Dalam pertemanan aku rasa selalu gagal. Aku selalu berada di buffer zone antara dia dengan dia, mereka dengan mereka. Aku tidak pernah berada di satu sisi, dan merasa harus bersikap netral.
Memasuki 20-an awal, aku menarik memoriku. Nyatanya diantara mereka tidak ada yang pernah benar-benar bersamaku selama itu. semelekat itu. Tidak seperti kawan sekolah dasar hingga menengahku yang lain.
Aku pernah memaksakan kemelekatan itu, aku paksakan membangun rumahku dengan kawanku. Tapi ternyata kemelekatan itu terasa salah untukku, dunia mereka rasanya harus menjadi duniaku juga.
Dalam waktu yang lain, tali itu aku longgarkan. Mencoba memberi ruang, barangkali selama ini hanya aku, aku, dan aku.
Pada pertengahan 20-an, aku ditampar dan dilempar. Lagi-lagi aku ada diantara dia dengan dia. Menjadi satu-satunya orang yang diterima karena rasa iba. Dua tahun aku pendam mengasihani diriku, sampai aku memberanikan diri melepas ikatanku. Karena barangkali, kemelekatanku terasa lebih apa adanya, sehingga aku menikmatinya meski lukaku ditabur garam.
Dan saat ini, barangkali, aku menyukai diriku yang saat ini sebagai petualang atas duniaku sendiri. Mengenal dan menjadi sahabat untuk diriku sendiri.




















