai pembicaraan). Yang pada akhirnya membawa kami pada pembicaraan panjang dari kereta belum bergerak sampai berhenti di Stasiun Gubeng. Perjalanan kemarin serasa hanya 30 menit.
Banyak sekali cerita tentang kehidupan dokter gigi di dunia nyata (ps: ternyata koas bukan dunia nyata) yang belum pernah saya dengar sebelumnya.
Kehidupanmu sesungguhnya baru akan dimulai setelah sumpah. Nanti kalau sudah praktek harus selalu dengarkan semua keluhan pasien, walaupun kadang ceritanya itu bukan tentang gigi. Walaupun hati dan badan udah capek, tapi mendengarkan curhatan pasien itu penting. Senyum aja dengerin sampai selesai.
Sebuah pesan yang ia tekankan ke saya waktu itu sambil cerita kalau sering ada pasien yang cerita tentang pernikahannya di rumah, padahal waktu itu mbaknya sendiri lagi patah hati karena cinta.
Mostly cerita kami tentang kehidupan perkoasan yang ternyata emang sama aja masalahnya dari dulu sampai sekarang, juga tentang menangani kasus di pasien. Dan mbaknya ini ternyata sudah pernah ambil PTT. Whoah saya sih selalu kagum banget sama dokter gigi yang sudah PTT, pengalamannya ini beda banget kalo dibandingin sama dokter gigi yang praktek di klinik kota besar. Karena banyak kasus di daerah pedalaman terkadang yang di luar ekspektasi kita, juga tuntutan tanggung jawab yang lebih besar. Kalau di sana belum ada dokter umumnya, ya mau ngga mau harus bisa memberikan solusi kalo tiba-tiba yang dateng keluhannya umum seperti batuk pilek. Bahkan katanya dia pernah sampai visum karena dokter umumnya waktu itu ngga ada di tempat. Ini loh alasannya kenapa kami para dokter gigi juga belajar anatomi lengkap, fisiologi lengkap, farmakologi lengkap, yang kadang sering di komentarin âNgapain kok belajar materi kedokteran umum juga?â
Jadi dokter gigi itu harus serba bisa.
Dulu mbaknya juga pernah kerja di puskesmas. Kerja di puskesmas itu juga tantangannya besar. Biasanya pasiennya banyak dan kasusnya macem-macem. Waktu dulu mbaknya kerja di puskesmas, katanya semua permasalahan manajemen keuangan dilimpahkan ke dokter gigi. Padahal pagi kerja pasien yang sehari bisa sampai 40 pasien dengan jam kerja puskesmas (Well sebagai gambaran, kalau sesuai prosedur melakukan perawatan 1 pasien harusnya kurang lebih 1 jam baru selesai untuk kasus sederhana. Jadi, bayangin aja pusing ngatur waktu sama manajemen perawatannya gi mana). Sering saya temui memang banyak kepala puskesmas sekarang itu dokter gigi. Haha karena udah biasa banyak tekanan dan tuntutan kali ya, jadi udah kebal.
Dan ternyata bayangan saya tentang tidur nyenyak setelah koas adalah fana.
Saya ngga bisa tidur dek kalo habis cabut gigi pasien dengan komplikasi. Pasti saya pesen ke pasien buat telfon saya kapan pun kalau ada keluhan. Dan waktu itu jam 1 malam saya ditelfon kalau pasien mual-mual dan gemetar hebat setelah cabut gigi terus dibawa ke UGD. Untungnya ngga papa.
Ya, itu bisa jadi karena efek obat anestesinya dan kondisi pasien yang takut, jadi stress. Kepikiran dan stress akan sesuatu dampaknya ke tubuh itu emang sangat hebat daripada cuma terserang bakteri atau virus.
Beberapa pesan yang juga disampaikan kepada saya benar-benar mengena.
Dokter itu beda-beda dek. Ya ada yang tega ada yang engga. Kalau ada yang ngga mampu ngga mungkin kan kamu paksa bayar penuh. Yang penting, kasih pilihan perawatan terbaik dan sesuaikan dengan kondisi pasien. Komunikasikan dengan baik, tawarkan segala kemungkinan. Kamu harus mikir. Sering kondisi pasien yang datang itu ngga sesuai sama ilmu teori di kuliah. Dan apa yang ada di koas itu cuma beberapa persen aja. Harus kreatif dan solutif. Kamu pasti bisa. Ayo diselesaikan koasnya, semua pasti terlalui. Kalau pengen ambil spesialis langsung ambil aja dek sebelum terbebani sama tanggung jawab perawatan pasien, kasian kalau harus ditinggal-tinggal kuliah.
Jangan pernah meninggalkan duha dan tahajjud dek. Itu kunci utamanya. Pertolongan Allah itu satu-satunya. Pasti ada jalan kok, pasti kuat.
Menulis ini rasanya berat sekali, sambil menghela napas panjang dan menutup mata. Entah mengapa Allah begitu baik mempertemukan saya dengan mbak ini. Waktu denger nasehatnya, mata saya berkaca-kaca. Mengingat requirements saya yang belum selesai.Â
âMbak emang kalau mau ambil spesialis pengen spesialis apa?â
âKonservasi hahaâ
âIh aku pengen itu juga mba. Tapi kok bosen ya kalo di UNAIR, pengen ke Unpad. Yang bagus di mana mba?â
âKatanya UNAIR dek, udah UNAIR aja.â
Akankah saya termakan omongan diri sendiri lagi setelah sebelumnya bilang ngga mau kuliah di Surabaya? Hahaha udah deh jangan pernah bilang ângga mauâ  karena takdir Allah itu ngga kamu ketahui dan yakin deh selalu indah.
Akhirnya kami berpisah di pintu keluar dengan pikiran saya yang melambung jauh, ingin segera menyelesaikan ini semua dan menuju target hidup selanjutnya.
Sebelum bertemu dengan mbaknya ini, saya juga baru saja mendapat DM di instagram menanyakan bagaimana caranya saya bisa masuk FKG, bagaimana dulu saya memilih FKG UNAIR, dan bagaimana cara saya belajar⊠Ternyata, sudah musim mau pilih jurusan lagi yaâŠ
Ditanya kayak gitu, bingung juga jawabannya, semua kayak terjadi begitu aja, padahal waktu kecil bilang ngga mau jadi dokter dan ngga mau kuliah di Surabaya. Hadza min fadhli robbiâŠ
Sebelum ini juga, barusan saja dalam minggu ini juga sering ditanyain tentang koas. Koasnya gimana, rasanya gi manaâŠ
Dokter gigi adalah perpaduan yg sempurna antara kecerdasan, kecantikan, keperkasaan dan tenaga seperti kuli.
-Andrea Hirata
Serius kayak kuli, apalagi kalo masih jadi âdek koasâ. Bawanya tiap hari toolbox yang sering dijual di ac* hardwar*, isinya diagnostic kit, tang, bur, gipsum, alginat, malam, brander, spirtus, dll.
Beruntunglah ia yang bisa memikat hati seorang dokter gigi.
Kami sudah biasa bawa barang-barang banyak kalau ke kampus, sudah biasa antar jemput pasien anak, sudah biasa di php pasien, sudah biasa dimaki dosen, sudah biasa dikeluhin pasien, sudah biasa cari cara terkreatif mungkin untuk menyelesaikan requirements, dan sudah sudah yang lain.
Ngga kok, ini bukan iklan promosi.
Ps: Please let me know kalau ada pertanyaan mengenai kuliah FKG dan dunia perkoasan gigi, saya akan berusaha menjawab semampu yang saya bisa.
Maafkan postingan kali ini sangat panjang. Semoga ada hikmah yang bisa diambil dan menguatkan bagi siapa saja yang membacanya, terutama teman sejawat dan dek koas lainnya.
Surabaya, 27 Desember 2017 ; 6.56 AM
Ternyata sudah tinggal menghitung hari menuju tahun berikutnya. Kamu sudah melakukan kebaikan apa?