disclaimer : yang kamu baca nanti merupakan late post namun diceritakan seolah-olah di hari yang sama.
Hari ke 4, hari Senin 6 Januari 2020, hari produktif pertama kami di resmi dimulai.
Diawali dengan pagi pagi datang ke balai desa untuk bertanya kepada perangkat perangkat desa seputar permasalahan apa saja yang terdapat di Desa Mulyoharjo. Permasalahan yang kami dapati ini nantinya berguna untuk proses penyusunan program multidisiplin kami. Dari permasalahan ini, kami harus mencari solusinya sebagai bukti pengabdian kami kepada masyarakat Desa Mulyoharjo selama kami kkn di sini. Solusinya sendiri, dalam proses perancangan hingga eksekusi, harus melibatkan implementasi dari jurusan kami masing masing. Misal ada 1 permasalahan, nah di 1 permasalahan ini harus terdapat solusi yang berhubungan dengan jurusan Kelautan (Yusril & Pian), Kesehatan Masyarakat (Putri), PWK (Fawwaz), Arsitektur (Winda), dan Administraasi Bisnis (saya).
Usai berbincang dengan beberapa perangkat desa yang hadir, kami pulang ke posko untuk makan siang yang ditemani hujan deras. Hujan selesai, sekitar pukul setengah 4 sore kami pergi menghampiri Pak Amin di tambaknya, tepatnya tambak latoh. Tempatnya sendiri tidak terlalu jauh dari posko, butuh 10 menit hingga tiba di tambak.
Latoh atau anggur laut adalah salah satu jenis rumput laut (seaweed) yang nama latinnya adalah Caulerpa racemosa. Ada fakta menarik antara seaweed dengan seagrass (lamun) , karena mereka merupakan 2 spesies yang berbeda. Perbedaannya terletak pada seaweed yang hanya mempunya 1 bagian tubuh yang bernama Talus. Sedangkan seagrass mempunyai akar, batang, dan daun di seluruh tubuhnya.
Awal kami tiba, Pak Amin sudah berada di tengah tambak, meraba raba dasar tambak untuk mencari latoh. Sekitar 10 menit kami berbicara dengan beliau dari bibir tambak, Fawwaz tiba tiba berucap kalau dia ingin turun ke tambak, ingin ikut merasakan sensasi memanen latoh. Kami bingung, karena kami sejak awal tidak ada niat untuk ikut menceburkan diri wkwkwk. Lalu kami pulang untuk berganti pakaian dan kembali lagi ke tambak.
Jujur, saya orangnya jijik-an terhadap sesuatu yang teksturnya seperti lumpur. Jadi, begitu saya menginjakkan kaki ke dalam tambak, sensasi aneh langsung seperti mengalir dari kaki hingga kepala saya wkwkwk. Tekstur lumpur yang sangat lembek dan dingin serta mampu membuat sebagian kaki saya masuk ke dalam lumpurnya, berhasil membuat saya berjerit panik pada awalnya. Diikuti dengan tangan saya yang harus meraba raba dasar tambak alias meraba lumpur untuk mencari latohnya. Duhhhh, jiji :(
Diikuti dengan kebodohan saya yang sempat pipis dan kentut di dalam tambak, membuat teman teman saya ini terpekik terkejut wkwkkwkwk. Sore hari ini kami habiskan dengan canda tawa yang benar benar lepas di dalam tambak hingga udara menjadi dingin dan matahari bersembunyi. Saya baru hampir 4 hari tinggal dengan mereka yang notabene orang orang baru di hidup saya, namun entah kenapa rasanya kami mempunyai frekuensi yang sama. 180 derajat terbalik dengan bayangan saya pada awalnya kelompok ini terbentuk.Terimakasih banyak semuanya, untuk pengalaman hari ini!