Memproses Sebuah Kehilangan
Kedukaan, atau grief, jarang sekali aku rasakan dalam bentuk kehilangan seseorang yang signifikan. Sudah 25 tahun berlalu sejak meninggalnya almarhum adik, itupun rasanya tidak jelas bagaimana aku bisa melalui proses berduka itu. Sebagai anak usia 6 tahun, kedukaan saat itu aku ekspresikan dengan penolakan sekolah selama satu minggu penuh, dan rasa takut mengalami kehilangan berikutnya yaitu kehilangan mama usai melihatnya secara langsung mengalami pendarahan yang sangat banyak. Kurasa kejadian ini juga belum aku proses dengan baik karena masih ada luapan-luapan emosi yang muncul hingga saat ini. Kejadian ini mengingatkanku untuk memproses segera terutama ketika momen berduka ini muncul kembali.. yaitu ketika Aki tiada.
Aki, begitu aku memanggilnya, adalah panggilanku untuk kakek dari pihak mama. 24 Maret lalu, tidak lama setelah adzan maghrib berkumandang, aki berpulang ke Rahmatullah setelah sakit berkepanjangan selama satu tahun penuh, tepat saat akan diajak shalat maghrib berjamaah. Sebetulnya sejak aki sakit setahun lalu, aku tau bahwa cepat atau lambat aki pasti akan berpulang, tapi aku tidak pernah menduga secepat ini, tidak pernah menduga bahwa aku akan ada disitu, melihat bagaimana saat-saat setelah aki pergi..
Aku mengingat Aki sebagai sosok yang hangat dan dekat. Kami sekeluarga cukup sering mengunjungi aki, begitupun sebaliknya aki yang datang ke rumah kami saat kami terlalu sibuk hingga lupa berkunjung. Aki sering bertelepon ke rumah, begitu juga aku dan teteh yang sering menelepon aki setiap kali kami punya kabar baik untuk diceritakan atau peristiwa penting untuk minta didoakan. Aki selalu menyambut telepon kami dengan berkata “Suara dari surga” hingga usia kami dewasa. Rasanya begitu hangat, karena kami seakan-akan jadi orang yang begitu dirindukan dan diinginkan. Kenangan ini begitu membekas, karena di usia remajaku yang rebel dan seringkali dianggap negatif oleh sekitar, aki jadi salah satu sosok yang membuatku merasa berharga dan menerimaku apa adanya.
Aki, seperti layaknya hubungan seorang kakek dan cucu, adalah sosok yang penuh perhatian. Tidak pernah melarang, selalu memberikan apapun yang diinginkan. Perhatian, kasih sayang, kebebasan bahkan pengalaman yang bisa jadi tidak didapatkan dari orangtua. Aki yang pertama kali memberi izin untuk membeli komik saat mengajak kami ke Gramedia. Aki yang membelaku dan bangga sekali padaku saat terpilih masuk sekolah yang aku inginkan. Aki yang mendukung setiap pilihan hidupku. Aki yang membela dan selalu menjadi penengah antara aku dan papa yang sama-sama keras kepala, saat aku ingin menikah dengan lelaki yang aku pilih. Aki yang selalu antusias dan mendengarkan dengan seksama setiap cerita yang aku utarakan.. Bahkan dari aki aku belajar untuk hadir utuh saat mendengarkan. Tak ada topik yang tidak bisa aku ceritakan dengannya, aki selalu bisa mengikuti tempo dan mengerti topik pembicaraan yang aku utarakan. Dengannya aku merasa didengarkan, dengannya aku merasa dihargai dan diperhatikan. Rasanya gap usia tidak terasa saat sedang bicara bersama aki, kecuali di masa sakitnya setahun ke belakang, karena aki hanya banyak mengaduh dan diam.
Aki juga sosok pekerja keras dan teladan. Di masa produktifnya bekerja di Dinas Pendidikan, entah berapa banyak orang yang aki sekolahkan, aki bantu proses pemilihan sekolahnya, dibiayai bahkan diangkat sebagai anak asuh. Pasca aki pensiun, aki memilih terus bekerja mengelola yayasan kematian di Bandung. Masa kecilku banyak dihabiskan dengan naik ambulans dan mobil kijang legend milik aki, baik itu diantar ke atau dijemput dari sekolah, ikut ke kantor aki dan melihat-lihat isi keranda dalam ambulans yang kosong sambil membayangkan cerita-cerita seram ala anak kecil.. Teringat jelas juga sosok aki yang dulu sering duduk di meja besar di ruang tengah, duduk di depan mesin tik, mengetik ini itu. Mengerjakan surat dari yayasan, atau mengetik surat keperluan masjid. Memang hingga akhir hayatnya aki masih menjadi bendahara masjid, meski dibantu mama setahun ke belakang. Aki yang menghitung jumlah kencleng masjid, aki yang membuat anggaran dan menyalurkannya, begitu seterusnya hingga aki tiada. Teringat juga bagaimana di 5 tahun terakhir sebelum aku menikah, hampir setiap tahun aku dan teteh membantu aki menghitung kencleng tarawih, yang jumlahnya tentu tidak sedikit dan tidak mudah untuk dikerjakan orang seusia aki. Tapi aki mengerjakannya dengan ikhlas, dengan hati senang, seraya mencontohkan pada kami bagaimana usia tidak menghalangi diri untuk melakukan kebaikan dan menuntaskan kewajiban.
Aki, juga sosok penyambung silaturrahim. Dari tahun ke tahun, aki selalu mengajak untuk bertemu keluarga yang kadang aku tidak paham apa hubungan kekerabatannya. Saat aku dan teteh travelling ke Singapore pun, aki meminta kami bertemu dengan salah satu anak asuh aki, yang hingga kini masih terjalin baik silaturrahimnya. Aki mengajarkan dengan teladan bahwa di saat apapun, keluarga itu tetap yang paling utama dan harus diutamakan. Tapi di saat yang sama, aku menyaksikan juga aki yang sangat besar hati, sangat memahami bahwa anak-anak dan cucunya kian hari kian sibuk. Aki tidak pernah memaksa pun menuntut keluarga untuk datang, tapi akan tampak sangat riang ketika kami akhirnya datang dan menemuinya. Di saat-saat terakhirnya pun, aki tidak ingin merepotkan siapapun, tapi terasa sekali bagaimana ia bahagia ketika kami datang menyuapi dan menemaninya.
Aki bagiku adalah definisi sosok tulus dan perhatian, yang tak lepas mendoakan orang-orang yang disayanginya tanpa mengharap balasan dari siapapun. Aki adalah pejuang yang mandiri, selalu berupaya berdiri di atas kakinya sendiri dalam situasi apapun. Aki adalah tentara terpelajar, yang selalu meningkatkan kemampuan diri dengan pengetahuan terkini dan keterampilan. Aki adalah muslim yang taat, pasangan yang setia, ayah yang gigih, kakek yang penyayang, teman bercerita yang menyenangkan, pekerja yang bertanggungjawab, atasan yang perhatian, dan pembelajar yang teguh. Kepergiannya mengajariku begitu banyak hal.
Kenangan-kenangan ini juga tentu hadir bersama penyesalan.. kenapa tidak lebih banyak waktu yang kuhabiskan bersamanya sejak menikah, kenapa aku tidak banyak bertelepon dan bercerita lagi seperti dulu, kenapa aku belum menyelesaikan ceritaku pada aki, kenapa begini dan begitu.. tapi kalau menghitung waktu, rasanya memang tidak akan pernah cukup, akan selalu terasa kurang. Semoga perlahan aku bisa menghilangkan penyesalan-penyesalanku dan lebih menghargai momen-momen terbaikku bersamanya :)
Salah satu momen favoritku di masa sakitnya aki. Menyisir rambut aki, menyikatinya dengan brush, sambil menemaninya berjemur dan membaca koran.
Bila mengingat saat-saat terakhirnya, rasanya Allah begitu menyayangiku dengan segala ketetapan-Nya.
Allah masih memberiku waktu untuk bersama aki sebelum aki pergi. Aku masih sempat mendengar aki memanggil namaku dalam lirih satu hari sebelum kepergiannya, samar-samar aku merasa aki senang dengan kehadiranku meskipun saat itu aki merintih kesakitan. Aku masih Allah beri kesempatan untuk menyuapinya air madu walaupun sedikit sekali, karena saat itu aki sudah kesulitan menghisap air dengan sedotan.. aku masih diberi kesempatan mengusap dan membalur punggungnya. Aku masih merasakan aki menjulurkan kakinya padaku di hari terakhir hidupnya, seakan-akan meminta untuk menemaninya disitu, memijatinya kakinya yang mulai dingin di saat-saat terakhirnya. Aroma kayu putih yang memenuhi tanganku saat itu, akan terus mengingatkanku pada aki..
Rasanya Allah juga begitu sayang padaku, tidak memperlihatkan detik-detik kepergiannya di depan mataku, karena mungkin aku tidak akan sanggup jika melihatnya secara langsung. Allah menunjukkannya dengan begitu halus, dengan insight yang datang perlahan setelah mengecek nadi yang tidak teraba, setelah melihat dada yang begitu tenang setelah sebelumnya tersengal.. Rasanya Allah begitu sayang padaku, memberiku kesempatan mengecup dan mengelus rambutnya setelah yakin ia tiada, seraya tersenyum karena satu-satunya yang terpikir olehku: “Insya Allah kami akan bertemu lagi nanti”. Rasanya Allah juga begitu sayang padaku, memberiku kesempatan menyaksikan dengan mataku sendiri bagaimana aki tampak begitu tenang dan nyaman pasca kepergiannya. Aki seperti sedang tertidur nyenyak di kasurnya seperti biasanya, tapi kali ini dengan muka bersih bercahaya..
Menuliskan ini, ternyata rasanya berat tapi melegakan. Aku perlahan jadi mengetahui kenapa kehilangan sosoknya terasa begitu berat, tapi aku pun bersyukur akan kehadirannya. Aku bersyukur karena ia memberi kehangatan yang kala itu tidak aku dapatkan. Aku bersyukur dipertemukan dengan sosoknya yang patut menjadi teladan.
Aki.. Semua momen kita bersama akan terus aku ingat sebagai kenangan indah, yang membentukku menjadi pribadiku saat ini. Aku mungkin masih akan menangis sesekali saat mengingatmu, tapi aku juga akan tersenyum setelahnya karena meyakini: insya Allah kita akan bertemu lagi. Selamat jalan, Aki. Kembalilah pada-Nya dengan hati yang tenang, aku sayang sekali sama aki :)