Life recently and my series of unfortunate events.
I am a millenial. I've been living in this world for 34 years now, and trust me when I tell you this: kalau ada 1 hal yang pasti dalam hidup, hal itu adalah ketidakpastian. Plan your life all you want, but all that plans will go to the drain once life decides to hit you hard.
Heh. Kaku gini rasanya jari-jari, Ya ampun udah lama banget gw gak nulis tumblr. Udah lama banget gw gak nulis apapun. I used to love writing. I used to want to be a journalist. Or a writer. But years passed by, life goes on and here I am, several years later after my tumblr days. Terakhir nulis postingan tentang resign kerja beberapa bulan lalu di tumblr lama gw, regentijd. Ternyata gw masih butuh media journaling untuk mengeluarkan unek-unek. Gw seolah teringatkan kembali dengan kelegaan yang diberikan setelah nulis panjang. Walaupun isinya gak bermanfaat, cuma sebatas sambat. Hehe.
Tahun 2022 gw memutuskan untuk bikin tumblr ini, terpisah dari tumblr lama gw. Tadinya saat itu gw pikir gw akan mulai journaling lagi. Memulai halaman baru karena gw pun berada di fase baru dalam hidup gw saat itu. Tapi yaa gitu, setiap hari buat gw adalah siklus yang sama, tidur-makan-kerja. Gw gak punya energi lagi buat buka laptop dan nulis semua yang terjadi di akhir hari. Kerjaan makin banyak, badan makin jompo. Akhirnya akun ini dianggurin, mentok sampe sekarang. Kenapa gak lanjutin aja di tumblr lama? Karena bakal beda vibes-nya. Kalo dulu vibes pemudi idealis yang semangat dan ambisius menyongsong masa depan alias masih naif. Sekarang lebih ke 'budak korporat yang selalu letih dihantam hidup' (anjaaayy~). Saat orang-orang berlomba jadi content creator di instagram, tiktok, twitter, thread, dll, gw malah balik ke media awal. Media yang gak sepopuler dulu, tapi gw merasa nyaman karena anonimitas dan jarak yang cukup jauh dari network gw di dunia nyata (berapa orang dari lingkaran pertemanan gw yang sampe hari ini masih maen tumblr? bisa dihitung pakai jari). Dengan kata lain, di sini sambatnya gak usah jaim.
Gimana kabarnya, yeorobun?
Hidup pasti sudah berubah banyak ya dari terakhir kita berjumpa di sini. Ada yang udah kerja, udah berkeluarga, udah ini, udah itu, udah gak maen tumblr lagi.
Iya, sama. Hidup gw juga banyak berubahnya. Bohong kalo bilang hidup gw gini-gini aja walaupun genre-nya gak berubah, tetep slice of life dengan segmen percintaan yang gersang kayak gurun.
Ceritanya akan gw mulai dari tanggal 18 Desember 2024, 7 hari setelah gw resmi mengajukan resign dari rumah sakit tempat gw kerja full time. Airs, sahabat gw dari jaman residen, memberi kabar yang mengejutkan. Hasil sputum TCM-nya MTB trace detected. Karena pakai TCM ultra, jadi nggak perlu diulang lagi, udah fix dia TB paru bacteriologically confirmed. Kenapa mengejutkan? Karena weekend di akhir bulan November 2024 gw habis trip ke Bandung satu malam sama dia. Dan waktu itu dia lagi batuk pilek. Dia ngabarin gw untuk contact tracing.
I was asymptomatic. Gak ada gejala respirasi maupun penurunan BB, atau gejala klasik TB lainnya. Kalo kontak erat, itu lain soal. Sebagai dokter paru, kontak erat dengan pasien TB tentu tidak terelakkan. Tapi selama ini gw disiplin pakai masker, walaupun gak selalu pakai N95 (mahal, bjir! boncos gw). Tanpa perasaan apa-apa, dan karena kebetulan gw juga ada rencana untuk medical check up akhir tahun, yaudah gw periksa aja sendiri: lab lengkap, foto toraks, dan tes mantoux. Hasilnya? Ekspertise foto toraks gw : ditemukan infiltrat di apex paru kiri, kesan proses spesifik dd/ TB paru. LED meningkat. Gw nggak percaya LED untuk penanda TB, tentu saja. Anggapan itu jadul banget dan nggak scientific. Gw termasuk yang sering advokasi bahwa LED tidak bisa dijadikan alat diagnosis TB. Tapi firasat buruk makin kuat manakala hasil mantoux gw > 10mm. Gw langsung mendaftarkan diri untuk periksa sputum TCM walaupun gw lagi nggak batuk. Gw bahkan induksi sputum sendiri supaya bisa dapat sampel yang paripurna. Tanggal 27 Desember 2024 hasil TCM gw keluar: MTB detected low.
I always knew, somehow, at the back of my mind, bahwa risiko penularan TB akan selalu menyertai gw sejak hari pertama gw masuk residensi pulmo. Gw cuma gak menyangka penyakit ini beneran akan bermanifestasi di badan gw, despite all the efforts I did to keep the infection at bay. Dan walaupun gw hapal luar kepala TB paru dari definisi, patogenesis, patofisiologi, sampai terapi dan prognosisnya, gw menyadari satu hal.
Wise people said, you're only scared for things you don't know.
I put on my brave face since tuberculosis is my turf, but inside, it scared the shit out of me even with all that knowledge. Berkali-kali gw buka pdf Toman's TB (Holy Grail teori dasar tentang Mycobacterium tuberculosis, back to basic kalo kata guru-guru gw) belajar lagi dari awal untuk meyakinkan diri ini bahwa gw akan baik-baik aja. It's just TB, not the end of the world. Dan mengulang kata-kata yang selalu gw sampaikan ke pasien-pasien gw: it's treatable, ada obatnya, dan bisa sembuh seperti sedia kala.
Nonetheless, I was scared still.
I remembered I did a lot of things that day. Gw langsung cek anti HIV, kabarin grup keluarga supaya mereka sesegera mungkin ke FKTP (puskesmas) untuk contact tracing, hubungi asisten poli gw untuk data entry hasil sputum gw di SITB, hubungi farmasi untuk ambil 4FDC supaya gw bisa mulai minum OAT hari itu juga. Praktek dan visit tetap berjalan seperti biasa. Nggak ada waktu untuk overthinking ataupun mencerna terlalu dalam. Yang saat itu mengganjal di otak gw cuma 1: apa kabarnya rencana gw ke Jepang di bulan april 2025 kalo gw kena TB?
Gw mulai melakukan kalkulasi, by that time, gw akan masuk di bulan ke-4 pengobatan. Harusnya saat itu gw udah fase lanjutan dan secara teori udah gak nularin lagi. Airs berangkat ke Jepang sama gw. Tapi dia pake regimen HPMZ (regimen baru yang sudah disetujui WHO, tapi obatnya gak widely available), lama terapinya 4 bulan. Nesi (kawan sekelompok residen kita dulu) yang juga berangkat bareng kita segera dikabarin soal status TB kita, rupanya dia gak masalah tetap sekamar bareng, so there was no need for rearranging my travel itinerary.
Pengobatan ini harus sukses, begitu tekad gw dalam hati.
Gw pun mulai minum OAT, alhamdulillah contact tracing untuk seluruh anggota keluarga di rumah hasilnya negatif. Setidaknya that put my mind at ease. Gw kasih mereka terapi pencegahan TB regimen Rifapentin/INH selama 12 minggu (kebetulan obatnya tersedia gratis di salah satu RS tempat gw kerja). Gw juga pengumuman ke keluarga besar tentang kondisi gw karena ada sepupu gw dari US yang mau balik ke Indo buat liburan lebaran dan ada juga sepupu gw yang baru lahiran, bayinya anak mahal dari proses panjang IVF. I don’t want to put them at risk karena ketemu gw selama gw fase intensif.
Gw gak pernah menyalahkan siapapun atau marah kenapa gw harus kena TB. Dari awal Airs minta maaf sama gw karena dia merasa bersalah menularkan sakitnya, tapi gw selalu bilang itu bukan salah dia karena belum tentu juga gw kenanya dari dia. Kan kita berdua sama-sama dokter paru. It’s a good thing gw ketahuan positif TB sejak awal, waktu masih asimtomatik dan lesi parunya minimal. Load kumannya juga dikit. This could have been worse.
Gw memilih untuk hanya mengungkapkan sakit gw sama pihak-pihak yang berkepentingan aja. Bukan karena gw malu gw kena TB. Harus gw akui, sebagian diri gw benci dikasihani. Gw nggak suka terlihat lemah. And later I found out, those that knew, were literally unfazed (“Yah namanya juga dokter paru…” — so I heard they said).
Hitam di atas putih, masalah TB gw udah jelas solusinya, tinggal dijalanin aja sampai selesai dan hidup gw akan kembali ke jalur yang semestinya. Harusnya.
Kenyataannya, ini barulah pembukaan dari rangkaian hantaman hidup yang selanjutnya terjadi sama gw.
Buat yang belom bosen baca, lanjut ke part 2 ya.