La Ratna Asmarani Illa Ratna Asmarani
- Oleh Ranu Dipo Alam, S.S. // Spesial Hari Guru
“La Ratna Asmarani illa Ratna Asmarani” -- adalah ikrar dari suara tanpa bunyi dalam hati, setidaknya begitulah implikasi yang saya alami dalam proses 3-4 semester menjadi mahasiswa yang belajar dari seorang dosen Undip bernama Ratna Asmarani.
“La” artinya “tidak”. Sedang “Illa” artinya “kecuali”, jadi “La Ratna Asmarani illa Ratna Asmarani” memiliki makna “Tidak ada Ratna Asmarani kecuali Ratna Asmarani”. Seorang dosen berumur 60 tahun yang seolah tak dikungkung lemah pun rasa ‘tua’. Seorang dosen “kritis” yang dipenuhi oleh kerangka ilmu dibalut konfigurasi: “seni-mengajar”, “seni-humor”, “seni-serius” serta “seni-penilaian” dalam ukuran dan batasan yang setepat-sepresisi mungkin.
Sudah menjadi aksioma kehidupan, bahwa jabatan tinggi, dalamnya ilmu ataupun banyaknya pundi kekayaan memiliki daya yang membuat manusia mendamba hingga menghamba. Sehingga tak jarang bagi sepersekian persen manusia yang dianugerahi 3 hal tersebut akan timbul suatu hasrat “priyayi” dalam kejiwaan maupun laku hidupnya.
Tapi berbeda dengan bu dosen Ratna Asmarani, seorang bergelar “doktor” dengan stamina tinggi yang sumeleh melepas ‘jas’ bahkan ‘dasi’ kepriyayian “doktor”nya. Bagi mahasiswa yang improporsional dalam menghadapi bu Ratna Asmarani akan bertestimoni justifikatif layaknya mengatakan bahwa bu Ratna Asmarani itu dosen yang “galak” atau “pemarah”. Namun bagi mahasiswa yang memurnikan fungsionalitas thalabul ‘ilmi (pengembaraan jalan ilmu), maka mudah baginya untuk membedakan mana “krikil” dengan “berlian”. Memafhumi garis tipis mana “pelit” mana “hemat”, mana “keras kepala” mana “konsisten”. Maka sebenarnya bu Ratna Asmarani adalah satu dosen yang paling mencolok “empati”nya dalam menghantarkan mahasiswa ke terang benderang hakikat ilmu perkuliahan.
Contoh, piramidal bahasa yang merupakan khas “kepriyayian” seseorang tak menjadi tabir batasan atas transfer ilmu bu Ratna Asmarani untuk menghancurkan -budidaya salah paham- contoh pada definisi id, ego dan superego mahasiswanya:
“Iku sopo sih seng ngajari pertama? Kok yo mesti aku nemoni mahasiswa do salah paham kabeh memahami “id” nganti saiki, ki ya tak andani, “id” kui segala hal seng berkaitan dengan insting naluri alam bawah sadarmu, “id” kui hal seng berkaitan opo seng neng njero katokmu iku”.
Nah, bukankah sangat jelas untai kata di atas mirip aksen bahasa teatrikal khas ludruk, Jombang, Jawa Timur? saya belum memiliki data apakah bu Ratna Asmarani memiliki darah Jawa Timur atau tidak, tapi yang jelas “ludruk” itu “tulus”, “ludruk” itu “jujur”, “ludruk” itu “tegas” dan “ludruk” itu “filosofis.”. Juga pada kalimat beliau:
“Aku moco presentasimu ki ramudeng maksudmu opo, judul dengan definisi yang kamu jabarkan mlayu tekan ngendi-endi, judulmu feminism, tapi seng mok bahas hal yang berbeda”
Perlu diketahui, tak jarang mahasiswa enggan mengakui bahwa mereka menyembunyikan fakta ketidakpahaman dirinya disebabkan dosen menjelaskan suatu materi dalam bahasa yang sangat retoris-teoritis bahkan idiomatis. Namun bu Ratna Asmarani menawarkan release yang jauh berbeda. Seorang “doktor” yang menyederhanakan bahasa dalam kuliahnya, namun kultur edukatifnya tak kehilangan adiluhung sama sekali.
Seorang veteran pendekar samurai Jepang pernah mengatakan: “kemampuan berpedang seseorang bukan ditentukan dari kuatnya ia menebas pohon besar, tapi dinilai dari apakah ia mampu memotong sebalut kapas kecil”. Pun maujud bu Ratna Asmarani yang mampu menyederhanakan ilmu makro dalam bahasa mikro. Something kompleks di deliver menjadi praktis. Wawasan berbobot terkonversi dalam bahasa awam. Tidak semua orang pintar mampu melakukannya, menghadirkan ‘kosmos’ dalam bahasa “sel” tanpa menanggalkan keotentikan hikmah ilmunya, sebagaimana pendekar yang ahli membelah pohon besar tak musti mampu memotong sehelai kapas. Terlebih bagi seorang “dosen” dengan bahasa yang idiomatis belum tentu dapat menjabarkan maknanya pada yang awam menggunakan bahasa awam.
Maka “La Ratna Asmarani illa Ratna Asmarani”, tidak ada Ratna Asmarani selain Ratna Asmarani. Tak ada yang seperti Ratna Asmarani seutuhnya selain dia sendiri. Bahkan se-ekstrim bu Ratna pernah men-cap proposal skripsi mahasiswanya dengan kata “sampah”, itu bukan hinaan, sama sekali bukan! Itu adalah “uslub”. Penyampaian cinta dengan tingkat maqam yang tinggi. Sebagaimana “kita-kita” sebagai anak muda ini merangkum segudang kekangenan, keterharuan serta kemesraan terhadap kawan sejati kita dengan ‘umpatan’ –“jancuk” dsb. Karena dalam dinamika cinta hukum konkret itu tidak berlaku. Sebab cinta maqam nya di atas akal, sebagaimana akhlak maqam nya di atas ilmu. Bak potret Khidir mengusir terang-terangan muridnya, Musa karena Musa ‘membandel’. Lantas apakah kita berani nranyak dan kurang ajar mengatakan Khidir tak memiliki gandrung dan empati kepada muridnya?.
Hidup kita menghirup oksigen paradoksitasi realita. Puncak ekspresi tertinggi dari kebahagiaan manusia adalah menangis. Sedang puncak ekspresi tertinggi dari kesedihan manusia adalah tersenyum.
Maka tidak ada dosen dengan komposisi harmonis antara bahasa, kepedulian, kemarahan, kegamblangan dan kritis ilmu seperti bu Ratna Asmarani selain Ratna Asmarani itu sendiri. Justru bagi orang yang serius kuliah, ekspresi ‘marah’ bu Ratna laksana samudera. Dimana kita ingin berenang, air akan selalu ada. Dan kita akan semakin terpacu untuk mengarunginya. “La Ratna Asmarani illa Ratna Asmarani”, dimana mahasiswa tak henti-hentinya dikagetkan oleh campakan kritis ilmunya, tanggap tangkapannya, kebal-kebul ketelitiannya pada titik-titik kecil disiplin ilmu ataupun segala mozaik wacana yang berkaitan dengan disiplinnya. Kita yang merupakan mahasiswa bu Ratna Asmarani bahkan sudah menanti sejak awal campakkan luar biasa apalagi yang akan beliau tuturkan dalam proses menimba sumur ilmu darinya.
Saya sendiri terombang-ambing dalam kebingungan. Keterkaitan akal dan hati saya seakan absurd dan saya nggliyeng tak karuan. Tatkala bu Ratna Asmarani memarahi mahasiswanya atau kebetulan di suatu momentum memarahi saya, otak saya memunculkan resistensi, namun hati saya tak bisa “diejawantahkan” alias saya justru merasa “diayomi” bahkan “disayangi”. Tak pernah muncul anggapan dalam nurani saya bahwa bu Ratna membenci apalagi menelantarkan muridnya, mahasiswanya. Beliau hanya membenci kemalasan dan ketidakdisiplinan yang dimana kami sebagai mahasiswanya sering merepotkan dengan segala kemalasan yang kami perbuat kepada beliau.
“La Ratna Asmarani illa Ratna Asmarani”. Tidak akan ada sepintar-pintar orang yang akan menyamainya. Saya slalu mematrikan rasa syukur Tuhan mengkaruniai saya untuk mengenal dosen dengan keotentikan dan kejujuran yang luar biasa seperti beliau. Beliau seperti cakrawala, jika kita kehilangannya, kita akan memandang langit seakan tanpa dihiasi bintang-bintang.
Maka di hari guru ini saya sebagai pen-takdzim ilmu, Ranu Dipo Alam yang dhaif dan penuh kebodohan ini izin mengucapkan “La Ratna Asmarani illa Ratna Asmarani.” Serta selamat Hari Guru.