Fantasia mimpi, keluarga manusia dan soal membagi yakin
Hi fellas, here we go again
Kadang rasanya ingin terus terpejam lama yaaaaaa, asyik dengan mimpi yang sambung sinambung seolah tak ada ujungnya, pernahkah kamu?
Kadang kita bisa menjadi pahlawan super yang mampu menumbas seribu kejahatan dengan sekali jejakan kaki ke bumi, garang, penuh amarah kebaikan, haha (aku sendiri belum pernah memimpikan itu, mungkin itu kamu hehe)
Kadang kita kepayahan dikejar-kejar masa lalu. Berusaha bersembunyi di tempat paling tersembunyi, namun akhirnya ditemukan lagi, lelah sekali namun belum waktunya bangun dari mimpi. Sungguh bukan sesuatu yang menyenangkan. Bahkan kadang mimpi itu membuat kita meraung dan menangis sesengukan hingga kita terbangun dan meneruskan tangis itu meski alasan tangisannya sudah mulai memudar saat kita tersadar. Maaf bila itu juga kamu.
Mimpi dan fantasinya, takut sekali rasanya bila yang buruk itu benar-benar terjadi. Namun, bahagia sekali rasanya bila itu hal paling baik untuk kita
huft
Aku sendiri adalah orang yang sering tersesat dalam mimpiku sendiri. Bahkan ada mimpiku yang masih kuingat jelas. Ini adalah mimpi soal sebuah rumah, di sana seolah aku akan pindah. Rupa, bentuk, warna, jendela, gerbang dan tanaman belukar yang menghiasi rumah itu pun masih jelas diingatan. Sebenarnya bukan mimpi yang buruk, namun aku tak suka suasananya, mendung..
Mungkin kalau aku bermimpi lagi, aku akan mencoba bertanya kepada siapa pun dalam mimpiku “itu rumah siapa?”. Hmm, mungkin akan kuhadirkan juga matahari dan pelangi supaya jadi tak terlalu mendung dan sendu. Hanya saja, itu mimpi beberapa tahun yang lalu, dan aku tak pernah memimpikannya lagi. Pernahkah kamu?
Selesai dengan mimpi, adalah keluargaku yang ingin kuceritakan kepadamu
yap, keluargaku masihlah keluarga manusia,
yang masih amat sangat mungkin silih bergantian membuat luput dan salah yang tak disengaja pada diri masing-masing.
Dulu saat aku kecil, aku sangat benci dibilang teledor, tidak cekatan, tidak peka dan mudah ngambek.
Saat ini, kulihat diriku memandangi adikku yang kelupaan membawa buku pinjaman ke sekolahnya. Aih, aku tadinya ingin kesal dan memarahinya. Namun, tiba-tiba ada yang mengetuk kepalaku, nurani.
Hal ini kurang lebihnya bukanlah hal yang menyebalkan dan harus diturunkan lagi. Hal ini hanya menjadi sebuah pencerahan di siang bolong. Bahwa keluargaku adalah keluarga manusia. Hehe sama sepertimu ya!
Akhirnya, rasa kesalku pun terbang bersama angin kencang selama aku ngebut kembali ke rumah dan meminta adikku mengambil bukunya lagi... dan kami pun kembali ke sekolah (lagi). Tanpa kesal yang sudah terbang terbawa angin tentunya, hehe.
Trilogi terakhir, dari 3 topik isi kepalaku hari ini!
Membagi Yakin
Kamu tipe yang mana? mudah menceritakan banyak hal kepada orang-orang di sekitarmu? atau tipe yang harus dekat erat dulu, dan baru bercerita bila ditanya?
Ah, senangnya jika kamu menjawab. Karena tak ada jawaban yang kuberi nilai nol untuk pertanyaan itu.. Lagi pula kamu jawab saja dalam hati, mana bisa aku dengar, hahaha
Aku tipe yang mana? hmmm sebenarnya tidak keduanya. Aku hanya butuh suasana yang mendukung dan aku terbuka untuk becerita pada siapapun, apalagi nantinya jadi didoakan, waah seperti dapat bonus hal baik!
Mungkin akan sulit bila itu adalah sesuatu yang sedang kita perjuangkan. Kalau berhasil kita takut dianggap sombong, kalau gagal kita takut akan presepsi orang terhadap kita dan takut pula dibicarakan di belakang..
Iyaa, tak apa bila jadi kuatir akan dampak bercerita.
Namun kurasa, yang dibagi yakin juga akan sangaat bahagia. Karena rasanya dipercaya itu tiada duanya loh.
Untukmu yang masih sulit membagi yakin
cobalah membaginya selagi sempat, sungguh kusarankan :)
Selamat mengerjakan revisi sebelum sidang ngi! cayoo cayooo~
maafkan kerandoman ini :”)










