A Journey to Ethiopia bab 5 - Keadilan Universal & pandangan Afrosentris Zion dalam Rastafari
"We are confident in the victory of Good over evil" - Kaisar Haile Selassie Etiopia
the Lion of Judah speaks
sang Diraja saat kunjungannya ke negeri Jamaika. Di foto ini terliat beliau sedang bertemu dengan seorang Rastaman.
sang Raja Reggae Bob Marley & Raja diRaja Haile Selassie sebagai latar belakang.
Dengan penuh kepercayaan & ketekadan sang Diraja Etiopia, Haile Selassie menyatakan bahwa bangsa Afrika akan percaya diri menang melawan kejahatan. Ia menyampaikan pernyataan ini kepada hadapan PBB pada 1968 soal serangan Fasis Italia terhadap Etiopia, ia juga menyuarakan bahwa akan bangkitnya Afrika dengan jiwa yang baru. Spirit & fondasi Afrosentris & African Unity (solidaritas antar sesama bangsa Afrika) telah diabadikan di tembang lagu Bob Marley berjudul "War", yang dalam kenyataan lirik lagu tersebut didasarkan oleh Pidato sang Kaisar. Indonesia & Etiopia memiliki hubungan diplomatis yang sangat baik, Etiopia salah satu negara yang hadir saat Konferensi Tingkat Tinggi Asia-Afrika 1955 diselenggarakan, bahkan Presiden Pertama Republik Indonesia Sukarno bertemu dengan sang diraja Haile Selassie saat konferensi pertama Gerakan Non-Blok (Non-Alignement Movement) diadakan di Beograd, Yugoslavia tahun 1961.
12 Mei 2012 atas gagasan Duta Besar RI Bapak Ramli Saud yang ditugaskan di Addis Ababa, program kultural F.O.I. (Friends of Indonesia) diselenggarakan kembali di Ibukota Etiopia. Saya sangat bersyukur bisa menjadi bintang tamu & juga turut serta di program kultural tersebut. F.O.I. ini terdiri dari pengusaha yang punya bisnis dengan Indonesia, warga negara Etiopia yang pernah ikut program beasiswa & kalangan diplomatik yang simpatis atau pernah berkerja/berkunjung ke Indonesia. Namun 12 Mei 2012 adalah peluncuran program baru F.O.I. di mana mahasiswa Etiopia bisa belajar & mengambil kursus Bahasa Indonesia, saya juga senang mendengar program ini karena sebagian besar lirik dalam musik saya dalam Bahasa Indonesia. Saya cukup penasaran bagaimana tanggapan hadirin F.O.I. & juga para mahasiswa Etiopia soal musik Reggae yang akan saya persembahkan. Sebagian besar orang Etiopia terutama generasi muda tahu bahwa musik Reggae terinspirasi oleh sejarah Etiopia & pemimpin terkemuka Afrika yaitu Emperor Haile Selassie; sebaliknya rakyat Jamaika tepatnya pergerakan Rastafari melihat bahwa Etiopia adalah tanah perjanjian bagi bangsa kulit hitam yang mengalami diaspora akibat perbudakan & kolonialisme. Jadi cukup berat tugas saya untuk menampilkan musik Reggae ala Indonesia, terlintas di benak apa akan asingkah mereka dengan nuansa yang akan saya sampaikan saat manggung? Di manakah titik temu antara Reggae, Indonesia & Etiopia? Pertanyaan-pertanyaan itu terjawab pada hari program baru F.O.I. dilaksanakan.
panggung yang disiapkan untuk event F.O.I. 12 Mei 2012
Ada 3 konsep yang direncanakan saat saya pentas di F.O.I., pertama dengan minus-one/playback, kedua dengan band yang telah disediakan oleh KBRI (Kedutaan Besar RI) Etiopia & terakhir kolaborasi dengan seorang musisi Etiopia bernama Ras Mohle. Saya melakukan latihan dengan band sehari sebelum kami ke Addis Ababa University & setelah kembali dari Shashamene & Awasha. Saat saya ingin melihat aula yang akan digunakan untuk acara tersebut, ada 3 orang Etiopia yang sedang sibuk latihan untuk menjadi pemandu acara. 2 dari mereka adalah, seorang perempuan bernama Genet & Danny seorang lelaki, mereka sangat hangat menyambut saya & cukup penasaran bertemu dengan seorang musisi Reggae dari Indonesia. Ternyata selain mereka menjadi pemandu acara program F.O.I. mereka juga merupakan staff lokal KBRI Etiopia, jadi bisa dilihat bahwa Indonesia tetap menjalani hubungan erat dengan Etiopia & tidak menjauhkan diri dari saudara-saudara kita di Afrika. Genet berkata kepada saya "Welcome to Ethiopia", saya menjawabnya dengan "Hamasegenalo" yang artinya terima kasih dalam bahasa Amharik Etiopia, ia pun tertawa bagaimana saya sudah belajar untuk menyebut kalimat itu. Kami pun berempat lanjut berbincang & mereka menanya kenapa saya ingin ke Etiopia, saya menjawab bahwa Bob Marley & musik Reggae yang mendorong saya ke sini. Sepertinya orang Etiopia sangat tersanjung bahwa ada pulau kecil di Karibia, Jamaika yang puluhan ribu kilometer jauhnya melahirkan sebuah musik yang bernama Reggae. Reggae mengadopsi identitas kerajaan Etiopia, warna merah-emas-hijau yang sebetulnya dasar warna bendera Etiopia menjadi indentik dengan imej Reggae secara universal.
saat melakukan ceksound
Danny berkata kepada saya bahwa ia sangat menghargai Reggae & musisi-musisi yang sangat menjiwainya karena berkat Reggae & pergerakan Rastafari, Etiopia akan selalu baik di mata dunia. Ia bilang jika melihat definisi Rastafari di kamus saat ini, akan selalu dihubungkan dengan Etiopia sebagai tanah harapan bangsa kulit hitam; begitu juga dengan Haile Selassie. "Semua ini berkat Reggae & sangat bagus jika musik ini makin mendunia karena generasi muda Etiopia akan lebih mengenal Kaisar Haile Selassie & negerinya sendiri. Di pandangan saya secara pribadi Kaisar Haile Selassie adalah pemimpin yang hebat" ujar saudara Danny. Ia menjelaskan bahwa di puncak kudeta komunis & jatuhnya dinasti Sulaiman di Etiopia, saat Kaisar di rumah pengasingan, beliau hanya meminta dikirimi buku-buku bacaan. Danny melihat bahwa Kaisar Haile Selassie berfikiran progresif yang selalu mementingkan pendidikan bagi bangsanya. Atas perbincangan saya dengan Danny & Genet, saya dapat masukan bahwa saya harus mengunjungi Addis Ababa University karena di situ ada museum yang dulu dijadikan istana Rastafari Haile Selassie.
Bob Marley dengan jaket kesayangannya, tri-warna Merah-Emas-Hijau, dasar warna bendera Etiopia
"Reggae music is King Music" adalah salah satu ucapan Bob Marley yang saya yakini selalu sebagai seorang Duta Reggae, bahwa musik Reggae sebetulnya memiliki pesan-pesan kemanusiaan yang sangat dalam, bahwa musik Reggae adalah musik yang berdiri di atas segala jenis musik yang lain. Kenapa saya yakini itu ? Dari seluruh musik modern yang telah diciptakan di dunia hanya Reggae yang bisa beradaptasi ke setiap budaya di mana ia menyentuhnya. Di Eropa, Amerika Latin, Rusia, Jepang, Eropa Timur "King Music" ada. Bukan hanya sebatas irama tetapi makna yang positif adalah fondasi musik Reggae. Selain perkataan Bob Marley soal "King Music" saya yakin bahwa yang ia maksud adalah sang Diraja, yang berarti setiap musisi, pendengar & pecinta musik Reggae harus sadar ini musik yang dimainkan untuk sang Diraja Kaisar Haile Selassie & negerinya Etiopia. Maka itu saya tekankan bahwa sejarah Etiopia lah yang menginspirasi musik Reggae & telah dijadikan tradisi dalam musik tersebut untuk selalu menghormati negeri pelangi di Afrika ini.
Mungkin masyarakat awam tidak mengenal musik Reggae sebagai musik yang spiritual, musik yang sebetulnya "diasuh" & dikembangkan oleh pergerakan Rastafari. Rastafari selalu menyuarakan Afrika sebagai tempat asal-muasal bangsa kulit hitam & awalnya peradaban, bisa disebut pergerakan Rastafari menggantikan "armed struggle"/perjuangan bersenjata dengan "spiritual struggle". Contohnya seperti saat pergerakan Rastafari tumbuh-kembang di Jamaika setelah era Perang Dunia II, Jamaika masih berada di dalam kekuasaan belenggu pejajahan kolonial Inggris & Ratu Elizabeth sebagai pusat kekuasaan itu. Pergerakan Rastafari menyuarakan bahwa bangsa kulit hitam di Jamaika tidak takluk dengan seorang Ratu berkulit putih di Inggris, Elizabeth bukan ratu bangsa kulit hitam. Gerakan Rastafari lalu menyuarakan "Hei, bangsa kulit hitam ! tahukah kau memiliki seorang Raja ? Ia namanya Kaisar Haile Selassie, Kaisar dari Etiopia keturunan langsung dari David (Dawud) & Solomon (Sulaiman) !". Contoh yang lain adalah prinsip "don't trade a continent for an Island" yang dimaksud jangan tukar sebuah benua Afrika dengan sebuah pulau kecil Jamaika, sadar bahwa bangsa kulit hitam memiliki Afrika dari sejarah & budayanya. Ini yang bisa disebut sebagai pandangan Afrosentris dalam musik Reggae. Sebelum saya mengenal musik Reggae & filosofi Rastafari, tokoh Afrosentris yang saya kenal saat masih muda adalah Malcolm X. Beliau seorang Muslim yang memperjuangkan hak-hak kulit hitam di Amerika, ia mengganti nama Malcolm Little menjadi X yang artinya "unknown", tidak diketahui karena akibat 400 tahun dalam perbudakan bangsa kulit hitam dihapus identitasnya, dihapus agamanya, dihapus bahasanya & budayanya. Ayahnda Malcom X pun seorang Garveyite, pengikut sejati ajaran-ajaran Marcus Garvey yang menjunjung tinggi negeri Afrika & tepatnya Etiopia. "Ethiopia as the Promised Land" tanah perjanjian, tanah harapan bagi bangsa kulit hitam yang telah "diculik" jauh & tercerai-berai oleh kolonialisme.
3 tokoh utama dalam pergerakan Rastafari. Marcus Garvey, Kaisar Haile Selassie & Bob Marley
Danny memiliki cerita yang cukup menarik bahwa ia pernah bertemu seorang Rastaman dari Karibia yang hijrah ke Addis Ababa. Rastaman itu tidak memakai alas kaki sama sekali, lantas Danny bertanya mengapa? Ia dijawab dengan " I am in the Holy Land ! " bahwa Etiopia adalah tanah suci & spiritual birthplace. Harus diketahui bahwa pergerakan Rastafari menggunakan kata "Zion" & "Babylon", "Babylon" sebagai tempat penindasan, belahan dunia barat, kolonialisme, kepalsuan & jauh dari spiritualisme. Kata "Zion" dalam pergerakan Rastafari & juga yang sering digunakan di syair-syair Reggae bukan berpatok kepada timur tengah Jerusalem & Israel. Sama sekali kata "Zion" di Reggae & Rastafari bukan berarti "Zionisme" ala Israel, bukan pakta Zion, bukan Yahudi & bukan negara Israel. Kata "Zion" dalam Rastafari harus dilihat dalam sudut pandang Afrosentris, bahwa Zion yang dimaksud bukan menuju ke timur tengah, negara Israel tetapi AFRIKA sebagai tanah perjanjian bangsa kulit hitam & ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan Yahudi & Judaisme. Saya pun menafsirkan bahwa Zion bukan hanya Afrika sebagai tanah perjanjian bangsa kulit hitam tetapi "Zion" bisa disamakan dengan "Nirwana", tingkat pencerahan tertinggi & hanya insan yang mencapai tingkat itu bisa memasuki & menduduki "Zion". Nabi Muhammad berkata bahwa Kabbah di Mekah adalah Sahyun, bahasa Arab yang berarti Zion. Makna "Sahyun" adalah pusat spiritual, spiritual center & spiritual homeland, bagi Muslimin kita menyalurkan enerji kepada kiblat yang letaknya di Sahyun, Mekah. Ya, tidak usah risau & panik soal mana yang benar, ada yang memanggilnya Surga, Heaven, Paradise atau Nirvana. Yang penting kita tidak melihat "Zion" di Reggae dalam sudut pandang chauvinist & sempit. Berikutnya adalah beberapa kutipan syair lagu-lagu Reggae yang menggunakan kata Zion.
"Holy Mount Zion, Holy Mount Zion. Jah sitteth in Mount Zion & ruleth all creation" - Bob Marley " Jammin' "
"Bukit Kudus Zion, Bukit Kudus Zion. Tuhan menduduki Bukit Zion & menguasai segalanya"
"I got to keep on walking on the road to Zion" - Damian Marley "Road to Zion"
"Ku harus tetap berjalan menuju jalur Zion"
"I have to to be Iron like a Lion in Zion" - Bob Marley, "Iron Lion Zion"
"Ku harus menjadi besi yang kuat seperti Singa dari Zion"
"Fly away home to Zion " - Bob Marley, "Rastaman Chant" traditional Nyabinghi Hymn
"Pulang terbang kembali ke Zion"
" The Rasta come from Zion. Rastaman a Lion" - Bunny Wailer, "Rastaman"
"Rasta berasal dari Zion. Rastaman bagai seekor Singa."
"Ethiopia stretch her hands right now (unto God), calling for all to come on home" - Yabby You, "Zion Gate"
"Ethiopia mengulurkan tangannya (kepada sang Illahi), memanggil kita untuk segera pulang"
" Christians call it heaven. Rasta call it Zion, that's where man live again" - Anthony B "Defend my own"
"Nasrani memanggilnya Surga. Rasta memanggilnya Zion, di mana insan hidup kembali"
"Trod up a Zion fi go see wehh ah gwaan" - Junior Reid "Trod up a Zion"
"Berjalan menuju Zion untuk melihat apa yang terjadi di dunia"
"I got to reach Mount Zion, the highest of region" - Bob Marley "Duppy Conqueror"
"Ku harus mencapai bukit Zion, wilayah/tingkat tertinggi"
"Ethiopia the capital fi di congression & dehh so I belong ah dehh di King come from" - Damian Marley "Land of Promise"
"Ethiopia pusat untuk kongres benua Afrika & itu di mana aku harus berada karena sang Emperor berasal dari situ."
"Yea, we marching onward to Zion. wonderful city of JAH." - Luciano "unto Zion"
" Ya, kita berjalan menuju Zion, kota indah Jah"
" I saw Zion in a vision !" - Garnett Silk "Zion in a vision"
"Ku melihat Zion dalam visiku"
"the victory must be won... Africa ! Forward Home ! Mamma Africa is our destiny" - Lutan Fyah & Ras Shiloh "Motherland Calling"
"Kita layak menang... Afrika ! Maju ke tempat asal-muasal kita ! Mama Afrika adalah tempat yang ditakdirkan"
"Zion High await us all. Mamma Ethiopia, i hear you call. Mamma Ethiopia, i aim for." - Jah Cure "Zion Await"
"Zion menunggu kita semua. Mamma Ethiopia, ku dengar panggilanmu. Mamma Ethiopia, tujuanku"
" Send us another brother Moses, going to cross the Red Sea" - Bob Marley
" Kirimkan kami Nabi Musa yang kedua untuk menyeberangi Laut Merah"
"By the rivers of Babylon, there we sat down & yea we wept when we remember Zion" - Bonney M yang diambil dari lagu tradisional Nyabinghi."
" Di pinggir-pinggir sungai Babylon, di mana kami merenung & menangis saat mengenang Zion."
"Tegar tak bisa digoncangkan bagai Bukit Zion... itu karunia Ilahi dari Bukit Zion." - Ras Muhamad, "Berjaya"
Masih ada ribuan lagu Reggae yang menggunakan kata Zion & pastinya tidak bermaksud menyuarakan panji-panji Israel (minus artis Reggae Yahudi-sentris Matisyahu). Zion dalam pergerakan Rastafari adalah tempat asal-muasal bangsa kulit hitam di mana ia "diculik" oleh Babylon, dicuci otak & dihapuskan identitasnya. Di mana bila kita sendiri menepis soal Zion dalam Rastafari & hubungannya dengan Afrika ya, kita sendiri bermentalitas Babylon yang mendukung penindasan terhadap bangsa kulit hitam. Malcolm X berkata "Mereka (kaum kulit putih) menuduh kami mengajarkan kebencian terhadap kaum kulit putih. Lalu saya kembalikan kepada mereka, siapa yang mengajarkan kami untuk membenci kulit kami sendiri ? membenci paras kami sendiri? membenci apa yang Tuhan telah ciptakan, bahwa sebetulnya kami ini bangsa kulit hitam. Mereka mengajarkan bahwa kulit putih lebih superior & derajatnya lebih tinggi dibanding kulit yang lebih gelap. Kami katakan kepada mereka bahwa bangsa kulit hitam setara derajatnya dengan bangsa kulit putih bahkan lebih baik dari bangsa Eropa, si kulit putih yang telah memporak poranda dunia dengan kolonialisme !!! "
Hajj Malik Al-Shabazz Malcolm X
Malcolm X dengan muridnya, Muhammad Ali
Jika kita melihat apa yang Malcolm X katakan, kita bisa terapkan sudut pandang Afrosentrisme ini di dalam masyarakat Indonesia. Bisa kita analisa bahwa kita sebagai bangsa Indonesia telah terkondisi bahwa kulit "cerah" & kulit yang putih lebih baik. Impian para lelaki Indonesia pun tentang perempuan yang ideal adalah perempuan Indonesia yang kulitnya putih, bahkan dalam periklanan perempuan Indonesia digempur terus untuk "memutihkan" kulitnya. Lantas bagaimana dengan jutaan Sarinah kita yang berkulit gelap & "sawo mateng"? Kurang cantikkah mereka ? Apa Sarinah kita, perempuan Indonesia harus memiliki "features"/tipe yang sama seperti wanita dari Eropa ? Berkulit putih, bermata biru/hijau & berambut pirang ? Banggakah kita jika berkulit gelap, berambut ikal & bermata coklat gelap ?. Saya kutip Marcus Garvey yang menanamkan fondasi Afrosentris di dalam pergerakan Rastafari bahwa "BLACK IS BEAUTIFUL". Ya, Hitam itu indah sama dengan putih. Marcus Garvey mengajarkan bangsa kulit hitam untuk mencintai diri mereka sendiri, kita pun sebagai bangsa Indonesia bisa memetik ajaran Afrosentris ini. Bahwa sebelum ada raja-raja & ratu-ratu di Inggris, Spanyol, Belanda & seterusnya; ribuan tahun sebelum itu ada kerajaan-kerajaan Mesir,Nubia & Axum (Sheba) yang semuanya berkulit gelap. Nasionalisme Indonesia Bung Karno pun mengajarkan ini bahwa kita "bukan bangsa kuli, bukan bangsa tempe", ingat bahwa rakyat Jawa yang berkulit "sawo mateng" di sudut pandang penjajah Belanda dianggap bahwa orang Jawa seperempat manusia & sisanya hewan. Ingat bahwa penjajah kolonial Belanda menganggap bahwa "inlander"/pribumi Indonesia hanya layak untuk diludahi. Begitu kejam & merendahkannya kolonialisme bagi bangsa Indonesia, saya pun penasaran dengan perlakuan apa saja yang dilakukan oleh kolonial Belanda terhadap nenek-kakek moyang kita yang telah ditindas 350 tahun lamanya. Karena dengan tingkat kesadaran itu, kita bisa betul-betul menghapuskan mentalitas kolonialisme Babylon yang masih tersisa di dalam diri kita. Nasionalisme bukanlah sebatas mengibar bendera atau sebagai identitas kewarganegaraan yang tercantum dalam paspor. Nasionalisme bukan sebatas perkataan cinta dengan Indonesia tetapi mata berkilau saat melihat orang kulit putih. Nasionalisme utama adalah jiwaraga di dalam setiap rakyat Indonesia, maka itu Presiden Sukarno sangat menggalakkan "Nation & Character Building"
Bapak Marhaen Indonesia, Presiden Sukarno, Pemimpin Besar Revolusi
Sebuah penghormatan saat saya bisa tampil di event F.O.I. yang diselenggarakan di Addis Ababa, Etiopia. Selain mengharumkan nama Indonesia, saya sebagai musisi Reggae melihat bahwa ini untuk pertama kalinya seorang musisi Reggae Indonesia tampil di tempat fondasi & pusat inspirasi musik Reggae. Jika tri-tunggal Merah, Emas & Hijau berkibar ya saya berada di tempatnya "I am Home" & saya merasa sambutan yang sangat hangat dari orang Etiopia yang menyaksikan saya tampil. Ada beberapa pertanyaan di antara mahasiswa Etiopia apakah saya orang Jamaika yang lahir di Indonesia ? Saya hanya bisa tersenyum mendengar hal itu, saya seorang putra Indonesia yang bersyukur bisa belajar banyak & mendalami Rastafari & musik Reggae. Atas permintaan Ibunda saya yang juga mencintai musik Regggae, beliau berkata bahwa acara F.O.I. sangat pas jika saya membawakan lagu "War"-nya Bob Marley karena liriknya didasarkan dari pidato sang Kaisar Etiopia. Saya pun setuju & saya persembahkan lagu "War" dalam sebuah kolaborasi dengan musisi Reggae Etiopia, Ras Mohle. Saya sampaikan kepada hadirin F.O.I. di tempat bahwa lagu Bob Marley ini didasarkan oleh "The Words of the King", kata-kata sang Diraja. Menurut saya, kata-kata Kaisar Haile Selassie di lirik "War" adalah nilai-nilai & kebenaran mutlak soal kemanusiaan bagaimana ia mencapai sebuah perdamaian di dunia. Banyak ajarannya yang bisa dipetik dari kata-kata yang sangat dahsyat oleh Kaisar Haile Selassie, andai kita sanggup menyikapi & mewujudkannya kita bisa mengerti akan adanya "UNIVERSAL JUSTICE". Berikutnya adalah syair dari lagu "War".
"until the philosophy which hold one race superior & another inferior is finally & permanently discredited & abandoned. (everywhere is war)
until there are no longer first-class nor second-class citizens of any nation.
until the color of a man's skin is of no more significance than the color of his eyes.
until the basic human rights are equally guaranteed to all without regard to race.
until that day the dream of lasting peace world citizenship & the rule of international morality shall remain in but a fleeting illusion to be pursued to never attained.
until that day the African continent shall not know peace, we Africans will fight if find necessary. we know we shall win as we are confident in the victory of good over evil"
(perang akan tetap berlangsung di mana saja)
hingga dihentikannya filosofi yang memandang bahwa suatu bangsa lebih superior dari bangsa lain
hingga tak ada lagi penduduk dunia yang merasa kelas satu, yang lain kelas dua;
hingga warna kulit seorang manusia tidak lebih penting dari warna bola matanya;
hingga dasar hak asasi manusia dijamin tanpa memandang ras/golongan;
tibalah saatnya, impian tentang terciptanya perdamaian yang abadi bagi umat manusia dan terciptanya tatanan moral internasional, namun jika hanya menjadi sekedar ilusi maka cita-cita tersebut tidak akan tercapai,
jika demikan benua Afrika tidak dapat mencapai perdamaian, jika diperlukan kami bangsa Afrika akan berjuang.
Kami tahu kami akan menang karena kami percaya bahwa kebaikan akan mengalahkan kejahatan.
Sebuah kata-kata yang menggambarkan impian dunia tanpa perang, tanpa rasisme & diskriminasi. Saya pun sebagai musisi Reggae Indonesia berusaha menerapkan kata-kata sang diRaja Haile Selassie ke dalam syair "Tanah Perjanjian", sebuah lagu yang diciptakan oleh Glenn Fredly, Saya & Wisnu "Wizzow" Prastowo. Lagu "Tanah Perjanjian" mengangkat soal saudara-saudara kita di Papua yang hingga kini bisa disebut diperlakukan sebagai warga negara Indonesia "Kelas B" oleh sistem negara yang dimaksud Kaisar Haile Selassie "second-class citizen". Betul sekali dengan perkataan bahwa adanya "First-class & second-class citizen" , warga negara kelas A & B akan selalu terjadi pertentangan & pertikaian; maka itu muncul gerakan separatis yang ingin independen dari Republik. Saya hanya bisa mengingatkan dalam lagu "Tanah Perjanjian" akan PancaSila yang "semestinya" menjadi kenyataan di seluruh wilayah Republik Indonesia. Saya gabungkan jiwa Nasionalisme & ajaran Kaisar Haile Selassie di lirik berikut dari lagu "Tanah Perjanjian"
"Keadilan sosial semestinya terbagi rata.
tak memandang kulit, kelas bahkan bola mata.
di hadapan Illahi kita semua ini sama.
yang membedakan kita hanya dosa & pahala"
Kalimat pertama saya tafsirkan dari sila kelima dasar negara Indonesia & kalimat kedua saya ambil dari kata-kata Kaisar Haile Selassie di lagu "War"-nya Bob Marley. Kalimat ketiga saya kutip dari kalimat Rastafari Haile Selassie, beliau berkata "EQUAL IN THE EYES OF THE ALMIGHTY" bahwa semua manusia diciptakan setara derajatnya karena masing-masing memiliki kelebihan & kekurangan tertentu & pada akhirnya hanya amal-ibadah & perbuatan kita yang akan dinilai.
His Excellency Ato Ramli Saud saat membuka acara F.O.I.
dengan Tibebe Selassie, seorang jurnalis yang mewawancarai saya.
Big up ! Jah Love !!!
Semoga sejauh ini dalam catatan saya, apa yang saya harapkan agar musik Reggae tidak hanya dipandang sebagai sebatas genre musik, bukan sebagai musik pantai untuk menghibur turis saat liburan. Dari Indonesia melintasi Jamaika lalu ke tempat awalnya peradaban yaitu Etiopia, Afrika. Mengajarkan "Universal Justice" & berkata , saya kutip penyanyi Reggae Ras Shiloh "UNTO ZION WE GO !"
*lagu War Bob Marley bisa disimak di http://www.youtube.com/watch?v=vPZydAotVOY










