“Dek, mana Ayah ?” Seseorang tiba-tiba menerbangkan pertanyaan diantara kerumunan pembeli lainnya ketika aku sedang menjaga warung.
“Di rumah bg. Kenapa bg ?” Aku menjawab dengan isi kepala yang mulai terus menerka-nerka. Tampak familier rasanya.
“hmm. Mau ambil paket sama Ayah.” Dia menjawab sambil gelagapan. Akupun lebih bingung lagi.
“Paket Ayah ? Paket apa ya bg ?” Pembeli lain ikut menyimak tanya-jawab kami.
“30 paket dek. Pesanan sembako dari B*I tadi. Biar abg telpon Ayah…”
“Ohh barang orang abang… kalo itu ada bg. Udah siap tinggal angkut. Kirain apa paketnya” Aku menunjukkan paket sembako yang sudah dikemas dan selembar nota putih berstempel kepadanya diiringi oleh tawa para pembeli yang ikut menyimak.
“Udah dijemput barang dari B*I tadi ?” Ayah memastikan jawabanku.
“Siapa tadi yang jemput ?”
“Petugas B*I kayaknya yah. Bawa mobil tadi dia jemputnya.”
“Oh bukan abg ***n yang jemput ?”
“Ga tau juga yah. Pokoknya cowok bertopi lah tadi.”
Ayahku berlalu dan aku masih menerka-nerka. Aku punya kebiasaan buruk, jika terasa pernah melihat atau pernah kenal seseorang yang ku lihat dan aku tidak ingat, aku pasti akan memikirkannya sampai ingat.
Sesampai di rumah aku menemukan jawabannya. Ternyata orang tadi adalah seseorang yang pernah diantar oleh orangtuanya ke rumah untuk melamarku sekitar tahun 2014 silam. Lalu bertemu kembali dengan orangtua nya ketika aku mengantarkan undangan pernikahan adikku ke rumah mereka. Pantas saja wajahnya tidak asing, dan dia terlihat kikuk saat bertemu aku tadi. Hahahha.
Dulu, mereka adalah keluarga pertama yang datang melamarku. Aku masih polos dan tak mengerti rekayasa keluarga saat aku disuruh mengantarkan minuman kepada tamu. Aku pikir tamu biasa. Jadi aku biasa saja. Berpenampilan biasa, masih kanak-kanak sekali. Maklum masih 22 tahun.
Setelah mereka pulang barulah aku mengerti. Dan qadarullah kami tidak berjodoh. Bukan karena dia tidak baik, bukan pula karena keluarganya tidak baik, bukan karena pekerjaannya tidak bagus, atau bukan pula karena rupanya yang tidak bagus. Semuanya baik. Tapi aku masih terlalu muda saat itu.
Andai aku menikah di tahun itu, mungkin saja aku belum bertemu teman-temanku yang sekarang, belum aktif berorganisasi seperti sekarang, dll.