Kerasan
Seperti rumah yang sudutnya tak berubah
Usang
Lembab
Terkelupas
Terlupa
Sebegitulah arti dari kata kerasan.
Bagi para perantau, berada di Jakarta menyuguhkan pengalaman berbeda.
Katanya gedung pencakar langit, katanya kota bertabur bintang, tak terelak pula seribu harapan terbenam didalamnya. Nostalgia sebuah kota yang selalu tergambar dalam film Warkop DKI, Ateng, Si Doel, dan beberapa bintang yang lahir ditanah ini selalu menggambarkan impian besar. Mobil mewah, rumah dan perempuan kelas Hollywood menjadi iming – iming para perantau.
Wajar saja, Ia adalah ibukota Negara. Tak perlu lagi saya katakan warga Indonesia penasaran untuk melihat gegap gempita kota ini.
Disini pula kelas pekerja bisa sedemikian berulah layaknya kaum bangsawan. Entah mengapa bisa seperti ini, tak tanggung – tanggung pula, hal ini mulai merambah ke setiap kota besar lainnya. Saya ralat, mungkin bukan kota besar, tetapi kota pekerja. Hal ini pula yang saya alami di salah satu kota pekerja paling menjajikan (katanya).
Entah mengapa fenomena memiliki sedikit, lebih berarti dibandingkan untuk berbagi.
Mungkin juga karena begitu banyaknya kewajiban di tanah ini. Mungkin juga karena “kebangsawanan” yang coba untuk disematkan. Atau pun impian yang coba untuk dibangun.
Tak ada yang salah pun benar.
Banyak yang benar – benar menjadi nyata, tidak sedikit pula yang masih bermimpi.
Namun, ada satu hal penting yang tidak masuk akal, yakni embel – embel sukses di kota pekerja. Aneh. Sungguh menyakitkan!
Mungkin juga karena mereka kerasan.
















