tentang ayah
tidak banyak saya menulis tentang ayah. jika anak-anak perempuan kerap menyebut bahwa ayah adalah cinta pertamanya, saya tak merasa demikian. tapi, jika dipaksa, mungkin saya bisa sedikit bercerita tentang ayah.
meskipun perasaan saya untuk ayah biasa-biasa saja, saya merasa bahwa saya adalah anak kesayangan ayah. beberapa kali ketika kami hanya berdua, ayah akan memberi "kesenangan-kesenangan" dengan sembunyi-sembunyi. sebutlah es krim, makanan cepat saji, atau sekadar ajakan berkeliling kota.
kupikir, mengendap-endap ini adalah cara agar saudara-saudaraku tak ada yang tahu lalu cemburu. rupanya, itu adalah upaya ayah agar setiap anaknya merasa spesial dan disayang.
ayah juga selalu memaafkan. entahlah berapa banyak kenakalan sudah kami anak-anaknya perbuat. apalagi sewaktu kami remaja dan menjelang dewasa. namun, ayah selalu maklum, menasihati dengan lemah lembut--terkadang kebaikan ayah itu membuat saya tak kapok.
beberapa tahun terakhir, barulah saya tahu bahwa kata ayah, doa seorang ayah dan suami untuk anak-anak dan istrinya itu sangat ampuh. oleh karena itulah, ayah senantiasa berdoa, "ya Allah, ampunilah dosa-dosa istriku, anak-anakku." ayah selalu mendoakan agar kesalahan yang kami perbuat dihapus dari catatan malaikat.
dan bicara tentang malaikat, ayah sering menjadi salah satunya. ayah hadir di setiap pertunjukan menari saya--bahkan ayah pula yang menata rambut saya. ayah membuat saya percaya diri dengan rambut keriting ini, terutama ketika rambut lurus diidentikkan dengan cantik.
ayah membantu saya membuat pekerjaan rumah, tak jarang justru membuatkan. apalagi jika soal prakarya, melukis, membuat puisi, membuat naskah drama, atau membuat koreografi tari. saya masih hafal puisi "gunting" yang ayah tuliskan untuk pe-er puisi di kelas dua. atau, tari "kertarajasa" yang ayah ciptakan untuk pertunjukan di kelas empat.
saat saya lulus sd, ayah menjadi ketua panitia perpisahan. saat saya lulus smp, ayah menjadi ketua panitia buku tahunan. begitulah cara ayah hadir.
lalu suatu ketika saya menerbitkan buku. ayah bersusah payah membacanya. saya yakin ayah pasti tak mengerti isinya, bukan tipikal bacaan ayah. tapi toh, ayah membaca sampai habis. sampai-sampai ayah menanyakan siapa laki-laki yang namanya saya tulis di halaman terima kasih.
dan ayah membela saya sekali lagi. ayah mengerti anak perempuannya jatuh hati. kata ayah, "ayo kita ke kotanya. jalan-jalan. siapa tau nanti kamu tinggal di sana." lalu di lain kesempatan, ayah membeli cinderamata ketika bepergian. diberikannya hadiah-hadiah itu kepada saya. kata ayah, berikanlah untuk laki-laki itu.
ketika saya harus patah hati karena ya, patah hati, ayah membela saya lagi. ayah mendoakan agar saya mendapatkan laki-laki yang baik. saat itulah kemudian mas yunus muncul. mas yunus lalu datang ke rumah, menceritakan rencana hidupnya. tanya ayah, "jadi, kalau ada laki-laki lain yang mau menikah dengan uti, boleh?"
mas yunus tertawa dan menggeleng, "jangan dong, Pak." dan saat itu pulalah, ayah bilang beliau menerima pinangan. kata ayah, insyaallah bersama mas yunus, saya akan menjadi manusia yang sebaik-baiknya saya.
ayah adalah yang menguatkan saya ketika menjelang pernikahan, keraguan mengganggu saya. ayah adalah yang memijat punggung saya ketika saya mengejan di ruang bersalin. ayah adalah yang paling repot ketika ada keluarga yang sakit--hingga sering lupa dengan kesehatannya sendiri.
hari ini, setahun ayah tiada. terakhir kali kami berbicara, ayah berterima kasih dengan begitu tulus karena saya mengepak kopernya. "terima kasih ya, nak."
kalau saya bisa membalas "sama-sama, yah" sekali lagi, saya akan bilang kepada ayah, "terima kasih yah, sudah selalu percaya ketika tidak ada orang lain yang percaya."
semoga lapang di sana ya, yah.












