"It Remains the Same" & Sabda Nihil The Comingbacks
Ada sekelompok kecil orang yang sengaja menepi, menjaga jarak dari riuh rendah isu-isu terkini: fasisme polisi, NKRI harga mati, hingga romantisme mahasiswa sebagai âsuara rakyatâ.
Saya membayangkan The Comingbacks termasuk di dalamnya. Anak-anak yang dicitrakan acuh tak acuh, hobi nongkrong di kofisyop, dan hanya peduli dengan dirinya sendiri. Mereka semena-mena didakwa apolitis dan apatis. Atau setidaknya begitulah kata para orang-orang tua di linimasa yang gemar mengglorifikasi masa-masa tumbangnya orde baru.
Tetapi mereka, surprisingly, selalu mengikuti perkembangan terkini lingkungan sekitar. Anak-anak ini selalu update keadaan, entah dari berita atau linimasa di genggaman mereka, meski jarang sekali melempar komentar atau menunjukkan keberpihakan di sana. Beberapa dari mereka mungkin juga pernah mengudap buku-buku berhaluan kiri sembari mendengarkan Master of Reality-nya Black Sabbath. Bisa saja, mereka juga rutin ikut Kamisan meski tak pernah tertangkap Instastory. Dengan kata lain, mereka sebenarnya politically-conscious.
Jadi bagaimana mungkin, orang-orang yang sadar politik itu lalu (terkesan) tak peduli dengan isu-isu di sekitarnya? Bosan? Tidak berani mengambil sikap?
Atau mereka hanya kelewat sering dikecewakan?
Mungkin hal terakhir di ataslah yang menjadi inspirasi dari lagu ini. Jauh dari kesan (menjadi) kritik sosial, tembang ini menyajikan sebuah gambaran jelas tentang apa saja yang terjadi di sekitar tanpa terkesan tendensius, namun di saat yang sama, terdengar sangat nihilistik. Lengkap dengan sajian vokal yang lebih bisa disebut orasi serta beat-beat punk cepat yang tentu saja akan membakar amplifier dan memacu adrenalin lantai gigs sekitar.
Berita baiknya, ia dibalut dengan lirik yang cukup bagus. Bait-baitnya berhasil menangkap semangat kemarahan, sinisme, dan juga, nada-nada keputusasaan sebagian anak muda hari ini dengan artsy. Anak-anak muda yang kelewat dikecewakan oleh romantisme, pola yang sama, dan sistem yang memang didesain agar kita selalu kalah. Setidaknya, itu terlihat di pilpres kemarin yang mengharuskan kita untuk bernalar less evil. Well, fair enough.
âGovernment was a lieâŚ,â teriak Judi, sang vokalis, yang seolah menjadi seruan untuk selalu menaruh curiga dan tidak berharap tinggi-tinggi terhadap apa-apa yang terjadi di dalam sisten berbasis hierarki dan otoritas, apapun bentuknya.
Apalagi hari-hari ini, saat kita sedang menikmati narasi mahasiswa-pelajar vs negara (aparat), kita secara tidak sadar dibuat merasa mempunyai "power", bahwa ini saatnya mengembalikan demokrasi, dan menuhankan kembali jargon vox populi vox dei.
Ah iya, anak-anak muda nihil ini bisa jadi alarm akan optimisme yang kadung melambung tinggi. Mereka seakan berkata, "Hei, tunggu dulu, ini tidak seindah yang kalian kira." Mereka seperti ingin menahan kita untuk tidak menenggak sebuah candu bernama "harapan".
Apalagi semakin ke sini kita juga semakin tahu jika para dewan mahasiswa yang katanya mewakili suara rakyat, nyatanya juga tunduk pada para seniornya. Mahasiswa sebagai simbol kebebasan berpikir nyatanya juga harus tunduk pada sebuah otoritas, persis seperti para senior yang mereka demo itu. Yang tua tunduk pada oligarki, yang muda jadi hamba organisasi.
Toh, memang seharusnya kita selalu punya alasan untuk ragu terhadap figur-figur publik yang dipandang âsempurnaâ dan âdituhankanâ, bukan? Dari para ketum BEM itu, hingga Gubernur Jawa Tengah. Kepentingan-kepentingan tidak pernah mengizinkan hitam-putih dalam gerakan-gerakan ini, to? Terbukti, demo 30 September kemarin ternyata diwarnai oleh pengunduran diri beberapa BEM. Belakangan, mereka malah menolak RUU-PKS yang awalnya mereka perjuangkan itu.*
Poverty, property, all about the money
Investing, infesting, all about the laundering
Treating, threatening, all weâve got just rejection
And then, how the dark ages will end?
Dengan gambaran yang lebih luas, mereka juga bercerita tentang bagaimana kita semua sebenarnya ikut âbersalahâ - sebuah autokritik terhadap mereka juga, tentunya. Di setiap property akan selalu ada poverty, investing adalah pasangan sempurna dari infesting, dan treating adalah threatening dalam kemasan berbeda. Jukstaposisi ini menjadi sebuah permainan kata sekaligus menyajikan sebuah ironi: bahwa kita sedikit banyak juga bersalah dan berkontribusi menciptakan berbagai carut-marut dunia hari-hari ini.
âMutant kills the enviroment.â Ya, kita adalah mutan yang selalu membunuh sesamanya. Sepanjang sejarah, Homo sapiens adalah wabah terhadap dunia itu sendiri. Toh memang tercatat bahwa di mana kumpulan sapiens berkumpul, di situ akan selalu terjadi kerusakan lingkungan dan genosida spesies lain. Jika dulu kita saling bunuh dengan senapan, hari ini kita melakukannya dengan sedotan.
Dan The Comingbacks seperti bersabda, "Di dalam sistem yang busuk ini, mari bersama menuju kemusnahan!"
Tentu saja karya ini meninggalkan beberapa pertanyaan. Di satu sisi mereka terdengar seperti sekelompok orang yang putus asa dan hopeless, tetapi di sisi lain, mereka juga menyalahkan ignorance kita semua dalam menciptakan berbagai konflik dan isu-isu hari ini. Sebuah eksposisi atas kebingungan manusia dalam menentukan nasibnya sendiri dan dunia. Lalu apa yang harus kita lakukan? Apa ide besar yang bisa menyelamatkan kita semua? Apakah ada cara mengatasi segala disfungsi yang kadung terjadi?
Ataukah memang semuanya hanya bisa ditutup dengan berbagai racauan kemarahan seperti ini? Bahwa kita memang akan selalu terjebak di dalam kebingungan kita sendiri, lalu dipaksa kembali menjalani hidup, melaksanakan role masing-masing, dan berpikir bahwa semua (akan) âbaik-baik sajaâ atau setidaknya, tidak akan memburuk? Seperti Sisifus yang terus mendorong batu hanya untuk jatuh, apakah segala kontribusi yang bisa kita usahakan pada dasarnya adalah sebuah kesia-siaan layaknya mencari arti hidup itu sendiri? Hingga pada satu titik, kita sadar telah terjebak dalam absurdisme itu sendiri?
Sulit menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, sesulit menentukan positioning The Comingbacks menyangkut hal-hal tersebut. Secara pribadi, saya tidak akan merekomendasikan lagu ini untuk kawan-kawan yang sedang merenungi diri. Lagu ini cukup berbahaya untuk didengarkan & diamini. Menelannya secara mentah-mentah bisa membuat anda mempertanyakan segala.sesuatu, mengalami krisis eksistensial, dan mungkin, turut menjadi nihilis seperti mereka.
Saya yakin, anda lebih baik memelihara ilusi "baik-baik saja" di kepala anda daripada merusaknya dengan mendengarkan kebenaran di dalam lagu ini.
*Personal note: Ah, memang yang paling realistis adalah turun ke jalan atau menuntut atas nama rakyat saja. Tanpa embel-embel apapun. Ya 'kan?
**Tentu anda tidak harus setuju dengan mereka & juga renungan ini. Bukankah terlalu prematur untuk menghakimi sebuah band hanya dari satu karya saja?