Hari ini aku WFA. Paginya, aku sengaja menghubungi temen kuliahku yang kantornya tidak jauh dari lokasi aku WFA – mengajak bertemu. Akhirnya, kami janjian ketemu saat istirahat makan siang.
Tempat kami ketemu – indoor, tapi bukan kafe – agak sepi, cuma ada beberapa orang saja di situ. Gak lama dari kami mulai ngobrol, datanglah seorang anak kecil ke arah kami, dari sisi aku duduk. Ia seorang perempuan berkaus putih. Melihat karakteristik wajahnya, kami tahu kalau dia warga negara asing. Sekitar 10–15 detik, anak kecil yang mendekati kami itu cuma berdiri menatap kami dengan ekspresi datar, sehingga kami berdua malah ikut saling tatap-tatapan karena bingung.
Kami coba memulai percakapan lebih dulu dengan menyapanya dalam bahasa Inggris. Lalu, tanpa merespon sapaan kami, anak itu bertanya padaku dengan bahasa Indonesia yang terbata-bata, "Siapa nama Anda?", sambil menyiapkan buku catatan kecil dan pulpen yang dibawanya. Mengintip dari buku catatan anak itu dan mendengar logat bicaranya, kami jadi tahu kalau dia orang Korea. Sesungguhnya, aku masih bingung tujuan anak ini apa, tetapi aku berusaha merespon dengan ramah dan menyebutkan namaku, "Halo, aku Rani." Dia mencatat namaku di buku catatannya. Lalu, dia menanyakan hal yang sama kepada temanku dan temanku pun menyebutkan namanya.
Aku tersenyum dan kami menyambut anak itu dengan baik. Aku berasumsi dia sedang mendapat tugas mewawancara warga lokal, mungkin dari sekolahnya. Ketika anak itu menanyakan usia kami, aku bahkan merespon dengan sedikit tertawa. "Aku tiga puluh tahun," kataku. Lalu, aku iseng saja menjawab dalam bahasa Korea, "저는 서른살이에요". Anak itu tampaknya terbantu dengan jawabanku dan bertanya kembali usia temanku. Aku menjawab dengan terbata-bata kalau usia kami sama, "같은 나이에요". /Huuftt.. aku sama sekali gak ingat istilah 동갑 (sebaya)/
Wawancara anak itu berlanjut. Setelah entah berapa lama, aku baru menyadari ada anak lain, anak perempuan berbaju oranye, ikut duduk di belakang anak berbaju putih. Anak berbaju oranye tampaknya lebih lancar berbahasa Indonesia. Mereka menanyakan apakah kami suka drama Korea, apa hobi kami, dan apakah kami pernah ke luar negeri. Anak berbaju oranye cukup banyak membantu ketika anak berbaju putih tampak tidak mengerti. Kami juga menanyai mereka balik, apakah mereka sedang ada tugas sekolah, apakah mereka sudah lama di Indonesia, dan seterusnya.
Ada jeda cukup panjang di antara sesi tanya-jawab ini, dan jujur, kami sendiri menunggu kapan obrolan dengan mereka bisa selesai. Sebab kami punya agenda ngobrol kami sendiri – yang terbatas karena temanku harus kembali ke kantornya jam 1. Aku menanggapi pertanyaan mereka sembari sesekali melirik jam di HP-ku.
Dari pertanyaan kami kepada mereka, kami tahu kalau mereka datang untuk jalan-jalan, bukan karena mereka sekolah dan ini bukan sebuah tugas. Usia anak berbaju putih masih 9 tahun. Mereka di Indonesia selama 10 hari. Pada satu kesempatan, anak berbaju oranye tampak sedikit melirik ke arah seseorang yang berada tidak jauh dari kami. Aku lihat seorang perempuan dewasa berambut sebahu sedang duduk tidak jauh dari kami duduk. Namun, ia duduk searah kami duduk – yang artinya membelakangi kami – sehingga aku tidak bisa melihat wajahnya.
Ada satu jawaban yang aku rasa aneh, yaitu ketika sang anak berbaju oranye bilang kalau mereka ke Indonesia untuk mengunjungi masjid (사원). Suatu jawaban yang cukup asing, tidak umum kudengar dari turis asing – jika memang mereka turis betulan. Hal aneh lainnya yang aku sadari belakangan, kalau si ibu, yang kuasumsikan adalah wali mereka, tidak ikut menghampiri kami dan tetap duduk membelakangi kami.
Tidak lama setelah itu, sang anak berbaju putih memegangi satu di antara banyak gelang manik-manik di tangan kirinya, seolah akan menawarkannya padaku. Gelang itu didominasi manik berwarna putih dengan beberapa sisi berisi manik berwarna lain. Aku dengan senang mengira bahwa itu adalah hadiah dari mereka untuk kami – yang artinya tidak lama lagi kami bisa pergi dan melanjutkan obrolan kami sendiri. Aku menunggu dia menyerahkannya, namun dia justru diam sambil memegang 3 manik berwarna kuning dengan tangan kanannya dan mengatakan sesuatu. Aku tidak yakin pasti apa yang anak itu katakan – bahkan tidak yakin apakah itu bahasa Indonesia atau Korea. Aku dan temanku hanya berucap 'hah?' dan mencoba mendekat untuk memahami perkataan anak itu. Anak berbaju oranye membantu mengulang perkataan anak berbaju putih. Aku menangkap kata seperti "pengatur dunia" atau semacamnya. Temanku bahkan mendengar kata "Tuhan".
Anak itu lanjut menyentuh 3 manik berwarna hitam di sebelah manik berwarna kuning. Kali ini, aku masih budeg dan anak berbaju oranye lagi-lagi membantu mengulang perkataan anak berbaju putih. Aku bisa sedikit mendengar apa yang ia katakan seperti "kita penuh dosa" atau semacamnya.
Di situlah kami tersadar bahwa mereka bukan sekadar turis atau anak sekolah yang sedang mengerjakan tugas dari guru mereka. Temanku memberi kode padaku untuk mengecek HP dan dia ternyata telah mengirim pesan WA kalau kemungkinan besar mereka adalah misionaris. Kami sempat kebingungan beberapa saat apakah harus kabur begitu saja atau menyelesaikan hal ini. Tapi, menyelesaikan dengan bagaimana? Sampai akhirnya aku memutuskan untuk mengeluarkan jurus 'aku sedang buru-buru'.
Aku kemudian menjelaskan kalau kami harus pergi ke tempat lain. "우리가 다른... 다른..." /bodohnya, aku lupa bahasa Korea 'tempat' -_-/. Anak berbaju putih sepertinya salah menangkap yang kumaksud, karena dia tiba-tiba merespon dengan, "Ah, Islam?"
Lalu anak berbaju oranye seolah paham yang kumaksud berkata, "가야돼요" – mereka harus pergi. "네, 우리 가야돼요" kataku membeo. Anak berbaju putih itu kembali menawarkan gelangnya. Dan, karena kami takut, kami menolaknya, "괜찮아요", it's okay.
Kami lalu berdiri dan bergegas meninggalkan mereka, sampai si ibu sedikit berteriak, "Excuse me." Ya, Ibu yang tadi duduk membelakangi kami itu menghentikan kami. Dia berkata, "Can we take a photo?" Kami lega mengetahui si ibu bisa berbahasa Inggris karena kami dapat dengan cepat menolaknya dan meminta izin untuk pergi.
Aku cukup terkejut. Aku tahu dari cerita banyak orang kalau kejadian seperti ini umum terjadi di Korea. Tetapi, aku tidak menyangka mereka menyasar hingga ke luar negeri, bahkan berusaha menggunakan bahasa Indonesia. Lebih mengejutkannya lagi, mereka menggunakan anak-anak dalam menjalankan misinya. Aku tidak tahu apa yang akan mereka lakukan dengan nama kami. Tetapi, untungnya kami tidak menerima ajakan si ibu untuk berfoto.
Cerita ini aku bagi karena aku pikir teman-teman perlu juga mewaspadai hal serupa. Aku merasa terlalu naif mengira mereka sekadar anak-anak dan tugas sekolahnya. Aku terlalu berprasangka baik kalau percakapan itu hanya basa-basi dan tidak akan lama. Nasib baiknya aku sedang berdua dengan temanku, yang kebetulan pernah tinggal beberapa bulan di Korea. Dia sepertinya menyadari kondisinya lebih cepat dari aku, berusaha mengendalikan situasi selama aku mendominasi percakapan.
Pesan moral: tidak perlu merasa salah karena sudah bersikap baik pada orang lain, bahkan ketika memberi penolakan. kalau mereka punya maksud baik, kamu sudah menerima dan menolak mereka baik-baik. kalau mereka punya maksud tidak baik, kamu melindungi dirimu dari potensi hal yang tidak kamu inginkan.
Pesan spiritual: Alhamdulillah, Allah masih menjagaku dan temanku
Pesan intelektual: perhatikan ya, belajar bahasa itu tidak akan jadi apa-apa kalau tidak pernah dipraktikkan! alam bawah sadarmu lupa semua kan jadinya huhuhu... 망했다 ㅜㅜ
Pesan emosional: segitu kesepiannya kah sampai orang asing disambut dengan sangat ramah hanya karena dia orang korea dan kamu mau practice korean-mu? lol
Pesan rasional: konsistensi orang-orang ini perlu ditiru! be persistent. jangan kalah sabar sama mereka dan tetap waspada >.<
NB: Aku senang menggunakan emdash (—) atau endash ( – ), yang sekarang sering diasosiasikan sebagai produk AI. Aku sengaja menggunakannya cukup banyak di tulisan ini karena... siapa peduli? Ini tulisan bebas. Tidak semua yang ( – ) dan ( — ) adalah hasil AI :)