moved to refinangsori.tumblr.com
KIROKAZE

Andulka
tumblr dot com

roma★
Cosmic Funnies

shark vs the universe
cherry valley forever

JBB: An Artblog!
art blog(derogatory)

izzy's playlists!

tannertan36
AnasAbdin
🪼
"I'm Dorothy Gale from Kansas"

祝日 / Permanent Vacation
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open

PR's Tumblrdome

Kaledo Art
I'd rather be in outer space 🛸

oozey mess

seen from Mexico
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from Iraq

seen from Austria
seen from Italy
seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from Canada
seen from Russia

seen from United States

seen from United States
@reefina-blog
moved to refinangsori.tumblr.com
...Hanya di tempat terbaik orang bisa tumbuh dengan maksimal. Namun, tempat terbaik tak sama dengan kenyamanan terbaik
Sebuah pesan dalam 'Rudy, kisah masa muda yang visioner'. Sebuah pesan dari Om Besari, Ayah dari Hasri Ainun Besari, kepada Rudy Habibie.
Kapan bahaya tak bisa menyentuh kita menurut rumus surat Ali Imran? Ada rumus di sini. Tak ada bahaya bisa menyentuhmu jika kamu memberanikan diri dan belajar membela dirimu sendiri. Saat kamu berhenti merasa takut . . - Nouman Ali Khan
#noumanalikhan #nakindonesia #nakquote
Menelan yang pahit tak melulu buruk. Dan semua yang bertransformasi, di dunia ini, tak luput dari itu. Semoga pahit ini kelak membunga dengan cantik dan membuahkan yang manis
Notulensi Diskusi Online ASA Indonesia “Pentingnya Pendidikan Pra Nikah Sejak dini”
Pemateri (boomber) : Ikhsanun Kamil Pratama
Pernikahan harmonis, sesungguhnya bukan pernikahan yang tidak memiliki konflik sama sekali. Pernikahan harmonis adalah pernikahan yang memiliki konflik, dan ketika pasangan suami-istri memiliki kemampuan memanajemen setiap perbedaan yang ada. Memanajemen perbedaan adalah sebab terpenting dalam sebuah pernikahan, disebut menikah dewasa.
Banyak orang berharap mendapatkan kebahagiaan dari pernikahan, tetapi fakta di lapangan tidak demikian. Hal tersebut diperparah dengan tidak adanya ilmu yang dimilki untuk memanajemen perbedaan yang ada. Kemenag mendapatkan data tahun 2015 bahwa satu dari lima pernikahan berakhir dengan perceraian. Kejadian tersebut merupakan kejadian yang masuk kategori pertama dalam hal jodoh.
Jodoh kategori pertama hanya di dunia saja, tidak sampai akhirat karena berakhir dengan perceraian. Jodoh kategori dua, yaitu ketika di dunia selalu bersama, namun tidak sampai akhirat. Hal tersebut, tentu bukanlah hal yang diharapkan sehingga tidak cukup hanya sekedar bertemu jodoh, kemudian menikah.
Banyak suami, istri, dan anak, hidup di dalam rumah yang sama, but they are homeless. Pernikahan harmonis dalam kasus ini tidak tercapai. Pernikahan harmonis yang kita bangun, kelak akan menjadi warisan terindah bagi anak-anak. Jodoh kategori tiga adalah jodoh di dunia yang harmonis dan dipertemukan di akhirat. Mereka kompak, harmonis, namun berakhir di neraka. Contohnya, yang tertulis di Al-quran, kisah Abu Lahab dan Ummu Jamil. Mereka pasangan yang sangat kompak dalam menghina dan membully Rasulullah dan menentangnya.
Dewasa ini, semakin terasa bahwa kita perlu mempunyai ilmu menjadi home untuk orang-orang disekitar kita. Latihan perdana sebelum menikah, adalah menjadi home untuk orang tua kita. Pondasi dasar dari jodoh dunia akhirat tidak datang begitu saja, namun perlu dibentuk dan diperjuangkan. Pondasi paling dasar adalah niat. Mungkin ini terkesan klise, namun ternyata sangat mempengaruhi segalanya.
Niat itu seperti surat, salah tulis akan salah alamat. Ada orang yang ketika niat dimulutnya berucap karena ibadah, tapi hatinya berniat karena bosasn hidup sendiri. Apa yang riskan dari hal tersebut ? ketika menikah karena bosan hidup sendiri, akhirnya ada yang menemani. Namun, mulai kecewa berat ketika dihadapkan dalam sebuah kondisi yang sulit.
Ada contoh lain, ketika berucap niat untuk menikah adalah untuk ibadah. Namun, dalam hati ternyata karena sudah lelah dan ingin kabur dari rumah. Ketika kita bicara tentang meluruskan niat, sebetulnya bukan hal yang klise. Tapi hal yang penting karena melibatkan suara hati, untuk menguaknya kita perlu kejujuran dan kerelaan hati.
Jika menikah karena sudah betul-betul ingin beribadah, ini sungguh luar biasa dan kita perlu mengemudikan hati kita di jalan seperti ini. Lalu, maksud menikah karena ibadah itu seperti apa ? sebelum menjawab hal tersebut. Kita harus terlebih dahulu memahami, bahwa dalam hidup terdapat dua titik, yaitu kebahagiaan dan ketidakbahagiaan. Kedua hal itu, adalah hal yang pasti di dalam hidup. Inilah sebabnya pernikahan sering disebut menyempurnakan separuh agama. Ketika pernikahan terjadi, kebahagiaan bobotnya akan ditambah, kesedihan juga. Hak akan bertambah, kewajiban juga.
Rezeki semakin bertambah, tentu juga sesekali akan diberikan kesempitan. Maka akan semakin tidak relevan jika menikah hanya sekedar untuk bahagia. Hal tersebut akan cenderung menjauhkan hati kita dari ketidakpastian menerima kekecewaan. Maka menikah untuk ibadah itu adalah ketika kita mengejar yang namanya berkah. Apa artinya berkah ? bertambahnya kebaikan disetiap kondisi.
So, menikah untuk ibadah berarti kesiapan hati untuk menerima semua takdirNya dan berela hati untuk melakukan yang terbaik dari apapun yang ditakdirkanNya. Jika sudah siap, menikahlah dan kemudikan hati di jalan barokah. Setelah meluruskan niat, kita perlu belajar dan meng-upgrade diri dengan ilmu-ilmu, agar kita bisa membangun home untuk keluarga kita sendiri. Setelah meng-upgrade kita harus menyeleksi. Menikahi pasangan yang kita cintai itu kemungkinan, mencintai pasangan yang kita nikahi itu kewajiban.
Diantara empat kategori jodoh, tentu kita menginginkan jodoh dunia sampai akhirat dan berkumpul di surga kan. Namun, melakukannya bukannlah hal yang mudah. Hal tersebut sangat BERHARGA. Ia perlu menundukkan nafsu, menyalakan logika, dan mengunakan nurani. Pondasi sederhananya, adalah niat. Bagaimana mengemudikan niat kita di jalan berkah. Berkah sebelum pernikahan dengan menjaga tidak berpacaran, berkah ketika proses menuju pernikahan, dan berkah pula setelah akad nikah teucap. Kita tidak akan bisa menyangka, ketika kita melakukan itu semua, kita bisa berjumpa dengan jodoh dunia akhirat, dan membangun rumah tangga surga. Sebuah rumah tangga yang seindah surga, sebuah rumah sebagai tangga menuju surga.
Nah, ini yang masih saya cari: menikah karena ibadah. Saya masih belum paham dengan baik terkait kondisi seperti apa yang dapat dikatakan ‘menikah karena ibadah’. Jika hari itu tiba disuatu masa, saya khawatir masih ada berbongkah-bongkah sebab-musabab berlatar lain dibalik fasihnya bibir berucap: ‘menikah karena ibadah’. Sulit untuk tidak munafik, apalagi saya masih manusia.
Kita Sudah Punya Semuanya
Tahu kenapa hidup kita ga enak?
Karena kita mulai membandingkan hidup kita dengan hidup orang lain.
Kita membandingkan apa yang mereka punya, sementara kita tidak. Kita iri dengan jalan mereka yang lurus, sedang jalan kita berputar-putar. Kita menginginkan perjuangan mereka yang mudah, sedang perjuangan kita begitu sulit.
Membandingkan adalah aktivitas tanpa akhir.
Ramadhan dua tahun lalu, saya buka puasa bareng sahabat lama saya, @anjasbiki. Anjas teman saya sejak di pesantren, dan lanjut kuliah bareng di universitas dan fakultas yang sama.
Waktu itu masing-masing kita sudah bekerja dan punya penghasilan, dan kami makan di warteg langganan di depan kosan. Saya pesan makanan langganan sejak kuliah: nasi + usus + telur dadar. Ceritanya mau nostalgia.
Dulu rasanya makan dengan menu itu rasanya super enak. Super mewah, pokoknya setiap pulang kuliah dan kelaparan, makan dengan menu itu rasanya luar biasa.
Saya duduk bareng Anjas dan mulai makan. Lalu satu dua suap pertama, kok saya merasakan hal yang aneh. Saya kunyah lagi, dan otomatis saya menoleh ke Anjas.
Ternyata rasa nasi wartegnya ga seenak yang saya kira.
Saya dan Anjas langsung tertawa, karena kita langsung paham alasannya kenapa. Selama kuliah, nasi warteg ini jadi makanan termewah yang biasa kita konsumsi setiap hari, saat itu. Setelah punya referensi dan kemampuan membeli makanan yang lebih baik, makan di warteg ini rasanya jadi hambar.
Ternyata karena membandingkan, nasi yang dulu saya anggap paling enak, sekarang jadi kurang sedap.
Lalu obrolan kami berlanjut jadi lebih filosofis.
“Itulah kenapa, kaya itu bukan soal uangnya”, kata Anjas sambil menyeruput es teh manis. “Tapi soal seberapa bisa kita berterima kasih dengan apa yang ada”.
Semakin punya uang, saya semakin bisa merasakan bahwa kaya memang hanya soal pikiran. Karena jika rasa kaya diukur dari apa yang bisa kita punya, rasanya tidak akan ada habisnya.
Waktu dulu belum punya handphone apapun, punya nokia saja rasanya sudah bahagia. Sekarang punya smartphone Asus Zenfone, inginnya punya iPhone.
Dulu waktu belum punya kamera, bisa megang Canon pocket aja senangnya luar biasa. Sekarang punya kamera Prosumer, pengen juga punya GoPro dan Mirrorless.
Dulu waktu kemana-mana masih naik kendaraan umum, punya motor aja sudah gaya. Sekarang punya motor, kepengen punya mobil. Nanti punya mobil, pengen punya helikopter. Punya helikopter, pengen punya jet pribadi. Dan begitu seterusnya sampai mati.
Peace comes from within, don’t seek it without.
Kebahagiaan harus selalu dicari ke dalam, bukan ke luar. Terbang ke atas tidak akan pernah membuat kita sampai, karena langit tak pernah punya ujung untuk digapai.
Tapi berenang ke dalam, akan selalu membahagiakan.
Karena saat hati kita berhasil menyentuh dasarnya, kita akan tahu: kita sudah punya semuanya.
Karena saat hati kita berhasil menyentuh dasarnya, kita akan tahu: kita sudah punya semuanya.
Bener banget ini, bener. Beberapa hari terakhir saya sedang kepo-kepo (lagi) tulisannya mas-mas academicus ini, hehe. Tulisannya yang super nyantai jadi alasan utama kenapa asik banget buat disimak, bisa dibilang menyederhanakan bahasan-bahasan yang berat. Teringat sekitar 2015 lalu, itulah pertama kalinya saya mendengar nama Iqbalhape alias Iqbal Hariadi, beliau jadi salah satu pembicara di acara Agriculture Youth Leader Camp 2015 (AYLC) yang digawangi oleh Ikatan BEM Pertanian Indonesia. Ketika itu posisi saya adalah sebagai panitia penyelenggara, kebetulan bantu beliau pencet-pencet slide presentasinya. Tema yang dibahas terkait branding, and that’s inspiring me so much.
Eh, iya, jadi ngereblog terus nih, hahaha.
Start A New
Satu bulan belakangan saya sedang rajin membaca cerita-cerita gagal.
Di perjalanan kereta Bogor-Jakarta kemarin, saya sengaja membuka aplikasi Medium, mengetikkan keyword “Fail Startup”, dan membaca 10 artikel teratas:
“My Startup Fail, and This is What Feels Like"
“Lessons from My Failed Startup”
“10 Things I Would Do Different For My Next Startup”
Selama perjalanan, saya membaca semua cerita, dan wow. Fail stories never fail me to learn so much.
Buat saya, cerita gagal memberikan pelajaran jauh lebih banyak dibanding cerita sukses.
Cerita sukses seringkali hanya berisi yang manis, sedangkan cerita pahitnya hanya jadi bumbu dan dibahas sekenanya
Di sisi lain, cerita gagal selalu jujur apa adanya. Ketika seseorang sudah punya courage dan wisdom untuk berbagi fail story, maka semua yang terceritakan penuh dengan pelajaran.
Dalam salah satu tulisan, Jaka Wira bercerita tentang keputusannya menutup Valadoo, startup travel yang dibangunnya sejak 2010. April 2015, Jaka resmi menutup perusahaannya.
“Now, I see tons of would have, could have, should have. But for me, that’s already the past. A very hard lesson"
Masa lalu tidak bisa kita ubah, tapi selalu bisa kita pelajari.
Now, you may face many failures in your life. It sucks, it hurts, but that’s okay.
The more important thing is that you learn, and keep moving on.
So keep hustling. Move fast and break things.
Fail fast, learn faster.
And then… Start a new.
Sebuah introspeksi. Kebanyakan dari kita, termasuk saya, entah mengapa selalu saja memiliki preferensi untuk membaca ataupun mendengarkan kisah sukses seseorang, dengan dalih dapat tersemangati oleh kisahnya. Dan saat ini yang saya rasakan, alih-alih termotivasi dan bangkit, kenyataannya tak semudah itu. Mungkin ini saatnya memperluas lagi dengan membaca kisah yang tak melulu soal sukses. Apa yang saya dapat? Ternyata kisah tentang kegagalan dapat mengispirasi sekaligus memberi pelajaran, salah satunya terkait should do/ shouldn’t do. Menjadi pengingat, bahwa hidup sejatinya memang tak melulu lurus lempeng kayak tiang bendera. Dan yang terbaik dari semua itu, ada hikmah terselip didalamnya serta sisi bijak, sebuah nasihat dari empunya. Well, that’s all on my mind now, big thanks to bang @iqbalhariadi atas tulisannya.
Video ini sangat menggugah bagi saya.. Silahkan disimak.. ☺️
Saya bukan orang yang ahli dalam hal ajar-mengajar atau didik-mendidik, terjun dalam bidang tersebut dalam jelmaan profesi merupakan sebuah tantangan baru yang memaksa saya untuk selalu berpikir soal: ‘Bagaimana caranya agar anak-anak dapat berkembang sesuai dengan kemampuannya?’. Bukan hal yang mudah menangani belasan kepala dalam satu ruangan yang sama dan 'memaksa’ mereka untuk mengikuti satu komando yang juga sama, terlebih mereka adalah anak-anak usia dini yang menurut teorinya hanya memiliki kemampuan konsentrasi selama 5 menit, hanya 5 menit saja. Kalau mengingat masa-masa wajib sekolah, saya jadi tersadar bahwa ternyata pekerjaan guru itu berat sekali. Tak hanya mengajari materi 'tuntutan’ jenjang berikutnya (kenapa saya katakan tuntutan? Karena pada kenyataannya memang seperti itu secara generalnya), guru pun mendidik siswa-siswinya agar dapat berperilaku baik, belum lagi guru harus terus mengasah kemampuannya agar semakin kreatif dalam mengajarkan materi yang disampaikannya.
Pendidikan formal sangatlah penting, namun semua itu seharusnya juga didukung oleh lingkungan terdekat anak yakni keluarga, secara khusus saya tekankan pada orangtua. Tentu setiap orangtua ingin memiliki anak-anak yang baik akhlaknya serta masa depannya yang juga cemerlang. Namun sekali lagi harus dipahami bahwa sinkronisasi antara pihak sekolah (utamanya guru terkait) dan pihak keluarga merupakan kunci utamanya. Menyerahkan anak sepenuhnya pada pihak sekolah bukanlah hal yang bijak. Jika diberi pertanyaan: Siapa yang lebih memahami anak? Biasanya ayah dan ibu berebut pengakuan. Pertanyaan selanjutnya: jika demikian, masih rela menyerahkan anak Anda sepenuhnya pada pihak sekolah (berlepas tangan begitu saja, hanya mau tahu 'yang penting anak saya jadi anak yang pandai’), padahal pihak sekolah butuh waktu untuk benar-benar memahami anak Anda?
Saya akui sebagai 'mantan anak sekolah formal’, khususnya pendidikan dasar wajib, dari dulu sampai sekarang sekolah ya begitu-begitu saja. Tapi saya yakin tidak ada guru didunia ini yang mau dituduh melakukan malapraktek pendidikan. Saya yakin semua guru telah mengerahkan segenap kemampuannya dalam hal mengajar dan mendidik siswa-siswinya. Tetapi mengapa dari dulu sampai sekarang sekolah itu ya begitu-begitu saja? Apakah benar guru (pendidikan formal) 'terjebak’ dalam sistem pendidikan yang ada? Bisa jadi. Tetapi kembali lagi, yang jelas kesuksesan anak (sukses dalam artian yang luas) tentu didukung oleh lingkungan disekitarnya. Ketika lingkungan disekitarnya tidak mendukung perkembangannya, apa yang terjadi? Dengan segala tuntutan-tuntutan yang dilontarkan tanpa pandang bulu, tentu seorang anak akan merasa bodoh seumur hidupnya karena ketidakmampuannya mewujudkan tuntutan tersebut. Sering terdengar oleh saya kalimat ini: Bisa karena biasa, biasa karena dipaksa. Tetapi ketika dipaksa sesuatu yang tidak sesuai dengan kemampuan kita, rasanya gimana sih bro?
Yaudah gitu aja, sama-sama introspeksi. Baik guru, pembuat sistem pendidikan, maupun orangtua harus memahami apa hakikat pendidikan (baik secara formal maupun tidak, keilmuan maupun moral), dan juga sebagai siswa-siswi khususnya yang sudah baligh dan dewasa harus memahami apa hakikat belajar dan pentingnya menghargai guru juga orangtua, karena mereka adalah orang-orang yang senantiasa memiliki keinginan tertinggi untuk memberikan yang terbaik pada anak-anaknya.
Yuk dukung anak berkembang sesuai kemampuannya, walaupun secara lahiriah saya juga belum punya, hehe. BTW videonya menurut saya keren, menginspirasi, khususnya dalam hal yang sedang saya tekankan.
Introspeksi juga buat saya. Mohon maaf atas segala kata, harap maklum karena hanya manusia biasa.
Jadi ngalor-ngidul ya, soal anak-anak memang selalu jadi perbincangan panjang dan kompleks.
How far the journey you have done?
Sebuah tulisan
Seperti biasa pelajaran dimulai pada pukul 21.30, lepas tilawah jama’i dan serentet pengumuman-pengumuman seputar asrama. Beberapa hari terakhir pelajaran dilakukan di kamar salah satu santri yang masih lenggang karena kebetulan belum full team anggotanya. Sembari menunggu santri lainnya, saya iseng mengamati sudut-sudut kamar, dan satu hal yang menarik dikamar tersebut adalah adanya selembar peta dunia berukuran besar yang menempel didinding, mungkin sekitar ukuran A2, dengan format landscape. Tiba-tiba angan saya melambung, bertanya-tanya: Sudah sejauh mana perjalanan yang saya lakukan? Akhirnya saya terpikir untuk mencari peta dunia via internet, lalu mencorat-coret ala kadarnya, dan inilah hasilnya.
*Mohon maaf sumber tidak dicantumkan, yang jelas ini bukan hak cipta milik saya*
Walaupun belum pernah melakukan perjalanan mancanegara, setidaknya saya sudah pernah melangkahkan kaki saya keluar pulau Jawa ya, Alhamdulillah… Tetapi tentu hal ini semakin membuat saya ingin terbang lebih jauh lagi, seperti mimpi saya sejak kecil yang sangat ingin (minimal) bisa melancong ke negeri Matahari Terbit. Kesempatan untuk ambil D2 manga dan animasi di negeri tersebut saya tanggalkan demi orangtua dan mengambil kesempatan ditempat lain, saat itu. Namun kenyataannya kini saya masih terjebak di kotak yang sama sejak 2011 lalu. Semoga segera bisa melompati kotaknya tahun ini, dan terbang lebih jauh lagi.
Sejauh ini, perjalanan saya yakni seputar Sumatera, Pulau Jawa, dan Pulau Bali, yang beberapa diantaranya didominasi oleh keperluan kesenangan batin semata. Perjalanan sedikit serius bisa dihitung dengan jari, yang nominasinya yakni menjadi delegasi. Jika dibandingkan, daripada melakukan perjalanan pariwisata, saya lebih senang melakukan perjalanan sebagai delegasi. Ada rasa yang berbeda yang tak bisa saya jelaskan, karena sensasi menjadi delegasi sangat luar biasa. Menjadi delegasi merupakan suatu kesempatan untuk melakukan pariwisata versi serius, efek sampingnya yakni bertemu rekanan-rekanan bertukar pikiran yang dapat menambah wawasan dan jaringan. Sayangnya kesempatan-kesempatan yang lalu belum saya maksimalkan sepenuhnya, berkaca bahwasannya dahulu saya belum seterbuka saat ini, dapat dikatakan masih ragu dan malu-malu berbicara dengan orang-orang baru. Jika dikatakan menyesal, hm… Tidak juga. Karena setiap langkah kecil punya ceritanya sendiri, every single step has story. Saya bersyukur pernah mendapatkan kesempatan tersebut yang karenanya saya belajar bahwasannya keterbukaan adalah hal yang penting, dalam hal ini terbuka pada wawasan baru, lingkungan baru, orang baru, dan segala hal yang berkaitan. Olehkarenanya, selalu penting memastikan gelas kita sekosong mungkin sebelum menggembol ransel dan melakukan perjalanan.
Semoga dalam waktu dekat bisa melancong lagi, lebih jauh, atau sekedar menuju sudut-sudut belum terjamah ditempat berpijak saat ini. Keep walking, keep learning, punya banyak cerita agar bisa terus berbagi.
.
.
.
Asrama, hari ke tujuhpuluhsembilan 26 Agustus 2016