Saat disini mentari dibalut hujan, kau mungkin baru terbangun dari sindikat-sindikat mimpi. Jadi, biarkan saya menulis ini.
Kau tahu intuisi? Ya, semacam dorongan dari ‘dunia lain’. Tidak, tak setitikpun aroma mistis didalamnya. Ini seperti inisiatif, tentang komando terbesar dalam tiap-tiap diri.
Hal itu selalu ada saat kau datang. Saat lalu lalang diantara tegur dan sapa kawan-kawan. Saat mereka membahas dan bercerita tentang banyak hal; Mulai dari liburannya, tentang kapan harus mulai membayar uang kuliah; Dan bait-bait cerita mereka tentang kerinduan.
Terkadang kau juga ikut bercerita. Namun tak jarang kau hanya sekadar melihat, atau mengirim stiker tanpa banyak kata.
Lalu, dorongan itu muncul.
“Tanyakan bagaimana kabarnya!”
.. Dengan pertanyaan sejenis seperti itu.
Tentu saja, saya melakukannya. Dan, balasannya, selalu seperti itu. Sesingkat itu, sesederhana itu.
Kecewa? Tentu tidak. Semua orang tahu, dia memang suka membuat orang lain terpaku (tepatnya penasaran, maksudku). Dan anehnya, saya menyukai itu.
Haha, tidak, bukan dia. Sifatnya; yang didalamnya adalah dia. He he.
Balasannya selalu singkat; tapi sarat. Sarat dengan makna, cerita, dan sedikit kelucuan didalamnya . Kau tahu, terkadang ia suka bercanda, tapi hanya ia yang mengerti apa maksud candaannya.
Setidaknya, dapat ditarik kesimpulan bahwa saya tidak ber-intuisi sendiri.
Ada sebuah dorongan dalam dirinya (juga). Dan itu hal yang baik.
Sebab, manusia mana yang suka menjadi angin?
Lewat, memberi nikmat, namun terabai.
:)
(Jayapura, saat kabut dan dingin selalu menyapa. 2017)