Disko#2- Financial Planning (part-7)
Mahar, Resepsi dan Finansial
Saya mulai mempersiapkan itu kebetulan dari awal. Terus dari sudut pandang saya sebagai pria yang punya tanggung jawab sama keluarga, saya sih menganggap kehidupan pascaresepsi jauh lebih penting ketimbang resepsi itu sendiri.
Makanya kalo saya waktu itu sama istri deal-dealannya fokus ke mahar (sunnah-nya seorang calon suami mempersiapkan mahar yang terbaik, sebaliknya sunnah-nya bagi calon istri adalah meringankan mahar. kesalingan). Konsep mahar yang seolah-olah paradox tp sebenernya saling melengkapi ini banyak sekali hikmahnya (asli, islam itu keren). Kalau diambil dalam perspektif ekonomi, mahar memiliki fungsi sebagai buffer bagi istri in case terjadi apa-apa sama suaminya ketika perjalanan rumah tangga yg merupakan tulang punggung pencari nafkah, entah itu wafat, cerai (meskipun sebisa mungkin dijaga keharmonisan rumah tangga itu) sehingga istri punya emergency fund untuk periode sementara waktu. Di sini alur logika pentingnya memberikan mahar terbaik bagi seorang calon suami yang hendak meminang calon istrinya.
Di sisi lain, hikmah meringankan mahar bagi seorang istri adalah. logika bahwa probabilita terjadi “dispute” (wafat, cerai, atau disabilitas) jauh lebih kecil ketimbang energi seorang pria yang berubah status menjadi suami untuk mencari nafkah kepada keluarganya. Memang kematian itu pasti, tapi bicara statistik, nature-nya time frame suami untuk aktif bekerja dan memiliki penghasilan jauh lebih panjang ketimbang kejadian kematian atau cerai mendadak.
So, kalo seorang wanita menukarkan future value calon suami dengan melonggarkan syarat mahar maka sesungguhnya wanita tersebut sangat cerdas berinvestasi hehe.
Banyak banget kita dengar rezeki orang yg menikah itu beda dengan ketika masih single. Kenapa? Karena secara hakikat, rezeki itu ga pernah tertukar. Setiap manusia sudah ditentukan rezekinya sejak dalam kandungan. So, sepatutnya setiap pasangan jangan khawatir soal rezeki baik dalam keadaan single maupun dalam keadaan berkeluarga. Jangan khawatir soal rezeki baik dalam keadaan sempit maupun lapang. Syukur dan sabar adalah kuncinya. Gimana caranya biar bisa syukur dan sabar? Lagi-lagi luruskan mindset tentang harta.
Gimana mindset-nya? Gini. Kita sepakat rezeki udah ditentukan masing2. Sebelum menikah, seorang perempuan jalur distribusi rezekinya datang melalui walinya (ortu, saudara laki2, dst). Kalau sudah nikah, dilakukan ijab qabul, jalur utama distribusi (yang sudah ada ketetapan dari-Nya di lauh mahfudz itu) pindah melalui suaminya.
So, lagi-lagi. ini menunjukkan bahwa ga penting present value calon suami saat ini, yang penting future value-nya. Bisa jadi banyak pria-pria lajang belum mapan secara materi. Tapi kalau dia shalih dan punya konsep mau dibawa kemana keluarga yang hendak dibangun serta ga ada alasan syar'i buat ditolak, ya jangan ragu untuk berjuang bersama. Mungkin saat ini dia belum jadi siapa-siapa, tapi dia tau hendak menuju kemana. #vision
Kerennya Islam lagi adalah hikmah faraidh (hukum waris). Kenapa lelaki dikasih porsi lebih banyak ketimbang wanita? Ini lagi2 menunjukkan bahwa Allah itu maha menjaga mizan (timbangan) untuk berlaku adil.
Tugas seorang pria adalah menanggung 4 wanita (istrinya, ibunya, anak perempuannya, dan saudara perempuannya). Kontrak tanggungan ini terikat seumur hidup. Sebaliknya, satu wanita itu ditanggung 4 pria. Makanya kaidanya itu istri milik suaminya tapi suami itu milik ibunya. Kkarena kaidah ini penting dipelihara untuk menjaga mizan.
Fokus saya pada saat pra nikah adalah mempersiapkan kehidupan pasca resepsi (bagi saya resepsi itu kebutuhan sekunder, secukupnya aja) makanya jauh sebelum saya punya calon istri, yang saya lakukan ya prepare berinvestasi, karena tanggung jawab suami ya menanggung keluarga.
Alhamdulillah, saya dikasih istri yang ga banyak syarat soal materi. Dan mertua juga ga pernah ngomongin materi waktu minang meminang. Nasihat yang saya dapet dari calon mertua waktu sebelum nikah cuma satu. “Ihsan, Ibu cuma minta satu. bawa Dania (nama istri saya), ke surga”. Udah.
Itu nasihat satu tapi super duper beraaaaat. Tapi ya harus diperjuangkan. Makanya fokus saya mah meskipun cuma butiran bumbu sasa, banyak ketidaksempurnaannya, ya berjuang aja bareng-bareng. Secara kesalingan.
Nah. klo start-nya udah enak, hal-hal prinsip sudah disepakati, urusan cara mempersiapkan biaya dll akan jauh lebih mudah, karena tau mana means (sekedar alat), mana ends (tujuan).
Waktu itu sama keluarga calon istri ya masalah resepsi mah di estimasi aja keperluannya berapa. Ga usah berlebihan. Acara 2 jam selesai kok. Fokus ke hal yang penting tapi tidak mendesak (kehidupan pasca resepsi).
Saya pribadi meskipun pengalaman masih minim merasakan perbedaan energi saat masih single sama setelah menikah beda. Dulu saya cari nafkah ya udah sesuka saya. Tapi pas udah menikah mah ada ikatan, mitsaqan ghaliza, dan itu menambah energi. Hehe. Ya semoga Allah lapangkan dan berkahi.
==============================================================
Akhwaters shalihah, merasa dapat banyak manfaat dr sharing ini?
Yuk, share post sebanyak-banyaknya!
Kita saling tebar inspirasi dan manfaat, n jangan lupa pantengin terus diskusi romantisnya stiap malem jum’at cuma di #diskusikamisromantis
Wassalamu’alaikum.wr.wb
Sebelumnya :
Part 1 Part 2 Part 3 Part 4 Part 5 Part 6













