Realita Yang Perlahan Mencekik
I/ Menggunakan sepatu yang sama Menggunakan kendaraan yang sama Menuju tujuan yang sama Berangkat dan pulang di jam yang sama
Semua demi menyambung hidup: Melunasi cicilan yang diam-diam mencekik Menempuh perjalanan, berahap penat mereda Membeli barang yg dibutuhkan hingga yang hanya mengisi lemari, tapi mengosongkan hati
II/ Duduk di kursi yang sama Menu hari ini tak jauh beda Lidah mengecap, mata menatap layar Sembari tertawa kecil, tapi rasanya hambar
Kami makan, Tapi lapar tak melulu tentang perut
III/ Notifikasi berbunyi Saldo masuk: Alhamdulillah gaji bulan ini Seketika senyum muncul
Lalu hilang, Dalam lima menit dan tujuh cicilan
IV/ Minggu; hari di mana tubuh ingin istirahat Tapi pikiran malah tak mau rehat Tidur tak pernah nyenyak Karena Senin sudah berbisik Dari balik tirai jendela dan pop up notifikasi
V/ Aku tak lagi minum kopi karena aku suka Tapi karena takut terlambat sadar Bahwa hidup ini Hanya perulangan rasa pahit Yang diseduh hangat-hangat
VI/ Aku masuk toko tanpa rencana Keluar dengan kantong plastik penuh Bukan karena butuh Tapi karena sedih Dan harganya murah
VII/ Jam tiga pagi Semua sunyi, kecuali pikiran Yang sibuk menginterogasi: "apa benar aku bahagia?"
Tidak ada jawaban, Hanya detik jam yang terus berjalan












