Ditemani gelap, lampu-lampu padam, bahkan cahaya terang tak bisa menembus ruang tertutup itu. Sekelilingnya hitam mencekam. Sepi, hanya suara nafas tersengal-sengal yang terdengar. Dua orang laki-laki seumuran sedang bertatapan. Rambut hitam tebal, mata lentik indah, membuat siapa saja terpanah. Sayangnya tak ada yang bisa menatap kedua orang ini. Tak ada orang-orang meramaikan tempat. Hanya ada dua lelaki sebaya ini. Kedua lelaki ini sudah terbiasa bertemu ditempat gelap ini. Yang satu diam terduduk ditepi lantai dingin sambil merengkuh kedua lututnya. Membelalak fokus menatap satu seseorang lagi yang berpakaian lusuh, kotor dihadapannya. Seseorang yang kesepian, mata penuh putus asa seperti ingin menghabisi hidupnya sendiri.
"kamu kenapa selalu menangis memanggilku kesini hanya untuk mendengarkan kamu menangis tidak jelas. Tidak lelah menangis terus hah?" Seru lelaki yang terduduk berteriak. Dirinya penuh keheranan setiap kali ingin tidur nyenyak selalu saja lelaki yang ada dihadapan nya ini memanggil dirinya. Lelaki yang berdiri berpakaian lusuh diam. Ia juga tak bisa menyembunyikan ketakutan diraut wajahnya. Tubuhnya bergetar hebat. Sebut saja kedua lelaki ini si Merah dan Abu-abu.
Abu-abu yang berdiri menatap si Merah yang duduk dengan gemetar. Benci sekali dengan kalimat yang didengarnya. Menangis semakin kencang, menjerit tak karuan. Kalimat itu berhasil meruntuhkan metal. Tak habis pikir bagaimana orang seperti si Merah hidup di dunia ini. Sekeliling gelap gulita. Tak ada yang bisa terlihat kecuali si Merah dan Abu-abu yang saling bertatapan. Si Merah ketakutan karena hampir setiap hari menyaksikan Abu-abu menggerutu hebat, melontarkan kalimat-kalimat tajam menyalahkan dirinya. Sebenarnya si Merah juga tak mau memiliki diri yang tidak berguna. Ia juga benci dengan dirinya yang rumit. Mengakui dirinya belum bisa melakukan apa-apa.
"Kamu nanya aku kenapa nangis terus?" Si abu-abu kesal melihat si Merah selalu memasang wajah ketakutan setengah mati. Bagi si Abu wajah itu tidak pernah berubah. Benci sekali.
"Kamu bingung apa lagi aku" Abu kesal setengah mati. Bahkan ingin sekali ia membunuh si Merah biar mati sekalian. Suasana hening, tak ada ventilasi di ruangan ini. Sangat pengap. Bahkan Abu ingin sekali keluar dari ruangan itu. Tapi apa daya, ia tidak bisa apa-apa.
"aaaaa!!!!! Aku benci kamuuu!! Kenapa tak mati sekalian sajaa!!!" Abu berteriak seperti orang gila. Suaranya menggelegar melengking ke setiap sudut ruangan. Ruangan gelap itu sudah menjadi tempat menetap bagi si Merah dan Abu bertemu.
"aku bosan lihat kamu, sampai kapan kita akan bertemu seperti ini? Kenapa kamu masih belum berubah juga? Ada apa denganmu, kenapa kamu sepengecut ini? Katamu, kamu benci dengan keadaanmu, tapi kenapa masih senang bertemu denganku! Bukankah kamu benci melihatku. Melihat keberadaanku yang setiap hari datang menemuimu? Jujur saja aku juga sudah bosan melihatmu. Apalagi ekspresi wajahmu itu, aku sangat membencinya" Abu menatap tajam seperti ingin membunuh orang dihadapan nya saat ini. Ingin mencakarnya sampai habis, biar dia mati sekalian.
Hidup si Merah memang tidak menyenangkan. Setiap hari bergelimang ketakutan karena masalah-masalah yang menghampirinya. Runyam dan rumit. Pernah sesekali merah ingin bunuh diri, karena menurutnya dunia memang tidak sayang kepadanya. Masalah-masalah yang datang dihidupnya seperti mendorong nya ke jurang. Tak pernah habis satu-persatu menyapanya. Sebenarnya bisa diselesaikan, tapi rasa takutnya mengalahkan keberanian. Sehingga sering melampiaskannya dengan marah, kesal, emosi, juga sesekali menangis kecil. Ingin sekali merah hidup dengan tenang, setidaknya biarkan dirinya beristirahat sejenak dari hiruk pikuk ramainya masalah dan orang-orang. Tapi saat dirinya ingin istirahat, tidur rebahan, Abu-abu selalu mengganggunya. Menyeretnya keruangan ini untuk bertemu. Dan lagi-lagi selalu sama wajah yang dilihatnya itu selalu mengeluarkan airmata. Wajah itu seperti sengsara. Selalu meringis karena tubuhnya kesakitan. Meminta tolong agar segera dibebaskan. Melihat itu Merah tambah resah, tambah panik. Matanya bergetar hebat. Tapi ia paham kalau dirinya masih dibelenggu ketakutan dan kekuatannya jauh lebih besar, sehingga sulit untuk mendorong ketakutan itu keluar. Tapi merah masih berusaha mengusirnya jauh-jauh.
" Jangan berkata sembarangan!! Jangan membuat aku benci diriku sendiri. Kamu sama sekali tidak tahu bagaimana sulitnya untuk aku berubah, mendobrak ketakutanku. Jangan sepelekan aku, karena belum bisa membuat diriku berubah. Aku juga sedang berusaha!! Dunia membenciku, makanya dia tak membiarkanku bebas. Membiarkanku dimakan ketakutan, membiarkan masalah-masalah yang terjadi dihidupku menerkamku sampai kerongkongan. Membiarkanku terus bertemu denganmu. Aku juga tak bisa bernafas" Mata si Merah membelalak ketakutan. Air bening nan jernih itu turun lewat pelupuk mata. Jelas sekali si Merah takut setengah mati. Sekujur tubuhnya bergetar. Kebingungan harus berbuat apa. Matanya tak bisa menyembunyikan keresahan, kekhawatiran. Ucapan Abu benar. Ia benci sekali bertemu dengan Abu, tapi tak terpungkiri ia selalu menarik si Abu untuk datang melihat bagaimana dirinya. Seperti saat ini. Ia mengundang Abu untuk melihat keberadaannya. Melihat jelas bagaimana reaksi tubuh dan wajahnya menghadapi berbagai hantaman kehidupan yang menyerang dirinya. Walau sekalinya bertemu mereka akan bertengkar. Saling membentak, menyalahkan, saling beradu argument dan itu menggema ke dinding-dinding dan langit-langit ruangan hitam itu.
"aku juga benci kenapa kakiku masih belum bisa bergerak. Kenapa aku selalu bergetar, kenapa sulit sekali keluar dari ruang gelap ini?" Mata si Merah memerhatikan gelap ruangan, sunyi sekali. Reaksi tubuhnya masih dilapisi ketakutan setengah mati. Menggeram dalam diam sambil mengepal kedua tangan keras-keras. Benci menjalar ke seluruh tubuh. Ke tulang-tulang, ke ubun-ubun. Memperlihatkan kebencian terhadap dirinya sendiri melalui wajahnya. Ia sadar kalau masih belum bisa berubah seperti anak lain yang berani memberantas rasa takut dalam dirinya. Merah menangis kecil. Masih terkurung dalam ruang gelap nan pengap itu. Ia merengkuh kedua kakinya, tertunduk semakin dalam. Menangis getir meratapi kehidupan kelam ini. Abu lagi-lagi diam terpekur melihat Merah menangis tiba-tiba. Melihat wajah sendu si Merah, Ia sudah terbiasa. Abu juga tak mau terus seperti ini, menangis tak karuan, marah pada si Merah dan segala kekesalan yang terbenam di dirinya. Karena sebenarnya Abu merasa kasihan pada merah karena masih dalam keadaan ini, tak bisa kemana-mana. Sementara teman-teman lainnya sudah melesat jauh. Mereka berdua menangis dalam ruangan itu.
Lelaki muda bernama Zel masih terdiam dikamarnya. Sepi sekali. Termenung dalam pikirannya yang sesekali membuatnya sesak nafas. Masih hidup dalam pikiran liar yang selalu berbisik-bisik, saling beradu. Separuh jiwanya mengatakan untuk bergerak maju, tapi separuh jiwanya lagi direngkuh rasa takut. Mata sembab, merengkuh kedua kaki membenamkan wajahnya yang menangis kecil tak berhenti diatas kasur.