Satu hal yang tidak berubah adalah nama saya. Pengen ganti sih, tapi mahal. Jadi ga usah, terus ribet juga, harus ngurus ina itu, dan pasti harus klarifikasi ina itu. Jadi di 2019? Belum dulu.
Terus, pindah kerja. Akhirnya resign dari tempat kerja pertama. Rasanya? Campur aduk. Ada bahagia, pasti. Karena akhirnya punya awal yang baru, rasa baru. Walaupun rasa baru kemungkinan akan nano-nano juga, ga papa. Yang penting baru! HAHAHA. Dan ada rasa sedih, baru berasa pas 1 minggu setelah resign sih. Di tempat lama, udah punya support system sendiri. Yang bisa dipercaya untuk cerita dari A sampai M. Yes, belum sampai Z, saya bahkan ga punya orang yang saya bisa ceritakan sampai Z hingga sekarang. Jadi sabar, sampe M dulu. HEHEHE.
Dan tempat yang baru, well~ rasa baru, yang nano nano, rame rasanya. Belum bisa digambarkan pake pensil, pena, kuas, atau mesin ketik, jadi dibiarkan dulu. 2020 masih ada, semoga saya bisa cerita nanti.
Terus, adik saya lulus. Akhirnya! Senang sekali, lega sekali. Kenapa? Kayak saya yang jadi orang tua aja, HAHAHAHA. Karena di circle saya, udah lebih dari 3 orang, yang tidak lulus kuliah, alias DO. Dengan berbagai alasan, dari yang saya bisa pahami, sampai yang sulit sekali dimengerti. Dan semuanya laki-laki, mungkin ada studi yang bisa membantu menjelaskan, well mungkin. Tapi itu jadi momok yang menakutkan. Buat saya, buat ortu, dan juga buat adik saya. Walau setiap telpon pasti bilang, “Skripsinya jangan dibawa stress ya, dijalani aja, kerja keras, tapi jangan sama stress banget cuma gara-gara skripsi. Hidup masih panjang”, tapi sebenarnya deg deg an juga bos.
Dan adik saya akhirnya lulus, seneng bgt. Dan sekarang lagi berusaha cari kerja, semoga segera berlabuh ke tempat kerja terbaik ya. Amiiin.
Dan terus, oh ya untuk pertama kalinya, setelah “dewasa” saya bertengkar hebat sama adik bungsu. Karena cara hidupnya yang saya rasa belum pantas dimilikinya seumur ini. Rasanya kecewa, marah, tapi di satu sisi juga menyesal. Karena mungkin saya tidak sedekat itu, jadinya tidak benar-benar paham cara berhadapan sama dia. Perang dingin selama dua sampai tiga bulan gitu? Medsos diblock, wa diblock. Saya berang sekali, tapi ya namanya emosi. Saya biarkan saja, sampai dia reda sendiri. Saya kirimkan beberapa pesan, mencoba untuk mengalah aja, karena mungkin lebih “waras emosinya” dan akhirnya baikan.
Dan apa lagi ya? Udah itu aja yang bisa diceritakan di sini. Saya akan cerita lain kali. Kalau ada waktu, kalau mau. So, last but not least, thank you 2019, sudah memberikan banyak dan mungkin juga mengambil banyak. Semoga saya dan orang-orang tersayang lebih bahagia di 2020, lebih tentram. Amin